Unsur Psikis dalam Naskah Drama

Unsur Psikis dalam Naskah Drama

Unsur Psikis dalam Naskah Drama

Unsur Psikis dalam Naskah Drama
Unsur Psikis dalam Naskah Drama

Tema

Tema dapat disesuaikan kondisi baik berupa social, politik, psikologi, moral, religious, cinta dan lain-lain. Topik atau tema adalah ide pokok dari lakon atau drama. Tema mungkin adalah maksud dan keinginan pengarang, mungkin sebuah kisah nyata yang benar-benar terjadi, atau bias jadi imajinasi pengarang berdasarkan latar belakang dan pengalaman hidupnya (Dietrich, 1953:25). Dalam drama istilah tema sering disebut dengan istilah premise, yang berperan sebagai landasan pengembangan pola bangun cerita (Harymawan, 1988:24).

Tema merupakan pokok pikiran atau sesuatu yang melandasi suatu karya sastra diciptakan. Tema merupakan sesuatu yang paling hakiki dalam setiap karya sastra meskipun tidak meninggalkan dan mengesampingkan unsure lainnya (Maryaeni, 1992:32).

Plot/alur cerita :

  • Jenis Plot: Linier, sirkuler, episodic, consentrik, statis, spiral
  • Penghubung peristiwa dalam plot: rapat, longgar dan lepas
  • Anatomi Plot:

Saspence: ketegangan yang terjadi diawal cerita yang membuat penasaran bagi pembaca atau penonton

Gestus: Ucapan yang keluar dari seorang tokoh yang beritikad mencari solusi tentang sesuatu persoalan

Foreshadowing: Bayang-bayang peristiwa atau dialog yang mendahului sebelum peristiwa yang sebenarnya terjadi.

Dramatik Ironi: Sindiran yang terjadi diawal cerita yang akhirnya benar-benar terjadi dikemudian.

Flasback: pengulangan kejadian masa silam yang digambarkan pada masa itu, dalam upaya mempertegas cerita dari kejadian suatu peristiwa (menggambarkan kronologis peristiwa secara detail)

Surprese: Peristiwa yang tidak diduga dan mengejutkan, akan tetapi masih dapat diterima karena masih dalam kerangka peristiwa.

Struktur Dramatik

Eksposisi: Isinya pemaparan masalah utama atau konflik utama yang berkaitan dengan posisi diametral antara protagonis dan antagonis. Hasil akhir: Antagonis berhasil menghimpun kekuatan yang lebih dominan.

Raising Action: Isinya menggambarkan pertentangan kepentingan antar tokoh. Hasil akhir: Protagonis tidak berhasil melemahkan Antagonis. Antagonis mengancam kedudukan Protagonis. Krisis diawali.

Complication: Isinya perumitan pertentangan dengan hadirnya konflik sekunder. Pertentangan meruncing dan meluas, melibatkan sekutu kedua kekuatan yang berseteru. Hasil akhir: Antagonis dan sekutunya memenangkan pertentangan. Kubu Protagonis tersudut.

Klimak: Isinya jatuhnya korban dari kubu Protagonis, juga korban dari kubu Antagonis. Hasil akhir: Peristiwa-peristiwa tragis dan menimbulkan  dampak besar bagi perimbangan kekuatan antar kubu.

Resolusi: Isinya hadirnya tokoh penyelamat, bias muncul dari kubu protagonist atau tokoh baru yang berfungsi sebagai penyatu kekuatan-kekuatan konflik, sehingga situasi yang kosmotik dapat tercipta kembali. Pada tahap ini, pesan moral disampaikan, yang biasanya berupa solusi moral yang berkaitan dengan tema atau konflik yang sudah diusung.

Bentuk Lakon

Tragedi: Salah satu bentuk lakon dalam mana tokoh tragis yang oftimistis hancur dalam perjuangan karena mempunyai cacat tragis.

Komedi: Salah satu bentuk lakon dalam mana terdapat banyak hal atau peristiwa tentang tokoh-tokoh tertentu yang menimbulkan kelucuan, kegelian dan atau kemuakan moral.

Tragedikomedi: Salah satu bentuk lakon dengan tokoh utama atau tokoh-tokoh yang lainnya, diperistiwakan, disuasanakan, dikarakterisasikan pengarang secara lucu dan komis, tapi sekaligus kadang atau seringkali mengerikan, menyeramkan atau menimbulkan rasa iba prihatin atau simpati.

Melodrama: Salah satu bentuk lakon dalam mana tokoh protagonist secara total, baik, antagonis secara total, jahat, sementara aksi-aksi dramatis dan pengkarakterisasian dibuat untuk menghasilkan efek yang gagal atau hebat.

Baca juga: