Ungkap Misteri Dataran Guci melalui Teknologi Virtual

Ungkap Misteri Dataran Guci melalui Teknologi Virtual

Ungkap Misteri Dataran Guci melalui Teknologi Virtual
Ungkap Misteri Dataran Guci melalui Teknologi Virtual

DATARAN luas yang berisi batu-batu berbentuk guci di pusat wilayah Laos yang dikenal sebagai Dataran Guci (Plain of Jars) merupakan tempat misterius.

Hingga saat ini belum diketahui identitas pembangun situs dan tujuannya membangun situs. Namun, upaya mengeksplorasinya dinilai berisiko.

Sekelompok peneliti dari Australia berusaha memecahkan masalah tersebut.

Mereka menggunakan teknologi tiga dimensi terbaru yang dikenal sebagai CAVE2 yang mampu mengakses hingga lokasi terpencil.

Teknologi tersebut menggunakan drone untuk merekam gambar sehingga dapat dimunculkan replika virtual dari proyek penggalian situs tersebut.

Penggunaan drone dalam proyek tersebut tentunya menguntungkan karena mampu menangkap gambar hingga setiap jarak 10 sentimeter.

Selain itu, mengurangi risiko karena di situs tersebut masih terdapat

banyak ranjau dan bom yang belum meledak sisa-sisa perang Vietnam terdahulu.

Di area tersebut banyak terdapat ranjau dan bom yang dijatuhkan Amerika Serikat sebagai keterlibatan dalam perang Vietnam.

Peneliti dari sekolah arkeologi dan antropologi Australian National University (ANU), Dougald O’Reilly, yang terlibat dalam proyek penggalian mengatakan teknologi tersebut membuat pekerjaan peneliti menjadi lebih mudah karena bisa memantau dari ruangan dan tidak harus terjun ke lapangan.

Ia juga menambahkan penggunaan teknologi tersebut merupakan cara baru bagi para arkeolog dalam melakukan pekerjaan.

Dalam proyek penggalian situs itu, para peneliti yang berasal dari Monash

University dan Australian National University (ANU) tersebut sedang mencoba untuk mengembangkan teknologi kamera multispektral yang dapat menangkap cahaya dari frekuensi tak terlihat seperti radiasi inframerah dan teknologi laser pemindai yang dikenal sebagai LIDAR.

Teknologi pemindai tersebut sebelumnya pernah digunakan di Angkor

Wat untuk mengekspos kuil dan jaringan hidrologi bawah hutan.

Nantinya tangkapan gambar dari teknologi itu akan ditampilkan kembali sebagai pengalaman virtual reality (VR).

Selain sebagai akses untuk mengontrol perkembangan situs tersebut, teknologi VR itu bisa ditampilkan di museum untuk edukasi bagi para pengunjung.

 

sumber :

https://uberant.com/article/728912-incredipede/