Samsung luncurkan teknologi Relumino untuk penderita penglihatan

Jun 23, 2020 by rumahbagus

Samsung luncurkan teknologi Relumino untuk penderita penglihatan

Samsung luncurkan teknologi Relumino untuk penderita penglihatan

Samsung Electronics meluncurkan Relumino, aplikasi untuk membantu penderita gangguan penglihatan (low vision) melihat dengan jelas serta membantu mereka dalm mengatasi hambatan penglihatan di kehidupan sehari-hari.

Menurut Manager Content and Service Samsung Electronics Indonesia, Dolly Wisaka, laporan World Health Organization (WHO) pada Oktober 2017 menjadi latar belakang Samsung untuk membuat aplikasi Relumino, yang mulai dikembangkan akhir tahun lalu.

“Selama ini kita mengenal Gear VR untuk konten 360 atau games. Samsung berkomitmen untuk fokus berinovasi yang berguna bagi masyarakat,” ujar Dolly dalam temu media di Jakarta, Rabu.

Data WHO menunjukkan sekitar 253 juta orang mengalami gangguan penglihatan

dan sebanyak 86 persen mengidap low vision. Program inkubator Samsung, C-Lab, membuat aplikasi Relumino yang dipasangkan dengan perangkat Gear VR.

Sayangnya, aplikasi tersebut saat ini hanya kompatibel dengan smartphone Samsung model Galaxy S8, S8+, Note 8, S9 dan S9+ untuk digunakan pada Gear VR.

Aplikasi Relumino bekerja dengan cara memproses gambar dari video yang diproyeksikan melalui kamera belakamg smartphone dan membuat gambar menjadi lebih jelas.

“Sebetulnya ini kita memanfaatkan kecanggihan kameranya handphone-nya Samsung

, kemudian kita refleksikan ke dalam VR di mana letak fokusnya disesuaikan bagi teman-teman yang mengalami low vision,” kata Dolly.
Manager Content and Service Samsung Electronics Indonesia, Dolly Wisaka, tengah menjajal aplikasi Relumino pada perangkat Samsung Gear VR, usai temu media peluncuran aplikasi Relumino di Jakarta, Rabu (28/3/2018). (ANTARA News/Arindra Meodia)

Penyandang low vision, Johanes Rio, yang telah menjajal aplikasi tersebut merasa sangat terbantu dengan adanya Relumino.

“Secara visual tanpa Relumino apa yang ada di depan saya jauh dan sempit. Setelah memakai… aku buta tapi aku melihat,” ujar Johanes dalam kesempatan yang sama.

Dia yang terlahir dengan low vision, sebelumnya menggunakan beberapa alat bantu

untuk aktivitas tertentu. Misalnya, untuk membantu melihat tulisan jarak jauh dia harus menggunakan teleskop, sementara untuk membaca tulisan jarak dekat dia menggunakan hand magnifier.

“Bisa dibayangkan bagaimana ribetnya melakukan berbagai aktivitas di waktu yang sama. Dengan ini lebih efisien dan user friendly,” ujar dia.

 

sumber :

http://jitps.ui.ac.id/index.php/Tourism/comment/view/37/0/89051