SALAH SATU FAKTOR PENENTU PADA PENILAIAN ADIPURA

SALAH SATU FAKTOR PENENTU PADA PENILAIAN ADIPURA

SALAH SATU FAKTOR PENENTU PADA PENILAIAN ADIPURA

SALAH SATU FAKTOR PENENTU PADA PENILAIAN ADIPURA
SALAH SATU FAKTOR PENENTU PADA PENILAIAN ADIPURA

Masalah lingkungan di Indonesia

Sekarang sudah merupakan problem khusus bagi pemerintah dan masyarakat. Selain itu juga masalah lingkungan hidup merupakan masalah yang kompleks dimana lingkungan lebih banyak bergantung kepada tingkah laku manusia yang semakin lama semakin menurun, baik dalam kualitas maupun kuantitas dalam menunjang kehidupan manusia. Ditambah lagi dengan melonjaknya pertambahan penduduk maka keadaan lingkungan menjadi semakin semerawut. Berbagai usaha penggalian sumber daya alam dan pembangunan industri-industri untuk memproduksi barang-barang konsumsi tanpa adanya usaha-usaha perlindungan terhadap pencemaran lingkungan oleh buangan yang merupakan racun bagi lingkungan disekitarnya dan tidak mustahil dapat membawa kematian.

Kecenderungan kerusakan lingkungan hidup

Semakin kompleks baik di pedesaan dan perkotaan. Memburuknya kondisi lingkungan hidup secara terbuka diakui memengaruhi dinamika sosial politik dan sosial ekonomi masyarakat baik di tingkat komunitas, regional, maupun nasional. Pada gilirannya krisis lingkungan hidup secara langsung mengancam kenyamanan dan meningkatkan kerentanan kehidupan setiap warga negara. Kerusakan lingkungan hidup telah hadir di perumahan, seperti kelangkaan air bersih, pencemaran air dan udara, banjir dan kekeringan, serta energi yang semakin mahal. Individu yang bertanggungjawab atas kerusakan lingkungan hidup sulit dipastikan karena penyebabnya sendiri saling bertautan baik antar-sektor, antar-aktor, antar-institusi, antar-wilayah dan bahkan antar-negara (Anonim.2014).

Untuk mengatasi masalah itu partisipasi atau peran

Serta masyarakat dalam pengelolaan lingkungan hidup belum nampak secara signifikan. Kesadaran masyarakat tentang lingkungan hidup memang telah tumbuh, tetapi masih kurang proaktif. Hal ini dapat dilihat dari masih sangat kurang kepedulian masyarakat akan kebersihan lingkungan disekitar mereka. Berdasarkan latar belakang tersebut maka, pemerintah dalam hal ini menunjuk Kementerian Lingkungan Hidup mengadakan Program Adipura yaitu program yang mendorong pemerintah daerah dan masyarakat mewujudkan kota yang bersih dan teduh. Ini dilakukan dengan harapan setiap daerah dapat mendayagunakan seluruh kemampuannya melalui dukungan dari segenap segmen masyarakat untuk secara bersama-sama mengatasi permasalahan lingkungan hidup perkotaan. Dengan adanya program tersebut diharapkan masyarakat dapat lebih menjaga kebersihan lingkungan sekitar. Salah satu faktor penentu untuk mendapatkan Adipura tersebut adalah proses pengolahan TPA (tempat pembuangan akhir) sampah baik organik dan anorganik.

Adipura, adalah sebuah penghargaan

Bagi kota di Indonesia yang berhasil dalam kebersihan serta pengelolaan lingkungan perkotaan. Adipura diselenggarakan oleh Kementerian Negara Lingkungan Hidup. Pengertian kota dalam penilaian Adipura bukanlah kota otonom, namun bisa juga bagian dari wilayah kabupaten yang memiliki karakteristik sebagai daerah perkotaan dengan batas-batas wilayah tertentu. Peserta program Adipura dibagi ke dalam 4 kategori berdasarkan jumlah penduduk, yaitu (Anonim, 2014):
1) Kota Metropolitan (lebih dari 1 juta jiwa)
2) Kota Besar (500.001 – 1.000.000 jiwa)
3) Kota Sedang (100.001 – 500.000 jiwa)
4) Kota Kecil (sampai dengan 100.000 jiwa)
Dalam lima tahun pertama, program adipura difokuskan untuk mendorong kota-kota di Indonesia menjadi “Kota Bersih dan Teduh”. Adapun kriteria Adipura terdiri dari 2 indikator pokok yaitu indikator kondisi fisik lingkungan perkotaan dalam hal kebersihan dan keteduhan kota dan indikator pengelolaan lingkungan perkotaan (non-fisik), yang meliputi institusi, manajemen, dan daya tanggap (Admin BPLH, 2013).

Program Adipura telah dilaksanakan setiap tahun sejak 1986

Kemudian terhenti pada tahun 1998. Program Adipura kembali dicanangkan di Denpasar, Bali pada tanggal 5 Juni 2002, dan berlanjut hingga sekarang sebagai wujud tanggung jawab Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) Republik Indonesia terhadap kelangsungan kondisi lingkungan di Indonesia. Program Adipura ini dipandang perlu dilaksanakan karena kondisi lingkungan perkotaan yang cenderung menurun sejak program ini sempat terhenti. Perbandingan kualitas lingkungan perkotaan pada masa pelaksanaan program Adipura, kondisi awal dengan tahun terhentinya program ini menunjukkan grafik penurunan tingkat kebersihan yang cukup drastic antar kota-kota pesertanya. Artinya dengan tamatnya program Adipura kebersihan kota-kota tadi langsung terabaikan atau dengan kata lain, kota-kota yang dibanggakan karena prestasinya dalam menjaga kebersihan selama program Adipura tiba-tiba menjadi kota yang kotor (Kementerian Lingkungan Hidup RI, 2014).

Salah satu faktor yang menyebabkan rusaknya lingkungan hidup yang sampai saat ini masih tetap menjadi masalah besar bagi bangsa Indonesia adalah pembuangan sampah. Sampah-sampah itu diangkut oleh truk-truk khusus dan dibuang atau ditumpuk begitu saja di tempat yang sudah disediakan tanpa di apa-apakan lagi. Hal tersebut tentunya sangat berpengaruh terhadap lingkungan sekitar dimana lingkungan menjadi kotor dan sampah yang membusuk akan menjadi bibit penyakit di kemudian hari.
Walaupun terbukti sampah itu dapat merugikan bila tidak dikelola dengan baik, tetapi ada sisi manfaatnya. Hal ini karena selain dapat mendatangkan bencana bagi masyarakat, sampah juga dapat diubah menjadi barang yang bermanfaat. Kemanfaatan sampah ini tidak terlepas dari penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam menanganinya dan juga kesadaran dari masyarakat untuk mengelolanya. Sampah dapat dibedakan secara garis besar menjadi 2 (dua) jenis berdasarkan sifatnya yaitu (Ali,2014)

Baca Juga a;