Perluasan wilayah Islam

Perkembangan Islam pada masa khalifah Umar bin Khattab sangat luas hingga sampai Negara Persia, Palestina, Syam dan Mesir.[6] Wilayah Islam pada waktu itu meliputi bekas dua imperium besar taitu Persia dan romawi Timur atau Bizantium. Bangsa Arab khususnya, umumnya umat islam mendapatkan kemudahan dalam menaklukkan wilayah Romawi Timur karena didukung oleh persamaan etnis, kemiripan bangsa dan hubungan dagang yang terjalin sebelumnya. Selanjutnya karena didukung oleh hubunga yang buruk antara penguasa Romawi dengan bangsa-bangsa yang ada di bawah pemerintahannya. Kondisi itu dipicu oleh perbedaan faham agama antara para penguasa dengan rakyat pribumi dan tingginya beban pajak yang diluar kemampuan masyarakat jajahan.
Oleh karena faktor-faktor di atas, maka kehadiran bangsa Arab mendapat sambutan dengan harapan agar mereka dapat terbebas dari pemerintahan Romawi dan sikap dictator atau perlakuan otoriter gereja Bizantium. Perluasan wilayah pada masa khalifah Umar bin Khattab pertama-tama melanjutkan usaha perluasan yang telah dilakukan oleh khalifah Abu Bakar As-siddiq. Secara berturut-turut, pasukan Islam berhasil menguasai Suriah, Persia dan Mesir.
Pada waktu itu, Suriah merupakan perdagangan yang penting. Oleh karena itu, Umar bin Khattab berusaha merebut mati-matian. Wilayah Suriah memiliki beberapa kota yang menjadi pusat kekuasaan Romawi Timur (Bizantium) yang beragama Kristen. Beberapa kota tersebut adalah Damaskus, Yordania, Yerussalem, Hims dan Antionika. Perluasan wilayah ke Mesir dilakukan kaum muslimin dibawah pimpinan Amru bin Ash. Sebelum masuk Islam, Amru bin Ash telah berulang kali mengikui kafilah dagang ke Mesir. Oleh karena itu, ia mengetahui seluk beluk dan kondisi Mesir. Atas perintah khalifah Umar bin Khattab berangkatlah 4.000 pasukan Islam ke Mesir. Sebelum berangkat, khalifah Umar bin Khattab menyampaikan pesan “berangkatlah dan mudah-mudahan keberhasilan menyertaimu. Apabila menerima surat dariku sebelum sampai ke mesir, kembalilah.” Amru bin Ash mencapai perbatasan Mesir pada bulan Desember 639 M. mula-mula ia merebut kota Al-Farama di Mesir Timur. Ia kemudian sampai di Benteng Babilon yang termasyhur. Tempat ini merupakan pusat kekuatan kekaisaran Bizantium yang besar. Setelah bertempur beberapa lamanya, kaum muslimin berhasil menguasai benteng ini serta wilayah-wilayah Mesir lainnya.
Kemenangan-kemenangan umat Islam menjadikan Wilayah Islam pada masa khalifah Umar bin Khattab meluas hingga Afrika Utara, Armenia dan sebagian wilayah Eropa Timur. Untuk memudahkan jalannya pemerintahan, khalifah Umar bin Khattab membagi wilayah Islam menjadi beberapa provinsi serta menunjuk seorang gubernur untuk memerintah wilayah tersebut. Misalnya Sa’ad bin Abi Waqas memerintah di Kufah, Amru bin Ash di Mesir dan Mu’awiyah bin Sufyan di Damaskus.

2.      Penerapan kalender hijriah

Tahukah kalian bahwa yang menetapkan sistem kalender hijriah adalah khalifah Umar bin Khattab? Sebelum kalender hijriah ditetapkan, orang-orang menggunakan system kalender masehi. System ini banyak digunakan orang-orang nasrani. Agar berbeda dengan nasrani kaum muslimin juga berkeinginan untuk mempunyai system kalender sendiri. Sedangkan kaum muslim mengusulkan bahwa tahun Islam dimulai sejak Nabi Muhammad lahir. Sebagian lainnya mengusulkan agar tahun Islam dimulai sejak Nabi Muhammad SAW diangkat menjadi rasul
Akhirnya khalifah Umar bin Khattab menetapkan kalender Islam berdasarkan hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah. Hal itu disebabkan hijrah merupakan titik balik dari kemenangan Islam. Periode dakwah sebelum Nabi Muhammad SAW hijrah disebut periode Makkah, sedangkan periode dakwah setelah beliau hijrah dikenal sebagai periode Madinah. Demikian juga pembagian surat-surat Al-Qur’an. Surat yang turun sebelum hijrah disebut surat makkiyah, sedangkan surat Al-Qur’an yang turun setelah hijrah disebut surat Madaniyah.

Sumber :

https://multi-part.co.id/natal-dan-tahun-baru-tarik-tunai-gopay-tutup-sementara/