Perkembangan Pers di Indonesia

Pers di Indonesia mulai berikembang jauh had sebelum negara Indonesia diproklamasikan. Pers telah dipergunakan oleh para pendirl bangsa kita: sebagai alat perjuangan untuk memperoleh kemerdekaan. Sejak pertengahan abad ke 18, orang-orang Belanda mulai memperkenalkan penerbitan surat kabar di Indonesia. Penguasa kolonial mengekang pertumbuhan pers, meskipun penerbitnya terdiri dari orang-orang Belanda sendiri. Tetapi surat kabar yang tumbuh dari akhir, abad ke-19 hingga awal abad berikutnya, juga merupakan sarana pendidikan dan latihan bagi orang-orang indonesia yang memperoleh pekerjaan di dalamnya (Tribuana Said, 1988). Surat kabar pertama di Indonesia adalah Bataviase Nouvelles (Agustus 1744-Juni1746) disusul kemudian Bataviasche Courant (1817). Bataviasche Advertentieblad (1827). Pada tahun 1855 di Surakarta terbit surat kabar pertama dalam bahasa Jawa, bernama Bromartani. Surat kabar berbahasa Melayu yang portama adalah Soerat Kabar Bahasa Melajoe, terbit di Surabaya pada tahun 1956. Kemudian lahir surat kabar Soerat Chabar Betawie (1958), Seloropret Melajoe (Semarang, 1860), Bintang Timoer (Surabaya, E.1862). Djoeroe Martani (Surakarta 1864), dan:Biang Lala (Jakarta, 1867). Perkembar.gan pers di masa penjajahan sejak pertengahan abad ke-19 ternyata telah dapat menggugah cendekiawan Indonesia untuk menyerap budaya pers dan memanfaatkan media cetak sebagai sarana membangkitkan dan menggerakkan kesadaran bangsa. Proses selanjutnya, terjadilah pembauran antara pengasuh pers dan masyarakat yang mulai terorganisasi dalam klub-klub studi, lembaga-lembaga sosial, badan-badan kebudayaan, bahkan gerakan-gerakan politik. Wartawan inenjadi tokoh pergerakan, atau sebaliknya tokoh pergerakan menerbitkan pers. Sejak lahimya Budi Utomo pada bulan Mei 1908, pers merupakan sarana komunikasi yang utama untuk menumbuhkan kesadaran nasioal dan meluaskan kebangkitah bangsa Indonesia.

Pada gilirannya proses tersebut mengukuhkan gerakan mencapai kemerdekaan. Lahidah surat- surat ka bar dan majalah seperti Benih Merdeka, Soeara Ra’jat Merdika, Fikiran Ra’jat, Daulat Ra’jat, Soeara Oemoem. dan sebagainya. Adapun yang lainnya, yakni organisasi Persatcoan  Djoernalis Indonesia (1933) adalah tanda-tanda meningkatnya perjuangan keenerdekaan di lingkungan wartawan dan pers nasional sebagai bagian dari perjuangan nasional secara keseluruhan.

  1. Pers Masa Pergerakan

Mass pergeraken adalah masa bangsa Indonesia berada di bawah penjajahan Belanda sampai masuknya Jepang menggantikan Belanda. Pers masa pergerakan tidak dapat dipisahkan dari kebangkitan nasional bangsa Indonesia melawan penjajahan.

Munculnya pergerakan modem Budi Utomo tanggal 20 Mei 1908, surat pers saat itu marupakan terompet dari organisasi pergerakan  orang indonesia. Surat kabar nasional menjadi semacam parlemen orang Indonesia yang terjajah. Pers menyuarakan kepedihan, penderitaan, dan merupakan refleksi dari isi hati bangsa terjajah. Pers menjadi pendorong bangsa Indonesia dalam perjuangan memperbaiki nasib dan kedudukan bangsa. Beberapa contoh harian yang terbit pada masa pergerakan, antara lain sebagai berikut.

1)      Harian Sedio Tomo, sebagai kelanjutan harian Boedi Oetomo yang terbit di Jogjakarta didirikan bulan Juni 1920.

2)      Harian Darmo Kondo, terbit di Solo dipimpin oleh Sudaryo Cokrosisworo.

3)      Harian Oetoesan Hindia, terbit di Surabaya dipimpin oleh H.O.S. Cokroaminote.

4)      Harian Fadjar Asia, terbit di Jakarta dipimpin oleh Haji Agus Salim.

5)      Majalah mingguan Pikiran Rakyat, terbit di Bandung didirikan oleh Ir. Sockamo.

6)      Majalah berkala Daulah Rakyst, dipimpin oleh Moh. Hatta dan Sutan Syahrir.

sumber :

https://thesrirachacookbook.com/seva-mobil-bekas/