Perbedaan konflik pada masa kanak-kanak dan konflik pada masa remaja

Nov 12, 2020 by rumahbagus
Perbedaan konflik pada masa kanak-kanak dan konflik pada masa remaja

Perbedaan konflik pada masa kanak-kanak dan konflik pada masa remaja

Perbedaan konflik pada masa kanak-kanak dan konflik pada masa remaja
Perbedaan konflik pada masa kanak-kanak dan konflik pada masa remaja

Konflik pada masa kanak-kanak

Terjadinya konflik orang tua dan anak sudah di mulai sejak anak masih berupa janin di dalam kandungan (fetal conflict). Meskipun ibu mengandung janin dan selalu bersedia berkorban untuk janin dikandungnya, ternyata tidak selalu memiliki kepentingan yang sama dengan sang janin. Adanya konflik genetik dalam proses kehamilan. Selama 9 bulan kehamilan, tubuh ibu akan menyediakan segala kebutuhan nutrisi bagi janin, namun perkembangan janin berlangsung sesuai kebutuhannya sendiri.

Ketika bayi sudah lahir dan mengalami perkembangan diluar tubuh ibu, salah satu konflik yang permulaan muncul dalam hubungan orang tua-anak adalah konflik dalam masa penyapihan (weaning conflict), biasanya setelah anak berusia satu tahun. Pada masa ini anak yang disapih sebenarnya masih menghendaki andil orang tua (parent investment) yang lebih besar pada dirinya. Karena kemampuannya yang masih terbatas, anak menggunakan cara tertentu sebagi upaya memperoleh andil orang tua bagi dirinya, misalnya temper tantrum. Pada saan anak mulai menyadari bahwa andil orang tua terhadap dirinya mulai terancam, misalnya oleh kehadiran adik, anak akan berupaya membesar-besarkan kebutuhannya, bersikap seolah-olah berusia lebih muda, dan berpura-pura tertekan. Cara-cara itu digunakan untuk memperoleh perhatian yang lebih dari orang tuanya.
Pada perkembangan berikutnya, yang banyak mendapatkan perhatian dalam pengkajian konflik orang tua-anak adalah ketika anak menginjak usia dua tahun (toddler). Pada masa tersebut anak mulai banyak mengalami perkembangan dalam keterampilan bahasa dalam motorik, dan mulai banyak mengalami masalah perilaku. Perilaku eksternalisasi dan agresi merupakan masalah perilaku yang mendapat banya perhatian pada masa perkembangan ini.
Pada masa ini kualitas konflik antara orang tua dan anak dipengaruhi oleh tipe kelekatan dan temperamen anak. Selain itu temperamen anak juga berkitan dengan frekuansi terjadinya konflik. Konflik orang tua-anak yang terjadi sehari-hari dapat berupa ketidaksetujuan antara orang tua dan anak tentang fakta-fakta. Selain itu dapat pula di sebabkan oleh ketidaksediaan atau ketidak mampuan orang tua menuruti keinginan anak.

Baca Juga: Fungsi Lembaga Keluarga

Konflik pada masa remaja

Pada umumnya masa remaja dianggap sebagai masa yang paling sulit dalam tahap perkembangn individu, masa yang penuh gejolak dan tekanan. Masa remaja merupakan masa pertarungan antar id, yaitu hasrat yang mencari kesenangan seksual dan super-ego, yaitu tuntutan untik mematuhi norma dan moral sosial. Pergolakan yang dialami pada masa remaja merupakan refleksi dan konflik internal dan tidakkeseimbangan psikis.

Konflik remaja dengan orang tua merupakan salah satu hal yang banyak mengundang perhatian para peneliti. Area yang menjadi perhatian pada umumnya adalah frekuansi terjadi konflik, topik yang menjadi konflik dan cara yang digunakan untuk melakukan resolusi konflik. Beberapa penelitian menunjukan pola kurvalinier pada intensitan konflik orang tua-anak, yaitu meningkat pada remaja awal, mencapai puncaknya pada remaja tengah, dan menurun pada remaja akhir. Sementara beberapa penelitian lain mengucapkan kecenderungan menurun secara linear dengan intensitas konflik lebih tinggi terjadi pada remaja awal dan menurun pada remaja akhir.

Walaupun terdapat kesamaan dalam hal tingginya intensitas konflik pada masa remaj awal, faktor usia agaknya tidak dapat digunakan sebagai patokan bagi kecenderungan meningkat atau menurunnya konflik orang tua-anak.
Konflik orang tua dengan remaja pada umumnya bersifat hierarkis dan berkenaan dengan kewajiban. Orang tua berada pada posisi yang lebih tinggi yang harus dipatuhi, berbeda dengan konflik yang dialami dengan teman sebaya yang bersifat setara dan fakultatif. Konflik orang tua dengan remaja juga cenderung memancing tindaka koersif, yang merupakan kombinasi antara afeksi negatif, resolusi yang bersifat mendominasi dan akibat yang tidak setara pada masing-masing yang berkonflik.
Banyak yang beranggapan bahwa konflik orang tua-remaja disebabkan oleh sikap remaja yang menentang orang tuanya. Sebagian ilmuan memandang penentangan remaja merupakan tanda terkikisnya moral.