Penyebab Terjadinya Gangguan Keseimbangan pada Cairan Tubuh dan Elektrolit

Mei 30, 2020 by rumahbagus

Penyebab Terjadinya Gangguan Keseimbangan pada Cairan Tubuh dan Elektrolit

  1. Diare

Diare adalah frekwensi buang air besar dalam bentuk cairan lebih dari tiga kali, dalam satu hari .Biasanya berlangsung dua hari atau lebih, selain itu tinja atau feses penderita masih memiliki kandungan air berlebihan, kira – kira 200 gram.Diare merupakan keadaan yang paling sering menyebabkan kehilangan cairan dalam jumlah besar.Di seluruh dunia, 4 juta anak-anak meninggal setiap tahun karena dehidrasi akibat diare.

  1. Nefritis

Nefritis adalah kerusakan pada bagian glomerulusginjal akibat infeksi kuman umumnya bakteristreptococcus. Akibat nefritis ini seseorang akan menderita uremia atau edema. Uremia adalah masuknya kembali urine (C5H4N4O3) dan urea ke dalam pembuluh darah sedangkan edema adalah penimbunan air di kaki karena terganggunya reabsorpsi air.

  1. Anoreksia

Anoreksia nervosa(AN) adalah sebuah gangguan makan yang ditandai dengan penolakan untuk mempertahankan berat badan yang sehat dan rasa takut yang berlebihan terhadap peningkatan berat badan akibat pencitraan diri yang menyimpang.Karena kekurangan asupan makan inilah, tubuh mengalami kekurangan garam mineral yang berakibat terjadi ketidakseimbangan elektrolit dalam tubuh penderita.

  1. Gagal ginjal akut (GGA)

Gagal ginjal adalah keadaan dimana ginjal tidak dapat melakukan kerja sesuai dengan fungsinya. Berkaitan dengan keseimbangan cairan, dengan ketidakmampuan ginjal melakukan fungsinya maka keseimbangan cairan dalam darah tidak akan di filtrasi ataupun di reabsorbsi oleh ginjal sehingga cairan tersebut masih akan bercampur dalam darah.

  1. Gangguan pernafasan seperti kanker oesofagus

Pada kasus kanker oesofagus maka akan menganggu system pencernaan terutama proses penelanan makanan yang mengandung garam mineral dan air.

  1. Tindakan Untuk Mengatasi Masalah/Gangguan dalam Pemenuhan Kebutuhan Cairan dan elektrolit

  2. Pemberian cairan melalui infuse

Pemberian cairan melalui infus merupakan tindakan memasukkan cairan melalui intravena yang dilakukan pada pasien dengan bantuan perangkat infuse. Tindakan ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan cairan dan elektrolit, serta sebagai tindakan pengobatan dan pemberian makanan.

  1. Persiapan Bahan dan Alat :

  Standar infuse

  Perangkat infuse

  Cairan sesuai dengan kebutuhan pasien.

  Jarum infus/ abocath atau sejenisnya sesuai dengan ukuran

  Pengalas

  Tourniquet/pembendung

  Kapas alkohol 70%

  Plester

  Gunting

  Kasa steril

  Betadine

  Sarung tangan

  1. Prosedur Kerja :

  Cuci tangan

  Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan dilaksanakan.

  Hubungakan cairan dan perangkat infuse dengan menusukkan ke dalam botol infuse (cairan).

  Isi cairan ke dalam perangkat infuse dengan menekan bagian ruang tetesan hingga ruangan tetesan terisi sebagian, kemudian buka penutup hingga selang terisi dan keluar udaranya.

  Letakkan pengalas

  Lakukan pembendungan dengan tourniquet.

  Gunakan sarung tangan

  Desinfeksi daerah yang akan ditusuk.

  Lakukan penusukan dengan arah jarum ke atas.

  Cek apakah sudah mengenai vena dengan ciri darah keluar melalui jarum infus/abocath.

  Tarik jarum infus dan hubungkan dengan selang infus.

  Buka tetesan.

  Lakukan desinfeksi dengan betadineŒ dan tutup dengan kasa steril.

  Beri tanggal dan jam pelaksanaan infuse pada plester.

  Catat respons yang terjadi.

  Cuci tangan

  1. Cara menghitung tetesan infuse untuk anak:

Tetesan per menit (mikro)=(Jumlah cairan yang masuk)/(Lamanya infus (jam) )

Contoh: seorang pasien anak memerlukan rehidrasi dengan 250 ml infuse dalam waktu 2 jam, maka tetesan permenit adalah:

Jumlah tetesan/menit =250/2=125 tetes mikro/menit.

 

sumber :

https://www.sudoway.id/seva-mobil-bekas/