Pengertian Puisi Lama, Ciri, Jenis dan Contohnya

Pengertian Puisi Lama, Ciri, Jenis dan Contohnya

Pengertian Puisi Lama, Ciri, Jenis dan Contohnya

Pengertian Puisi Lama, Ciri, Jenis dan Contohnya
Pengertian Puisi Lama, Ciri, Jenis dan Contohnya

Pengertian Puisi Lama

Puisi usang yaitu jenis puisi yang mempunyai hukum dan bermakna. Puisi usang telah ada semenjak zaman dulu dan sering digunakana dikala upacara adat. Aturan pada puisi usang berafiliasi dengan keterikatannya pada umlah kata dalam satu baris, jumlah baris dalam satu bait (bisa 2,4 ataupun lebih), banyaknya suku kata, rima dan juga irama.

Ciri-Ciri Puisi Lama

Adapun ciri-ciri puisi usang yaitu:

  • Merupakan karya turun menurun dan tidak diketahui siapa pengarangnya.
  • Merupakan sastra lisan lantaran disampaikan dari verbal ke mulut
  • Terlihat kaku, lantaran puisi usang sangat terikat dengan aturan.

Jenis-Jenis Puisi Lama

Adapun jenis puisi usang diantaranya:

Syair
Syair berasal dai Arab. Ciri khas dari syair yaitu terdiri dari empat baris dalam satu bait dengan sajak a-a-a-a. Syair ini berisi wacana kisah dengan nasehat didalamnya. Berikut ini pola Syair

Wahai engkau para pemuda,
Engkaulah pewaris bangsa,
Giatlah mencar ilmu sepanjang masa,
Untuk membangun bangsa negara,
Ilmu bukanlah untuk harta semata,
Ilmu tak akan lekang oleh usia,
Sebab ilmu akan membuatmu terjaga,
Dan ilmu akan membuatmu dewasa,
Belajarlah tanpa malas,
Hormatilah semua penghuni kelas,
Masa depan perlu kerja keras,
Kalau perlu energi terkuras,
Hormatilah para guru,
Pandanglah sebagai orang tuamu,
Ilmu senantiasa akan masuk dalam kalbu,
Bersama berkah untuk jiwamu.

Pantun
Pantun berasal dari bahasa minangkabau “Patuntun” yang berarti penuntun. Sebutan untuk pantun berbeda-beda disetiap tempat diantaranya Parikan (Jawa), Paparikan (Sunda) dan Umpasa (Batak). Pantun sering dipakai dalam upacara atau untuk komunikasi. Ciri-ciri pantun yaitu:

Terdiri atas 4 larik atau empat baris dalam setiap bait.
Setiap baris terdiri dari 8-12 suku kata.
Bersajak a-b-a-b atau a-a-a-a
Baris pertama dan kedua disebut sampiran
Baris ketiga dan keempat disebut isi
Terdapat banyak sekali jenis pantun, berdasarkan isinya pantun terdiri dari pantun anak, pantun muda mudi, pantun nasehat, pantun teka-teki dan pantun jenaka. Berikut ini pola pantun:

Buah lemon buah pepaya
Tapi membeli buah durian
Cobalah terka wahai saudara
Makin diisi kok makin ringan (Balon)

Seloka
Seloka yaitu jenis puisi Melayu, ini juga disebut dengan pantun berkait lantaran terdiri dari satu bait atau lebih yang masih terkait. Seloka berisi sindiran, ejekan, atau senda gurau yang dinyatakan dalam perumpamaan.Ciri seloka yakni bait kedua dan keempat pada bait pertama dipakai pada baris pertama dan ketiga pada bait selanjutnya. Berikut ini pola seloka:

Jalan-jalan ke kota batik
Naik motor milik si Aan
Jikalau engkau berkendara dengan baik
Supaya selamat hingga tujuan
Naik motor milik si Aan
Siang-siang kena panas
Supaya selamat sampat tujuan
Taatilah kemudian lintas
Siang-siang kena panas
Pakai payung tutup kepala
Taatilah kemudian lintas
Agar berkah bagi semua

Gurindam
Gurindam yaitu jenis puisi usang yang berasal dari Tamil (India) yang berisi wacana nasihat, dengan hukum setiap bait terdiri atas 2 baris dan bersajak a-a. Berikut ini pola gurindam:

Ketika muda malas sembahyang
Masa bau tanah sanggup terguncang
Siapa tidak hormat orang tua
Akan jauh dari busuk surga
Kalaulah engkau banyak tidur
Banyak rezeki jadi terkubur
Jika suami berhati kufur
Keluarga idaman niscaya terkubur

Karmina
Karmina atau pantun kilat ini merupakan jenis puisi yang identik fengan pola sajak lurus yaitu a-a. Karmina biasanya dipakai untuk menyindir. Berikut pola karmina:

Dahulu beras kini ketupat
Orang pemerat tersiksa si akhirat
Buah durian tajam berduri
Baca Al Alquran tenangkan hati
Ikan salem beli di pasar
Pipi tembem buatku gusar
Pergi ke bahari asin airnya
Nyali menciut lantaran beliau menyapa

Mantra
Jenis puisi usang ini sering dikaitkan dengan hal-hal ghaib. Mantra mempunyai rima dan irama dan bersifat misterius. Bahasa yang dipakai dalam mantra biasanya bermajas metafora dan bersifat esoferik yaitu bahasa khusus yang dipakai antara pembicara dan lawan bicara. Berikut ini pola mantra:

Sihir lontar pinang lontar
terletak diujung bumi
Setan buta jembalang buta
saya sapa tidak berbunyi

Talibun
Talibun ini menyerupai dengan pantun yakni mempunyai sampiran dan isi, yang membedakannya talibun mempunyai banyak baris yaitu sekitar 6-12 baris. Jumlah baris talibun harus berjumlah genap. Dalam talibun, setengahnya merupakan sampiran dan setengahnya lagi merupakan isi. Misalnya, apabila talibun berisi 6 baris maka 3 baris pertama yaitu sampiran dan 3 baris selanjutnya yaitu isi dengan sajak a-b-c-a-b-c. Berikut ini pola talibun:

Duduk berpangku menatap purnama
Anak tertawa sambil berlari
Aku pun telah hilang kuasa
Menangkap pesan yang tersirat
Anak cucu hormatilah mama
Agar hilang semua duri
Jangan hingga berbuat dosa
Dan selamat kelak di akhirat

Baca Artikel Lainnya: