Pengertian Model Pembelajaran & Istilah Model

Pengertian Model Pembelajaran & Istilah Model

Pengertian Model Pembelajaran & Istilah Model

Secara umum istilah “model” diartikan sebagai barang tiruan dari benda sesungguhnya. Dalam pengertian lain, model diartikan sebagai kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan suatu kegiatan. Nasution (1993) menyataiean: “model pembelajaran adalah suatu pola pendekatan yang menyeluuh yang digunakan untuk mendesain pembelajaran”.
Model pembelajaran juga dapat dideferusikan sebagai suatu pola yang menerangkan suatu proses penyebutan dan menghasilkan suatu situasi lingkungan yang menyebabkan para siswa berinteraksi dengan terjadinya perubahan, khususnya pada tingkah laku. Suherman, dkk (1999:34) menyatakan: “Fungsi model pembelajaran adalah pedoman bagi peraneang pengajaran dan para guru dalam merencanakandan melaksanakan aktivitas pembelajaran”.
Berdasarkan beberapa pendapat tersebut, maka dapat diambil suatu­kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan model pembelajaran adalah kerangka kansept;ual yang menyajikan prosedur yang sistematika dalam rnengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar.
Dalam upaya meningkatkan kemampuan kreatif siswa Munandar (1999:79) menyatakan bahwa: “Belajar kreatif tidak timbul secara kebetulan tetapi memerlukan persiapan, antara lain dengan menyiapkan suatu lingkungan kelas yang merangsang anak-anak unt:uk belajar secara. kreatif’.
Menurut Feldhusen dan Treffinger (dalam Munandar,1999: R0-81 ) suatu lingkungan kreatif dapat tercipta dengan:

1. Memberikan pernanasan

Sebelum mulai dengan suatu obyek atau kegiatan yang menuntut kreatif siswa sesuai dengan rencana pelajaran, perlu lebih dahulu di usahakan sikap menerima (reseptif) di kalangan para siswa. Tugas atau kegiatan yang bertujuan meningkatkan pemikiran kreatif menuntut sikap yang berbeda,lebih terbuka dan tertantang untuk berperan secara aktif dengan memberikan gagasan sebanyak mungkin.
2. Pengaturan fisik
Pengaturan fisik ini di dalam kelas, misalnya untuk kegiatan- kegiatan terientu seperti diskusi dalam kelompok-kelompok kecil para siswa duduk dalam lingkaran, jika kelompoknya besar, anak-anak dapat menyisihkan bangku-bangku dan duduk dilantai.
3. Kesibukan dalam kelas
Kegiatan belajar secara kreatif sering menuntut lebih banyak kegiatan fisik dan diskusi diantara siswa. Oleh karena itu, hendaknya guru agak tenggang rasa dan luwes dalam menuntut ketenangan dan “setiap anak tetap duduk pada tempatnya”. Guru hants dapat membedakan antara kesibukan yang asyik serta suara-suara yang “produktif’ yang menunjukkan bahwa siswa-siswa bersibuk diri secara kreatif.
4. Guru sebagai fasilitator
Sebagai fasilitator seorang guru harus:
  1. Mendorong belajar mandiri sebanyak mungkin
  2. Dapat menerima gagasan-gagasan dari semua siswa
  3. Memupuk siswa (dan diri sendiri) untuk memberikan kritik secara konstruktif dan untuk memberikan penilaian diri sendiri.
  4. Berusaha menerima perbedaan menurut waktu dan ke ;epatan antar siswa dalam kemampuan memikirkan ide-ide ba.ru.
Jadi dalam meningkatkan berpikir kreatif siswa, siswa itu sendiri harus aktif dan ingin mendalami bahan yang akan dipelajari, jadi bukan hanya menyangkut kognitif tetapi juga berhubungan erat dengan penghayatan pengalaman belajar yang menyenangkan.

Dari pernyataan di atas dapat disirnpulkan bahwa seseorang dapat menjadi kreatif karena kondisi pribadi dan lingkungan yang mendorong untuk melakukan ha1-hal yang kreatif. Pertanyaan-pertanyaan divergen atau terbuka dapat juga merangsang berpikir kreatif seseorang. Pertanyaan seperti ini bisa membuka diskusi karena memiliki banyak kemungkinan jawaban.


Baca Juga :