Pengertian Kebudayaan dan Masyarakat

Pengertian Kebudayaan dan Masyarakat

Pengertian Kebudayaan dan Masyarakat

Pengertian Kebudayaan dan Masyarakat
Pengertian Kebudayaan dan Masyarakat
Kebudayaan
Kebudayaan “cultuur” (bahasa Belanda), “culture” (Bahasa Inggris), berasal dari perkataan latin “colere” yang berarti mengolah, mengerjakan, menyuburkan dan mengembangkan, terutama mengolah tanah atau bertani. Dari segi arti ini berkembanglah arti culture sebagai segala daya dan aktivitet manusia untuk mengolah dan mengubah alam.

Dilihat dari sudut bahasa Indonesia, kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta “budhayyah” yaitu bentuk jamak dari buddhi yang berarti budi atau akal. Pendapat lain mengatakan, kebudayaan secara keseluruhan adalah hasil usaha manusia untuk mencukupi semua kebutuhan hidupnya.
Sesuai dengan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian kebudayaan secara umum adalah suatu kebiasaan yang dilakukan masyarakat pada suatu tempat tertentu yang berlangsung secara turun temurun.

2.    Masyarakat
Masyarakat adalah kumpulan individu-individu yang bergabung menjadi sekelompok orang, yang saling hidup bersamaan dan saling tergantung antara satu sama yang lain. Ada teori lain yang menjelaskan tentang syarat-syarat pembentukan suatu masyarakat diantaranya manusia yang hidup bersama, minimal ada 2 orang yang saling hidup bersama, bercampur untuk waktu yang lama, adanya kesadaran akan terikatnya satu sama lainnya, serta adanya aturan-aturan yang mengatur untuk menuju kepada kepentingan dan tujuan bersama.

B.    Hubungan Masyarakat dan Kebudayaan
Kebudayaan itu memiliki sifat kompleks, banyak seluk beluknya dan merupakan totalitas, merupakan keseluruhan meliputi pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum dan lain-lain yang diperoleh manusia di dalam masyarakat. Sehingga dapat diketahui bahwa pencipta kebudayaan adalah manusia. Sedangkan fokus kebudayaan adalah masyarakat.
Sesuai penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa antara masyarakat dan kebudayaan memiliki hubungan yang sangat erat. Di dalam masyarakat, kebudayaan itu di satu pihak dipengaruhi oleh anggota masyarakat, tetapi di lain pihak anggota masyarakat itu dipengaruhi oleh kebudayaan, misalnya orang Eropa yang beriklim dingin, terpaksa harus membuat pakaian tebal. Di daerah yang banyak kayu mengharuskan masyarakat untuk membuat rumah dari kayu dan sebagainya. Jika dilihat dari sudut skematik kebudayaan, kebudayaan itu merupakan hasil dari suatu adat dan tradisi yang memiliki aturan-aturan mengikat, yang diciptakan oleh beberapa kumpulan individu sebagai warisan kebudayaan karena faktor tempat tinggal yang mana hasil dari kebudayaan tersebut dengan sengaja atau tidak, sesungguhnya ada dalam masyarakat. Dengan hasil budaya itu, manusia kemudian memiliki kehidupan dan pola kehidupan ini pula dapatlah mempengaruhi cara berpikir dan gerak sosial, contohnya: kehidupan umat Islam di Jawa Tengah dengan Sumatra Barat berlain-lain, sebab pola kehidupan mereka juga lain. Hal ini disebabkan adanya pengaruh kultur (kebudayaan) di daerah itu.

C.    Pengertian Relativisme Kebudayaan
Standar-standar tingkah laku berhubungan dengan kebudayaan dimana standar-standar itu berlaku, yaitu suatu gejala yang disebut dengan relativitas kebudayaan. Relativisme kebudayaan menjelaskan apa sebabnya suatu perbuatan tertentu misalnya memakai pakaian tanpa penutup dada dipandang pantas di dalam kebudayaan yang satu tetapi sebaliknya merupakan perbuatan yang seratus persen amoral dalam kebudayaan yang lain. Penjelasan yang sama berlaku juga bagi pandangan-pandangan sehubungan dengan pemerintahan atau agama yang akan dipandang benar dan baik di dalam kebudayaan yang satu, tetapi sebaliknya buruk dan terlarang di dalam kebudayaan yang lain.
Maka dari itu, apa yang dianggap baik atau buruk apa yang diinginkan atau apa yang tidak diinginkan, semuanya itu berkaitan dengan rumusan yang dibuat seseorang menurut situasinya. Hal ini akan dilakukan menurut prasyarat-prasyarat yang ditentukan oleh kebudayaan orang itu. Itulah sebabnya mengapa para ahli ilmu sosial sangat berhati-hati di dalam menganalisa tingkah laku di dalam konteks kebudayaan yang dimaksud.

D.    Akibat Adanya Pengaruh Relativisme di Dalam Masyarakat
Sifat relatif dari kebudayaan itu memberikan suatu penjelasan mengenai tingkah laku. Ada 3 perwujudan beserta konsekuensi-konsekuensi tingkah laku sebagai akibat dari prasyarat-prasyarat yang ditentukan oleh kebudayaan itu, yakni:
1.    Fanatisme Suku Bangsa (Ethnosentrisme)
Pengamat yang arif, selagi bepergian, selagi bepergian dari negeri yang satu ke negeri yang lain, ia akan melihat bahwa hampir semua individu yang dijumpai akan menganggap bahwa kebudayaannya lebih baik atau lebih tinggi daripada kebudayaan-kebudayaan lainnya dalam satu atau lain hal. Orang Prancis akan membanggakan bahasanya yang indah, orang Italia akan membanggakan musiknya, Orang Amerika membanggakan kekayaan materinya, dan orang timur membanggakan kearifannya yang diwarisinya dari zaman kuno. Tidaklah mengherankan kalau ada bangsa yang satu sangat meninggikan apa yang dimilikinya di atas bangsa-bangsa lain. Etnosentrisme ialah istilah yang dipakai untuk menyatakan kecenderungan untuk menilai kebudayaan-kebudayaan sendiri. Kebanyakan individu, bahkan mereka yang sudah memiliki tingkat pendidikan tinggi, pada satu atau lain saat akan jatuh menjadi korban.
Fanatisme memiliki keuntungan tertentu bagi kestabilan dan keutuhan kebudayaan sifat-sifat kepribadian seperti patriotisme, kesetiaan kepada bangsa dan provinsialisme sangat erat hubungannya dengan etnosentrisme. Sebaliknya selain mengurangi keobyektifan bagi ilmu pengetahuan, etnosentrisme juga menghambat hubungan antara kebudayaan-kebudayaan serta menghambat proses asimilasi kebudayaan (persatu-paduan) antara dua unsur kebudayaan yang merupakan satu campuran senyawa, yang menunjukkan satu gejala pada tingkah laku) antara kelompok-kelompok yang berbeda menjadi suatu bangsa yang besar.

2.    Guncangan Kebudayaan (Culture Shock)
Istilah culture shock ini pertama kali dipopulerkan oleh Kalervo Oberg. Ia menggunakan istilah ini untuk menyatakan apa yang ia sebut sebagai suatu penyakit jabatan dari orang-orang yang secara tiba-tiba dipindahkan ke dalam suatu kebudayaan yang berbeda dari kebudayaannya sendiri. Oberg mengatakan culture shock itu merupakan suatu bentuk penyakit mental yaitu penyakit yang tidak disadari oleh korbannya. Ia mengatakan bahwa penyakit ini timbul akibat kecemasan karena orang itu kehilangan semua tanda-tanda dan lambang-lambang pergaulan sosial yang sudah ia kenal dengan baik. Jika seribu macam tanda-tanda dan lambang-lambang yang bisa ia pakai untuk mengorientasikan dirinya itu hilang, misalnya kapan harus berjabat tangan, bagaimana cara membeli sesuatu, bagaimana caranya memberikan perintah kepada pembantu, ekspresi-ekspresi yang bagaimanakah yang harus diperlihatkan, dan sebagainya, maka orang itu akan kehilangan kedamaian di dalam pikiran dan efisiensi di dalam kerjanya.
Tahap-tahap yang membentuk siklus kultural shock bagi setiap individu, diantaranya:
•    Tahap Bulan Madu
Tanpa waktu orang akan merasakan sebagai suatu pengalaman batu yang menarik, misalnya seseorang yang biasanya hidup di tempat pemukiman tanpa adanya seorang pembantu tiba-tiba ia tinggal di suatu hotel untuk sementara waktu dan ia pun dijamu oleh orang-orang penting setempat.

Sumber : https://apartemenjogja.id/