Pendidikan Karakter

Pendidikan Karakter

Pendidikan Karakter
Pendidikan Karakter

Winton (2010)

pendidikan karakter adalah upaya sadar dan sungguh-sungguh dari seorang guru untuk mengajarkan nilai-nilai kepada para siswanya.

Burke (2001)

pendidikan karakter merupakan bagian dari pembelajaran yang baik dan merupakan bagian yang fundamental dari pendidikan yang baik.

Pendidikan karakter juga dapat didefinisikan sebagai pendidikan yang mengembangkan karakter yang mulia (good character) dari peserta didik dengan mempraktikkan dan mengajarkan nilai-nilai moral dan pengambilan keputusan yang beradab dalam hubungannya dengan Tuhannya. Definisi ini dikembangkan dari definisi yang dimuat oleh Funderstading (2006). Departemen Pendidikan Amerika Serikat mendefinisikan pendidikan karakter sebagai berikut: “ pendidikan karakter mengajarkan kebiasaan berfikir dan kebiasaan berbuat yang dapat membantu orang-orang hidup dan bekerja bersama sebagai keluarga, sahabat, tetangga, masyarakat, dan bangsa.” Menjelaskan pengertian tersebut dalam Brosur Pendidikan Karakter( Character Education brochure) dinyatakan bahwa: “ Pendidikan karakter adalah suatu proses pembelajaran yang memperdayakan siswa dan orang dewasa didalam komunitas sekolah untuk memahami, peduli tentang, dan berbuat berlandaskan nilai-nilai etik seperti respek, keadilan, kebajikan warga (civic virtue) dan kewarganegaraan (citizenship), dan bertanggung jawab terhadap diri sendiri maupun kepada orang lain.”

Menurut Scerenko (1997)

pendidikan karakter dapat dimaknai sebagai upaya yang sungguh-sungguh dengan cara mana ciri kepribadian positif dikembangkan, didorong,dan diberdayakan melalui keteladanan, kajian ( sejarah dan biografi para bijak dan pemikir besar), serta praktik emulasi ( usaha yang maksimal untuk mewujudkan hikmah dari apa-apa yang diamati dan dipelajari).

Sementara itu Arthur dalam makalahnya berjudul Tradisional Approaches to Character Education in Britain dan America (Nucci dan Narvaez, 2008), mengutip Anne Lockwood (1997) mendefinisikan pendidikan karakter sebagai aktivitas berbasis sekolah yang mengungkap secara sistematisbentuk perilaku dari siswa seperti ternyata dalam perkataanya: Pendidikan karakter didefinisikan sebagai setiap rencana sekolah, yang dirancang bersama lembaga lain, untuk membentuk secara langsung dan sistematis perilaku orang muda dengan mempengaruhi secara eksplisit nilai-nilai kepercayaan non-relativistik (diterima luas), yang dilakukan secara langsung menerapkan niilai-nilai tersebut.

UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) Pasal 3 menyatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan mejadi warga negara yang demokratis, serta bertanggung jawab.

Berdasarkan fungsi pendidikan nasional, mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa seharusnya berdampak pada watak/bangsa Indonesia. Fungsi ini amat berat untuk dipikul oleh pendidikan nasional, terutama apabila dikaitkan dengan siapa yang bertanggungjawab untuk keberlangsungan fungsi ini.

“Mengembangkan kemampuan” dapat dipahami peserta didik adalah manusia yang potensial dan dapat dikembangkan secara optimal melalui proses pendidikan. Artinya setiap layanan pendidikan yang ada di Indonesia harus di persepsi secara sama bahwa peserta didik itu memilki potensi yang luar biasa dan perlu difasilitasi melalui proses pendidikan untuk mengembangkan potensinya.

Dalam pendidikan karakter, kemampuan yang dikembangkan pada peserta didik melalui persekolahan adalah berbagai kemampuan yang akan menjadikan manusia sebagai makhluk yang berketuhanan dan mengemban amanah sebagai pemimpin dunia.

“Membentuk watak ” fungsi ini mengandung makna bahwa pendidikan nasional harus diarahkan pada pembentukan watak.pendidikan yang berorientasi pada watak merupakan suatu hal yang tepat. Istilah dalam perlakuan watak disini perlu diperjelas, apakah watak itu harus “dikembangkan”, “dibentuk”, atau “difasilitasi”. Perspektif pedagogik, lebih memandang bahwa pendidikan itu mengembangkan /menguatkan/memfasilitasi watak bukan membentuk watak. Jika watak dibentuk, maka tidak ada proses pendidikan/pedagogik, yang terjadi adalah pengajaran. Terjadinya proses pendidikan harus ada kebebasan peserta didik sebagai subjek didik, bukan sebagai objek.

Fungsi “peradaban bangsa”, dipahami bahwa pendidikan itu selalu dikaitkan dengan pembangunan bangsa Indonesia sebagai suatu bangsa. Pendidikan berfungsi untuk menjadikan manusia menjadi terdidik. Manusia terdidik akan menjadikan bangsa yang beradab. Bangsa yang beradab merupakan dampak dari pendidikan yang menghasilkan manusia terdidik.
Platform pendidikan karakter bangsa Indonesia telahdipelopori oleh tokoh pendidikan Ki Hadjar Dewantara yang tertuang dalam tiga kalimat yang berbunya:

Ing ngarsa sung tuladha
Ing madya mbangun karsa
Tut wuri handayani

Ing ngarsa sung tuladha (Di depan memberikan teladan)

Ketika berada di depan seorang guru memberikan contoh, teladan, dan panutan kepada peserta didiknya. Karena guru adalah sebagai seorang yang terpandang dan terdepan atau berada di depan para peserta didiknya, guru senantiasa memberikan panutan-panutan yang baik sehingga dapat di jadikan teladan bagi para peserta didiknya.

Ing madya mbangun karsa (Ditengah membangun kehendak)

Ketika berada di tengah seorang guru penyatu tujuan dan cita-cita peserta didiknya. Seorang guru diantara peserta didiknya berkonsolidasi memberikan bimbingan dan mengambil keputusan dengan musyawarah dan mufakat yang mengutamakan kepentingan peserta didik di masa depannya.

Tut wuri handayani (Di belakang memberikan dorongan)

Guru yang memiliki makna “digugu lan ditiru”(dipercaya dan dicontoh) secara tidak langsung juga memberikan pendidikan karakter kepada peserta didiknya. Oleh karena itu, profil dan penampilan guru seharusnya memiliki sifat-sifat yang dapat membawa peserta didiknya kearah pembentukan karakter yang kuat. dalam konteks ini guru berperan sebagai teladan peserta didiknya.

Baca Juga: