Pengertian Desentralisasi, Dekonsentrasi, dan Asas Pembantuan

Pengertian Desentralisasi, Dekonsentrasi, dan Asas Pembantuan

pengartian

Pengertian Desentralisasi, Dekonsentrasi, dan Asas Pembantuan

Dalam penyelenggaraan pemerintahan, pemerintah menggunakan asas desentralisasi, dekonsentrasi, dan tugas pembantuan. Sedangkan dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah, pemerintah daerah menggunakan asas otonomi dan tugas pembantuan.
  1. Desentralisasi adalah penyerahan wewenang pemerintahan oleh pemerintah kepada daerah otonom untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia.
  2. Dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang pemerintahan oleh Pemerintah kepada gubernur sebagai wakil pemerintah dan/atau kepada instansi vertikal di wilayah tertentu.
  3. Tugas pembantuan adalah penugasan untuk melaksanakan tugas tertentu dari:
  • Pemerintah kepada daerah dan/atau desa.
  • Pemerintah provinsi kepada kabupaten/kota dan/atau desa.
  • Pemerintah kabupaten/kota kepada desa.

Pemerintahan daerah yang ingin dikembangkan dewasa ini bertumpu pada nilai demokratisasi, pemberdayaan, dan pelayanan. Ini berarti bahwa pemerintahan daerah memiliki keleluasaan dalam pengambilan keputusan yang terbaik dalam batas-batas kewenangannya. Dengan demikian, seluruh potensi dan kualitas pelayanan publik yang diberikan kepada masyarakat dapat dikembangkan.

Faktor- faktor yang menentukan ekspor dan impor

Faktor- faktor yang menentukan ekspor dan imporFaktor- faktor yang menentukan ekspor dan impor

  1. Faktor- faktor yang menentukan ekspor

Suatu negara dapat mengekspor barang produksinya ke negara lain, apabila barang tersebut diperlukan oleh negara lain dan mereka tidak dapat memproduksi barang tersebut atau produksinya tidak dapat memenuhi keperluan dalam negeri.ekspor karet, kelapa sawit, petrolium dari beberapa negara asia tenggara berlaku oleh karena barang-barang tersenut dibeli oleh negara-negara yang tidak dapat memproduksinya. Sebaliknya pula, negara-negara Asia Tenggara mengimpor pesawat, dan berbagai jenis barang modal oleh karena mereka tidak dapat menghasilkan sendiri barang-barang tersebut.

Faktor yang lebih penting lagi adalah kemampuan  dari negara-negara tersebut untuk mengeluarkan barang- barang yang dapat bersaing dalam pasaran luar negeri. maksudnya, mutu dan harga barang yang diekspor tersebut haruslah sama baiknya dengan yang diperjual belikan di pasaran luar negeri.[3]

 

Pos-Pos Terbaru

Komponen pengeluaran agregast

Komponen pengeluaran agregastKomponen pengeluaran agregast

Dalam ekonomi terbuka, pengeluaran agregat meliputi lima jenis pengeluaran :

  1. Pengeluaran konsumsi rumah tangga ke atas barang-barang yang dihasilkan di dalam negeri (Cdn)
  2. Investasi perusahaan (I) untuk menambah kapasitas sektor perusahaan menghasilkan barang dan jasa
  3. Pengeluaran pemerintah ke atas barang dan jasa yang diperoleh di dalam negeri (G)
  4. Ekspor, yaitu pembelian negara lain ke atas barang buatan perusahaan-perusahaan di dalam negeri (X)
  5. Barang impor, yaitu batang yang dibeli dari luar negeri (M)

Dengan demikian, komponen pengeluaran agregat dalam ekonomi terbuka adalah : pengeluaran rumah  tangga ke atas barang buatan dalam negeri, investasi, pengeluaran pemerintah, pengeluaran ke atas barang impor dan pengeluaran orang luar negeri ke atas barang buatan dalam negeri (ekspor). Pengeluaran tersebut (AE) dapat dinyatakan dengan menggunakan formula berikut:

AE = Cdn + I + G + X + M

 

sumber :

http://blog.dinamika.ac.id/arya/2020/07/08/jasa-penulis-artikel/

Pengertian perekonomian empat sektor

Pengertian perekonomian empat sektorPengertian perekonomian empat sektor

Perekonomian terbuka atau perekonomian empat sektor adalah suatu sistem ekonomi yang melakukan kegiatan ekspor dan impor dengan negara-negara lain di dunia ini. Dalam perekonomian terbukan, sektor-sektornya dibedakan menjadi empat golongan yaitu: rumah tangga, perusahaan, pemerintah dan luar negeri. [1]

            Ekspor diartikan sebagai pengiriman dan penjualan barang-barang buatan dalam negeri ke negara-negara lain. Pengiriman ini akan menimbulkan aliran pengeluaran yang masuk ke sektor perusahaan. Dengan demikian pengeluaran agregat akan meningkat sebagai akibat dari kegiatan mengekspor barang dan jasa dan pada akhirnya keadaan ini akan menyebabkan peningkatan dalam pendapatan nasioanal.

            Impor merupakan pembelian dan pemasukan barang dari luar negeri ke dalam suatu perekonomian. Aliran barang ini akan menumbulkan aliran keluar atau bocoran dari aliran pengeluaran dari sektor rumah tangga ke sektor perusahaan. Aliran keluar atau bocoran ini pada akhirnya akan menurunkan pendapatan nasional yang dapat dicapai.

Dengan demikian, sejauh mana ekspor dan impor mempengaruhi keseimbangan pendapatan nasional tergantung kepada ekspor neto yaitu ekspor dikurangi impor. Apabila ekspor neto adalah positif, pengeluaran agregat dalam ekonomi akan bertambah. Keadaan ini akan meningkatkan pendapatan nasional dan kesempatan kerja.

 

Sumber :

http://dewi_marisa12u.staff.ipb.ac.id/2020/07/12/jasa-penulisan-artikel/

manfaat mempelajari akhlak tasawuf

HUBUNGAN AKHLAK DENGAN TASAWUF

A. Hubungan Akhlak dengan Ilmu Tasawuf

Para ahli ilmu tasawuf pada umumnya membagi tasawuf kepada tiga bagian, yaitu tasawuf falsafi, tasawuf akhlaqi, dan tasawuf ‘amali. Ketiga macam tasawuf ini tujuannya sama, yaitu mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan cara membersihkan diri dari perbuatan yang tercela dan menghiasi diri dengan perbuatan yang terpuji. Dengan demikian, dalam proses pencapaian tujuan bertasawuf, seseorang harus terlebih dahulu berakhlak mulia. Ketiga macam tasawuf ini berbeda dalam hal pendekatan yang digunakan.
Pendekatan yang digunakan tasawuf falsafi adalah pendekatan rasio atau akal pikiran. Tasawuf ini menggunakan bahan-bahan kajian atau pemikiran yang terdapat di kalangan para filosof, seperti filsafat tentang Tuhan, manusia dan hubungan manusia dengan Tuhan. Pendekatan yang digunakan dalam tasawuf akhlaqi adalah pendekatan akhlak yang terdiri dari takhalli (mengosongkan diri dari akhlak yang buruk), tahalli (menghiasinya dengan akhlak yang terpuji), dan tajalli (terbukanya dinding penghalang) yang membatasi manusia dengan Tuhan. Sedangkan pendekatan yang digunakan tasawuf ‘amali adalah pendekatan amal wirid, yang selanjutnya mengambil bentuk tarekat.
Hubungan antara ilmu akhlak dengan ilmu tasawuf dapat dilihat berdasarkan isyarat Al-Qur’an dan hadis yang menegaskan pentingnya akhlak manusia dalam menjalani kehidupan. Al-Qur’an dan hadis menekankan nilai-nilai kejujuran, kesetiakawanan, persaudaraan, rasa sosial, keadilan, tolong-menolong, murah hati, suka memberi maaf, sabar, baik sangka, berkata benar, pemurah, keramahan, bersih hati, berani, kesucian, hemat, menepati janji, disiplin, mencinntai ilmu, dan berpikiran lurus.
B. Esensi Tasawuf
Tasawuf bertujuan untuk memperoleh suatu hubungan khusus langsung dengan Allah. Hubungan yang dimaksud adalah mempunyai makna dengan penuh kesadaran bahwa manusia sedang berada di hadirat Allah SWT. Kesadaran tersebut akan menuju kontak komunikasi dan dialog antara roh manusia dengan Allah. Hal ini dapat dilakukan menusia dengan cara mengasingkan diri. Keberadaan manusia yang dekat dengan Allah SWT akan berbentuk ittihad (bersatu) dengan Tuhan.
C. Mahabbah kepada Allah
Kata mahabbah berasal dari kata ahabba, yuhibbu, mahabbatan yang berarti mencintai secara mendalam atau kecintaan yang mendalam. Dalam Mu’jam al-Falsafi, Jamil Saliba mengatakan bahwa mahabbah adalah lawan dari al-bagd, yakni cinta lawan dari benci. Al-Mahabbah juga berarti al-wadud, yakni sangat penyayang. Selain itu, al-Mahabbah juga berarti kecenderungan kepada sesuatu yang sedang berjalan. Tujuannya adalah untuk memperoleh kebutuhan yang bersifat materiil ataupun spiritual, seperti kecintaan orang tua terhadap anaknya.
Selanjutnya, kata mahabbah digunakan untuk menunjukkan pada suatu paham atau aliran tasawuf, yaitu kecintaan yang mendalam secara rohaniah kepada Allah SWT. Pengertian mahabbah dari segi tasawuf ini lebih lanjut dikemukakan al-Qusyairi. Menurut beliau, al-mahabbah adalah hal (keadaan) jiwa yang mulia yang bentuknya disaksikan oleh Allah SWT. Menurut Rabi’ah al-Adawiyah, dorongan mahabbah kepada Allah SWT berasal dari diri seseorang sendiri dan juga karena hak Allah untuk dipuja dan dicintai. Mahabbah di sini bertujuan untuk melihat keindahan Allah SWT.
D. Makrifat kepada Allah
Dalam tasawuf, makrifat berarti mengetahui Allah dari dekat. Dalam istilah Barat makrifat disebut gnosis, yaitu pengetahuan dengan hati nurani. Dengan makrifat, seseorang sufi lewat hati sanubarinya dapat melihat Allah SWT. Makrifat merupakan cermin seorang sufi. Jika seorang sufi melihat cermin, yang dilihatnya hanyalah Allah SWT.
Tokoh utama paham makrifat adalah Zunnun al-Misri. Menurutnya untuk menjelaskan paham makrifat perlu diketahui pengetahuan tentang Tuhan. Ada tiga macam pengetahuan untuk mengetahui Tuhan, yaitu:
1) Dengan perantara syahadat;
2) Dengan logika (akal pikiran sehat);
3) Dengan perantara hati sanubari.
Oleh karena itu, makrifat merupakan cahaya yang memancar ke dalam hati seorang sufi dengan sinarnya yang menyilaukan.

Pos-Pos Terbaru

arti asmaul husna

ASMAUL HUSNA

A. Menguraikan 10 Asmaul Husna yakni (Al Muqsith, An Nafii`, Al Waarist, Ar Raafi`, Al Baasith, Al Hafizh, Al Waduud, Al Waalii, Al Mu`izz, Al Afuww).

Menurut bahasa, asma’ul husna berarti nama-nama yang baik, sedangkan menurut istilah berarti nama-nama baik yang dimiliki Allah sebagai bukti keagungan dan kemuliaan-Nya. Di dalam al-Qur’an nama-nama yang baik dijelaskan pada Qs. Al-A’raf/7: 180 sebagai berikut :

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Artinya: “Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (Qs. Al-A’raf/7: 180)

Nama-nama indah (Asmaul Husna) yang berjumlah 99 menurut hitungan ulama Sunni, dapat dirangkai secara kronologis begitu indah ibarat seuntai tasbih. Dimulai dengan lafadz al-jalalah, Allah, dengan angka 0 (nol), yang di anggap angka kesempurnaan, disusul dengan al-Rahman, al-Rahim dan seterusnya sampai angka ke 99, al-Sabur. Dan kembali lagi ke angka nol, Allah (al-jalalah), atau kembali lagi ke pembatas besar dalam untaian tasbih, symbol angka nol berupa cyrcle, bermula dan berakhir pada stu titik, atau menurut istilah Al-Qur’an: Inna li Allah wa inna ilaihi raji’un,(kita berasal dari tuhan dan akan kembali kepada-Nya).

Seperti yang telah disebutkan di atas bahwa Asmaul Husna Allah SWT berjumlah 99 nama. Sebagian dari Asmaul Husna tersebut termasuk kedalam sifat wajib Allah, yakni sifat-sifat dan pasti dimiliki Allah SWT. Mengenai jumlah Asmaul Husna Rasulullah SAW bersabda; Artinya:” Sesunnguhnya Allah itu mempunyai Sembilan puluh Sembilan nama, seratus kurang satu. Barang siapa menghafalkannya dengan meyakini akan kebenarannya maka ia masuk syurga, sesungguhnya Allah itu maha ganjil tidak genap dan senang sekali sesuatu yang ganjil. (HR. Ibnu Majah).

Kembali lagi ke pembahasan awal, yakni menguraikan sifat Allah dalam Asmaul Husna (Al Muqsith, An Nafii`, Al Waarist, Ar Raafi`, Al Baasith, Al Hafizh, Al Waduud, Al Waalii, Al Mu`izz, Al Afuww).

Untuk lebih jelasnya saya akan menguraikan sebagai berikut;

1) Al Muqsith المقسط Yang Maha Seimbang.

Allah tidak pernah memberatkan satu pihak dengan pihak yang lain, dan Allah tidak meringankan satu pihak dengan pihak yang lain, kaya dan miskin, kedudukan raja dan budak, semuanya di Anggap sama.

2) An Nafii` النافع Yang Maha Memberi Manfaat.

Dikatakan bahwa Dialah yang memberi Manfaat, Allah menciptakan apa-apa yang ada di bumi ini untuk memberikan manfaat kepada mahluknya.

3) Al Waarits الوارث Yang Maha Pewaris.

Dalam kehidupan manusia Allah tidak hanya mewarisi harta, tanah/daerah (QS, Al-Ahzab 33.27) tapi juga Al-Qur’an (Qs. Al-Fatir 35.32) bahkan atas izin-Nya seseorang dapat mewarisi ilmu (An-Naml 27.16) yang penting adalah mewarisi syurga (Qs. Maryam 19.19) .

4) Ar Raafi` الرافع Yang Maha Meninggikan (makhluknya).
Walaupun kita sudah jatuh, Ia dapat membangkitkan kita kembali, walaupun sudah mencapai titik rendah, Ia bisa meninggikan kembali. Karena tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah untuk dapat melakukannya.

5) Al Baasith الباسط Yang Maha Melapangkan (makhluknya).

Ketika kita dihadapkan dengan permasalahan hidup seakan-akan hari-hari yang kita hadapi cukup lama, ketika kita mendapatkan musibah seakan-akan kita pesimis untuk dapat melaluinya dan enngan mengikhlaskannya. Tapi ketika kita sadar, Dialah (Allah) yang maha melapangkan segala-galanya, Dalah yang melapangkan jiwa kita, yang membesarkan hati kita dan meningkatkan kesadaran kita. Karena Allah Maha Pengasih lagi penyayang hamba-Nya.

6) Al Hafizh الحفيظ Yang Maha Memelihara.

Begitu besar-Nya ia, sehingga segala sesuatu dapat dipelihara-Nya, tanpa pilih kasih, manusia yang kecil, yang sempit wawasannya tidak bisa mengasihi setiap orang. Manusia juga tidak bisa disebut sang pemelihara. Paling banter, kita hanya memelihara keluarga kita sendiri dan itupun karena kehendak-Nya. Tanpa rahmat-Nya kita tidak dapat melakukan apapun. Sebagai pemelihara dan melestarikan sifat-sifat bijak kita. Ia memberikan kepada fisik kita, ia pula yang memenuhi kebutuhan rohani kita. Pada saat melemah Ia lah sumber kekuatan, karena Ia adalah yang memberi kekuatan (al-Muqit).


Sumber: https://rollingstone.co.id/jasa-penulis-artikel/

hikmah tauhid uluhiyah

Hikmah dan Manfaat Bertauhid

Orang yang bertauhid akan memiliki hikmah yang besar, antara lain:

a. Tauhid yang kuat akan menumbuhkan sikap kesungguhan, pengharapan dan optimisme di dalam hidup ini. Sebab orang yang bertauhid meyakini bahwa kehidupan dunia adalah ladang akhirat.
b. Orang yang bertauhid jika suatu saat dikaruniai harta, maka ia akan bersyukur dan menggunakan hartanya itu di jalan Allah. Sebab ia yakin bahwa harta dan segala yang ada adalah milik Allah.
c. Dengan bertauhid akan mendidik akal manusia supaya berpandangan luas dan mau mengadakan penelitian tentang alam. Al-Qur’an telah memerintahkan kepada kita supaya memperhatikan penciptaan langit, bumi, dan segala isinya.
6. Bahaya Tidak Bertauhid
Keimanan yang kuat akan memberikan hikmah dan manfaat yang besar. Sebaliknya, sikap tidak bertauhid akan mendatang hal-hal negatif, diantaranya:
a. Orang yang tidak bertauhid tidak akan mempunyai rasa optimisme dan pengharapan dalam hidup, karena tidak ada dalam benaknya keyakinan akan adanya kehidupan setelah mati.
b. Orang yang tidak bertauhid akan berpandangan sempit. Tidak ada dorongan di dalam hatinya untuk melakukan penelitian dan renungan tentang rahasia di balik kekuasaan Allah Swt. Karena ia tidak percaya terhadap Allah Swt. Penghidupannya akan menjadi sempit, seperti firman Allah Swt dalam (QS. thaha : 124).

“dan Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam Keadaan buta”.
c. Orang yang tidak bertauhid akan mudah tertipu oleh hal-hal yang bersifat keduniawian. Prinsip hidup orang seperti ini yang penting senang, tidak peduli apakah hal itu benar atau salah.
d. Orang yang tidak bertauhid akan tertutup hatinya. Jiwanya mengalami disfungsi. Pesan-pesan Allah tidak akan mampu tertangkap meskipun Allah begitu dekat.

Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka dan penglihatan mereka ditutup dan bagi mereka siksa yang Amat berat. (QS. al-Baqarah : 7)


Sumber: https://pengajar.co.id/jasa-penulis-artikel/

apa yang dimaksud zikir bil qalbi

Keutamaan dan Hikmah Zikir

Zikir disamping sebagai sarana penghubung dengan sang khalik (pencipta) juga mengandung nilai dan daya guna yang tinggi. Ada banyak keutamaan dan hikmah yang terkandung dalam zikir.
Dari abu Hurairah ra. Berkata, “Rasulullah Saw bersabda, ‘Dua kalimat yang ringan diucapkan tetapi berat timbangannya dan disenangi oleh Allah Swt yaitu : Subhanallah wa bihamdihi sybhanallahal azhim (Maha suci Allah dengan segala pujian-Nya dan Maha suci Allah Yang Maha agung).”’ (HR. Muttafaq Alaih).[4]
Hikmah zikir antara lain:
a. Berzikir kepada Allah akan menimbulkan perasaan dekat kepada Allah dan merasa berada dalam perlindungan dan penjagaannya, juga dapat menghilangkan rasa cemas, takut, was-was dan putus asa.
b. Berzikir kepada Allah akan meningkatkan keyakinan kepada kebesaran dan kemahakuasaan-Nya, tidak ada yang lebih berkuasa dalam kehidupan kecuali Allah, maka dengan sendirinya hilanglah perasaan sombong, angkuh, dan takabur terhadap sesama manusia.
c. Berzikir kepada Allah akan menimbulkan perasaan ikhlas dan ridha kepada Allah, sehingga hilanglah perasaan iri hati, dendam, dan dengki.
d. Berzikir kepada Allah akan merasakan kenikmatan dan kenyamanan dalam diri seseorang, sehingga membuatnya memandang ringan segala macam kelezatan duniawi yang sejatinya bersifat fana’.
e. Banyak berzikir (mengingat Allah) berarti seseorang merasakan, bahwa Allah juga mengingatnya, sehingga timbul perasaan kagum dan cinta kepada Allah melebihi segalanya. Karena dekat dengan Allah maka dipermudahlah dalam segala urusannya.
f. Banyak berzikir (mengingat Allah) berarti banyak mengenang/menghayati kekuatan-kekuatan yang dimiliki Allah, sehingga timbul perasaan takut untuk melakukan perbuatan yang menimbulkan dosa dan akan melakukan segala kebaikan yang diperintahkan Allah serta menghindarkan diri dari perbuatan maksiat.[5]

E. Catatan Akhir

Dari uraian di Atas dapat disimpulkan bahwa Zikir berasal dari kata ذكر-يذكر-ذكرا, yang artinya menyebut, mengingat, memerhatikan, menuturkan, menjaga, mengambil pelajaran, mengenal, dan mengerti. Dzikrullah dapat mencakup penyebutan nama Allah atau ingatan menyangkut sifat-sifat atau perbuatan Allah, surga atau neraka-Nya, rahmat dan siksa-Nya, perintah dan larangan-Nya, wahyu dan segala yang dikaitkan dengan-Nya.
Zikir terbagi menjadi beberapa macam yaitu: Zikir lisany (zikir lidah) yaitu menyebut nama Allah dengan lidah. Zikir Qalby (zikir hati) yaitu menyebut nama Allah dengan hati. Zikir Aqly (zikir pikir) yaitu memikirkan arti, makna, dan maksud, yang terkandung dalam kalimat-kalimat zikir. Zikir Ruhy (zikir roh) yaitu kembalinya roh terhadap fitrah atau asal kejadiannya saat berada dalam arwah.
Hikmah zikir antara lain: Berzikir kepada Allah dapat menghilangkan rasa cemas, takut, was-was dan putus asa. hilangnya perasaan iri hati, dendam, dan dengki, sombong, angkuh, dan takabur terhadap sesama manusia. memandang ringan segala macam kelezatan duniawi. timbul perasaan kagum dan cinta kepada Allah melebihi segalanya. dipermudahlah dalam segala urusannya. Selalu melakukan segala kebaikan yang diperintahkan Allah serta menghindarkan diri dari perbuatan maksiat.

Pos-Pos Terbaru

contoh dzikir

Pengertian Zikir

Zikir berasal dari kata ذكر-يذكر-ذكرا, yang artinya menyebut, mengingat, memerhatikan, menuturkan, menjaga, mengambil pelajaran, mengenal, dan mengerti. Kata Zikir pada mulanya memiliki arti “mengucapkan dengan lidah atau menyebut sesuatu. Maka ini kemudian berkembang menjadi mengingat”. Karena mengingat sesuatu sering kali mengantar lidah menyebutnya. Demikian juga menyebut menyebut dengan lidah dapat mengantarkan hati untuk mengingat lebih banyak lagi apa yang harus disebut-sebut itu, disebut sifat, perbuatan, atau peristiwa yang berkaitan dengannya.
Dzikrullah dapat mencakup penyebutan nama Allah atau ingatan menyangkut sifat-sifat atau perbuatan Allah, surga atau neraka-Nya, rahmat dan siksa-Nya, perintah dan larangan-Nya, wahyu dan segala yang dikaitkan dengan-Nya. Biasanya perilaku Zikir diperlakukan orang hanya dalam bentuk renungan, yang sebenarnya Zikir itu bersifat implementatifdalam variasi yang aktif dan kreatif.
Berikut adalah ayat Al-Qur’an yang dapat dijadikan sebagai sebagai dalil disyariatkannya Zikir:
فَاذْكُرُوْنِيْ اَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْالِيْ وَلَاتَكْفُرُوْنِ
”Karena itu, ingatkah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu.” (QS Al-Baqarah:152).[2]

C. Macam-macam Zikir

Zikir terbagi menjadi beberapa macam yaitu sebagai berikut :
a. Zikir lisany (zikir lidah) yaitu menyebut nama Allah dengan lidah, bunyinya berupa kalimat subhanallah, alhamdulillah, shalawat, istighfar dan asma’ul husna. Zikir ini ada yang menyebut zikir Syari’at, dan zikir ini poin pahalanya paling rendah dibandingkan dengan macan zikir yang lain.
b. Zikir Qalby (zikir hati) yaitu menyebut nama Allah dengan hati kalimat tasbih, tahil, takbir, tahmid, taqdis, hauqolah, tarji’, istighfar. Zikir jenis ini poin pahalanya lebih banyak 70kali lipatatu lebih dibandingkan zikir lisan, karena zikir qalby tidak diketahui oleh orang lain sehingga keikhlasannya dapat lebih terjaga. Zikir ini juga disebut zikir tarikat (jalan untuk mencapai tingakatan zikir berikutnya).
c. Zikir Aqly (zikir pikir) yaitu memikirkan arti, makna, dan maksud, yang terkandung dalam kalimat-kalimat zikir. Zikir ini disebut juga tafakur (memikirkan) dan tadabur (merenungkan) yaitu merenungkan keesaan dan kekuasaan Allah sebagaimana yang tersurat dalam kalimat zikir yang diucapkan.
d. Zikir Ruhy (zikir roh) yaitu kembalinya roh terhadap fitrah atau asal kejadiannya saat berada dalam arwah, menyaksikan dan membuktikan wujudnya Tuhan secara langsung tanpa perantara. Zikir ini disebut juga zikir makrifat, dan ini tingkatan zikir tertinggi.[3]


Sumber: https://voi.co.id/jasa-penulis-artikel/

makalah tentang taubat

Fungsi Taubat

Bagi orang yang pernah melakukan dosa, perbuatan taubat berfungsi mengembalikan diri ke jalan yang benar setelah melakukan penyimpangan dari jalan Allah, atau mengembalikan diri ke jalan yang diridhai Allah, setelah melakukan hal-hal yang bertentangan dengan tuntunan Allah Swt. Perbuatan taubat, pada umumnya selalu dikaitkan dengan dosa yang dilakukan sebelumnya.
Bagi orang yang merasa tidak melakukan kesalahan, perbuatan taubat berfungsi sebagai upaya untuk meningkatkan kesadaran untuk selalu patuh terhadap perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya, dan sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas iman, serta menjadi upaya meningkatkan kualitas zikrullah, yang kesemuanya pada akhirnya meningkatkan perolehan pahala yang diberikan Allah Swt. Taubat adalah sebuah perbuatan yang sangat terpuji yang tidak hanya menjadi jalan untuk kembali ke halan yang benar, tetapi juga menjadi sarana untuk peningkatan iman dan kedekatan diri kepada Allah Swt. Jadin taubat itu dasarnya harus dilakukan kapan saja. Apakah merasa mempunyai dosa atau tidak, apakah merasa menyimpang dari jalan yang benar atau tidak dan dalam keadaan apa pun perbuatan taubat harus senantiasa dilakukan.[5]

D. Faedah Taubat

Ketahuilah bahwa tidaklah Allah memerintahkan sesuatu melainkan ada faedah di balik perintah tersebut, termasuk perintah agar kita bertaubat kepada-Nya. Taubat memiliki faedah, yaitu:
1. Terhapusnya dosa. Rasulullah Saw bersabda, “Orang yang bertaubat (dari dosanya) seakan-akan ia tidak berdosa.” (HR. Ibnu Majah, no. 4250).
2. Kejelekan diganti dengan kebaikan. Allah berfirman, artinya, “Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Qs. al-Furqan: 70).
3. Membawa keberuntungan. Allah berfirman, artinya, “Adapun orang yang bertaubat dan beriman, serta mengerjakan amal yang saleh, semoga dia termasuk orang-orang yang beruntung” (QS. al-Qashash: 67).
4. Jalan menuju Surga. Allah berfirman, artinya, “Kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh, maka mereka itu akan masuk surga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikitpun” (QS. Maryam: 60).
5. Pembersihan Hati. Allah berfirman, artinya, “Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan)” (QS. at-Tahriim: 4).
6. Diberi kenikmatan yang baik. Allah berfirman, artinya, “Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan …” (QS. Huud: 3).
7. Mendapat kecintaan Allah. Allah berfirman, artinya, “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.”(Qs. al-Baqarah: 222).[6]


Sumber: https://pendidikan.co.id/jasa-penulis-artikel/