Konsep Masyarakat Madani, Dalam Mewujudkan Masyarakat Islami

Konsep Masyarakat Madani, Dalam Mewujudkan Masyarakat Islami

Konsep Masyarakat Madani, Dalam Mewujudkan Masyarakat Islami

Konsep Masyarakat Madani, Dalam Mewujudkan Masyarakat Islami

Konsep Masyarakat Madani

Makna utama dari Masyarakat Madani adalah yang menjadikan nilai-nilai peradaban sebagai ciri utama. Karena itu dalam sejarah pemikiran filsafat, sejak filsafat Yunani sampai masa filsafat Islam juga dikenal istilah Madinah atau Polis yang berarti kota, yaitu masyarakat yang maju dan berperadaban. Masyarakat Madani menjadi simbol idealisme yang diharapkan oleh setiap masyarakat. Di dalam Al-Qur’an, Allah memberikan ilustrasi masyarakat ideal, sebagai gambaran dari Masyarakat Madani dengan firman-Nya dalam Al-Qur’an yang artinya: (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun (Qs. Saba’: 15).
Masyarakat Madani sebagai masyarakat yang ideal itu memiliki karakteristik sebagai berikut: (1) bertuhan, (2) damai, (3) tolong menolong, (4) toleran, (5) keseimbangan antara hak dan kewajiban sosial. seperti konsep zakat dan infaq, shadaqah, dan hibah bagi umat Islam serta jizyah dan kharaj bagi non Islam, merupakan salah satu wujud keseimbangan yang adil dalam masalah tersebut, (6) berperadaban tinggi, (7) berakhlak mulia.

Peranan Umat Islam dalam Mewujudkan Masyarakat Madani

Dalam konteks masyarakat Indonesia, dimana umat Islam adalah mayoritas, peranan umat Islam untuk mewujudkan masyarakat madani sangat menentukan. Kondisi masyarakat Indonesia sangat bergantung pada kontribusi yang diberikan oleh umat Islam. Peranan umat Islam itu dapat direalisasikan melalui jalur hukum, sosial politik, ekonomi dan yang lain. Sistem hukum sosial politik, ekonomi dan yang lain di Indonesia, memberikan ruang untuk menyalurkan aspirasinya secara kostruktif bagi kepentingan bangsa secara keseluruhan. Permasalahan pokok yang menjadi kendala saat ini adalah kemampuan dan konsistensi umat Islam Indonesia terhadap karakter dasarnya untuk mengimplementasikan ajaran Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara melalui jalur-jalur yang ada. Sekalipun umat Islam secara kuantitatif mayoritas, tetapi secara kualitatif masih rendah sehingga perlu pemberdayaan secara sistematis. Sikap amar ma’ruf dan nahi munkar juga masih sangat lemah. Hal ini dapat dilihat dari fenomena-fenomena sosial yang bertentangan dengan ajaran Islam, seperti angka kriminalitas yang tinggi, korupsi yang terjadi disemua sektor, kurangnya rasa aman, dan lain-lain sebagainya. Bila umat Islam Indonesia benar-benar mencerminkan sikap hidup yang Islami, pasti bangsa Indonesia menjadi bangsa yang kuat dan sejahtera.

Sistem Ekonomi Islam dan Kesejahteraan Umat

Yang dimaksud dengan sistem ekonomi Islam adalah sistem ekonomi yang terjadi setelah prinsip ekonomi yang menjadi pedoman kerjanya yang dipengaruhi atau dibatasi oleh ajaran-ajaran Islam. Sistem ekonomi Islam yang tersebut diatas bersumber dari Al-Qur’an dan Al-Hadits yang dikembangkan oleh pemikiran manusia yang memenuhi syarat dan ahli dalam bidangnya. Jika Al-Qur’an dan Hadits dipelajari dengan seksama, tampak jelas bahwa Islam mengakui motif laba (profit) dalam kegiatan ekonomi. Namun motif itu terikat atau dibatasi oleh syarat-syarat moral, sosial temperance (pembatasan diri).

Kesimpulan

Dalam ajaran Islam ada dua dimensi utama hubungan yang harus dipelihara, yaitu hubungan manusia dengan Allah dan hubungan manusia dengan manusia lain dalam masyarakat. Kedua hubungan itu harus berjalan serentak. Menurut ajaran Islam, dengan melaksanakan kedua hubungan itu hidup manusia akan sejahtera baik di dunia maupun di akhirat kelak. Untuk mencapai tujuan kesejahteraan dimaksud, di dalam Islam selain dari kewajiban zakat, masih disyari’atkan untuk memberikan sedeqah, infaq, hibah dan wakaf kepada pihak-pihak yang memerlukan. Lembaga-lembaga tersebut dimaksudkan untuk menjembatani dan memperdekat hubungan sesama manusia, terutama hubungan antara kelompok yang kuat dengan kelompok yang lemah, antara kaya dengan yang miskin.
Baca juga:

Kerukunan Antar Umat Beragama, Islam Rahmat bagi Seluru Alam

Kerukunan Antar Umat Beragama, Islam Rahmat bagi Seluru Alam

Kerukunan Antar Umat Beragama, Islam Rahmat bagi Seluru Alam

Kerukunan Antar Umat Beragama, Islam Rahmat bagi Seluru Alam
Kerukunan Antar Umat Beragama, Islam Rahmat bagi Seluru Alam

Islam Merupakan Rahmat Bagi Seluruh Alam

Kata Islam berarti damai, selamat, sejahtera, penyerahan diri, taat, dan patuh. Pengertian tersebut menunjukkan bahwa agama Islam adalah agama yang mengandung ajaran untuk menciptakan kedamaian, keselamatan, dan kesejahteraan kehidupan manusia pada khususnya dan semua makhluk Allah pada umumnya, serta penyerahan diri, mentaati, dan mematuhi ketentuan-ketentuan Allah Swt. Menurut ajaran Islam, manusia yang diberikan amanah oleh Allah Swt untuk menjadi Khalifah-Nya di bumi, harus dapat menciptakan kemaslahatan bagi semua makhluk Allah. Artinya bahwa, setiap perbuatan yang dilakukan manusia harus memberikan kebaikan dan tidak boleh merugikan atau menyakiti pihak lain dengan cara menegakkan aturan Allah. Itulah wujud rahmat dari agama Islam sebagaimana dinyatakan oleh Allah dalam Al-Qur’an 21 (al-Anbiya) ayat 107 ketika menjelaskan misi Rasulullah untuk menyampaikan agama Islam bagi umat manusia, yang artinya. “Dan tidaklah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.

Ukhuwah Islamiyah dan Ukhuwah Insaniyah

Kata ukhuwah berarti persaudaraan, maksudnya perasaan simpati dan empati antara dua orang atau lebih. Masing-masing pihak memiliki satu kondisi atau perasaan yang sama, baik suka maupun duka, baik senang maupun maupun sedih. Jalinan perasaan itu menimbulkan sikap timbal balik untuk saling membantu bila pihak lain mengalami kesulitan, dan sikap untuk saling membagi kesenangan kepada pihak lain, bila salah satu pihak menemukan kesenangan. Ukhuwah atau persaudaraan berlaku pada semua umat Islam yang disebut ukhuwah Islamiyah,dan berlaku pada semua umat manusia secara universal tanpa membedakan agama, suku, dan aspek-aspek kekhususan lainnya, yang disebut ukhuwah Insaniyah.
Konsep persaudaraan sesama manusia, ukhuwah Insaniyah dilandasi oleh ajaran bahwa semua umat manusia adalah makhluk Allah. Sekalipun Allah memberikan petunjuk kebenaran melalui ajaran Islam, tetapi Allah juga memberikan kebebasan pada setiap manusia untuk memiliki jalan hidup berdasarkan pertimbangan rasionya.

Kebersamaan Umat  Beragama dalam Kehidupan Sosial

Umat manusia mempunyai tanggung jawab bersama untuk menciptakan harmoni kehidupan sosial. Masing-masing elemen masyarakat berkewajiban melaksanakan peran sosial sesuai dengan bidang tugas dan kemampuannya. Konstribusi sosial yang ditekankan oleh Islam adalah kebaikan dan tidak berbuat kerusakan.
Perinsip tolong menolong sesama manusia memberikan makna universalisme nilai-nilai kebaikan yang diinginkan oleh setiap manusia. Nilai-nilai itu didalam Al-Qur’an diformulasikan dengan amar ma’ruf nahi munkar.

MAKHLUK PERTAMA YANG DICIPTAKAN ALLAH SWT

MAKHLUK PERTAMA YANG DICIPTAKAN ALLAH SWT

MAKHLUK PERTAMA YANG DICIPTAKAN ALLAH SWT

MAKHLUK PERTAMA YANG DICIPTAKAN ALLAH SWT
MAKHLUK PERTAMA YANG DICIPTAKAN ALLAH SWT

 

Pendahuluan

جَعَلْنَا مِنَ الْمَاء كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ
“Dan Kami jadikan dari air segala sesuatu yang hidup, apakah mereka beriman? “
(Qs Al Anbiya ‘ : 30 )

Ayat di atas secara gamblang menjelaskan kepada kita bahwa segala sesuatu yang hidup di dunia ini bahan baku penciptaannya berasal dari air. Tidak hanya benda hidup, benda matipun ternyata bahan bakunya berasal dari air. Lihatlah ayat dan hadist-hadits di bawah ini :
adalah firman Allah swt :
وَهُوَ الَّذِي خَلَق السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاء لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً
“Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah arsy-Nya (sebelum itu) di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya“ (Qs. Hud : 7)

Ayat di atas menjelaskan kepada kita bahwa keberadaan air jauh lebih dulu dari pada keberadaan langit dan bumi. Jadi air lebih tua umurnya dibanding langit dan bumi.
Hal ini dikuatkan oleh sabda Rasulullah shallallhu ‘alaihi wa sallam :
كَانَ اللَّهُ وَلَمْ يَكُنْ شَيْءٌ غَيْرُهُ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ وَكَتَبَ فِي الذِّكْرِ كُلَّ شَيْءٍ وَخَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ
“Dialah Allah yang- pada waktu itu – tidak ada sesuatupun selain Dia, sedangkan ‘arsy-Nya di atas air, lalu Dia menulis di dalam adz-Dzikir segala sesuatu (yang akan terjadi,) lalu Dia menciptakan langit dan bumi”. (HR. Bukhari, no : 2953)

Dikuatkan juga dgn hadist Abdullah bin Amru bin Al-Ash ra, bahwasanya Rasulullah saw bersabda :
كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ قَالَ وَعَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ
“Allah telah menentukan takdir bagi semua makhluk lima puluh ribu tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi. Rasulullah menambahkan: ‘Dan arsy Allah itu berada di atas air.” (HR. Muslim, no : 4797).

Mereka berucap, “Ukuran-ukuran tersebut adalah ketetapan-Nya dengan tulisan memakai Qalam berbagai ukuran.” (HR. Muslim no : 4797)
Hadits tersebut menunjukkan bahwa semua itu terjadi setelah penciptaan ‘Arsy. Cukup jelas bahwa penciptaan ‘Arsy lebih dahulu daripada penciptaan Qalam, yang dengannya segala takdir (ukuran atau ketetapan) ditulis. Demikianlah pendapat jumhur ulama.
Hadits yang membahas tentang Qalam diartikan bahwa memang Qalam adalah makhluk yang pertama kali diciptakan di antara benda-benda alam ini. Allah Subhanahu wa Ta ‘ala Maha Mengetahui kebenaran hal itu. Berikut nukilan syair-syair Ibnu Rawahah :

Aku bersaksi bahwa janji Allah adalah Haq
Neraka adalah tempat orang-orang kafir
Sesungguhnya Arsy berputar di atas air
Di atas Arsy Rabb alam semesta
Ia diusung oleh para malaikat yang mulia
Para malaikat Uah yang memakai tanda

Syekh Muhammad bin Abdul Wahab

Berkata : “ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ memberikan isyarat bahwa air dan arsy, keduanya adalah makhluq pemula dari alam ini, karena keduanya diciptakan sebelum langit dan bumi, dan pada waktu itu tidak ada di bawah arsy kecuali air. (Ushul Iman, hlm : 85)
Kita sekarang sudah mengetahui berdasarkan ayat dan hadist di atas, bahwa makhluq yang pertama kali diciptakan adalah air dan arsy. Bagaimana dengan hadist yang diriwayatkan oleh Ubadah bin Shomit, bahwasanya Rasulullah shallallhu ‘alaihi wa sallam bersabda :
إِنّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللَّهُ الْقَلَمَ فَقَالَ لَهُ اكْتُبْ فَجَرَى بِمَا هُوَ كَائِنٌ إِلَى الْأَبَدِ
“Sesungguhnya pertama kali yang Allah ciptakan adalah pena, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Tulislah.” Maka terjadilah apa yang akan terjadi hingga selamanya. (HR. Tirmidzi, dan beliau berkata : hadits ini adalah hadits hasan shahih gharib)

Hadist di atas menjelaskan bahwa makhluq pertama kali yang diciptakan Allah adalah Pena, padahal sebelumnya ada ayat dan hadist yang menerangkan bahwa makhluq pertama kali diciptakan adalah Air dan Arsy, terus mana yang benar? Tidak usah bingung bingung, karena di dalam kitab Fathu al Bari (6/289), Ibnu Hajar menjelaskan bahwa ayat-ayat dan hadist-hadist tersebut digabung dan dikompromikan, maka hasilnya sebagai berikut : makhluq yang pertama kali diciptakan adalah air, kemudian arsy, kemudian pena. Jadi, redaksi hadist di atas “ …pertama kali yang Allah ciptakan adalah Pena.. maksudnya adalah pertama kali setelah adanya air dan arsy…

Jika sudah benar-benar yakin bahwa air adalah makhluq pertama kali yang diciptakan Allah, maka betapa mulianya makhluq Allah yang bernama air itu, selain sebagai makhluq yang pertama kali diciptakan oleh Allah, dia juga makhluq yang darinya diciptakan segala sesuatu yang hidup. Subhanallah……..
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda (artinya) :
“Yang pertama kali Allah ciptakan adalah al-Qalam (pena), lalu Allah berfirman kepadanya: ‘Tulislah!’ Ia menjawab: ‘Wahai Rabb-ku apa yang harus aku tulis?’ Allah berfirman: ‘Tulislah taqdir segala sesuatu sampai terjadinya hari Kiamat.’”

(HR. Abu Dawud [no. 4700], Shahih Abi Dawud [no. 3933], at-Tirmidzi [no. 2155, 3319], Ibnu Abi ‘Ashim dalam as-Sunnah [no. 102], al-Ajurry dalam asy-Syari’ah [no.180], Ahmad [V/317], Abu Dawud ath-Thayalisi [no. 577], dari Sahabat ‘Ubadah bin ash-Shamit Radhiyallahu ‘anhu, hadits ini shahih). (Silahkan lihat buku Syarah ‘Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, tulisan Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas halaman 377).

Faedah hadits

Dari hadits di atas dapat diambil pelajaran bahwa makhluk yang pertama kali diciptakan Allah adalah al-Qalam.
Dengan hadits ini dapat kita ketahui kekeliruan orang yang mengatakan bahwa makhluk yang pertama kali diciptakan adalah Nur Muhammad.
(Silahkan lihat buku Koreksi Hadits-Hadits Dha’if Populer, tulisan Ustadz Yusuf Abu Ubaidah bin Mukhtar as-Sidawi halaman 24 dan 39).

Catatan

Bacalah firman Allah ketika memerintahkan kepada Rasulullah (artinya) :
Katakanlah : ‘Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku bahwa sesungguhnya Ilah kamu itu adalah Ilah Yang Esa.’” (QS. Al-Kahfi [18]: 110).
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda (artinya): “Malaikat diciptakan dari cahaya, Iblis diciptakan dari api yang menyala-nyala, dan Adam diciptakan dari apa yang telah disifatkan pada kalian.” (Shahih Muslim [VIII/226). (Buku Koreksi Hadits-Hadits Dha’if Populer, halaman 39 dan 40).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menegaskan bahwa hadits ini adalah dusta dengan kesepakatan ahli hadits. (Majmu Fataawaa [XVIII/367]). Demikian juga ditegaskan oleh Syaikh Sulaiman bin Sahman. As-Suyuthi juga menegaskan bahwasanya hadits ini tidak ada sanadnya. Demikian juga Jamaluddin al-Qasimi dan Muhammad Rasyid Ridha, keduanya menegaskan bahwa hadits ini tidak ada asalnya.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/