Museum Multatuli di Lebak Banten Segera Diresmikan

Museum Multatuli di Lebak Banten Segera Diresmikan

Museum Multatuli di Lebak Banten Segera Diresmikan

Museum Multatuli di Lebak Banten Segera Diresmikan
Museum Multatuli di Lebak Banten Segera Diresmikan

Kemendikbud — Museum Multatuli di Rangkasbitung Kabupaten Lebak Banten

akan segera diresmikan pada Minggu, 11 Februari 2018. Museum tersebut menyimpan barang-barang peninggalan Eduard Douwes Dekker atau Multatuli yang terkenal dengan novelnya yang berjudul Max Havelaar.

“Peresmian Museum Multatuli rencananya akan dihadiri oleh Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbud serta akan dihadiri juga dari perwakilan negara Belanda dan beberapa negara Eropa,” ujar Wawan Ruswandi, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lebak, saat ditemui di Gedung Garuda dalam acara Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan 2018 di Pusdiklat Kemendikbud Depok, Selasa (6/02/2018).

“Kepemilikan Museum Multatuli di Lebak ini tidak terkait dengan

yang di Amsterdam Belanda, namun Museum Multatuli di Lebak mendapat sejumlah hibah koleksi dari Museum Multatuli di Belanda,“ kata Wawan menambahkan.

Wawan berharap dengan dibukanya Museum Multatuli ini, generasi muda dapat belajar sejarah perjuangan Bangsa Indonesia dengan berkunjung ke museum. “Dengan adanya museum Multatuli ini akan mendorong literasi pendidikan, sejarah, dan wisata budaya di Lebak,” kata Wawan.

Museum Multatuli menyimpan koleksi diorama kehidupan rakyat Lebak sebelum kemerdekaan,

kebudayaan Banten, serta koleksi peninggalan Eduard Douwes Dekker. Museum di Rangkasbitung ini bakal menjadi museum antikolonial pertama di Indonesia. Museum Multatuli berdiri di bekas kantor kawedanan Lebak pada zaman Hindia Belanda.

Multatuli adalah nama pena Eduard Douwes Dekker, asisten residen Lebak yang bermukim di Rangkasbitung pada Januari hingga Maret 1856. Berdasarkan pengalamannya di daerah tersebut, Dia menulis sebuah novel berjudul Max Havelaar yang menceritakan tentang penderitaan rakyat Lebak akibat kebijakan tanam paksa dan semangat anti penjajahan. (Indra Kurniawan/Nur Widiyanto)

 

Sumber :

http://ejournal.upi.edu/index.php/WapFi/comment/view/15816/0/115984