Keuntungan metode historis

Memberikan gambaran tentang apa yang sebenarnya terjadi, dalam pengertian apa yang dapat dibangun berdasarkan fakta-fakta yang telah dibuktikan—melalui kritik internal dan eksternal—dapat dipercaya. Walaupun dalam penjelasan historis seseorang mempergunakan penyimpulan dan imajinasi untuk menutupi hal-hal yang tersembunyi, semua itu dilakukan atas dasar peninggalan masa lampau yang meyakinkan.
Yang dipelajari dalam sejarah adalah asal-usul, pertumbuhan dan perkembangan atau ringkasnya perubahan. Ini membawa kepada sikap terbuka dan kritis. Peneliti sejarah agama akan sadar bahwa setiap agama bergulat dengan kehidupan sehari-hari, terpengaruh dan mempengaruhi kekuatan-kekuatan yang bermain dalam kehidupan manusia. Dengan demikian, semua perkembangannya akan diperlakukan sama. Apa yang disakralkan oleh suatu kelompok atau aliran tertentu dalam agama, lalu kelihatan prosesnya yang bersifat “biasa” dalam sejarah dan karenanya tidak lagi diatribusikan kepada suatu sebab tunggal ilahiah, melainkan kepada perjalanan sejarah para pemeluk agama itu.

Keterbatasan metode historis

Kemungkinan tergelincir dalam historisisme, yakni kepercayaan bahwa dengan mengetahui proses kesejarahan, orang sudah memahami obyek dengan sepaham-pahamnya. Historisisme melupakan satu postulat sejarah sendiri, yakni bahwa obyek kajiannya mengalami perubahan. Sejarawan baru memahami bagian yang telah lewat, sedangkan yang akan datang—walaupun sebahagiannya dapat diprediksikan—mengandung kemungkinan-kemungkinan yang sering kali tidak dapat diperkirakan sebelumnya.
Subyektivitas yang timbul karena data selalu tidak cukup sehingga dalam membuat penjelasan dan paparan yang utuh tentang masa lampau (rekonstruksi dan eksplanasi) orang mesti menggunakan imajinasi (di samping penafsiran dan penyimpulan). Dalam melakukan ini, proyeksi pengalaman diri atas tokoh sejarah yang diselidiki sangat sulit dihindari.
Multi-interpretability data kesejarahan. Ini dapat menimbulkan kesalahan dalam menafsirkan fakta-fakta historis. Walaupun penjelasan logis dapat mendukung setiap interpretasi yang dibuat, kemungkinan interpretasi “lain” akan tetap ada. Menyebutkan semua interpretasi yang mungkin dibuat akan membuat pemaparan sejarah terlalu luas dan mengesankan ketiadaan sikap, tetapi membatasi hanya pada satu atau dua interpretasi menimbulkan dugaan akan kesempitan pandangan.
Pendekatan historis tidak memberikan kesimpulan praktis. Karena sifatnya menggambarkan dan menjelaskan, sejarah tidak menjangkau apa yang kemudian semestinya dikerjakan setelah obyek kajiannya diketahui dan alasan-alasan perbuatannya di masa lampau dimengerti. Dengan mengingat bahwa suatu obyek akan tetap mempertahankan sebahagian besar dari sifat-sifat dasarnya, orang lalu dapat memperkirakan apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang. Namun ini tidak menjadi tanggung jawab peneliti sejarah, walaupun pengetahuan yang cukup tentang masa lampau akan memberikan bekal bagi seseorang dalam melihat masa depan


Sumber: https://www.gurupendidikan.co.id/jasa-penulis-artikel/