MACAM-MACAM DAN BENTUK-BENTUK’IDDAH

MACAM-MACAM DAN BENTUK-BENTUK'IDDAH

MACAM-MACAM DAN BENTUK-BENTUK’IDDAH

MACAM-MACAM DAN BENTUK-BENTUK'IDDAH
MACAM-MACAM DAN BENTUK-BENTUK’IDDAH

1. Qabl al mass dan ba’d al mass

Dilihat dalam ungkapan Al-Qur’an adalah apakah wanita itu sudah digauli (ba’d al mass) atau belum (qabI al mass). Artinya : Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu menikahi perempuan­-perempuan yang beriman, Kemudian kamu ceraikan mereka sebelum kamu mencampurinya Makas sekali-sekali tidak wajib atas mereka ‘iddah bagimu yang kamu minta menyempurnakannya. Makes berilah mereka mutah dan lepaskanlah mereka itu dengan cares yang sebaik- baiknya. (QS. Al Ahzab : 49)

“Adalah masa yang ditemnuh seorane istri karena cerai baik setelah bubungan seksual dengan suaminya secara svuigguhan atau secara hukum (dinyatakan telah berhubungan seksual dengan suaminya) dalam suatu ikatan pernikahan yang sah”.

2. Bagi perempuan yang hamil

Adalah iddahnya sampai lahir anak yang dikandungnya itu, baik cerai mati maupun cerai hidup.
Allah berfirman Artinya : Dan perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (monopause) di antara perempuan-perempuanmu jika kamu raga-raga (tentang masa iddahnya), Maka masa iddah mereka adalah tiga bulan; dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid dan perempuan­-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya. dan barang -siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya. (QS. AI Thalaq : 4)

3. Bagi perempuan yang tidak hamil

Adakalanya “cerai mati” atau “cerai hidup”. Cerai mati iddahnva yaitu 4 bulan 10 hari.
Firman Allah : Artinya: Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber’iddah) empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila Telah habis ‘iddahnya, Maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat. (QS. Al Baqarah
234)

4. Dalam masa-masa haidh atau tidak

Al-Qur’an menyatakan bahwa wanita yang dicerai suaminya sedangkan ia masih berada dalam masa-masa haidh sehingga ia dapat menjadikan masa-masa haidh sebagai patokan waktu, iddahnya adalah 3 kali suci.
Finnan Allah : Artinya : Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru’ tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya, lika mereka beriman kepada Aiiah dan hari akhirat. dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu, jika mereka (para suam; I menghendaki ishlah. dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang maruf akan tetapi para suarni, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha bijaksana. (QS. Al Baqarah : 228)

Kalau perempuan itu tidak sedang haidh iddahnya selama tiga bulan.
Artinya : Dan perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (monopause) di antara perempuan-perempuanmu jika kamu raga-raga (tentang masa iddahnya), Maka masa iddah mereka adalah tiga bulan; dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid dan perempuan­-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya. dan barang -siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya. (QS. AI Thalaq : 4)

Perempuan yang tidak haidh ada 3 yaitu :
1. Masih keeil (beltun sampai umur)
2. Sudan sampai umur, tetapi belum pernah haidh
3. Sudan pemah haidh, tetapi sudah tua. Jadi sudah tidak haidh lagi.
Istri yang diceraikan suaminya sebelum dicampurinya, tidak ada iddahnya (tak perlu beriddah).
Firman Allah Artinya : Kemudian kamu ceraikan mereka sebelum kamu mencampurinya Maka sekali-sekali tidak wajib atas mereka ‘iddah (QS. AI Ahzab : 49)

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/khutbah-hari-raya-idul-fitri-menjaga-hati-tiga-pesan-ramadhan/