Konsep Penelitian Mixed Methode (Metode Campuran)

Penentuan pendekatan penelitian metode campuran didorong oleh asumsi-asumsi filosofis, yaitu epistemologis dan ontologis. Lebih lanjut asumsi-asumsi filosofis ini membentuk persepsi yang meyatakan bahwa terdapat perbedaan secara mendasar antara penelitian dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Perbedaan prinsip filosofis ini menimbulkan kompetisi yang kemudian disebut sebagai paradigma yang menuntut masing-masing metode yang berbeda.[5]

Brymman dalam Sarwono (2011) menyatakan bahwa masalah perbedaan filosofis tidak sesederhana ini dan menjadi semakin kompleks. Sebab, masing-masing aliran filosofis tersebut ternyata mendefinisikan penelitian justru bukan alirannya sendiri. Peneliti kualitatif yang berusaha mendefinisikan penelitian kuantitatif didasarkan pada kaca mata mereka sendiri sehingga terjadi perbedaan antara kedua pendekatan ini semakin menjadi kompleks.

Penelitian kuantitatif berkiblat kepada aliran positivisme, sehingga muncul sebutan-sebutan terhadap metode penelitian kuantitatif yaitu metode tradisional, positivistik, scientific, dan metode discovery. Sedangkan penelitian kualitatif berkiblat kepada aliran post-positivistik, sehingga muncul sebutan-sebutan terhadap metode penelitian kualitatif yaitu sebagai metode baru, postpositistik, artistik, dan interpretatif (Sugiyono, 2010).

Perdebatan mengenai paradigma dapat tidaknya peneliti mencampur penelitian pendekatan kuantitatif dan penelitian pendekatan kualitatif, tidak serta merta mereda. Terdapat tiga aliran besar yang menyikapi masalah ini, yaitu pandangan kelompok beraliran keras, pandangan kelompok pragmatis, dan pandangan kelompok dialektis.

Pandangan kelompok garis keras, berpendapat bahwa mencampur kedua pendekatan merupakan hal yang tidak mungkin dilakukan, karena filsafat yang mendasari tiap-tiap pendekatan berbeda. Filsafat positivisme sebagai payung pendekatan penelitian kuantitatif berpandangan bahwa realitas kehidupan dapat diketahui secara objektif dan dalam tataran tertentu dapat dilihat dari hubungann sebab-akibat. Sementara itu, penganut pendekatan kualitatif berpandangan bahwa kenyataan kehidupan padat dibangun secara sosial dan hanya dapat diketahui dari beberapa sudut pandang yang subjektif. Itulah sebabnya sebuah penelitian dianggap tidak akan pernah bebas nilai. Jika kedua pandangan tersebut diperhadapkan maka diketahui bahwa keduanya bertentangan satu dengan lainnya. Konsekuensinya sulit untuk menggabung kedua pandangan yang bertolak belakang.

sumber :
https://situsiphone.com/seva-mobil-bekas/