Kepsek SDN Izinkan SMP Terbuka 1 Cijeruk Gunakan 3 RKB

Kepsek SDN Izinkan SMP Terbuka 1 Cijeruk Gunakan 3 RKB

Kepsek SDN Izinkan SMP Terbuka 1 Cijeruk Gunakan 3 RKB

Kepsek SDN Izinkan SMP Terbuka 1 Cijeruk Gunakan 3 RKB
Kepsek SDN Izinkan SMP Terbuka 1 Cijeruk Gunakan 3 RKB

Kepal Sekolah Dasar (SD) Negeri Langensari Kabupaten Bogor, Jawa Barat, melalui stafnya, Adih

membuat surat pernyataan bersedia bangunan sekolahnya digunakan untuk kegiatan belajar (TKB) SMP Terbuka 1 Cijeruk, yang sempat viral lantaran belajar di bawah tenda terpal.

“Bertindak atas nama beliau menyatakan bahwa SD Negeri Langensari bersedia menjadi TKB siswa-siswa SMP Terbuka 1 Cijeruk, yang sebelumnya belajar di TKB Madrasah Diniyah Cijeruk,” tulisnya dalam surat pernyataannya di Bogor, Minggu (15/9).

Pihaknya menyediakan tiga ruangan untuk belajar selama empat hari

dalam seminggu untuk para siswa SMP Terbuka 1 Cijeruk. Sedangkan waktu pembelajaran yang tersedia mulai pukul 13.00 WIB sampai dengan 16.30 WIB.

Achmad Suharto, dari SMP Terbuka 1 Cijeruk, memaparkan kronologi viralnya kegiatan belajar SMP Terbuka 1 Cijeruk yang belajar di bawah tenda terbuat dari terpal itu.

Menurutnya, sehari selang beredarnya video tersebut, pejabat dari Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor langsung mendatangi Kantor Kecamatan Cijeruk untuk mengonfirmasi, sekaligus mencari solusi penanganannya.

Dari hasil pertemuan, mencuat permasalahan ketika Guru Pamong pemilik lahan

tersebut merekam kegiatan belajar mengajar yang berlangsung di bawah tenda terbuat dari terpal.

“Video ini kemudian disebarluaskan kakak kandung Guru Pamong melalui Youtube, termasuk dikirim secara pribadi ke Ibu Bupati Bogor. Video ini kemudian menjadi viral,” bebernya.

Diberitakan sebelumnya, penggagas SMP Terbuka 1 Cijeruk, Cucu Sumiati, mengisahkan proses belajar mengajar di sekolah itu yang sangat memprihatinkan sehingga ia sendiri harus mengikhlaskan gajinya.

Ibu dua anak itu mencari donatur untuk memenuhi kebutuhan alat tulis sekolah. Selama ini, SMP Terbuka Cijeruk memang mendapatkan bantuan alat tulis sekolah dari sekolah induk, yakni SMPN 1 Cijeruk. Tetapi, jumlahnya tidak memenuhi kebutuhan yang digunakan.

“Dikasih sama sekolah induk. Namun tidak memenuhi. Terkadang dari honor saya (membeli alat tulis sekolah, red) buat menutupinya,” kata Cucu.

Cucu Sumiati sendiri saat ini menjadi tulang punggung keluarga, setelah suaminya meninggal dunia. Perempuan lulusan SMK itu harus menghidupi kedua anaknya yang masih kuliah dan SMP. Padahal, sebagai tenaga honorer, Cucu  digaji pemerintah per bulan Rp520 ribu.

Puluhan siswa SMP Terbuka 1 Cijeruk terpaksa belajar di tenda lantaran tak memiliki lahan bangunan sekolah. Kondisi tersebut sudah berlangsung selama delapan tahun. Para siswa  belajar di tenda beratapkan terpal sobek di halaman depan dan belakang rumah milik seorang guru. (R2)

 

Baca Juga :