Implentasi Mudharabah dalam Lembaga Keuangan Syariah

Implentasi Mudharabah dalam Lembaga Keuangan Syariah

Implentasi Mudharabah dalam Lembaga Keuangan Syariah

  1. Pengertian (dalam Konteks Pembiayaan)
  2. Keuntungan usaha dibagi berdasarkan perbandingan nisbah yang telah disepakati dan pada akhir periode kerja sama nasabah harus mengembalikan semua modal usaha lembaga keuangan.
  3. Dalam hal terjadi kerugian, maka akan menjadi tanggungan lembaga keuangan, kecuali bila kerugian diakibatkan oleh kelalaian nasabah. Untuk menghindari kemungkinan terjadinya kerugian, lembaga keuangan harus memahami karateristik risiko usaha tersebut dan kerja sama dengan nasabah untuk mengatasi berbagai masalah.

  4. Aplikasi (dalam Konteks Pembiayaan)

  5. Pembiayaan modal kerja; modal bagi perusahaan yang bergerak dalam bidang industri, perdagangan, dan jasa.
  6. Pembiayaan investasi; untuk pengadaan barang-barang modal, aktiva tetap dan sebagainya.
  7. Pembiayaan investasi khusus; bank bertindak dan memosisikan diri sebagai arranger yang mempertemukan kepentingan pemilik dana, seperti yayasan dan lembaga keuangan non-bank, dengan pengusaha yang memerlukan.
  8. Praktik Pembiayaan Mudharabah

Penempatan dana dapat dilakukan dalam bentuk pembiayaan berakad jual beli maupun syirkah atau kerja sama bagi hasil. Jika pembiayaan berakad jual beli (bai’bil tsaman al-ajiil dan murabahah), maka bank akan mendapatkan margin keuntungan. Pembagiannya tidak begitu rumit. Namun, jika pembiayaan berkaitan dengan akad syirkah (musyarakah dan mudharabah), maka pembiayaan ini membutuhkan perhitungan-perhitungan yang cukup njlimet.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh kedua belah pihak dalam pembiayaan mudharabah (bagi hasil), yaitu (a) nisbah bagi hasil yang disepakati, (b) tingkat keuntungan bisnis aktual yang didapat. Oleh karena itu, bank sebagai pihak yang memiliki dana akan melakukan perhitungan nisbah yang ada dijadikan kesepakatan pembagian pendapatan.

  1. Cara Menentukan Nisbah

Nisbah merupakan faktor penting dalam menentukan bagi hasil. Sebab, nisbah merupakan aspek yang disepakati bersama antara kedua belah pihak yang melakukan transaksi. Untuk menentukan nisbah bagi hasil, perlu diperhatikan aspek-aspek: data usaha, kemampuan angsuran, hasil usaha yang dijalankan atau tingkat return aktual bisnis, tingkat return yang diharapkan, nisbah pembiayaan dan distribusi pembagian hasil.

Penentuan nisbah bagi hasil dibuat sesuai dengan jenis pembiayaan mudarabah yang dipilih. Ada dua jenis pembiayaan mudarabah, yaitu mudarabah mutlaqah dan mudarabah muqayyadah.

  1. Nisbah bagi hasil pembiayaan mudarabah mutlaqah

Pembiayaan mudarabah mutlaqah adalah pembiayaan yang memiliki dana tidak diminta syarat, kecuali syarat baku untuk berlakunya kontrak mudarabah. Untuk ini, nisbah dibuat berdasarkan metode expected profit rate (ERP). ERP diperoleh berdasarkan (1) tingkat keuntungan rata-rata pada industri sejenis; (2) pertumbuhan ekonomi; (3) dihitung dari nilai requeired profit rate (RPR) yang berlaku di bank yang bersangkutan.

  1. Nisbah bagi hasil pembiayaan mudarabah muqayyadah

Pada pembiayaan jenis ini, nasabah menuntut adanya nisbah yang sebanding dengan situasi bisnis tertentu. Dengan kata lain, pada kontrak pembiayaan mudarabah muqayyadah pemilik dana menambah syarat lain di luar syarat kebiasaan mudarabah.[15]

Sumber :

https://callcenters.id/