IISIP fokus didik pelajar pahami Literasi Media

IISIP fokus didik pelajar pahami Literasi Media

IISIP fokus didik pelajar pahami Literasi Media

IISIP fokus didik pelajar pahami Literasi Media
IISIP fokus didik pelajar pahami Literasi Media

Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi Kampus IISIP Jakarta Mulharnetty Syass

mengklaim sebagai kampus yang peduli dengan perkembangan dunia media massa, membuat IISIP melakukan pendidikan media kepada masyarakat. Salah satunya melalui pendekatan media literasi.

Ia mengatakan sejak tahun 2011, kampus IISIP sudah melakukan literasi media memberikan pemahaman kepada pelajar SMP dan SMA di Depok. Hal itu bertujuan untuk membuat para siswa tak langsung kena dampak negatif dari media dan melibatkan mahasiswa.

“Kami sudah MoU bersama Kota Depok. Dan tahun ini akan kami lakukan lagi.

Membangun tiga pilar Literasi Media, yang pertama yaknipersonal fokus dari diri sendiri, tujannya untuk apa sih mengonsumsi media, Kalau hanya isi waktu luang ini parah. Tujuannya harus menambah pengetahuan,” ujarnya dalam sambutannya di acara Festival Jurnalistik, Senin (10/06/2013).

Selain itu, kata Mulharnetty, struktur pengetahuan juga harus dibentuk di masyarakat agar bisa melawan mana informasi yang baik dan yang tidak dari media. Sehingga mereka memiliki keahlian atau skill.

“Mahasiswa kalau terlibat, paling tidak punya tujuh keahlian yakni menganalisis

, mengevaluasi, memilah, menginduksi, mendeduksi, mensintesis, menabstaraksikan media,” tegasnya.

Anggota Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) Laban Abraham mengatakan, sikap AJI terhadap Literasi Media yakni berbicara pada karya jurnalistik, AJI berperan membangun kesadaran masyarakat. Bagaimana AJI mempunyai posisi bangun kesadaran masyarakat.

Paling tidak meminimalisir kekeliruan media dalam hal kode etik. Misalnya sering kita melihat media online kalau salah kadang seringkali dicabut tanpa ralat, kami hadir dalam tahapan kritik advance. Lalu ada berita tentang media cetak lokal di Aceh yang menuliskan cerita pelajar yang keluar malam di malam minggu, hingga membuat image bahwa pelajar tersebut memiliki citra seolah dianggap pelacur, hingga bunuh diri.”

“Belum lagi korban kejahatan asusila diburamkan wajahnya, tetapi wajah ibunya tidak diburamkan. Hal-hal ini yang selalu kami ingatkan bangun kesadaran media,” tutup Laban.

 

 

Sumber :

http://sitialfiah.blogs.uny.ac.id/jelaskan-struktur-kulit/