Disdik Usut Dugaan Kebocoran Soal USBN

Disdik Usut Dugaan Kebocoran Soal USBN

Disdik Usut Dugaan Kebocoran Soal USBN

Disdik Usut Dugaan Kebocoran Soal USBN
Disdik Usut Dugaan Kebocoran Soal USBN

BANDUNG – Dinas Pendidikan (Disdik) Jawa Barat akan menelusuri kabar adanya kebocoran soal Ujian

Sekolah Berbasis Nasional (USBN) yang beredar melalui pesan singkat terkait kunci jawaban USBN 2018.

Kepala Disdik Jawa Barat, Ahmad Hadadi mengatakan, sejak awal pihaknya telah membangun fakta integritas dengan berbagai pihak untuk mengantisipasi kebocoran soal. Jika dalam pelaksanaannya ada kebocoran, maka dirinya menilai ada pihak yang berkhianat.

”Insya Allah akan kami telusuri dan soal ini kan dari pusatnya 25 persen dan 75 persen itu sekolah dari guru-guru sesuai mata pelajaran,” kata Hadadi usai pelantikan kepala sekolah di Gedung Sate, kemarin (20/3).

Dikatakan dia, Disdik Jawa Barat memiliki kewenangan untuk mengharmonisasi kebijakan

pemerintah pusat dan pihak sekolah dalam pembuatan soal. Makanya, disdik tidak melakukan intervensi karena kebijakan pembuatan soal USBN diserahkan kepada pihak sekolah.

”Di sinilah mungkin kebocoran itu ada di sekolah, maka kami sangat prihatin kalau masih ada guru yang berperilaku tidak elegan,” kata dia lagi.

Hadadi mengatakan, pihaknya akan segera menindaklanjuti kasus kebocoran soal USBN tersebut

. Jika ada guru yang terbukti berkhianat dan tidak menunjukkan jiwa sebagai pendidik yang baik, maka pihaknya akan mengam­bil langkah tegas dengan melakukan pemecatan. ”Insya Allah kami akan telusuri. Harapannya, ada efek jera,” tegasnya.

Sebelumya, Ketua Forum Aksi Guru Indonesia (FAGI) Kota Bandung, Iwan Hermawan mengimbau agar siswa tidak mempercayai kunci jawaban soal USBN yang beredar. Sebab, hal tersebut akan merugikan siswa karena tiap tiga wilayah menggunakan paket soal yang berbeda. ”Bisa saja siswa salah mengerjakan dengan meng­gunakan kunci jawaban yang salah,” ujar Iwan.

Selain itu, dirinya juga meminta agar pengelola sekolah tidak perlu khawatir dengan hasil USBN. Sebab, untuk penentu kelulusan siswa diakumulasikan dengan nilai raport semester satu hingga enam. ”Kriteria kelulusan juga disera­hkan kepada sekolah masing-masing,” ujar dia lagi.

 

Sumber :

https://nashatakram.net/