Cerita Islami “Mata Bening”

Cerita Islami Mata Bening

Cerita Islami Mata Bening

Cerita Islami Mata Bening
Cerita Islami Mata Bening

Untuk beberapa detik lamanya, mataku terpaku menatap gadis itu. Entahlah, aku seperti tersihir keanggunannya.
Matanya terlihat sejuk dipandang seperti bening embun yang menyegarkan pagi. Langkah kakinya seolah-olah memiliki irama yang berketukan melodis. Gerakan langkah dan tubuhnya di mataku telah menjadi adegan slow motion yang biasanya hanya kulihat di film-film.

Gadis berwajah manis dan berjilbab biru laut itu seperti menghujaniku dengan salju yang membuat tubuh dan mataku membeku dan terpaku menatapnya. Selangkah demi selangkah ia menjauh dan akhirnya hilang di balik pintu ruang kuliah seberang sana. Aku segera sadar dari keterpakuanku.

“Astagfirullah…”

Aku segera menghela napas yang dalam dan beristigfar. Namun gadis itu memang sangat anggun, cantik dan manis. Barangkali dialah gadis terindah yang pernah kulihat. Tidak ingin membuang waktu lama, aku segera bergegas ke laboratorium komputer. Ada pekerjaan menunggu di sana. Ada beberapa komputer yang mesti kuperbaiki.

Baru sebulan aku kerja sebagai teknisi komputer di universitas negeri ini. Setelah tiga tahun bekerja di kantor swasta, Alhamdulillah akhirnya aku diterima dalam tes seleksi pegawai negeri di universitas ini. Ijazah D-3 komputer yang susah payah kudapatkan akhirnya dapat mengantarkanku menjadi pegawai ber-NIP. Aku masih ingat dulu, ayahku rela menjual sapi satu-satu miliknya hanya untuk membayar uang masuk kuliahku.

Rasanya aku betah kerja di sini. Rekan-rekan kerjaku menerimaku dengan tangan terbuka. Apalagi di sini aku bisa bertemu dengan banyak dosen. Sering bertemu dan berbicara dengan orang pandai tentu juga akan membuatku pandai. Kerjaku sebagai teknisi komputer juga tidaklah begitu berat dan aku nyaman dengan lingkungan di tempat kerjaku ini. Namun, ada suatu hal yang membuatku agak tidak nyaman. Semua rekan kerjaku sudah menikah dan berkeluarga, sedangkan aku belum sendiri. Rekan-rekanku sering menanyakanku kapan mereka diundang ke pernikahanku.

“Mas Fajar, sepertinya kamu sudah cukup umur untuk berumah tangga, apalagi sudah berstatus PNS. Tunggu apa lagi Mas?” tanya Pak Arif, kepala teknisiku.

“Belum dapat jodoh Pak?”

“Masa belum dapat pujaan hati. Lha itu, ada ratusan mahasiswi. Tinggal pilih mana yang kamu suka. Ha ha ha…”

“Ah, Pak Arif bisa saja.”

“Lho ini benar. Kamu ini modal tampan dan materi saya nilai sudah plus. Jadi, pasti banyak wanita yang mau dengan Mas Fajar. Mahasiswi juga enggak apa, malah masih fresh.”

Aku lantas teringat gadis berjilbab biru yang mampu membuatku terpaku. Sepertinya ide Pak Arif untuk mencari calon istri dari kalangan mahasiswi juga tidak ada salahnya. Apalagi aku juga sudah sering ditanya ibuku kapan aku membawa calon mantu baginya. Aku juga ingat umurku sudah 25 tahun. Nabi Muhammad juga menikah pada usia 25 tahun.

“Assalamualaikum.”

“Waalai…kum…sa…lam,” jawabku tergagap. Ternyata yang mengatakan salam adalah gadis berjilbab biru yang telah membuatku terpesona. Dan kini ia persis berada di depanku. Kulihat kedua matanya sangat bening memancarkan aura keanggunan. Ia seperti bidadari yang datang di depanku.

“Pak Fajar ada?”

“Oh, saya sendiri. Ada yang dapat saya bantu?” aku berusaha tenang.

“Saya disuruh Pak Dosen memanggil Anda agar segera ke ruang praktik biologi karena komputer di sana agak error.”

“Ya, baiklah. Bisa sekalian diantar ke ruangannya karena saya belum begitu mengenal gedung biologi.”

“Baik Pak. Saya juga akan kembali ke sana.”

Dalam perjalanan ke ruang praktik biologi, kami bercakap-cakap. Ternyata namanya Ayu Bening. Panggilannya Bening. Namanya sungguh bening, sebening matanya. Ia mahasiswi biologi semester tujuh sekaligus merangkap sebagai asisten dosen. Ia memang gadis yang sangat ramah dan dari cara bicaranya tergambar kecerdasan. Walaupun baru saja bertemu, rasanya hati ini sudah tertambat dengannya.

“Ya Allah, jika ia memang jodohku, dekatkanlah aku dengannya dan jika ia bukan jodohku, berilah petunjuk bagi hamba-Mu ini,” doaku dalam hati.

Hari dan minggu terus berganti. Aku sudah merasa sangat betah dengan pekerjaanku. Aku juga sering bertemu dengan Bening. Kami pun mulai akrab, walaupun hanya sebatas saling menyapa sebentar ketika berpapasan atau ketika dia memanggilku untuk urusan teknis. Ia pun terbiasa memanggilku dengan sebutan Mas Fajar, karena usia memang sepertinya aku belum pantas dipanggil Pak. Walaupun akrab, ia terlihat sangat menjaga batas antara pria dan wanita yang bukan muhrim. Aku jadi semakin yakin untuk menjadikannya calon istriku. Namun, di sisi lain, apakah dia mau denganku? Tapi itu urusan nanti, yang jelas aku harus mengumpulkan modal keberanian untuk meminangnya.

Aku memang masih ngontrak di dekat kampus. Rencananya ke depan, aku akan berusaha membeli rumah kecil di perumahan secara kredit. Mengontrak pun butuh beberapa keperluan dan kini rasanya aku butuh membeli dispenser. Kuputuskan untuk membeli di supermarket.

Setiba di supermarket, aku melihat Bening. Namun, ada yang janggal dengan dirinya. Jantungku rasanya berdenyut semakin cepat. Bening berjalan berduaan dengan seorang pria yang tak kukenal. Rasanya Bening tak mungkin berpacaran. Mereka terlihat mesra dengan membawa barang belanjaan bersama. Bening pun melihatku dan mendekatiku.

“Assalamualaikum Mas Fajar.”

“Waalaikumsalam Dik Bening,” jawabku sambil menenangkan diri.

“Oh iya Mas Fajar, kenalkan, ini suami saya.”

Jantungku serasa berhenti beberapa detik, lantas berdenyut kembali dengan kencangnya, aku lantas beristigfar. Ternyata selama ini aku mengagumi seseorang yang telah bersuami. Astagfirullahaladziim..

Sumber : https://vhost.id/car-parking-multiplayer-apk/