Cerita Anak Trofi puisi

Cerita Anak “Trofi puisi”

Cerita Anak Trofi puisi
Cerita Anak Trofi puisi

Pagi-pagi sekali Nilam berangkat ke sekolah karena ada tugas piket kebersihan. Sesampai di sekolah, suasana masih sepi.

Ketika Nilam berjalan menuju kelasnya, sekilas Nilam melihat ada sebuah pengumuman yang tertempel di papan pengumuman. Ternyata itu adalah pengumuman lomba deklamasi puisi antarsekolah dasar tingkat kecamatan.

Tak berapa lama, Nila dikagetkan dengan kedatangan Bu Risty yang tiba-tiba menyapa Nilam.

“Selamat pagi Nilam!”

“Se…selamat pagi Bu Risty,” jawab Nilam agak kaget.

“Nggak usah kaget, Bu Risty bukan hantu kok! Pagi sekali datangmu?”

“Iya Bu. Hari ini saya ada jadwal piket kebersihan. Jadi, berangkat lebih pagi. Eh, karena datang terlalu pagi, saya baca-baca pengumuman lomba ini dulu.”

“Nilam tertarik ikut lomba deklamasi itu?”

“Lumayan tertarik Bu.”

“Kok lumayan? Harus ikut dong! Nilam kan jago deklamasi puisi. Kalau kamu tertarik, nanti waktu istirahat kamu temui Ibu di kantor ya! Bu Risty yang mengoordinasi siswa yang mau ikut lomba itu.”

“Baik Bu.”

Setelah Nilam belajar selama tiga jam pelajaran, bel istirahat pun berbunyi. Nilam segera menuju ke kantor guru menemui Bu Risty untuk mengetahui lebih jelas mengenai pengumuman lomba yang dibacanya tadi. Bu Risty adalah guru mata pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah Nilam.

“Bagaimana Nilam? Mantap untuk ikut lomba tersebut?”

“Iya Bu.”

“Baiklah, kamu isi formulir pendaftaran ini. Nanti Bu Risty yang akan mengirim formulir ini ke panitia lomba. Kamu latihan yang rajin biar menang.”

“Judul puisinya apa Bu?”

“Oya, puisi wajibnya berjudul “Doa” karya Chairil Anwar, lalu puisi bebasnya terserah kamu baca puisi ciptaan siapa saja.”

“Puisi ciptaan sendiri boleh Bu?”

“Boleh. Itu malah bagus. Persiapkan ya! Lomba diadakan minggu depan.”

“Baik Bu Risty.”

Waktu seminggu digunakan Nilam untuk rajin latihan deklamasi. Ketika bangun tidur, ia latihan olah vokal dan pernapasan agar suaranya lebih jelas dan nyaring. Nilam tak segan-segan memakan kencur mentah. Kata ibunya, kencur dapat membuat kualitas suaranya menjadi baik. Ia pun telah mempersiapkan satu puisi untuk dideklamasikan sebagai puisi bebas di lomba itu.

Akhirnya waktu lomba pun telah tiba. Hanya Nilam satu-satunya siswa yang mewakili sekolahnya untuk ikut dalam lomba tersebut. Nilam datang ke tempat lomba dengan ibunya. Bu Risty pun ikut mengantarkan Nilam. Setelah daftar ulang, Nilam mendapat nomor urut 20 dari 30 peserta.

Setelah menunggu lama, Nilam pun dipanggil panitia untuk maju mendeklamasikan puisi. Tak ada rasa ragu dalam hati Nilam. Ia mendeklamasi puisi “Doa” karya Chairil Anwar dengan perenungan yang dalam. Suaranya pun terdengar mantap dan mimiknya tampak meresapi makna puisi tersebut. Selanjutnya Nilam membacakan puisi bebas, yakni puisi ciptaannya sendiri.

“Aku Ingin Seperti Ibu karya Nilam Estetika Dewi,” Nilam mulai membaca puisinya.

Puisi dan deklamasi Nilam sangat bagus. Karena terlalu menghayati puisinya, air mata menetes dari mata Nilam. Begitu juga ibunya, ia tampak menangis bangga atas deklamasi puisi yang diciptakan Nilam sendiri. Tepuk tangan riuh menandai berakhirnya deklamasi dari Nilam.

Deklamasi dari 30 peserta pun telah usai. Saatnya juri menentukan pemenangnya. Salah satu juri berdiri bersiap membacakan pengumuman pemenang lewat pengeras suara. Semua peserta lomba tampak tegang.

“Hasil lomba deklamasi hari ini. Juara I diraih oleh….Ni…Nisa Praticia…Juara II diraih oleh…Wahyu Pramuditya, dan juara III diraih oleh…Nilam Estetika Dewi.”

Tepuk tangan terdengar riuh. Wajah Nilam pun terlihat berbinar. Ia sanggup menjadi juara III dan baru kali ini ia mendapat trofi juara. Ia mempersembahkan trofi puisinya untuk ibu tercintanya. Nilam bangga menjadi juara III. Ia tak menyesal karena tidak menjadi juara I, tetapi ia bertekad jika ada lomba lagi, ia akan berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi juara I.

Baca Juga :