Umum

Umum

dakwah nabi muhammad saw di mekkah

Dakwah Nabi dan Sumber Utama Islam

Islam datang mula-mula sebagai seruan perbaikan bagi praktek kehidupan di jazirah Arab dan sekitarnya, yang diwarnai berbagai ketimpangan. Kehidupan, oleh kebanyakan orang yang hidup pada sekitar abad ketujuh Masehi di daerah ini, diyakini hanya sebatas kelahiran dan kematian individu,[1] sehingga keberhasilan hidup diukur dengan perolehan-perolehan material dan kepuasan-kepuasan jangka pendek. Dalam bidang sosial tatanan yang berlaku lebih banyak memberikan hak-hak istimewa kepada kelas atas, namun menindas kelas bawah. Karena itu sementara kaum atas, yang memperoleh keuntungan material berlimpah dari kegiatan perdagangan,[2] hidup dalam kenikmatan dan kebebasan, banyak terdapat orang-orang fakir yang tidak dapat lepas dari kemiskinan dan anak-anak yatim yang terlantar. Penyembahan berhala dan penuhanan orang-orang kuat menjadi semacam “agama”, sedangkan kemuliaan hidup diukur dengan keunggulan-keunggulan yang dikaitkan dengan perang. Spiritualitas dan pertimbangan yang melewati batas-batas kehidupan duniawiah absen dari kesadaran mereka.

Pandangan hidup yang seperti itu tergambar dengan sangat jelas dalam syair Ṭarafah bin al-‘Abd al-Yasykurī yang termasuk dalam Muʻallaqāt,[3]

sebagai berikut:

ولَولا ثَلاثٌ ھُــــنَّ من عیشةِ الْفـَتى # وَجدِّكَ لم أَحفِلْ مَتى قامَ عُوْدي
فَمِنْھُنّ سَبْـــــقِي الْعــاذِلاتِ بِشَربَـةٍ # كُمَیْتٍ متى ما تُعْلَ باَلماءِ تُزْبِدِ
وَكَـــــرِّي إِذَا نادَى المُضَافُ مُحَنَّباً # كَسِیدِ الْغَـــضا نَبّھْتَـــهُ الُمتَوَرِّدِ
وَتقصیرُ یوم الدَّجنِ والدجنُ مُعجِبٌ # بِبَھْكَنَةٍ تَحْـــتَ الخِــباءِ الُمعَمَّدِ

Kalaulah bukan karena tiga hal yang merupakan pokok kehidupan pemuda,
Demi kakekmu, tak peduli aku kapan orang datang menakziahiku

Pertama: minumku sebelum orang yang nyinyir mengata-ngataiku
Anggur merah yang manakala dituangi air keluar buahnya

Kedua: lariku ke medan perang ketika orang menabuh genderang
Bak rubah hutan yang lari kencang ketika kau usik dari tidurnya

Ketiga: menghabiskan hari gerimis—oh indahnya hari gerimis itu
Dengan perempuan montok di bawah tenda yang bertiang

Jadi, bagi penyair zaman Jahiliah ini yang penting dalam hidup ini hanyalah: minuman keras, perang dan perempuan.
Memang benar bahwa Makkah sekitar satu abad sebelum Islam merupakan kota perdagangan transit yang membawa kemakmuran. Akan tetapi, kemakmuran itu hanya dinikmati oleh sebahagian kecil dari penduduknya, yakni kaum elitnya saja. Sebahagian besar penduduk yang lain hidup dalam kesulitan dan terpaksa harus berhutang dengan bunga yang sangat besar (aḍʻāfan muḍaʻʻafah: berlipat-lipat). Akibatnya, terjadi penindasan dari yang pemberi pinjaman atas orang-orang yang terpaksa berhutang. Selain itu, bangsa Arab berada dalam himpitan dua kekuatan besar yang bersifat hegemonik. Di sebelah barat terdapat kekaisaran Romawi Timur (Bizantium) dan di sebelah timur imperium Persia. Keduanya saling berebut hegemoni dan bangsa Arab kebanyakan tidak menyadari kedudukan mereka yang terjepit itu. Dua keluarga dari mereka Bani Ghassān dan Bani Mundzir memilih untuk menjadi vazal atau penguasa taklukan dari kedua kekuatan besar itu. Bani Ghassān yang terkenal dengan sebutan Ghasāsinah di Syria dan sekitarnya merupakan sekutu Bizantium, sementara Bani Mundzir yang disebut al-Manādzirah sekutu Persia di Irak. Di bagian tengah jazirah Arab yang tidak tersentuh kekuasaan kedua imperium hegemonik di atas, kabilah-kabilah Arab sibuk dengan kehidupan mereka yang penuh dengan pertikaian berdarah karena hal-hal yang sangat sepele. Banyak dari mereka yang hidup dalam pengembaraan mengikuti jatuhnya hujan agar mereka dapat mendapatkan makanan untuk ternak mereka.

Pos-Pos Terbaru

buku sejarah perkembangan hukum islam

ISLAM PEMBENTUKAN DAN PERKEMBANGANYA

Pendahuluan

Islam sebagai suatu sistem ajaran keagamaan sering kali dipahami sebagai sesuatu yang datang dari langit dalam keadaan yang telah sempurna, bersifat sakral dan tidak menerima perubahan. Ajaran ini diyakini cocok untuk segala keadaan di mana pun atau صالح لكل زمان ومكان, karena bersifat universal.
Pertanyaan kemudian timbul mengenai kecocokannya untuk segala keadaan, mengingat bahwa keadaan tidak tetap dan tidak sama, melainkan berubah dari satu masa ke masa yang lain dan berbeda dari suatu tempat ke tempat yang lain. Selain itu, ternyata pula bahwa apa yang diyakini sebagai ajaran Islam itu sangatlah lengkap dan mencakup berbagai perincian, padahal suatu aturan yang lengkap dan terinci tidak akan dapat sesuai dengan keadaan-keadaan yang berbeda. Kelengkapan dan keterinciannya akan mengurangi keluwesannya. Aturan yang berkenaan dengan waktu salat, misalnya, sudah sedemikian cermat untuk negara-negara tropis tempat tinggal kebanyakan orang Islam, dengan ukuran jam maupun dengan menggunakan gejala-gejala alam. Ketika seorang muslim pergi ke daerah dekat kutub utara pada musim panas atau musim dingin, aturan-aturan itu menjadi tidak lagi dapat dijalankan. Di Musim panas, matahari selalu kelihatan di sana. Orang Perancis menyebutnya les nuits blanches (malam putih), karena di malah hari pun matahari tetap di atas kepala. Untuk dapat tidur, orang lalu memakai kacamata hitam (lunettes noires). Di musim dingin, sebaliknya, selama beberapa hari matahari tidak muncul. Dalam keadaan seperti itu, bagaimana prang menjalankan salat atau puasa? Mengikuti perjalanan matahari di situ, mengikuti perjalanan matahari di daerah tropis atau bagaimana? Karena aturan itu sangat terperinci untuk daerah tropis, kemungkinan penerapannya di daerah kutub menjadi sangat sulit.
Orang lalu berpikir bahwa keuniversalan Islam semestinya ada pada hal-hal yang bersifat mendasar, sementara untuk hal-hal yang berkaitan dengan perincian dimungkinkan adanya penyesuaian sepanjang tidak menyalahi hal-hal yang bersifat dasar itu. Kecocokan Islam untuk segala zaman dan tempat berarti kemungkinannya untuk tetap mempertahankan hal-hal pokok dengan memberikan ruang bagi penyesuaian-penyesuaian terhadap keadaan yang berbeda. Akan tetapi, orang tidak sepakat mengenai bagian-bagian mana yang dianggap dasar nan tidak boleh diubah (al-tsābit, jamak: al-tswābit) dan bagian yang bersifat perincian nan boleh berubah (al-mutaḥawwil).
Penyelidikan sejarah menunjukkan bahwa Islam mengalami perkembangan, bukan hanya dalam pembentukannya dari suatu gerakan dakwah yang dimulai oleh Nabi Muhammad saw. menjadi suatu sistem ajaran, melainkan juga bahwa sistem yang telah terbentuk pun tidak berada dalam satu keadaan yang sama. Makalah ini akan berbicara mengenai bagaimana sistem ajaran Islam terbentuk dan kemudian berkembang menjadi pusaka yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya dan oleh banyak orang dianggap sebagai sesuatu yang sakral. Faktor-faktor yang terlibat dalam perkembangan itu pun akan dibicarakan sehingga diharapkan dapat dibuat gambaran yang jelas mengenai proses yang dialami Islam dalam perjalanan sejarahnya.


Sumber: https://www.dosenpendidikan.co.id/jasa-penulis-artikel/

metode penelitian sejarah

Keuntungan metode historis

Memberikan gambaran tentang apa yang sebenarnya terjadi, dalam pengertian apa yang dapat dibangun berdasarkan fakta-fakta yang telah dibuktikan—melalui kritik internal dan eksternal—dapat dipercaya. Walaupun dalam penjelasan historis seseorang mempergunakan penyimpulan dan imajinasi untuk menutupi hal-hal yang tersembunyi, semua itu dilakukan atas dasar peninggalan masa lampau yang meyakinkan.
Yang dipelajari dalam sejarah adalah asal-usul, pertumbuhan dan perkembangan atau ringkasnya perubahan. Ini membawa kepada sikap terbuka dan kritis. Peneliti sejarah agama akan sadar bahwa setiap agama bergulat dengan kehidupan sehari-hari, terpengaruh dan mempengaruhi kekuatan-kekuatan yang bermain dalam kehidupan manusia. Dengan demikian, semua perkembangannya akan diperlakukan sama. Apa yang disakralkan oleh suatu kelompok atau aliran tertentu dalam agama, lalu kelihatan prosesnya yang bersifat “biasa” dalam sejarah dan karenanya tidak lagi diatribusikan kepada suatu sebab tunggal ilahiah, melainkan kepada perjalanan sejarah para pemeluk agama itu.

Keterbatasan metode historis

Kemungkinan tergelincir dalam historisisme, yakni kepercayaan bahwa dengan mengetahui proses kesejarahan, orang sudah memahami obyek dengan sepaham-pahamnya. Historisisme melupakan satu postulat sejarah sendiri, yakni bahwa obyek kajiannya mengalami perubahan. Sejarawan baru memahami bagian yang telah lewat, sedangkan yang akan datang—walaupun sebahagiannya dapat diprediksikan—mengandung kemungkinan-kemungkinan yang sering kali tidak dapat diperkirakan sebelumnya.
Subyektivitas yang timbul karena data selalu tidak cukup sehingga dalam membuat penjelasan dan paparan yang utuh tentang masa lampau (rekonstruksi dan eksplanasi) orang mesti menggunakan imajinasi (di samping penafsiran dan penyimpulan). Dalam melakukan ini, proyeksi pengalaman diri atas tokoh sejarah yang diselidiki sangat sulit dihindari.
Multi-interpretability data kesejarahan. Ini dapat menimbulkan kesalahan dalam menafsirkan fakta-fakta historis. Walaupun penjelasan logis dapat mendukung setiap interpretasi yang dibuat, kemungkinan interpretasi “lain” akan tetap ada. Menyebutkan semua interpretasi yang mungkin dibuat akan membuat pemaparan sejarah terlalu luas dan mengesankan ketiadaan sikap, tetapi membatasi hanya pada satu atau dua interpretasi menimbulkan dugaan akan kesempitan pandangan.
Pendekatan historis tidak memberikan kesimpulan praktis. Karena sifatnya menggambarkan dan menjelaskan, sejarah tidak menjangkau apa yang kemudian semestinya dikerjakan setelah obyek kajiannya diketahui dan alasan-alasan perbuatannya di masa lampau dimengerti. Dengan mengingat bahwa suatu obyek akan tetap mempertahankan sebahagian besar dari sifat-sifat dasarnya, orang lalu dapat memperkirakan apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang. Namun ini tidak menjadi tanggung jawab peneliti sejarah, walaupun pengetahuan yang cukup tentang masa lampau akan memberikan bekal bagi seseorang dalam melihat masa depan


Sumber: https://www.gurupendidikan.co.id/jasa-penulis-artikel/

wahyu ratu adil

wahyu ratu adil

Mitos ratu adil,

muncul saat masyarakat Jawa menghadapi perubahan-perubahan sosial yang besar. Situasi sosial yang berubah membawa keresahan dan ketakutan. Gerakan protes bermunculan di pedesaan. Mereka melancarkan serangan di bawah pimpinan Ratu Adil yang dalam pemahaman masyarakat akan membawa kembali tatanan sosial yang hilang.
Dalam Kitan Muassar karya Prabu Jayabaya, memuat bahwa segala masalah yang ada seperti, peningkatan beban pajak, harga hasil bumi merosot tajam, hukum dan pengadilan tidak berjalan semestinya, syari’at Tuhan tidak dijalankan, banyak orang akan tersingkir dan orang jahat akan berkuasa, pemerintahan tidak berjalan dengan baik dan rakyat semakin sengsara, banyak terjadi bencana alam, dan krisis-krisis sosial lainnya, akan hilang dengan datangnya Ratu Adil. Ratu Adil dalam tradisi Jawa lebih bersifat politis, meskipun ada sedikit sebagai gerakan kebatinan (mistis). Zaman edan tidak mungkin diubah dengan cara lain kecuali mananti tokoh Ratu Adil tersebut.
Adapun pengaruh mitos Ratu Adil dalam perang Jawa dapat dilihat dari munculnya tokoh kharismatik, yang dianggap sebagai wali Tuhan yaitu Pangeran Diponegoro yang mampu menangkap semua penderitaan dan kesengsaraan rakyat. Sehingga, timbul harapan bagi terciptanya kehidupan yang adil dan makmur sejahtera.
Muncul beberapa gerakan perlawanyanan yang hebat dan gerakan protes yang gigih untuk melawan penindasan dan penghisapan yang ganas. Pemberontakan itu pada umumnya dinyatakan dalam mitologi yang berisi milenarisme atau mesianisme. Dalam upaya bersama mewujudkan ideologi milenaristis, peranan pemimpin biasanya dipegang oleh seorang Ratu Adil, yang mengatur proses sosialisasi. Seperti sudah disebutkan di atas bahwa perang Pangeran Diponegoro adalah salah satu gerakan Ratu Adil.
Gerakan ratu adil ini merupaan manifestasi kelompok yang hidup dalam suatu daerah kehidupan bersama, di mana sekelompok pengikut atau orang yang percaya sepenuhnya sekitar pemimpin Ratu Adil menunjukkan kesamaan dan persahabatan di dalam satu ikatan sosial yang penuh kesucian. Ini merupakan kelompok dari individu-individu yang sama kedudukannya, yang patuh bersama-sama kekuasaan kharismatik Ratu Adil.

Pos-Pos Terbaru

 

nama lain dari sejarah lisan adalah

nama lain dari sejarah lisan adalah

Makna Kajian Kebudayaan bagi Historiografi Indonesia

Kata “kebudayaan” berasal dari kata Sanskerta buddhayah, yaitu bentuk jamak dari buddhi yang berarti “budi” atau “akal”. Dengan demikian ke-budaya-an dapat diartikan: “hal-hal yang bersangkutan dengan akal”.[2]
Pendapat lain mengatakan, bahwa kata budaya adalah sebagai suatu perkembangan dari kata majemuk budi-daya, yang berarti “daya” dan “budi”. Karena itu mereka membedakan antara budaya dan kebudayaan. Budaya adalah daya dari budi yang berupa cipta, karsa, dan rasa; dan kebudayaan adalah hasil dari cipta, karsa, dan dan rasa tersebut.[3]
Sejarah dan kebudayaan mempunyai obyek yang sama yaitu manusia, maka penelitian sejarah dengan pendekatan kebudayaan merupakan langkah yang tepat. Sejarah dan kebudayaan bagaikan dua sisi mata uang. Sejarah tergantung kepada kebudayaan. Sebaliknya, kebudayaan memerlukan sejarah ketika menjelaskan perkembangan kebudayaan.
Kajian kebudayaan memakai pendekatan sinkronis, sedangkan sejarah memakai pendekatan diakronis. Dalam perkembangannya, sejarah tidak hanya disebut ilmu yang diakronis, tetapi juga sinkronis. Sejarah selain memanjang dalam waktu, juga melebar dalam ruang. Di sinilah, titik temu antara sejarah dan kebudayaan. Semua mentifact, socifact, dan artifact adalah produk historis, yang secara vertical tersambungkan dengan mentifact sebagai penggagas. Socifact dan artifact adalah turunan dari mentifact. Selanjutnya, mentifact, socifact, dan artifact dapat menjadi obyek dalam penulisan sejarah dengan menggunakan pendekatan kebudayaan atau antropologis.[4]

2.2 Makna Kajian Agama bagi Historiografi Indonesia
Kata agama berasal dari bahasa sansekerta yaitu berasal dari kata a (tidak) dan gama (kacau), yang bila digabungkan menjadi sesuatu yang tidak kacau. Dan agama ini bertujuan untuk memelihara atau mengatur hubungan seseorang atau sekelompok orang terhadap realitas tertinggi yaitu Tuhan, sesama manusia dan alam sekitarnya. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata agama berarti prinsip kepercayaan kepada Tuhan.[5]
Di Indonesia yang mayoritas penduduknya menganut agama Islam, sejatinya esensi Islam dan kebudayaannya merupakan hal yang niscaya dalam studi historiografi, baik masa klasik maupun modern. Oleh karena itu, dalam uraiannya akan jelas memperlihatkan historis yang agamis. Penulisan yang dilakukan H. Abdul Malik Karim Amrullah misalnya, Sejarah Ummat Islam IV, selain karena pengambilan sumbernya dari buku-buku sejarah yang ditulis oleh penulis muslim, sejarah melayu yang ditulis oleh Tun Sri Lanang, Hikayat Raja-raja Pasai oleh Syaikh Nuruddin Ar-Raniri, buku tersebut dikritik olehnya karena memiliki banyak kekurangan. Buku sejarah Melayu dan hikayat raja-raja Pasai dikarang pada abad ke-17, semasa Aceh dalam masa kemegahannya dan Johor sudah jatuh, situasi itu memengaruhi penulisan buku tersebut.[6]
Sejarawan Eropa, George Mc. T. Kahin (1952) menulis tentang dinamika Muhammadiyyah (organisasi muslim pembaharu) dalam partai Masyumi, di dalamya menjelaskan tentang ideology Muhammadiyyah dan dinamika pergerakannya. Pada perkembangan selanjutnya muncul gagasan Sejarah Nasional yang diidentikkan oleh Sartono kartodirjo sebagai kumpulan sejarah-sejarah lokal yang secara integral dibahas dalam Seminar Sejarah Nasional pertama (1957) secara implisit menggambarkan penulisan baru Sejarah Nasional Indonesia. Artinya, sejarah Islam Indonesia-pun ikut terkupas di dalamnya


Sumber: https://belantaraindonesia.org/

 

kakek nabi muhammad bernama

kakek nabi muhammad bernama

RESPON MASYARAKAT ARAB MAKKAH

Rasulullah saw menerima wahyu pertama ketika sedang bertahanuts di Gua Hira yaitu QS. Al-Isra ayat 1-5. Kurang lebih dua setengah tahun kemudian, Rasulullah saw menerima wahyu yang kedua yaitu QS. Al-Muddatstsir ayat 1-7. Dengan turunnya wahyu yang kedua tersebut, jelaslah misi yang harus beliau laksanakan yaitu mengajarkan tauhid dan agama Islam.
Dalam melaksanakan misi dakwahnya yang secara sembunyi-sembunyi, Rasulullah saw mendatangi orang demi orang dan melakukan kunjungan dari rumah ke rumah. Cara ini ternyata dapat pula menarik orang-orang miskin dan hamba sahaya kedalam pangkuan Islam sehingga dapat menambah jumlah pengikutnya. Tiga tahun lamanya Rasulullah saw melakukan dakwah sembunyi-sembunyi merupakan waktu yang panjang. Hal ini dilakukan karena takut diketahui dan diancam oleh kaum kafir Quraisy. Pada tahap awal ini Rasulullah saw ekstra hati-hati agar orang-orang kafir Quraisy tidak mendeteksi gerakan dakwah yang dilakukannya.
Dakwah secara terang-terangan baru dilakukan Rasulullah saw setelah turunnya perintah Allah swt melalui QS. Al-Hijr ayat 94. Namun imbauan secara terbuka Rasullah saw terhadap masyarakat Makkah untuk memeluk Islam sama sekali tidak digubris oleh mereka. Dengan perasaan acuh tak acuh dan apatis bercampur sinis, mereka secara bulat menolak dan meninggalkan Nabi Muhammad saw.
Pada suatu hari Rasulullah saw naik ke bukit Shafa kemudian menyeru umatnya untuk meninggalkan kemusyrikan dan menyembah Allah swt. Namun mereka menampik dengan keras ajakan dan imbauan dakwah tersebut. Bahkan salah seorang paman Rasulullah saw yang bernama Abu Lahab dengan gaya congkak, raut muka angkuh dan wajah arogan mengatakan “Celakalah engkau, Muhammad! Hanya untuk inikah engkau mengumpulkan kami ?”.[7] Sedangkan istri Abu Lahab yang bernama Ummu Jamil turut menyebarkan fitnah-fitnah ke masyarakat bahwa Muhammad itu jahat, pendusta besar, pembuat onar, dan tidak boleh dipercaya.[8]
Abu Thalib adalah salah seorang paman Nabi Muhammad saw yang meskipun belum menganut Islam, tetapi menjadi pelindung gigih dan pembela Nabi Muhammad saw. Kaum kafir Quraisy selalu menghasut Abu Thalib agar mau meminta Nabi Muhammad saw untuk menghentikan dakwah, namun selalu ditolaknya. Karena ia tidak sampai hati membuat kemenakannya kecewa atau ditimpa mara bahaya yang dirancang oleh para pemuka Quraisy.
Sebenarnya ada beberapa faktor penting yang melatarbelakangi mengapa kaum kafir Quraisy sangat menentang keras agama Islam yang didakwahkan Rasululllah saw, yaitu :
a. Mereka berpendapat bahwa beriman dan tunduk kepada seruan Rasulullah saw berarti menyerahkan komando kekuasaan kepada keluarga Muhammad (Bani Abdul Muthalib dan Bani Hasyim).
b. Orang-orang Quraisy memandang diri meerka sebagai kabilah yang paling mulia, super dan tinggi di Jazirah Arab. Sedangkan Islam memandang manusia memiliki hak dan derajat yang sama, kecuali tingkat ketakwaannya kepada Allah swt.
c. Segala adat istiadat, kepercayan dan agama nenek moyang yang mereka warisi dari leluhur mereka diterima begitu saja tanpa kritik dan dipegangi secara membabi buta. Agama Islam yang dibawa oleh Rasulullah saw dianggap sebagai kepercayaan dan agama baru yang harus ditolak karena berusaha menggantikan agama nenek moyangnya.
d. Ajaran Islam tentang kebangkitan dan siksa neraka dinilai sangat kejam oleh para kaum kafir Quraisy.
e. Bagi sebagian orang Arab, memperjualbelikan patung untuk disembah merupakan salah satu sumber mata penghasilan dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka. Kedatangan Islam yang mengajarkan larangan membuat, menjual, dan menyembah patung-patung tersebut dipahami sebagai tindakan politik ekonomi yang secara serius dan sistemik akan menghancurkan serta mematikan sumber pendapatan mereka.
Teror, permusuhan, kebencian dan rongrongan kafir Quraisy terhadap Rasulullah saw dan pengikutnya semakin ganas. Sehingga menyentuh perasaan pamannya yaitu Hamzah bin Abdul Muthalib. Dengan berani Hamzah menyatakan keislamannya dan kemudian menjadi benteng perlindungan kaum muslimin bersama dengan Umar bin Khattab yang menyatakan keislamannya setelah mendengar lantunan ayat suci Al-Qur’an yang dibacakan adiknya.
Melihat hal tersebut kaum kafir Quraisy terus mencari taktik untuk melumpahkan kekuatan Islam. Akhirnya setelah mengadakan rapat penting mereka mengambil keputusan untuk melakukan pemboikotan total terhadap Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib yang selama ini menjadi tulang punggung dan inti kekuatan yang mendukung dan membela dakwah Rasulullah saw.
Bentuk pemboikotan total yang dilakukan kaum kafir Quraisy ialah :
a. Tidak melakukan perkawinan dengan keluarga Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib.
b. Tidak berjual beli dengan Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib.
c. Tidak berbicara dan tidak menjenguk keluarga Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib yang sakit.
d. Tidak mengantarkan ke kuburan keluarga Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib yang meninggal dunia.
Hingga akhir tahun kesepuluh kenabian, dakwah Rasulullah saw di Makkah tidak juga memperlihatkan kemajuan yang signifikan. Beliau menilai kota Makkah sudah tidak cocok lagi untuk dijadikan basis dakwah menyebarkan Islam. Sementara disisi lain kekejaman yang dilakukan oleh kaum kafir Quraisy terhadap Rasulullah saw dan pengikutnya semakin bertambah hebat. Akhirnya Rasulullah saw pun memutuskan untuk melakukan hijrah total ke Madinah AL-Munawwaroh. Sebuah kota dimana masyarakatnya sangat terbuka dengan Islam karena memang mereka pun sudah mengetahui akan datangnya nabi akhir zaman yaitu Rasulullah Muhammad saw.


Sumber: https://robinschone.com/

 

Louis Ma’luf Muamalah adalah

FIQIH MUAMALAH

A. Muamalah& Fiqh Muamalah

Dari segi bahasa, “muamalah” berasal dari kata aamala, yuamilu, muamalat yang berarti perlakuan atau tindakan terhadap orang lain, hubungan kepentingan. Kata-kata semacam ini adalah kata kerja aktif yang harus mempunyai dua buah pelaku, yang satu terhadap yang lain saling melakukan pekerjaan secara aktif, sehingga kedua pelaku tersebut saling memperoleh manfaat dari satu terhadap yang lainnya.
Secara istilah muamalah memiliki beberapa pengertian dari para ahli, diantaranya :
1. Ahmad Ibrahim Beik
Muamalah adalah peraturan-peraturan mengenai tiap yang berhubungan dengan urusan dunia, seperti perdagangan dan semua mengenai kebendaan, perkawinan, thalak, sanksi-sanksi, peradilan dan yang berhubungan dengan manajemen perkantoran, baik umum ataupun khusus, yang telah ditetapkan dasar-dasarnya secara umum atau global dan terperinci untuk dijadikan petunjuk bagi manusia dalam bertukar manfaat di antara mereka.

2. Louis Ma’luf
Muamalah adalah hukum-hukum syara yang berkaitan dengan urusan dunia, dan kehidupan manusia, seperti jual beli, perdagangan, dan lain sebagainya.
Kata fiqh secara etimologi (bahasa) berarti paham, seperti pernyataan “Saya paham akan kejadian itu”. Sedangkan secara terminologi (istilah) yaitu pengetahuan tentang hukum syariah islamiah yang berkaitan dengan perbuatan manusia yang telah dewasa dan berakal sehat yang diambil dari dalil-dalil terperinci. Atau dapat dikatakan, fiqh adalah suatu ilmu yang mempelajari bermacam-macam syariat atau hukum Islam dan berbagai macam aturan hidup bagi manusia baik yang bersifat individu maupun yang berbentuk masyarakat sosial.
Jadi Fiqh Muamalah memiliki definisi pemahaman atau pengetahuan tentang kegiatan atau transaksi yang berdasarkan hukum-hukum syariat. Mengenai perilaku manusia dalam kehidupannya yang diperoleh dari dalil-dalil islam secara rinci. Pengertian yang lebih rinci diungkapkan Musthofa Ahmad al-Zarqa, yang dimaksudkan fiqh muamalah adalah hukum-hukum yang berkaitan dengan perbuatan manusia dan hubungan sesama manusia dalam urusan kebendaan, hak-hak kebendaan, serta penyelesaian perselisihan di antara mereka.

Pos-Pos Terbaru

bergelar Abu Ishaq

Al-Radhi

Ahmad bin Al-Muqtadir dibaiat sebagi khalifah dengan julukan Ar-Radhi pada tahun 322 H/934 M. Ia kemudian mengangkat Ibnu Muqlah sebagai seorang menterinya. Akan tetapi, Ibnu Muqlah tidak dapat mengurus keuangan dengan baik, ia tidak mampu memberikan gaji dan bonus kepada para prajurit. Akhirnya banyak terjadi pergantian perdana menteri namun tidak ada satupun menteri yang dapat mengatasi kritis keuangan dan memberikan harta sebagaimana yang menjadi tuntutan.
Al-Radhi khawatir akan keselamatan dirinya dari pemberontakan yang kemungkinan dilakukan oleh para tentara. Sebab, ia tidak menemukan seorang menteri pun yang bisa membuat kondisi keuangan stabil. Ia menemukan bahwa akar permasalahan dari kekacauan ini disebabkan dualisme kekuasaan antara para menteri dan para tentara. Muhammad bin Ra’iq menawarkan diri jika dia diberi kekuasaan penuh untuk mengurus tentara beserta istri-istrinya, pengumpulan pajak, dan pengaturan administrasi negara, maka dia berjanji akan menyetabilkan segala urusan dan mengatasi segala persoalan negara. Al-Radhi terpaksa menerima tawaran tersebut. akhirnya Ibnu Ra’iq menerima seluruh kekuasaan yang ada dan dia diberi julukan sebagai Amirul Umara. Namun tetap saja tidak ada yang sanggup untuk memecahkan berbagai masalah kritis ekonomi. Terutama didepannya banyak masalah yang datang dari orang-orang baru yang rakus. Orang-orang Hamdan ketika itu ingin mendapatkan kekuasaan di pemerintahan. Sedangkan para pemberontak seringkali menyerang rumah khalifah. Dimasa khalifah Ar-Radhi, Ibnu Ra’iq dan para pengikutnya pun tidak bisa melawan mereka.[12]
Akhirnya tentara Dailam masuk ke Baghdad dipimpin oleh orang-orang Baweh. Mereka menguasai pusat negara, menjadikan khalifah dibawah kendali mereka, dan menguasai segala urusan yang ada di Irak.

12. Al-Muttaqi

bergelar Abu Ishaq, dengan nama lengkap Ibrahim bin al-Muqtadirbin al-Mu’tadhid bin al-Muwaffaq Thalhah bin al-Mutawakkil merupakan Khalifah Bani Abbasiyahdi Baghdad dari tahun 940 sampai 944. Dia dilantik sebagai khalifah setelah kematian saudaranya. Saat dilantik, ia berumur tiga puluh empat tahun. Ibunya adalah mantan budak yang bernama Khalub, ada pula yang menyebutkan nama ibunya adalah Zahrah.
13. Al-Mustakfi
Al-Abu al-Qasim, dengan nama asli Abdullah bin al-Muktafi bin al-Mu’tadhid merupakan Khalifah BaniAbbasiyah di Baghdad daritahun 944 sampai 946. Dia diangkat oleh Tuzun, seorang jenderal Turki yang menurunkan dan membutakan khalifah sebelumnya al-Muttaqi.
Dia dilantik pada bulan Safar tahun 333 H atau September 944, pada saat berumur 41 tahun. Tuzun meninggal pada masa pemerintahannya. Dia kemudian dicopot dari jabatan dan dipenjarakan hingga meninggal dunia pada tahun 338 H/ 950 M.


Sumber: https://scorpionchildofficial.com/

Al Mu’tadhid adalah

Al-Mu’tamid

Al-Mu’tamid naik menjabat sebagai khalifah pada tahun 256 H/869 M pada usia 26 tahun. Ia kemudian mengangkat saudaranya Al-Muwaffik sebagai pelaksana kekuasaan (al Sultan) dan juga sebagai panglima besar (Al Qaid). Kerjasa sama yang teramat baik diantara dua saudara itu menyebabkan Khalifah Al-Mu’tamid dapat memerintah selama 23 tahun 6 bulan lamanya.
Kebijakan awalnya atas usulan dari Al-Muwaffiq yaitu memindahkan ibukota kembali ke Baghdad. Guna untuk memelihara ketertiban di ibukota dan menghindarkan berbagai kemungkinan maka tokoh-tokoh terkuat pada unsur Turki itu berangsur-angsur ditunjuk dan diangkat sebagai pejabat-pejabat wilayah. Semenjak ibu kota dipindahkan kembali ke Baghdad keadaan kota Samarra tidak pernah lagi menjadi tempat kedudukan para Khalifah dan menjadi kota peristirahatan. Khalifah Al-Mu’tamid berusaha menghidupkan keagungan kota Baghdad kembali. Namun dimasanya juga banyak terjadi penyerangan-penyerangan dan perebutan wilayah.
Selain itu, perkembangan lain pada masa Al-Mu’tamid yaitu pelayaran dagang dengan pesiar India dan Asia Tenggara bagi mengangkut rempah-rempah yang amat dibutuhkan negara-negara dingin di Eropa makin bertambah lancar. Didalam bidang ilmu pengetahuan dan kebudayaan hidup tokoh-toh seperti Abu Isa at-Turmudzi, Adu Daud as-Sijistani, Ibnu Majah al Qazwini dan Ahmad An-Nisai dimana mereka tersebut adalah orang-orang yang ahli dalam bidang ilmu hadist. Pada masanya juga hidup ahli hukum yang terkenal yaitu Abu Sulaim Daud Al Asfihani,. Dan dalam bidang astronomi dan aljabar yaitu al-Battani.Al-Mu’tamid meninggal pada tahun 278 H/892 M selisih enam bulan setelah meninggalnya Al-Muwaffiq. Pada masa pemerintahannya itu campur tangan bangsa Turki dapat diatasi dan dikuasai.[8]

7. Al- Mu’tadhid

Al Mu’tadhid adalah Khalifah Bani Abbasiyah Baghdad dari 892 hingga 902. Sebelum ia iangkat sebagai khalifah, ia sudah memiliki kekuasaan tinggi, dan berlanjut sebagai khalifah ia sanggup mengatur pemerintahan. Mesir kembali ke pangkuan khilafah. Di Mesopotamia, sang Khalifah sudah lama memerangi Khawarij. Di ujung kawasan ini, yang sudah lama gonjang-ganjing, sebagian karena gerombolan pemberontak, sebagian karena persaingan antara Mesir dan jenderal negeri, masalah itu harus diselesaikan.
Al-Mu’tadhid adalah penguasa pemberani dan energik. Ia juga begitu toleran terhadap masyarakat Syi’ah yang dibuktikan dengan hadiah besar kepada mereka dari pangeran Tabaristan, ia tidak menunjukkan sikap yang tak menyenangkan, seperti yang dilakukan pendahulunya; namun hanya perintah untuk melakukannya secara terbuka. Tidak seperti terhadap Bani Umayyah, ia memerintahkan Bani Umayyah dicela di doa umum dan melarang semua sebutan yang memuji mereka di debat-debat kelompok agama. Baghdad dipermalukan atas hal ini; dan pada akhirnya khalifah menarik titahnya tersebut. Setelah pemerintahan yang makmur selama 10 tahun, al-Mu’tadhid mangkat; dan al-Muktafi, puteranya dari seorang budak Turki, naik tahta..
8. Al-Muktafi
Al-Muktafi adalah khalifah ke-17 Bani Abbasiyah (902-908). Abu Muhammad Ali bin al-Mu’tadhid al-Muktafi adalah anak al-Mu’tadhid (892-902) dengan seorang budak Turki. Dengan pimpinan ar Raqqah saat kematian ayahandanya, ia kembali ke ibukota, di mana ia dikagumi khayalak karena kemurahan hatinya, dan menghapuskan penjara-penjara rahasia ayahandanya. Selama masa pemerintahannya yang sekitar 6 tahun, khilafah mendapat ancaman dari sejumlah bahaya yang dengan gagah berani dihadapi dan dipecahkan. Yang paling utama berasal dari Qaramitha, salah satu cabang Ismailiyah yang mulai berkembang selama tahun-tahun terakhir.
Setelah masa pemerintahan bergolak selama 6-7 tahun, al-Muktafi bisa melihat-lihat dan mengetahui bahwa khilafah lebih aman daripada masa pemerintahan al-Mu’tasim Billah. Salah satu tindakan terakhirnya aalah kematian pangeran Samaniyan, yang mengakui suksesi puterandanya di Khorasan, dan menyampaikan padanya bendera yang ditempelkan dengan tangannya sendiri.
9. Al-Muqtadir
Al-Muqtadir adalah khalifah ke-18 Abbasiyah (908–932). Setelah khalifah sebelumnya, al-Muktafi, dikurung selama beberapa bulan di kamarnya, terjadi intrik yang menyangkut masa depan khilafah. Dari 2 calon, adinda al-Muktafi yang disukai khalifah dan keturunan al-Mu’tazz yang baru berusia 13 tahun, akhirnya dipilih al-Muqtadir.
Sejak masa pemerintahannya, Abbasiyah terus menurun. Di saat yang sama, banyak nama terkenal di bidang sastra dan IPTek bermunculan. Yang terkenal: Ishaq bin Hunain (anak Hunain bin Ishaq), dokter dan penerjemah tulisan-tulisan filsafat Yunani ke dalam bahasa Arab; Ibnu Fadhlan, penjelajah; Muhammad bin Jabir bin Sinan al-Battani, astronom;Thabari, sejarawan dan agamawan; Abu Bakr ar-Razi, filsuf yang memberikan sumbangan mendasar dan abadi di bidang kedokteran dan kimia; Abu Nashr Muhammad al-Farabi, kimiawan dan filsuf; Abu Nashr Mansur, matematikawan; Al-Haitsam, matematikawan; Abu Raihan al-Biruni, matematikawan, astronom, fisikawan; Omar Khayyam, penyair, matematikawan, dan astronom. Pada tahun 932 Al-Muqtadir dibunuh oleh penjaga kota di Mosul. Ia digantikan oleh saudaranya al-Qahir.
10. Al-Qahir
Setelah Khalifah Al-Muqtadir terbunuh, diangkatlah Al-Qahir menjadi khalifah ke 19 pada tahun 320 H/932 M atas dukungan para panglima dan pembesar istana. Al-Qahir tidak cakap mengurus politik, pelit, kaku, dan keras. Aktivitas pertamanya adalah melenyapkan pemerintahan para wanita dan menjemput paksa ibu dari Al-Muqtadir untuk meminta uang dalam jumlah besar. Dia menggantung kaki wanita ini dan menyiksanya dengan kejam serta mengambil dari wanita ini sejumlah tiga puluh ribu dinar.[9]
Khalifah Al-Qahir sebenarnya berada dalam cengkraman dan kekangan dari panglima Muknas Al-Khadim. Panglima Muknas Al-khadim menjadikan Ibnu Muqlah sebagai perdana menteri yang bertugas memberikan gaji terhadap para tentara. Untuk itu, Khalifah Al-Qahir memiliki rencana untuk terbebas dari cengkraman panglima Muknas yaitu dengan mendekati kawan-kawan dari khalifah Al-Muqtadir. Al-Qahir memecah belah antar sesame tentara dan berusaha menjauhkan Ibnu Muqlah dari kekuasaan. Al-Muqlah akhirnya mengetahui rencana khalifah dan berusaha melakukan konspirasi namun Al-Qahir dapat mengetahuinya dan langsung mengusir Al-Muqlah. Khalifah lantas memanggil Muknas untuk menghadapnya sesampainya Muknas kepadanya, Ia lantas menangkap dan membunuhnya. Dengan demikian Khalifahlah yang memiliki kendali dalam segala urusan.[10]
Melihat kondisi yang demikian Al Muqlah tidak tinggal diam. Ia memprovokasi para tentara dan masyarakat untuk menggulingkan khalifah. Dalam provokasinya, dinyatakan bahwa khalifah membuka istananya untuk memenjarakan para komandan, khalifah adalah pemabuk dan sebagainya. Masyarakat pun bangkit untuk menggulingkan khalifah yang saat itu ternyata sedang mabuk. Akhirnya mereka mmenjarakan khalifah. Khalifah Al-Qahir turun dari jabatannya pada tahun 322 H/934 M dan meninggal pada tahun 338 H/ 950 M dalam usia 30 tahun dan masa hidupnya yang terakhir adalah sebagai pengemis di ibukota Baghdad.[11]


Sumber: https://swatproject.org/

Rumah Tumbuh

Rumah Tumbuh

Penumbuhan rumah merupakan istilah untuk pembangunan rumah yang dilakukan secara bertahap secara terencana sesuai dana yang tersedia. Secara garis besar ada 2 jenis desain rumah tumbuh yaitu tipe vertikal dan horizontal.

Rumah tumbuh secara vertikal

Itu adalah rumah yang tumbuh ke atas. Biasanya dilakukan bagi mereka yang memiliki medan sempit sehingga tidak punya pilihan selain membangun ke atas.

Jenis ini membutuhkan persiapan dengan dana awal yang lebih besar karena pembiayaan strukturnya.

Rumah tumbuh secara horizontal

Itu adalah rumah yang tumbuh ke samping. Dibuat oleh mereka yang memiliki lahan cukup luas sehingga masih tersedia ruang yang cukup untuk mengembangkan rumah sesuai kebutuhannya.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan saat membangun rumah tumbuh, diantaranya:

Tentukan jumlah dana yang akan digunakan.
Fokus pada kebutuhan ruang.
Menentukan pola / tahapan pembangunan yang sedang berlangsung sehingga tidak perlu membongkar pekerjaan untuk melanjutkan pembangunan di tahap selanjutnya.

Cobalah untuk menggunakan layanan profesional karena perkembangan bertahap membutuhkan pemikiran yang cermat dan terencana. Sebagai :

Fondasi bangunan harus diperhitungkan apakah itu rumah bertingkat atau bukan.
Struktur utama harus diperhitungkan sesuai dengan kebutuhan bangunan.
Penataan ruang sudah matang sehingga kecukupan dana pada tahap pertama benar-benar dapat diaplikasikan secara penuh dengan penataan ruang yang berkelanjutan.