Umum

Umum

apa yang dimaksud zikir bil qalbi

Keutamaan dan Hikmah Zikir

Zikir disamping sebagai sarana penghubung dengan sang khalik (pencipta) juga mengandung nilai dan daya guna yang tinggi. Ada banyak keutamaan dan hikmah yang terkandung dalam zikir.
Dari abu Hurairah ra. Berkata, “Rasulullah Saw bersabda, ‘Dua kalimat yang ringan diucapkan tetapi berat timbangannya dan disenangi oleh Allah Swt yaitu : Subhanallah wa bihamdihi sybhanallahal azhim (Maha suci Allah dengan segala pujian-Nya dan Maha suci Allah Yang Maha agung).”’ (HR. Muttafaq Alaih).[4]
Hikmah zikir antara lain:
a. Berzikir kepada Allah akan menimbulkan perasaan dekat kepada Allah dan merasa berada dalam perlindungan dan penjagaannya, juga dapat menghilangkan rasa cemas, takut, was-was dan putus asa.
b. Berzikir kepada Allah akan meningkatkan keyakinan kepada kebesaran dan kemahakuasaan-Nya, tidak ada yang lebih berkuasa dalam kehidupan kecuali Allah, maka dengan sendirinya hilanglah perasaan sombong, angkuh, dan takabur terhadap sesama manusia.
c. Berzikir kepada Allah akan menimbulkan perasaan ikhlas dan ridha kepada Allah, sehingga hilanglah perasaan iri hati, dendam, dan dengki.
d. Berzikir kepada Allah akan merasakan kenikmatan dan kenyamanan dalam diri seseorang, sehingga membuatnya memandang ringan segala macam kelezatan duniawi yang sejatinya bersifat fana’.
e. Banyak berzikir (mengingat Allah) berarti seseorang merasakan, bahwa Allah juga mengingatnya, sehingga timbul perasaan kagum dan cinta kepada Allah melebihi segalanya. Karena dekat dengan Allah maka dipermudahlah dalam segala urusannya.
f. Banyak berzikir (mengingat Allah) berarti banyak mengenang/menghayati kekuatan-kekuatan yang dimiliki Allah, sehingga timbul perasaan takut untuk melakukan perbuatan yang menimbulkan dosa dan akan melakukan segala kebaikan yang diperintahkan Allah serta menghindarkan diri dari perbuatan maksiat.[5]

E. Catatan Akhir

Dari uraian di Atas dapat disimpulkan bahwa Zikir berasal dari kata ذكر-يذكر-ذكرا, yang artinya menyebut, mengingat, memerhatikan, menuturkan, menjaga, mengambil pelajaran, mengenal, dan mengerti. Dzikrullah dapat mencakup penyebutan nama Allah atau ingatan menyangkut sifat-sifat atau perbuatan Allah, surga atau neraka-Nya, rahmat dan siksa-Nya, perintah dan larangan-Nya, wahyu dan segala yang dikaitkan dengan-Nya.
Zikir terbagi menjadi beberapa macam yaitu: Zikir lisany (zikir lidah) yaitu menyebut nama Allah dengan lidah. Zikir Qalby (zikir hati) yaitu menyebut nama Allah dengan hati. Zikir Aqly (zikir pikir) yaitu memikirkan arti, makna, dan maksud, yang terkandung dalam kalimat-kalimat zikir. Zikir Ruhy (zikir roh) yaitu kembalinya roh terhadap fitrah atau asal kejadiannya saat berada dalam arwah.
Hikmah zikir antara lain: Berzikir kepada Allah dapat menghilangkan rasa cemas, takut, was-was dan putus asa. hilangnya perasaan iri hati, dendam, dan dengki, sombong, angkuh, dan takabur terhadap sesama manusia. memandang ringan segala macam kelezatan duniawi. timbul perasaan kagum dan cinta kepada Allah melebihi segalanya. dipermudahlah dalam segala urusannya. Selalu melakukan segala kebaikan yang diperintahkan Allah serta menghindarkan diri dari perbuatan maksiat.

Pos-Pos Terbaru

contoh dzikir

Pengertian Zikir

Zikir berasal dari kata ذكر-يذكر-ذكرا, yang artinya menyebut, mengingat, memerhatikan, menuturkan, menjaga, mengambil pelajaran, mengenal, dan mengerti. Kata Zikir pada mulanya memiliki arti “mengucapkan dengan lidah atau menyebut sesuatu. Maka ini kemudian berkembang menjadi mengingat”. Karena mengingat sesuatu sering kali mengantar lidah menyebutnya. Demikian juga menyebut menyebut dengan lidah dapat mengantarkan hati untuk mengingat lebih banyak lagi apa yang harus disebut-sebut itu, disebut sifat, perbuatan, atau peristiwa yang berkaitan dengannya.
Dzikrullah dapat mencakup penyebutan nama Allah atau ingatan menyangkut sifat-sifat atau perbuatan Allah, surga atau neraka-Nya, rahmat dan siksa-Nya, perintah dan larangan-Nya, wahyu dan segala yang dikaitkan dengan-Nya. Biasanya perilaku Zikir diperlakukan orang hanya dalam bentuk renungan, yang sebenarnya Zikir itu bersifat implementatifdalam variasi yang aktif dan kreatif.
Berikut adalah ayat Al-Qur’an yang dapat dijadikan sebagai sebagai dalil disyariatkannya Zikir:
فَاذْكُرُوْنِيْ اَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْالِيْ وَلَاتَكْفُرُوْنِ
”Karena itu, ingatkah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu.” (QS Al-Baqarah:152).[2]

C. Macam-macam Zikir

Zikir terbagi menjadi beberapa macam yaitu sebagai berikut :
a. Zikir lisany (zikir lidah) yaitu menyebut nama Allah dengan lidah, bunyinya berupa kalimat subhanallah, alhamdulillah, shalawat, istighfar dan asma’ul husna. Zikir ini ada yang menyebut zikir Syari’at, dan zikir ini poin pahalanya paling rendah dibandingkan dengan macan zikir yang lain.
b. Zikir Qalby (zikir hati) yaitu menyebut nama Allah dengan hati kalimat tasbih, tahil, takbir, tahmid, taqdis, hauqolah, tarji’, istighfar. Zikir jenis ini poin pahalanya lebih banyak 70kali lipatatu lebih dibandingkan zikir lisan, karena zikir qalby tidak diketahui oleh orang lain sehingga keikhlasannya dapat lebih terjaga. Zikir ini juga disebut zikir tarikat (jalan untuk mencapai tingakatan zikir berikutnya).
c. Zikir Aqly (zikir pikir) yaitu memikirkan arti, makna, dan maksud, yang terkandung dalam kalimat-kalimat zikir. Zikir ini disebut juga tafakur (memikirkan) dan tadabur (merenungkan) yaitu merenungkan keesaan dan kekuasaan Allah sebagaimana yang tersurat dalam kalimat zikir yang diucapkan.
d. Zikir Ruhy (zikir roh) yaitu kembalinya roh terhadap fitrah atau asal kejadiannya saat berada dalam arwah, menyaksikan dan membuktikan wujudnya Tuhan secara langsung tanpa perantara. Zikir ini disebut juga zikir makrifat, dan ini tingkatan zikir tertinggi.[3]


Sumber: https://voi.co.id/jasa-penulis-artikel/

makalah tentang taubat

Fungsi Taubat

Bagi orang yang pernah melakukan dosa, perbuatan taubat berfungsi mengembalikan diri ke jalan yang benar setelah melakukan penyimpangan dari jalan Allah, atau mengembalikan diri ke jalan yang diridhai Allah, setelah melakukan hal-hal yang bertentangan dengan tuntunan Allah Swt. Perbuatan taubat, pada umumnya selalu dikaitkan dengan dosa yang dilakukan sebelumnya.
Bagi orang yang merasa tidak melakukan kesalahan, perbuatan taubat berfungsi sebagai upaya untuk meningkatkan kesadaran untuk selalu patuh terhadap perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya, dan sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas iman, serta menjadi upaya meningkatkan kualitas zikrullah, yang kesemuanya pada akhirnya meningkatkan perolehan pahala yang diberikan Allah Swt. Taubat adalah sebuah perbuatan yang sangat terpuji yang tidak hanya menjadi jalan untuk kembali ke halan yang benar, tetapi juga menjadi sarana untuk peningkatan iman dan kedekatan diri kepada Allah Swt. Jadin taubat itu dasarnya harus dilakukan kapan saja. Apakah merasa mempunyai dosa atau tidak, apakah merasa menyimpang dari jalan yang benar atau tidak dan dalam keadaan apa pun perbuatan taubat harus senantiasa dilakukan.[5]

D. Faedah Taubat

Ketahuilah bahwa tidaklah Allah memerintahkan sesuatu melainkan ada faedah di balik perintah tersebut, termasuk perintah agar kita bertaubat kepada-Nya. Taubat memiliki faedah, yaitu:
1. Terhapusnya dosa. Rasulullah Saw bersabda, “Orang yang bertaubat (dari dosanya) seakan-akan ia tidak berdosa.” (HR. Ibnu Majah, no. 4250).
2. Kejelekan diganti dengan kebaikan. Allah berfirman, artinya, “Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Qs. al-Furqan: 70).
3. Membawa keberuntungan. Allah berfirman, artinya, “Adapun orang yang bertaubat dan beriman, serta mengerjakan amal yang saleh, semoga dia termasuk orang-orang yang beruntung” (QS. al-Qashash: 67).
4. Jalan menuju Surga. Allah berfirman, artinya, “Kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh, maka mereka itu akan masuk surga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikitpun” (QS. Maryam: 60).
5. Pembersihan Hati. Allah berfirman, artinya, “Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan)” (QS. at-Tahriim: 4).
6. Diberi kenikmatan yang baik. Allah berfirman, artinya, “Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan …” (QS. Huud: 3).
7. Mendapat kecintaan Allah. Allah berfirman, artinya, “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.”(Qs. al-Baqarah: 222).[6]


Sumber: https://pendidikan.co.id/jasa-penulis-artikel/

dakwah nabi muhammad saw di mekkah

Dakwah Nabi dan Sumber Utama Islam

Islam datang mula-mula sebagai seruan perbaikan bagi praktek kehidupan di jazirah Arab dan sekitarnya, yang diwarnai berbagai ketimpangan. Kehidupan, oleh kebanyakan orang yang hidup pada sekitar abad ketujuh Masehi di daerah ini, diyakini hanya sebatas kelahiran dan kematian individu,[1] sehingga keberhasilan hidup diukur dengan perolehan-perolehan material dan kepuasan-kepuasan jangka pendek. Dalam bidang sosial tatanan yang berlaku lebih banyak memberikan hak-hak istimewa kepada kelas atas, namun menindas kelas bawah. Karena itu sementara kaum atas, yang memperoleh keuntungan material berlimpah dari kegiatan perdagangan,[2] hidup dalam kenikmatan dan kebebasan, banyak terdapat orang-orang fakir yang tidak dapat lepas dari kemiskinan dan anak-anak yatim yang terlantar. Penyembahan berhala dan penuhanan orang-orang kuat menjadi semacam “agama”, sedangkan kemuliaan hidup diukur dengan keunggulan-keunggulan yang dikaitkan dengan perang. Spiritualitas dan pertimbangan yang melewati batas-batas kehidupan duniawiah absen dari kesadaran mereka.

Pandangan hidup yang seperti itu tergambar dengan sangat jelas dalam syair Ṭarafah bin al-‘Abd al-Yasykurī yang termasuk dalam Muʻallaqāt,[3]

sebagai berikut:

ولَولا ثَلاثٌ ھُــــنَّ من عیشةِ الْفـَتى # وَجدِّكَ لم أَحفِلْ مَتى قامَ عُوْدي
فَمِنْھُنّ سَبْـــــقِي الْعــاذِلاتِ بِشَربَـةٍ # كُمَیْتٍ متى ما تُعْلَ باَلماءِ تُزْبِدِ
وَكَـــــرِّي إِذَا نادَى المُضَافُ مُحَنَّباً # كَسِیدِ الْغَـــضا نَبّھْتَـــهُ الُمتَوَرِّدِ
وَتقصیرُ یوم الدَّجنِ والدجنُ مُعجِبٌ # بِبَھْكَنَةٍ تَحْـــتَ الخِــباءِ الُمعَمَّدِ

Kalaulah bukan karena tiga hal yang merupakan pokok kehidupan pemuda,
Demi kakekmu, tak peduli aku kapan orang datang menakziahiku

Pertama: minumku sebelum orang yang nyinyir mengata-ngataiku
Anggur merah yang manakala dituangi air keluar buahnya

Kedua: lariku ke medan perang ketika orang menabuh genderang
Bak rubah hutan yang lari kencang ketika kau usik dari tidurnya

Ketiga: menghabiskan hari gerimis—oh indahnya hari gerimis itu
Dengan perempuan montok di bawah tenda yang bertiang

Jadi, bagi penyair zaman Jahiliah ini yang penting dalam hidup ini hanyalah: minuman keras, perang dan perempuan.
Memang benar bahwa Makkah sekitar satu abad sebelum Islam merupakan kota perdagangan transit yang membawa kemakmuran. Akan tetapi, kemakmuran itu hanya dinikmati oleh sebahagian kecil dari penduduknya, yakni kaum elitnya saja. Sebahagian besar penduduk yang lain hidup dalam kesulitan dan terpaksa harus berhutang dengan bunga yang sangat besar (aḍʻāfan muḍaʻʻafah: berlipat-lipat). Akibatnya, terjadi penindasan dari yang pemberi pinjaman atas orang-orang yang terpaksa berhutang. Selain itu, bangsa Arab berada dalam himpitan dua kekuatan besar yang bersifat hegemonik. Di sebelah barat terdapat kekaisaran Romawi Timur (Bizantium) dan di sebelah timur imperium Persia. Keduanya saling berebut hegemoni dan bangsa Arab kebanyakan tidak menyadari kedudukan mereka yang terjepit itu. Dua keluarga dari mereka Bani Ghassān dan Bani Mundzir memilih untuk menjadi vazal atau penguasa taklukan dari kedua kekuatan besar itu. Bani Ghassān yang terkenal dengan sebutan Ghasāsinah di Syria dan sekitarnya merupakan sekutu Bizantium, sementara Bani Mundzir yang disebut al-Manādzirah sekutu Persia di Irak. Di bagian tengah jazirah Arab yang tidak tersentuh kekuasaan kedua imperium hegemonik di atas, kabilah-kabilah Arab sibuk dengan kehidupan mereka yang penuh dengan pertikaian berdarah karena hal-hal yang sangat sepele. Banyak dari mereka yang hidup dalam pengembaraan mengikuti jatuhnya hujan agar mereka dapat mendapatkan makanan untuk ternak mereka.

Pos-Pos Terbaru

buku sejarah perkembangan hukum islam

ISLAM PEMBENTUKAN DAN PERKEMBANGANYA

Pendahuluan

Islam sebagai suatu sistem ajaran keagamaan sering kali dipahami sebagai sesuatu yang datang dari langit dalam keadaan yang telah sempurna, bersifat sakral dan tidak menerima perubahan. Ajaran ini diyakini cocok untuk segala keadaan di mana pun atau صالح لكل زمان ومكان, karena bersifat universal.
Pertanyaan kemudian timbul mengenai kecocokannya untuk segala keadaan, mengingat bahwa keadaan tidak tetap dan tidak sama, melainkan berubah dari satu masa ke masa yang lain dan berbeda dari suatu tempat ke tempat yang lain. Selain itu, ternyata pula bahwa apa yang diyakini sebagai ajaran Islam itu sangatlah lengkap dan mencakup berbagai perincian, padahal suatu aturan yang lengkap dan terinci tidak akan dapat sesuai dengan keadaan-keadaan yang berbeda. Kelengkapan dan keterinciannya akan mengurangi keluwesannya. Aturan yang berkenaan dengan waktu salat, misalnya, sudah sedemikian cermat untuk negara-negara tropis tempat tinggal kebanyakan orang Islam, dengan ukuran jam maupun dengan menggunakan gejala-gejala alam. Ketika seorang muslim pergi ke daerah dekat kutub utara pada musim panas atau musim dingin, aturan-aturan itu menjadi tidak lagi dapat dijalankan. Di Musim panas, matahari selalu kelihatan di sana. Orang Perancis menyebutnya les nuits blanches (malam putih), karena di malah hari pun matahari tetap di atas kepala. Untuk dapat tidur, orang lalu memakai kacamata hitam (lunettes noires). Di musim dingin, sebaliknya, selama beberapa hari matahari tidak muncul. Dalam keadaan seperti itu, bagaimana prang menjalankan salat atau puasa? Mengikuti perjalanan matahari di situ, mengikuti perjalanan matahari di daerah tropis atau bagaimana? Karena aturan itu sangat terperinci untuk daerah tropis, kemungkinan penerapannya di daerah kutub menjadi sangat sulit.
Orang lalu berpikir bahwa keuniversalan Islam semestinya ada pada hal-hal yang bersifat mendasar, sementara untuk hal-hal yang berkaitan dengan perincian dimungkinkan adanya penyesuaian sepanjang tidak menyalahi hal-hal yang bersifat dasar itu. Kecocokan Islam untuk segala zaman dan tempat berarti kemungkinannya untuk tetap mempertahankan hal-hal pokok dengan memberikan ruang bagi penyesuaian-penyesuaian terhadap keadaan yang berbeda. Akan tetapi, orang tidak sepakat mengenai bagian-bagian mana yang dianggap dasar nan tidak boleh diubah (al-tsābit, jamak: al-tswābit) dan bagian yang bersifat perincian nan boleh berubah (al-mutaḥawwil).
Penyelidikan sejarah menunjukkan bahwa Islam mengalami perkembangan, bukan hanya dalam pembentukannya dari suatu gerakan dakwah yang dimulai oleh Nabi Muhammad saw. menjadi suatu sistem ajaran, melainkan juga bahwa sistem yang telah terbentuk pun tidak berada dalam satu keadaan yang sama. Makalah ini akan berbicara mengenai bagaimana sistem ajaran Islam terbentuk dan kemudian berkembang menjadi pusaka yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya dan oleh banyak orang dianggap sebagai sesuatu yang sakral. Faktor-faktor yang terlibat dalam perkembangan itu pun akan dibicarakan sehingga diharapkan dapat dibuat gambaran yang jelas mengenai proses yang dialami Islam dalam perjalanan sejarahnya.


Sumber: https://www.dosenpendidikan.co.id/jasa-penulis-artikel/

metode penelitian sejarah

Keuntungan metode historis

Memberikan gambaran tentang apa yang sebenarnya terjadi, dalam pengertian apa yang dapat dibangun berdasarkan fakta-fakta yang telah dibuktikan—melalui kritik internal dan eksternal—dapat dipercaya. Walaupun dalam penjelasan historis seseorang mempergunakan penyimpulan dan imajinasi untuk menutupi hal-hal yang tersembunyi, semua itu dilakukan atas dasar peninggalan masa lampau yang meyakinkan.
Yang dipelajari dalam sejarah adalah asal-usul, pertumbuhan dan perkembangan atau ringkasnya perubahan. Ini membawa kepada sikap terbuka dan kritis. Peneliti sejarah agama akan sadar bahwa setiap agama bergulat dengan kehidupan sehari-hari, terpengaruh dan mempengaruhi kekuatan-kekuatan yang bermain dalam kehidupan manusia. Dengan demikian, semua perkembangannya akan diperlakukan sama. Apa yang disakralkan oleh suatu kelompok atau aliran tertentu dalam agama, lalu kelihatan prosesnya yang bersifat “biasa” dalam sejarah dan karenanya tidak lagi diatribusikan kepada suatu sebab tunggal ilahiah, melainkan kepada perjalanan sejarah para pemeluk agama itu.

Keterbatasan metode historis

Kemungkinan tergelincir dalam historisisme, yakni kepercayaan bahwa dengan mengetahui proses kesejarahan, orang sudah memahami obyek dengan sepaham-pahamnya. Historisisme melupakan satu postulat sejarah sendiri, yakni bahwa obyek kajiannya mengalami perubahan. Sejarawan baru memahami bagian yang telah lewat, sedangkan yang akan datang—walaupun sebahagiannya dapat diprediksikan—mengandung kemungkinan-kemungkinan yang sering kali tidak dapat diperkirakan sebelumnya.
Subyektivitas yang timbul karena data selalu tidak cukup sehingga dalam membuat penjelasan dan paparan yang utuh tentang masa lampau (rekonstruksi dan eksplanasi) orang mesti menggunakan imajinasi (di samping penafsiran dan penyimpulan). Dalam melakukan ini, proyeksi pengalaman diri atas tokoh sejarah yang diselidiki sangat sulit dihindari.
Multi-interpretability data kesejarahan. Ini dapat menimbulkan kesalahan dalam menafsirkan fakta-fakta historis. Walaupun penjelasan logis dapat mendukung setiap interpretasi yang dibuat, kemungkinan interpretasi “lain” akan tetap ada. Menyebutkan semua interpretasi yang mungkin dibuat akan membuat pemaparan sejarah terlalu luas dan mengesankan ketiadaan sikap, tetapi membatasi hanya pada satu atau dua interpretasi menimbulkan dugaan akan kesempitan pandangan.
Pendekatan historis tidak memberikan kesimpulan praktis. Karena sifatnya menggambarkan dan menjelaskan, sejarah tidak menjangkau apa yang kemudian semestinya dikerjakan setelah obyek kajiannya diketahui dan alasan-alasan perbuatannya di masa lampau dimengerti. Dengan mengingat bahwa suatu obyek akan tetap mempertahankan sebahagian besar dari sifat-sifat dasarnya, orang lalu dapat memperkirakan apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang. Namun ini tidak menjadi tanggung jawab peneliti sejarah, walaupun pengetahuan yang cukup tentang masa lampau akan memberikan bekal bagi seseorang dalam melihat masa depan


Sumber: https://www.gurupendidikan.co.id/jasa-penulis-artikel/

wahyu ratu adil

wahyu ratu adil

Mitos ratu adil,

muncul saat masyarakat Jawa menghadapi perubahan-perubahan sosial yang besar. Situasi sosial yang berubah membawa keresahan dan ketakutan. Gerakan protes bermunculan di pedesaan. Mereka melancarkan serangan di bawah pimpinan Ratu Adil yang dalam pemahaman masyarakat akan membawa kembali tatanan sosial yang hilang.
Dalam Kitan Muassar karya Prabu Jayabaya, memuat bahwa segala masalah yang ada seperti, peningkatan beban pajak, harga hasil bumi merosot tajam, hukum dan pengadilan tidak berjalan semestinya, syari’at Tuhan tidak dijalankan, banyak orang akan tersingkir dan orang jahat akan berkuasa, pemerintahan tidak berjalan dengan baik dan rakyat semakin sengsara, banyak terjadi bencana alam, dan krisis-krisis sosial lainnya, akan hilang dengan datangnya Ratu Adil. Ratu Adil dalam tradisi Jawa lebih bersifat politis, meskipun ada sedikit sebagai gerakan kebatinan (mistis). Zaman edan tidak mungkin diubah dengan cara lain kecuali mananti tokoh Ratu Adil tersebut.
Adapun pengaruh mitos Ratu Adil dalam perang Jawa dapat dilihat dari munculnya tokoh kharismatik, yang dianggap sebagai wali Tuhan yaitu Pangeran Diponegoro yang mampu menangkap semua penderitaan dan kesengsaraan rakyat. Sehingga, timbul harapan bagi terciptanya kehidupan yang adil dan makmur sejahtera.
Muncul beberapa gerakan perlawanyanan yang hebat dan gerakan protes yang gigih untuk melawan penindasan dan penghisapan yang ganas. Pemberontakan itu pada umumnya dinyatakan dalam mitologi yang berisi milenarisme atau mesianisme. Dalam upaya bersama mewujudkan ideologi milenaristis, peranan pemimpin biasanya dipegang oleh seorang Ratu Adil, yang mengatur proses sosialisasi. Seperti sudah disebutkan di atas bahwa perang Pangeran Diponegoro adalah salah satu gerakan Ratu Adil.
Gerakan ratu adil ini merupaan manifestasi kelompok yang hidup dalam suatu daerah kehidupan bersama, di mana sekelompok pengikut atau orang yang percaya sepenuhnya sekitar pemimpin Ratu Adil menunjukkan kesamaan dan persahabatan di dalam satu ikatan sosial yang penuh kesucian. Ini merupakan kelompok dari individu-individu yang sama kedudukannya, yang patuh bersama-sama kekuasaan kharismatik Ratu Adil.

Pos-Pos Terbaru

 

nama lain dari sejarah lisan adalah

nama lain dari sejarah lisan adalah

Makna Kajian Kebudayaan bagi Historiografi Indonesia

Kata “kebudayaan” berasal dari kata Sanskerta buddhayah, yaitu bentuk jamak dari buddhi yang berarti “budi” atau “akal”. Dengan demikian ke-budaya-an dapat diartikan: “hal-hal yang bersangkutan dengan akal”.[2]
Pendapat lain mengatakan, bahwa kata budaya adalah sebagai suatu perkembangan dari kata majemuk budi-daya, yang berarti “daya” dan “budi”. Karena itu mereka membedakan antara budaya dan kebudayaan. Budaya adalah daya dari budi yang berupa cipta, karsa, dan rasa; dan kebudayaan adalah hasil dari cipta, karsa, dan dan rasa tersebut.[3]
Sejarah dan kebudayaan mempunyai obyek yang sama yaitu manusia, maka penelitian sejarah dengan pendekatan kebudayaan merupakan langkah yang tepat. Sejarah dan kebudayaan bagaikan dua sisi mata uang. Sejarah tergantung kepada kebudayaan. Sebaliknya, kebudayaan memerlukan sejarah ketika menjelaskan perkembangan kebudayaan.
Kajian kebudayaan memakai pendekatan sinkronis, sedangkan sejarah memakai pendekatan diakronis. Dalam perkembangannya, sejarah tidak hanya disebut ilmu yang diakronis, tetapi juga sinkronis. Sejarah selain memanjang dalam waktu, juga melebar dalam ruang. Di sinilah, titik temu antara sejarah dan kebudayaan. Semua mentifact, socifact, dan artifact adalah produk historis, yang secara vertical tersambungkan dengan mentifact sebagai penggagas. Socifact dan artifact adalah turunan dari mentifact. Selanjutnya, mentifact, socifact, dan artifact dapat menjadi obyek dalam penulisan sejarah dengan menggunakan pendekatan kebudayaan atau antropologis.[4]

2.2 Makna Kajian Agama bagi Historiografi Indonesia
Kata agama berasal dari bahasa sansekerta yaitu berasal dari kata a (tidak) dan gama (kacau), yang bila digabungkan menjadi sesuatu yang tidak kacau. Dan agama ini bertujuan untuk memelihara atau mengatur hubungan seseorang atau sekelompok orang terhadap realitas tertinggi yaitu Tuhan, sesama manusia dan alam sekitarnya. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata agama berarti prinsip kepercayaan kepada Tuhan.[5]
Di Indonesia yang mayoritas penduduknya menganut agama Islam, sejatinya esensi Islam dan kebudayaannya merupakan hal yang niscaya dalam studi historiografi, baik masa klasik maupun modern. Oleh karena itu, dalam uraiannya akan jelas memperlihatkan historis yang agamis. Penulisan yang dilakukan H. Abdul Malik Karim Amrullah misalnya, Sejarah Ummat Islam IV, selain karena pengambilan sumbernya dari buku-buku sejarah yang ditulis oleh penulis muslim, sejarah melayu yang ditulis oleh Tun Sri Lanang, Hikayat Raja-raja Pasai oleh Syaikh Nuruddin Ar-Raniri, buku tersebut dikritik olehnya karena memiliki banyak kekurangan. Buku sejarah Melayu dan hikayat raja-raja Pasai dikarang pada abad ke-17, semasa Aceh dalam masa kemegahannya dan Johor sudah jatuh, situasi itu memengaruhi penulisan buku tersebut.[6]
Sejarawan Eropa, George Mc. T. Kahin (1952) menulis tentang dinamika Muhammadiyyah (organisasi muslim pembaharu) dalam partai Masyumi, di dalamya menjelaskan tentang ideology Muhammadiyyah dan dinamika pergerakannya. Pada perkembangan selanjutnya muncul gagasan Sejarah Nasional yang diidentikkan oleh Sartono kartodirjo sebagai kumpulan sejarah-sejarah lokal yang secara integral dibahas dalam Seminar Sejarah Nasional pertama (1957) secara implisit menggambarkan penulisan baru Sejarah Nasional Indonesia. Artinya, sejarah Islam Indonesia-pun ikut terkupas di dalamnya


Sumber: https://belantaraindonesia.org/

 

kakek nabi muhammad bernama

kakek nabi muhammad bernama

RESPON MASYARAKAT ARAB MAKKAH

Rasulullah saw menerima wahyu pertama ketika sedang bertahanuts di Gua Hira yaitu QS. Al-Isra ayat 1-5. Kurang lebih dua setengah tahun kemudian, Rasulullah saw menerima wahyu yang kedua yaitu QS. Al-Muddatstsir ayat 1-7. Dengan turunnya wahyu yang kedua tersebut, jelaslah misi yang harus beliau laksanakan yaitu mengajarkan tauhid dan agama Islam.
Dalam melaksanakan misi dakwahnya yang secara sembunyi-sembunyi, Rasulullah saw mendatangi orang demi orang dan melakukan kunjungan dari rumah ke rumah. Cara ini ternyata dapat pula menarik orang-orang miskin dan hamba sahaya kedalam pangkuan Islam sehingga dapat menambah jumlah pengikutnya. Tiga tahun lamanya Rasulullah saw melakukan dakwah sembunyi-sembunyi merupakan waktu yang panjang. Hal ini dilakukan karena takut diketahui dan diancam oleh kaum kafir Quraisy. Pada tahap awal ini Rasulullah saw ekstra hati-hati agar orang-orang kafir Quraisy tidak mendeteksi gerakan dakwah yang dilakukannya.
Dakwah secara terang-terangan baru dilakukan Rasulullah saw setelah turunnya perintah Allah swt melalui QS. Al-Hijr ayat 94. Namun imbauan secara terbuka Rasullah saw terhadap masyarakat Makkah untuk memeluk Islam sama sekali tidak digubris oleh mereka. Dengan perasaan acuh tak acuh dan apatis bercampur sinis, mereka secara bulat menolak dan meninggalkan Nabi Muhammad saw.
Pada suatu hari Rasulullah saw naik ke bukit Shafa kemudian menyeru umatnya untuk meninggalkan kemusyrikan dan menyembah Allah swt. Namun mereka menampik dengan keras ajakan dan imbauan dakwah tersebut. Bahkan salah seorang paman Rasulullah saw yang bernama Abu Lahab dengan gaya congkak, raut muka angkuh dan wajah arogan mengatakan “Celakalah engkau, Muhammad! Hanya untuk inikah engkau mengumpulkan kami ?”.[7] Sedangkan istri Abu Lahab yang bernama Ummu Jamil turut menyebarkan fitnah-fitnah ke masyarakat bahwa Muhammad itu jahat, pendusta besar, pembuat onar, dan tidak boleh dipercaya.[8]
Abu Thalib adalah salah seorang paman Nabi Muhammad saw yang meskipun belum menganut Islam, tetapi menjadi pelindung gigih dan pembela Nabi Muhammad saw. Kaum kafir Quraisy selalu menghasut Abu Thalib agar mau meminta Nabi Muhammad saw untuk menghentikan dakwah, namun selalu ditolaknya. Karena ia tidak sampai hati membuat kemenakannya kecewa atau ditimpa mara bahaya yang dirancang oleh para pemuka Quraisy.
Sebenarnya ada beberapa faktor penting yang melatarbelakangi mengapa kaum kafir Quraisy sangat menentang keras agama Islam yang didakwahkan Rasululllah saw, yaitu :
a. Mereka berpendapat bahwa beriman dan tunduk kepada seruan Rasulullah saw berarti menyerahkan komando kekuasaan kepada keluarga Muhammad (Bani Abdul Muthalib dan Bani Hasyim).
b. Orang-orang Quraisy memandang diri meerka sebagai kabilah yang paling mulia, super dan tinggi di Jazirah Arab. Sedangkan Islam memandang manusia memiliki hak dan derajat yang sama, kecuali tingkat ketakwaannya kepada Allah swt.
c. Segala adat istiadat, kepercayan dan agama nenek moyang yang mereka warisi dari leluhur mereka diterima begitu saja tanpa kritik dan dipegangi secara membabi buta. Agama Islam yang dibawa oleh Rasulullah saw dianggap sebagai kepercayaan dan agama baru yang harus ditolak karena berusaha menggantikan agama nenek moyangnya.
d. Ajaran Islam tentang kebangkitan dan siksa neraka dinilai sangat kejam oleh para kaum kafir Quraisy.
e. Bagi sebagian orang Arab, memperjualbelikan patung untuk disembah merupakan salah satu sumber mata penghasilan dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka. Kedatangan Islam yang mengajarkan larangan membuat, menjual, dan menyembah patung-patung tersebut dipahami sebagai tindakan politik ekonomi yang secara serius dan sistemik akan menghancurkan serta mematikan sumber pendapatan mereka.
Teror, permusuhan, kebencian dan rongrongan kafir Quraisy terhadap Rasulullah saw dan pengikutnya semakin ganas. Sehingga menyentuh perasaan pamannya yaitu Hamzah bin Abdul Muthalib. Dengan berani Hamzah menyatakan keislamannya dan kemudian menjadi benteng perlindungan kaum muslimin bersama dengan Umar bin Khattab yang menyatakan keislamannya setelah mendengar lantunan ayat suci Al-Qur’an yang dibacakan adiknya.
Melihat hal tersebut kaum kafir Quraisy terus mencari taktik untuk melumpahkan kekuatan Islam. Akhirnya setelah mengadakan rapat penting mereka mengambil keputusan untuk melakukan pemboikotan total terhadap Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib yang selama ini menjadi tulang punggung dan inti kekuatan yang mendukung dan membela dakwah Rasulullah saw.
Bentuk pemboikotan total yang dilakukan kaum kafir Quraisy ialah :
a. Tidak melakukan perkawinan dengan keluarga Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib.
b. Tidak berjual beli dengan Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib.
c. Tidak berbicara dan tidak menjenguk keluarga Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib yang sakit.
d. Tidak mengantarkan ke kuburan keluarga Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib yang meninggal dunia.
Hingga akhir tahun kesepuluh kenabian, dakwah Rasulullah saw di Makkah tidak juga memperlihatkan kemajuan yang signifikan. Beliau menilai kota Makkah sudah tidak cocok lagi untuk dijadikan basis dakwah menyebarkan Islam. Sementara disisi lain kekejaman yang dilakukan oleh kaum kafir Quraisy terhadap Rasulullah saw dan pengikutnya semakin bertambah hebat. Akhirnya Rasulullah saw pun memutuskan untuk melakukan hijrah total ke Madinah AL-Munawwaroh. Sebuah kota dimana masyarakatnya sangat terbuka dengan Islam karena memang mereka pun sudah mengetahui akan datangnya nabi akhir zaman yaitu Rasulullah Muhammad saw.


Sumber: https://robinschone.com/

 

Louis Ma’luf Muamalah adalah

FIQIH MUAMALAH

A. Muamalah& Fiqh Muamalah

Dari segi bahasa, “muamalah” berasal dari kata aamala, yuamilu, muamalat yang berarti perlakuan atau tindakan terhadap orang lain, hubungan kepentingan. Kata-kata semacam ini adalah kata kerja aktif yang harus mempunyai dua buah pelaku, yang satu terhadap yang lain saling melakukan pekerjaan secara aktif, sehingga kedua pelaku tersebut saling memperoleh manfaat dari satu terhadap yang lainnya.
Secara istilah muamalah memiliki beberapa pengertian dari para ahli, diantaranya :
1. Ahmad Ibrahim Beik
Muamalah adalah peraturan-peraturan mengenai tiap yang berhubungan dengan urusan dunia, seperti perdagangan dan semua mengenai kebendaan, perkawinan, thalak, sanksi-sanksi, peradilan dan yang berhubungan dengan manajemen perkantoran, baik umum ataupun khusus, yang telah ditetapkan dasar-dasarnya secara umum atau global dan terperinci untuk dijadikan petunjuk bagi manusia dalam bertukar manfaat di antara mereka.

2. Louis Ma’luf
Muamalah adalah hukum-hukum syara yang berkaitan dengan urusan dunia, dan kehidupan manusia, seperti jual beli, perdagangan, dan lain sebagainya.
Kata fiqh secara etimologi (bahasa) berarti paham, seperti pernyataan “Saya paham akan kejadian itu”. Sedangkan secara terminologi (istilah) yaitu pengetahuan tentang hukum syariah islamiah yang berkaitan dengan perbuatan manusia yang telah dewasa dan berakal sehat yang diambil dari dalil-dalil terperinci. Atau dapat dikatakan, fiqh adalah suatu ilmu yang mempelajari bermacam-macam syariat atau hukum Islam dan berbagai macam aturan hidup bagi manusia baik yang bersifat individu maupun yang berbentuk masyarakat sosial.
Jadi Fiqh Muamalah memiliki definisi pemahaman atau pengetahuan tentang kegiatan atau transaksi yang berdasarkan hukum-hukum syariat. Mengenai perilaku manusia dalam kehidupannya yang diperoleh dari dalil-dalil islam secara rinci. Pengertian yang lebih rinci diungkapkan Musthofa Ahmad al-Zarqa, yang dimaksudkan fiqh muamalah adalah hukum-hukum yang berkaitan dengan perbuatan manusia dan hubungan sesama manusia dalam urusan kebendaan, hak-hak kebendaan, serta penyelesaian perselisihan di antara mereka.

Pos-Pos Terbaru