Perikanan

Perikanan

Kekuatan militer dan perang (show of Force)

Kekuatan militer dan perang (show of Force)

Kekuatan militer dan perang (show of Force)

Peralatan militer yang memadai dapat menambah keyakinan dan stabilitas untuk berdiplomasi.  Diplomasi tanpa dukungan militer yang kuat dapat membuat suatu negara tidak memiliki rasa percaya diri sehingga tak mampu menghindari tekanan dan ancaman negara lain yang dapat mengganggu kepentingan nasionalnya.  Maka dengan demikian demontrasi senjata, latihan perang bersama kerap dilaksanakan untuk menampilkan kekuatannya.  Namun yang lebih diutamakan bukanlah perang tetapi tindakan preventif dalam hubungan internasional.

Asas-Asas Dalam Hubungan Internasional

 

  1. Asas Teritorial yaitu hak dari suatu Negara atas wilayahnya, berhak menegakkan hukum terhadap barang dan semua orang yang berada di wilayahnya.
  2. Asas Kebangsaan yaitu kekuasan Negara atas warga negaranya, setiap warga Negara dimanapun ia berada tetap mendapat perlakuan hukum dari negaranya. Asas ini memiliki kekuatan eksteritorial yaitu hukum Negara tersebut tetap berlaku bagi warga negaranya walaupun berada di Negara asing.
  3. Asas kepentingan umum Yaitu Negara dapat melindungi dan mengatur kepentingan dalam kehidupan masyarakat.  Negara dapat menyesuaikan diri dengan semua peristiwa yang ada hubungannya dengan kepentingan umum.  Hukum tidak terbatas oleh  wilayah suatu Negara.
    Sumber :https://aziritt.net/binar-academy-tawarkan-sekolah-coding-gratis/

Dampak perkembangan IPTEK dalam bidang kesehatan

Dampak perkembangan IPTEK dalam bidang kesehatan

Kebutuhan akan kesehatan makin dirasakan oleh manusia, sehingga usaha untuk memerangi penyakit yang menjadi sumber malapetaka makin giat dilakukan. Dengan biologi sebagai ilmu murni ini berkembang ilmu terapan yang secara praktis berguna bagi kesejahteraan manusia

Sementara itu manusia dibumi yang jumlahnya di kota-kota besar makin banyak, mulai timbul penyakit baru yang sifatnya psikis, antara lain kekalutan mental yang dapat berkembang menjadi frustasi. Kehidupan kota yang keras, tidak mengenal toleransi, sedangkan manusia sendiri makin rakus dan individual, maka gangguan kesehatan yang dikenal dengan stress makin berkembang dalam masyarakat.

Peningkatan suatu ilmu ditentukan oleh sarana dan prasarana yang diperlukan.untuk perkembangan ilmu kedokteran sarana dan prasarana tersebut ialah ilmu dasar(kimia,biologi,dan fisika)serta alat-alat elektronik dan non elektronikserta tenaga peneliti bidangnya.seperti dijelaskan pada perkembangan IPA yang selalu mengikuti perkembangan jaman,maka ilmu dasar tersebut diatas juga berkembangan.dapat disebutkan disini dengan timbulnya:biokimia,biofisika,kimia,fisika,bakteriologi,histology,(ilmujaringan),sitologi(ilmu tentang sel),parasitologi,dan lain-lain yang sejalan dengan perkembangan alat-alat elektronik,seperti timbulnya thermometer mikroskop electron,sinar rontgen,sinar laser stetoskop dan lain-lain.

7.Dampak perkembangan IPTEK dalam sumber daya alam

  1. Minyak Bumi

pada sekarang ini minyak bumi merupakan sumber daya alam yang paling utama dalam memenuhi kebutuhan energy dunia. Hal ini dapat dengan mudah kita membayangkan mengingat segala mesin kendaraan misalnya mobil, bus, truk, kereta api, kapal laut, kapal terbang, hamper semua menggunakan minyak bumi bahan bakarnya. Namun kita juga mengetahui bahwa minyak bumi merupakan bahan galian yang tak dapat diperbaharui, artinya sekali pakai habislah dia.Hal ini kita tinjau dari sisa pembakarannya dan kita tinjau dari awal penggaliannya, maka penggalian minyak bumi tidak bisa di hindari adanya tumpahan disekitar pemboran itu. Hal ini jelas akan  merusak lingkungan, baik tumbuhan atau hewan yang hidup di sekitar itu. Tentu saja dampak kepada manusianya juga ada

sumber :

http://blog.dinamika.ac.id/arya/2020/06/07/download-kinemaster-pro-apk/

Pers Masa Demokrasi Liberal Masa

Pers Masa Demokrasi Liberal Masa

Dernokrasi Liberal adalah masa antara tahun 1950 sampai dengan 1959. Pada waktu itu, Indonesia menganut sistem parlementer yang berpaham liberal. Pers easional saat itu sesuai dengan alam liberal yang sangat  menikmati adanya kebebasan pers. Selain itu, pers dapat leluasa memuat berita-berita. Pada masa ini koordinasi pembredelan pers Belanda (1931-1932) disebut, tetapi pengawasan pers masih tetap ada, yaitu UU negara dalam keadaan bahaya (808) yang dituangkan dalam UU No, 74 Tahun 1957. Secara umum, pada masa demokrasi liberal ini kebebasan pers jauh lebih baik dari sebelutnnya.

 

  1. Pers Masa Demokrasi Terpimpin

Masa Demokrasi Terpimpin adalah masa kepemimpinan Presiden Soekarno (1959-1965). Masa ini berawal dari keluarnya Dekrit Presiden 5 Juli 1959 untuk mengakhiri masa demokrasi liberal yang dianggap tidak sesuai dengan kepribadian bangsa. Sejak itu mulailah masa demokrasi terpimpin dergan mendasarkan kembali pada UUD 1945.Namun dalam kenyataannya, priftsip-prinsip demokrasi menyimpang dari palaksanaannya. Konsentrasi kekuasaan dalam satu tangan melalui dijalankan dan demokrasi yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan hanyalah merupakan semboyan belaka. Demokrasi yang dicanangkan ternyata menuju pada kekuasaan diktator otoriter.

Sejalan dengan Demokrasi Terpimpin, pers nasional dikatakan menganut konsep otoriter. Pers nasional saat itu merupakan terompet penguasa dan bertugas mengagung-agungkan pribadi presiden dan mengindoktrinasikan manipol.

Pers diberi tugas menggerakkan aksi-aksi  massa yang revolusioner dengan jalan memberikan penerangan, membangkitkan jiwa dan kehendak massa agar mendukung pelaksanaan manipol dan ketetapan pemerintah lainnya. Meskipun sistem Parlementer telah terkubur sejak keluarnya Dekrit Presiden 5 Juli 1959 yang memberlakukan kembali UUD 1945 pola pertentangan partai-partai masih bertahan.

Bahwa pada masa demokrasi terpimpin, wartawan Indonesia umumnya, PWI (didirikan pada 9 Februari 1946) khususnya, tetap berpegang teguh pada dasar negara Pancasila, tidak terlepas dari latar belakang dan landasan lahirnya gerakan kembali UUD 1945. Gerakan tersebut mengenal, pertentangan dan pelawanan terhadap golongan yang ingin menciptakan undang-undang dasar berdasarkan asas dan dasar negara yang lain.

Akan tetapi, karena kepentingan Manipolisasi dan Nasakomisasi yang semakin menonjol, terutama akibat agitasi dan propaganda golongan PKI yang ingin memperbesar pengaruhnya dalam rangka merebut kekuasaan. maka ideologi Pancasila semakin terde:.ak oleh konsep-konsep revolusi..

sumber :

Aspek Prinsip Ilmiah

Aspek Prinsip Ilmiah

Pada aspek keilmiahan menunjukkan materi dan kegiatan yang termuat dalam komponen silabus dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan. Pengembangan indilkator, materi pembelajarn, kegiatan pembelajaran, penilaian, alokasi waktu dan sumber belajar telah mengacu pada pencapaian kompetensi dasar dan sesuai dengan karakteristik mata pelajaran dan sumber daya yang ada dan berpedoman pada standar isi yang ditetapkan oleh PEMENAG No 2 tahun 2008 dan hal itu menjadikan materi ini sesuai bila digunakan dalam pembelajaran Aqidah Akhlak

2)      Aspek Relevansi

Pada aspek relevansi yang termuat dalam materi indikator dan teknik penilaian pembelajaran cukup menunjukkan adanya keterkaitan terhadap kompetensi dasar, namun akan lebih baik jika siswa juga melakukan eksplorasi terhadap potensi-potensi belajar lain.

3)      Aspek Sistematis

Pada aspek silabus terlihat adanya hubungan fungsional antar komponen-komponen silabus dalam mencapai kompetensi. Hal tersebut menunjukan bahwa aspek ini sudah terpenuhi. Silabus yang dirancang dengan sistematis menjadikan materi yang akan disampaikan dapat diajarkan kepada siswa dengan runtut. Dalam penyusunan silabus memperhatikan alokasi waktu yang disediakan per-semester. Implementasi pemelajaran per-semester menggunakan penggalan silabus sesuai dengan Standar Kompetensi dan Kompetensi Inti sesuai dengan kurikulum yang ada. Dalam merumuskan silabus harus dibuat dengan runtut dan terdiri dari beberapa komponen dan harus disusun secara sistematis. Komponen yang terdapat dalam silabus meliputi: Standar Kompetensi (SK) Kompetensi Dasar (KD) atau Kompetensi Inti (KI), Hasil belajar, indicator hasil belajar, meteri pokok, kegiatan pembelajaran, alokasi waktu, penilaian, sarana dan sumber belajar. Pelaksanaan strategi pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam akan menuntut guru untuk bisa menjabarkan rencana pembelajaran secara sistematis dengan target lebih konkret, serta didukung pula dengan penggunaan metode dan media yang tepat.

4)      Aspek Konsisten

Pada aspek ini, di dalam komponen-komponen silabus tersebut telah ada hubungan yang tetap antara kompetensi dasar, indikator, materi pokok, pengalaman belajar, sumber belajar dan sistem penilaian. Pada aspek ini konsitensinya telah terpenuhi, ini menandakan adanya hubungan yang terus-menerus dan saling berkesinambungan antara komponen-komponen tersebut. Konsistensi sangat diperlukan karena menghidari perubahan-perubahan yang menyebabkan pembelajaran tidak dapat terlaksana dengan maksimal dan akan membuat guru kebingungan ketika menyampaikan materi ajar dan siswa pun akan dibuat kebingunan karena ketidak konsistensinan antara komponen-komponen yang ada pada meteri pembelajaran yang digunakan.

5)      Aspek Memadai

artinya cakupan indikator, materi pokok/pembelajaran, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian cukup untuk menunjang pencapaian kompetensi dasar. Pada aspek ini dirasa cukup terpenuhi. Pada pengalaman belajar akan menjadi contoh bagi para siswa tetapi tidak dapat menyeluruh. Maka dari itu pada aspek ini kami rasa sudah cukup terpenuhi

6)      Aspek Aktual Dan Kontekstual

cakupan indikator dan sistem penilaian kurang memerhatikan perkembangan ilmu, teknologi, dan seni mutakhir dalam kehidupan nyata dengan peristiwa yang terjadi. Sering kali saat pembelajaran. Pada pelajaran Aqidah Akhlak banyak pelajaran yang harus menggunakan sikap dan tingkah laku dan juga kenyataan yang ada. Maka dari itu pada kenyataannya harus disesuaikan dengan baik dan diajarkan untuk memperteguh keimanan para peserta didik

7)      Aspek Fleksibel

Pada mata pelajaran Aqidah Akhlak kelas XI ini SK maupun KD yang diajarkan sudah cukup fleksible. Artinya materi yang akan diajarkan juga bisa dosesuaikan mengikuti perkembangan zaman.

sumber :

https://sanghachiro.com/cinderella-apk/

 Perilaku Terpuji dalam Pergaulan Remaja

 Perilaku Terpuji dalam Pergaulan Remaja

Remaja adalah kelompok dari manusia yang baru tumbuh dari masa kanak-kanak kemasa dewasa, yaitu antara usia 13-19 tahun.  Sebelum masa remaja , seorang anak akan melewati masa peralihan (adolesen) yaitu antara usia 9- 13 tahun, yang dikenal sebagai masa pubertas. Dalam masa ini seorang anak memiliki dorongan kuat untuk mengaktualisasikan diri menurut jenis kelamin untuk mendapatkan pengakuan sebagai penegasan identitas diri baik dari segi ϐisik maupun biologis. Masa remaja adalah masa yang labil bagi anak.

  1. Perilaku terpuji dalam pergaulan remaja

  2. Persaudaraan (ukhuwah)

Dalam rangka menjaga kesucian pergaulan remaja agar terhindar dari perbuatan zina, islam telah membuat batasan-batasan sebagai berikut :

1)        Laki-laki tidak boleh berdua-duaan dengan perempuan yang bukan mahramnya. 99 Akidah Akhlak Kurikulum 2013

2)        Laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim tidak boleh bersentuhan secara fisik.

  1. Mengembangkan wawasan keilmuan
  2. Menghormati dan menghargai (tasamuh)
  3. Nilai positif perilaku terpuji dalam pergaulan remaja
  4. Menumbuhkan sikap arif dan bijaksana
  5. Menumbuhkan sikap disiplin diri
  6. Menumbuhkan sikap mandiri
  7. Menumbuhkan sikap tanggungjawab
  8. Membiasakan perilaku terpuji dalam pergaulan remaja
  9. Menutup Aurat
  10. Mengajak untuk berbuat kebaikan
  11. Mengisi waktu luang dengan kegiatan yang bermanfaat
  12. Menghormati orang yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda
  13. Bersikap santun dan tidak sombong
  14. Perilaku Tercela dalam Pergaulan Remaja

Perilaku tercela remaja mengambil bentuk dengan apa yang kemudian disitilahkan dengan kenakalan remaja. Kenakalan remaja (juvenile delinquency) adalah gejala sakit (patologis) secara sosial pada anak-anak dan remaja yang disebabkan oleh satu bentuk pengabaian sosial, sehingga mereka mengembangkan bentuk perilaku yang menyimpang. Istilah kenakalan remaja mengacu pada suatu rentang yang luas, dari tingkah  laku yang tidak dapat diterima sosial sampai pelanggaran status hingga tindak kriminal.

  1. Perilaku tercela dalam pergaulan remaja
  2. Pergaulan bebas (free sex)
  3. Tawuran antar pelajar
  4. Mengkonsumsi minuman keras
  5. Penyalahgunaan narkoba
  6. Nilai negatif perilaku tercela dalam pergaulan remaja
  7. Bertentangan dengan nilai-nilai ajaran agama
  8. Hilangnya budaya malu
  9. Menimbulkan masalah kesehatan
  10. Menghindari perilaku tercela dalam pergaulan remaja
  11. Meningkatkan kadar iman dan amal sholeh
  12. Meningkatkan kualitas ahlak dan etika bergaul
  13. Mengatur waktu dengan baik
  1. Strategi Pelaksanaan Pembelajaran
  2. Strategi            : Contectual Teaching Learning (CTL)

Keterangan

Strategi Contectual Teaching Learning (CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru dalam mengaitkan antara materi yang diajarkan  dengan dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka.

  1. Model              : Kooperatif

Keterangan

Model pembelajaran Kooperatif dapat diartikan belajar bersama-sama, saling membantu antara satu dengan yang lain dan memastikan bahwa setiap orang dalam kelompok untuk mencapai tujuan atau tugas yang telah ditentukan sebelumnya.

  1. Pendekatan      : Analisis dan pendekatan proses

Keterangan

Definisi dari pendekatan adalah proses, perbuatan atau cara untuk mendekati. Sedangkan pendekatan Analisis (Analytical Approach) merupakan pendekatan yang didasarkan pada seperangkat ungkapan-ungkapan dan asumsi-asumsi. Pendekatan Proses merupakan pendekatan pengajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk menghayati proses.

sumber :

https://restaurantlediapason.com/popscene-apk/

Fitrah Manusia dari Perspektif Beberapa Agama

Fitrah Manusia dari Perspektif Beberapa Agama

Fitrah Manusia dari Perspektif Beberapa Agama

Fitrah Manusia dari Perspektif Beberapa Agama

  1. Agama Islam

Al-Qur’an menyebut manusia dengan tiga macam istilah, yaitu insan, basyar, dan bani Adam. Dua istilah yeng pertama yaitu insan dan basyar menunjukkan fitrah atau naluri manusia, yaitu pelupa dan memiliki perasaan. Sedang istilah ketiga, yakni bani Adam menunjukkan asal-usul kejadian manusia, yaitu dari Nabi Adam[10]

Manusia pertama yang dihidupkan di atas muka bumi ini oleh Allah SWT ialah Adam AS. Dalam Islam, manusia dikatakan berasal daripada tanah dan roh di mana unsur jasad dan roh telah  disatukan  untuk memberi nyawa kepada Adam AS. Zuriat bagi keturunan Adam AS pula bermula daripada nutfah. Nutfah bermaksud percantuman air mani lelaki di dalam rahim wanita. Yaitu  percantuman daripada ovum dan sperma dimana dalam berjuta-juta sperma  lelaki,  sperma yang terkuat sahaja akan dapat memasuki ke dalam ovum wanita. Proses ini juga juga di kenali sebagai survival  of the  fittest. Dengan demikian dari pendapat di atas, dapat di ketahui bahwa agama islam lebih menekankan pada proses penciptaan manusia.

  1. Agama Hindu

Dalam  agama  Hindu  pada  umumnya,  konsep  yang dipakai adalah monoteisme.  Konsep tersebut dikenal sebagai filsafat Adwaita Wedanta yang bererti “tak ada duanya“. Konsep ketuhanan dalam agama monoteistik lainnya, Adwaita Wedanta menganggap  bahawa Tuhan merupakan  pusat segala  kehidupan di  alam  semesta, dan  dalam  agama Hindu, Tuhan dikenal dengan sebutan Brahman. Brahman merupakan  pencipta  sekaligus  pelebur alam semesta. Brahman berada dimana-mana dan  mengisi  seluruh alam semesta. Brahman merupakan asal  mula  dari  segala  sesuatu yang ada di dunia. Segala sesuatu yang ada di alam semesta  tunduk kepada Brahman tanpa kecuali. Menurut pendapat dari agama hindhu, fitrah lebih menekankan pada proses pengaturan alam semesta dan Tuhan (Brahman) yang mengaturnya.

baca juga :

 Konsep Fitrah Manusia

 Konsep Fitrah Manusia

 Konsep Fitrah Manusia

 Konsep Fitrah Manusia

Dalam pengertian yang sederhana istilah definisi fitrah sering dimaknai suci dan potensi. Secara etimologis, asal kata fitrah / fitroh / pitrah berasal dari bahasa Arab, yaitu fitrah (فطرة) jamaknya fithar (فطر), yang suka diartikan perangai, tabiat, kejadian, asli, agama, ciptaan. Menurut Muhammad Quraish Shihab, istilah fitrah diambil dari akar kata al-fithr yang berarti belahan[1]. Dari makna ini lahir makna-makna lain, antara lain pencipta atau kejadian.

Dalam gramatika bahasa Arab, sumber kata fitrah wazannya fi’lah, yang artinya al-ibtida’, yaitu menciptakan sesuatu tanpa contoh. Fi’lah dan fitrah adalah bentuk masdar (infinitif) yang menunjukkan arti keadaan. Demikian pula menurut Ibn al-Qayyim dan Ibnu Katsir, karena fiţir artinya menciptakan, maka fitrah berarti keadaan yang dihasilkan dari penciptaan itu. Menurut hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas, fitrah adalah awal mula penciptaan manusia. Sebab lafadz fitrah tidak pernah dikemukakan oleh al-Quran dalam konteksnya selain dengan manusia.

Fitrah manusia berbeda dengan watak atau tabi’at. Juga berbeda dengan naluri/garizah. Watak atau tabi’at adalah sifat dasar, seperti kalimat watak oksigen adalah mudah terbakar. Jadi watak adalah karakteristik yang terdiri dari pada bentuk, dan materi (mâddah). Inilah yang merupakan watak atau tabi’at suatu benda. Sedangkan naluri atau garizah adalah sifat dasar. Sifat dasar ini bukan muktasabah (bukan diperoleh). Misalnya, anak kuda begitu lahir langsung bisa berdiri. Semut, meskipun binatang kecil namun mampu mengumpulkan makanan. Inilah yang disebut naluri atau garizah. Dalam naluri tidak terdapat kesadaran yang penuh. Untuk binatang, fitrah ini disebut naluri. Fitrah sama dengan watak (tabi’at) dan naluri ini juga bukan diperoleh melalui usaha (muktasabah). Bukan pula karena khuduri (perolehan). Istilah fitrah lazimnya untuk manusia, naluri lazimnya untuk hewan, dan watak lazimnya untuk benda.

Penyebutan kata fitrah ini hanya satu ayat yang menunjukkan bentuk fitrah secara jelas, yaitu dalam surat al-Rûm ayat 30. Kata fitrah dalam ayat ini mempunyai beberapa arti. Dalam kamus Al-Munawwir, kata fitrah diartikan dengan naluri (pembawaan).[2] Kemudian Mahmud Yunus mengatakan, kata fitrah diartikan sebagai agama, ciptaan, perangai, kejadian asli[3]. Dalam Kamus Bahasa Indonesia (KBBI), kata fitrah diartikan dengan sifat asli, bakat, pembawaan perasaan keagamaan.[4]

Selain itu, Lusi Makluf mengatakan, kata fitrah diartikan dengan agama, sunnah, kejadian, tabiat. Kamus Indonesia-Inggris susunan John Echols dan Hasan Sadili, mengartikan fitrah dengan natural, tendency, disposition, character.[5] Dan Kamus Arab-Melayu mengartikan fitrah dengan agama, sunnah, mengadakan, perangai, semula jadi, kejadian (khilqatun).

Al-Qur’an mempergunakan katak fathir dalam banyak ayat untuk memberi pengertian sang Pencipta. Ayat-ayat Al-Qur’an ini dihubungkan dengan langit dan bumi. Kata kerja fathara juga banyak digunakan. Dalam ayat-ayat ini, langit dan bumi digunakan sebagai obyek kata kerja, sedangkan manusia sebagai obyek yang lain. Tidak ada yang dapat menemukan pengertian hakikiah tentang makna fithrah yang sesungguhnya. Sebab kata fathara yang digunakan secara sederhana disini berarti makhluk yang diciptakan. Namun dalam salah satu ayat fithrah ini menegaskan makna agama (din). Dalam surat Al-Rum kita baca:

فَأَقِمۡ وَجۡهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفٗاۚ فِطۡرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِي فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيۡهَاۚ لَا تَبۡدِيلَ لِخَلۡقِ ٱللَّهِۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلۡقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ ٣٠

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”

Ayat diatas menghubungkan makna fithrah dengan agama Allah (din). Hubungan fithrah dengan din tidak bertentangan, malah sebaliknya saling melengkapi keduanya.

Penekanan mengenai hakikat makna fithrah yang sesungguhnya secara lebih terperinci lagi, berasal dari ayat dibawah ini yang menandai bahwa, Allah telah membuat perjanjian kesaksian (amanat) dengan manusia agar berlaku adil dan baik hati. Dalam QS Al-A’raf (17): 172, Allah berfirman:

وَإِذۡ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِيٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمۡ ذُرِّيَّتَهُمۡ وَأَشۡهَدَهُمۡ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ أَلَسۡتُ بِرَبِّكُمۡۖ قَالُواْ بَلَىٰ شَهِدۡنَآۚ أَن تَقُولُواْ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنۡ هَٰذَا غَٰفِلِينَ ١٧٢

”Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”

sumber :

https://fountainheadpictures.com/baby-outdoor-adventures-apk/

Pengertian Hukum Acara Pidana

Pengertian Hukum Acara Pidana

Pengertian Hukum Acara Pidana

Pengertian Hukum Acara Pidana

Hukum acara pidana yang dalam bahasa belanda disebut Strafprocesrecht, bahasa jerman disebut DeutschStrafprozessodnung, bahasa inggris disebut Criminal Procedure Rules, sering disebut hukum pidana formiil/formal sebagai pembeda dengan istilah hokum pidana materiil.

Hukum acara pidana merupakan hukum yang mengatur bagaimana Negara melalui organ-organnya melaksanakan fungsi dan kewenangannya untuk memproses, dan menjatuhkan pidana kepada siapa yang terbukti melakukan tindak pidana. Dengan kata lain hokum acara pidana adalah hokum yang mengatur tentang proses peradilan pidana atau dapat pula disebut aturan hokum pidana yang dibentuk untuk mempertahankan hokum pidana materiil.

Adapun pengertian hokum acara pidana menurut para ahli adalah sebagai berikut :

  1. Pengertian Hukum Acara Pidana Menurut R. Soesilo adalah Hukum yang mengatur tentang cara bagaimana mempertahankan atau menyelenggarakan hukum pidana materil, sehingga dapat memperoleh keputusan hakim dan cara bagaimana isi keputusan itu harus dilaksanakan.
  2. Menurut J.C.T. Simorangkir, Pengertian Hukum Acara Pidana ialah hukum acara yang melaksanakan dan mempertahankan hukum pidana materil.
  3. Van Bemmelen mengemukakan Pengertian Hukum Acara Pidana yaitu mempelajari peraturan-peraturan yang diciptakan oleh negara, karena diduga terjadi pelanggaran undang-undang pidana.
  4. Pengertian Hukum Acara Pidana Menurut Pramadyaa Puspa adalah ketentuan-ketentuan hukum yang mengatur dengan cara bagaimana tertib hukum pidana harus di tegakkan atau dilaksanakan dengan baik, seandainya terjadi pelanggaran dan dengan cara bagaimanakah negara harus menunaikan hak pidana atau hak menghukumnya kepada si pelanggar hukum (terdakwa) seandainya terjadi sesuatu pelanggaran hukum pidana pihak negara diwakili oleh penuntut umum atau jaksa di mana jaksa harus menuntut (mengajukan) tuntutan perkara itu di muka pengadilan.
  5. Menurut Soesilo Yuwono, Pengerian Hukum Acara Pidana ialah Ketentuan-ketentuan hukum yang memuat tentang hak dan kewajiban dari mereka yang tersangkut dalam proses pidana serta tata cara dari suatu proses pidana.
  1. Pengertian Praperadilan

Pra artinya sebelum, atau mendahulii, berarti “praperadilan” sama dengan sebelum pemeriksaan di sidang pengadilan. Di Eropa dikenal lembaga semacam itu, tetapi fungsinya memang benar-benar melakukan pemeriksaan pendahuluan. Jadi, fungsi hakim komisaris (Rechter commissaris) di negeri Belanda dan Judge d’ Instruction di Prancis benar-benar dapat disebut praperadilan, karena selain menentukan sah tidaknya penangkapan, penahanan, penyitaan, juga melakukan pemeriksaan pendahuluan atas suatu perkara.

            Menurut Oemar Seno Adji, lembaga rechter commissris (hakim yang memimpin pemeriksaan pendahuluan) muncul sebagai perwujudan keaktifan hakim, yang di Eropa Tengah mempunyai posisi penting yang mempunyai kewenangan untuk menangani upaya paksa (dwang mid-delen)¸ penahanan, penyitaan, penggeledahan badan, rumah, dan pemeriksaan surat-surat. Menurut KUHAP Indonesia, praperadilan tidak mempunyai wewenang seluas itu. Hakim komisaris selain misalnya berwenang untuk menilai sah tidaknya suatu penangkapan, penahan seperti praperadilan, juga sah atau tidaknya suatu penyitaan yang dilakukan oleh jaksa.

 

sumber :

Head Soccer Russia Cup 2018: World Football League 4.1.1 Apk

https://tbp.co.id/head-soccer-russia-cup-apk/

 Zaman Batu 

 Zaman Batu 

 Zaman Batu 

 Zaman Batu 
Zaman batu yaitu zaman ketika manusia mulai mengenal alat-alat yang terbuat dari batu. Pada zaman ini, bukan berarti alat-alat dari kayu atau bambu tidak dibuat. Alat yang terbuat dari bahan kayu atau bambu mudah rapuh, tidak tahan lama seperti dari batu, bekas-bekas peninggalannya tidak ada lagi.
1. Zaman Batu Tua (Paleolitikum)
Zaman batu tua (Paleolitikum diperkirakan berlangsung selama masa Kala Plestosen kira-kira 600.000 tahun yang lalu. Pada zaman batu tua , alat-alat budaya yang ditemukan terbuat dari batu yang dibuat dengan sangat kasar serta sederhana. Cara pembuatannya hanya dibentur-benturkan antara batu yang satu dengan lainnya. Alat-alat budaya dari zaman batu ini banyak ditemukan di pulau Jawa. Alat-alat budaya yang ditemukan terbuat dari batu yang dibuat dengan kasar serta sederhana. Berdasarkan tempat penemuannya, hasil kebudayaan zaman batu tua dibagi menjadi dua yaitu:

Ø Kebudayaan Pacitan

Tahun 1935 Von koenigswald mengadakan penggalian di kali Baksoko, desa Punung, Pacitan, Jawa Timur dan menemukan alat-alat dari batu berupa kapak genggam, kapak perimbas, kapak penetak,pahat genggam. Disamping itu, dikomplek kebudayaan Pacitan banyak ditemukan alat-alat yang berukuran lebih kecil yang dinamakan flakes (alat serpih). Alat-alat batu dari Pacitan ditemukan pada lapisan Trinil yang termasuk lapisan Plestosen tengah. Disamping didaerah Pacitan, alat-alat batu sejenis juga terdapat didaerah-daerah Sukabumi, Gombong, Tambang sawah (Bengkulu), Lahat (Sumatra Selatan), Lampung, Kalimantan Selatan, Bali, Flores, Sumbawa.
baca juga :

Kebutuhan Dasar Anak Remaja

Kebutuhan Dasar Anak Remaja

Kebutuhan Dasar Anak Remaja

Kebutuhan Dasar Anak Remaja
kebutuhan umum manusia baik anak-anak, orang dewasa, maupun para remaja merasakan kebutuhanuntuk mencintai dan di cintai, ingin memiliki pengalaman-pengalaman baru, ingin memperoleh pengenalan, atau pengakuaningin menjadi seseorang yang berdiri sendiri, dan ingin memuaskan kebutuhan ini lebih intensif. Para remaja membutuhkan pengalaman-pengalaman baru pada masa kanak-kanak, pengalaman baru ini di peroleh dalam keluarga atau dari tetangga. Sewaktu mereka meningkatmenjadi remaja, mereka mencari pengalaman baru di luar rumah dan tetangga. Mereka masih membutuhkan juga pengakuan dari orang tua dan tetangganya, tetapi kebutuhan untuk di akui oleh teman sebayanya lebih kuat pengaruhnya.
Menurut penelitian Ericson,Eisenberg, Glasser, Mead, Shore, dan Massimo, identitas merupakan kebutuhan yang sangat besar pada para remaja. Mereka ingin memilikisesuatu, ingin berbeda, ingin di kenal, dan ingin merasakan kehadirannya. Banyak perasaan tidak berharga yang di rasakan para remaja dapat di gindarkan dengan cara memberi mereka tanggung jawab tertentu sehingga mereka merasa dirinya penting.
Kebutuhan akan bantuan orang dewasa. Pertumbuhan berciri kemajuan dan kemunduran pada suatu saat para remaja ingin mempertahankan haknya untuk bertindak berdasarkan keputusannya sendiri tanpa campur tangan orang dewasa. Pada saat lain mereka membutuhkan nasehatserta bimbingan dan penyuluhan orang dewasa. Beberapa orang tua ada yang sabar dan cukup mengerti terhadap sikap remaja yang tidak konsisten ini. Para guru akan berusaha untuk menghindari sikap dogmatism dan otoriter dalam menghadapi para remaja andaikata mereka menyadari bahwa sikap yang tidak konsisten ini adalah suatu aspek yang wajar dari mereka yang sedang menuju kematangan.
Banyak program remaja yang gagal sebelum di mulai karena program tersebut direncanakan dan di organisasi oleh para ahli, lalu di desakkan para remaja. Kemampuan untuk mengarahkan diri secara bijaksana tumbuh melalui praktek. Hendaknya di sadari benar bahwa keputusan-keputusan para remaja tidak terlalu harus sesuai dengan pandangan orang dewasa. (Kelly).
Orang dewasa dapat membantu para remaja dengan baik, dengan cara memahami sumber-sumber yang menyebabkan kekacauan pada mereka. Misalnya dengan jalan mengajak mereka berbicara (bukan member khotbah) tentang perilaku serta konsekuensi-konsekuensinya dalam jangka panjang. Berilah mereka kasih saying yang beresumber dari pengertian, dan bantulah mereka dalam menetapkan tujuan-tujuan yang berhubungan dengan pekerjaan mereka.

 Remaja dalam Lingkungan Belajar Mengajar

Pertumbuhan mental dan pengukuran potensi. Selama ini ada anggapan bahwa pertumbuhan inteligensi berhenti pada usia 16 tahun. Pengertian ini di rumuskan apabila rata-rata individu berhenti sekolah pada kelas delapan. Terman dan Merrill dalam merevisi manual untuk Skala Inteligensi Stanford-Binet mengadakan penyesuaian table-tabel usia berdasarkan asumsi bahwa menurut penemuan akhir-akhir ini, pertumbuhan mental meluas diatas usia 15 tahun.penelitian terhadap penduduk di Amerika Serikat pada tahun 1960 menunjukkan bahwa mereka rata-rata mencapai pendidikan kelas 12. Menurut penelitian Owens terdapat bukti-bukti yang menunjuk kepada suatu kesimpulan bahwa inteligensi itu harus tumbuh atau berhenti, bergantung kepada apakah kapasitas individu untuk perkembangan mentalnya di latih atau tidak. Dan ini meluas sampai usia 50 tahun atau lebih.

baca juga :