Agama

Agama

Maqashidul Syariah

Maqashidul Syariah

Maqashidul Syariah

 

Maqashidul Syariah

 

Latar Belakang

    Dalam al qur’an banyak sekali ayat yang menyinggung manusia untuk selalu berfikir dengan apa yang telah diciptakannya. Dengan maksud agar lebih mengetahui dan mendalami hakikat apa yang terkandung dalam hal penciptaan tersebut. Banyak sekali sesuatu yang Allah telah ciptakan di alam jagad raya ini. Termasuk diri kita sebagai seorang manusia. Untuk apa Allah menciptakannya? apa manfaat yang terkandung dalam penciptaan manusia? dan mengapa manusia itu di ciptakan?. Pertanyaan demikian akan dapat dijawab ketika seseoarng sudah mampu mempelajari, memahami, dan mengaplikasikan ilmu filsafat dalam kehidupan sehari-hari.

     Semua ilmu yang telah dipelajari manusia merupan hasil dari filsafat yang mereka lakukan untuk mencari suatu kebenaran yang bisa di uji kebenarannya dengan hal yang ilmiah. Al qur’an telah lama mengajarkan segala macam ilmu yang mereka butuhkan, akan tetapi hanya segelintir dari mereka yang mau mendalami, memahami, dan mencermati hal yang tercantum di dalam al qur’an. Jika mereka semua mengetahui apa yang Allah telah tegaskan dalam al qur’an, niscaya tidak ada lagi suatu keingkaran yang akan terjadi. Di dalam al qur’an banyak firman Allah yang telah menegaskan tentang larangan, perintah dan ancaman, yang hal tersebut di syari’atkan ( undang-undang) oleh agama islam. Agama islam telah mensyariatkan hal tersebut, agar tindak-tanduk manusia tidak sesuka hati mereka dalam melakukan sesuatu.

     Sebenarnya agama islam telah lama mensyari’atkan hal yang dilarang dan yang di perbolehkan. Akan tetapi banyak manusia yang hanya mengetahuinya, tetapi tidak melaksanakannya. Padahal islam telah mengaturnya dengan sedemikian rupa. Agar manusia bisa mengontrol perbuatannya, untuk kesejahtraan hidup mereka juga kelak nantinya. Karena tanpa ada peraturan, maka kehidupan pasti akan kacau balau berantakan. Dengan adanya peraturan yang telah dibuat oleh Allah, melalui al qur’an sebagai kitabnya, dan Rasul sebagai orang yang menyampaikan isi dari al qur’an tersebut. Jadi sudah jelaslah bahwa agama islam adalah agama yang benar, yang telah mengatur para pemeluknya untuk taat kepada hal yang telah disyaria’atkan oleh Allah melalui al qur’an dan Rasul sebagai orang yang menyampaikan isi kandungannya.

 

Pengertian Maqashidul Syariah

Maqashid syriah terdiri dari dua kata yakni maqashid dan syariah. Maqashid adalah jamak dari kata “qasada” yang artinya mendatangkan sesuatu, juga berarti tuntutan, kesengajaan, dan tujuan. Syariah berarti jalan menuju sumber air yang dapat pula diartikan sebagai jalan ke arah pokok sumber keadilan.

Menurut difinisi yang diberikan para ahli, syariah adalah segala kitab Allah yang berhubungan dengan tindak-tanduk manusia diluar akhlak diatur sendiri. Dengan demikian syariat adalah nama bagi hukum-hukum yang bersifat amaliyah.

Perlu diketahui bahwa syara’ tidak menciptakan hukum-hukumnya dengan kebetulan, tetapi dengan hukum-hukum itu bertujuan untuk mewujudkan maksud-maksud yang umum. oleh syara’ dalam menciptakan nash-nash itu. Haruslah diingat bahwa petunjuk-petunjuk lafal dan ibaratnya terhadap makna sebenarnya, kadang-kadang menerima beberapa makna yang ditarjihkan yang salah satu maknanya adalah mengetahui maksud syara’.

Di samping itu, kerap kali juga nash-nash yang satu dengan lainnya bertentangan. Dalam hal ini tidak ada yang dapat menghilangkan pertentangan tersebut dan mentaufiqkan antara keduanya, selain dengan mengetahui apa yang dimaksud oleh syara’ tentang nash-nash tadi.

Para ulama yang telah menulis tentang maksud-maksud syara’, beberapa maslahah dan sebab-sebab yang menjadi dasar syariah telah menentukan bahwa maksud-maksud tersebut di bagi dalam dua golongan sebagai berikut:

  1. Golongan ibadah, yaitu membahas masalah-masalah ta’abbud yang berhubungan langsung antara manusia dan Khaliqnya, yang satu per satunya telah dijelaskan oleh syara’
  2. Golongan muamalah duniyawiyah معاملة دنياوية ,yaitu kembali kepada masalah-masalah dunia, atau seprti yamg ditegaskan oleh Al-Izz Ibnu Abdis sebagai berikut:

التكاليف كلها راجعة الى مصلحا العباد في دنياهم واخراهم والله غني عن عبادة الكل لاتنفعه طاعة الطاءعين ولاتضره معصية العامينين .

Aryinya : “Segala macam hukum yamg membebani kita semuanya, kembali kepada masalah di dalam dunia kita, ataupun dalam akherat Allah tidak memerlukan ibadah kita itu. Tidak memberi manfaat bagi Allah taatnya taatnya orang yang taat, sebagaimana tidak memberi mudharat kepada Allah maksiatmya orang yang durhaka.

            Syariah menjadi tonggak hidup, penawar, dan sinar yang cemerlang. Segala kebajikan dalam wujud ini semuanya dipetik dari syariah dan hasil dari syariah. Dan segala kekurangan dalam wujud ini adalah karena menyia-nyiakan syariah. Syariah yang dibawa oleh Rasul SAW. Merupakan sendi dunia akherat.

 

 

Macam-macam Mqashidul Syariah

Beberapa ulama ushul telah mengumpulkan beberapa maksud yang umum dari menasyri’kan hukum menjadi tiga kelompok, yaitu :

  1. Memelihara segala sesuatu yang dharuri bagi manusia dalam penghidupan mereka.

Urusan-urusan yang dharuri itu ialah segala yang diperlukan untuk hidup manusia, yang apabila tidak di peroleh akan mengakibatkan rusaknya undang-undang kehidupan, timbulah kekacauan, dan berkembangnya kerusakan.

Urusan-urusan yang dharuri itu kembali pada lima pokok:

  1. Agama
  2. Jiwa
  3. ‘Aqal
  4. Keturunan
  5. Harta

Syara’ telah mensyariatkan setiap dharuriah yang lima ini dengan berbagai macam hukum yang menjamian terwujudnya dharuriah dan terpeliharanya dharuriah tersebut. Segala hukum yang menjamin terwujudnya urusan yang lima waktu itu, atau memeliharanya, dipandang dharuri pula.

  1. Menyempurnakan segala yang dihayati manusia

Urusan yang dihayati manusia itu ialah segala sesuatu yang diperlukan manusia untuk memudahkan dan menanggung kesukaran-kesukaran taklif dan beban-beban hidup. Apabila urusan itu tidak diperoleh, tidak merusak peraturan hidup dan tidak menimbulkan kekacauan, melaikan hanya tertimpa kesempitan dan kesukaran saja. Urusan-urusan yang dihayati dalam pengertian ini, melengkapi segala hal yang menolak kepicikan, meringankan kesukaran taklif dan memudahkan jalan-jalan bermuamalah.

  1. Mewujudkan keindahan bagi perseorangan dan masyarakat

Yang dikehendaki dengan urusan-urusan yang mengindahkan ialah segala yang diperlukan oleh rasa kemanusiaan, kesusilaan, dan keseragaman hidup. Apabila yang demikian ini tidak diperoleh, tidaklah cidera peraturan hidup dan tidak pula ditimpa kepicikan. Hanya dipandang tidak boleh oleh akal yang kuat dan fitnah yang sejahtera.

Urusan-urusan yang mewujudkan keindahan ini dalam arti kembali kepada soal akhlak dan adat istiadat yang bagus dan segala sesuatu untuk mencapai keseragaman hidup melalui jalan-jalan yang utama.

 

 

Tingkatan Maqashidul Syariah

Tingkatan maqashid syriah dapat diuraikan sebagai berikut:

            Urusan-urusan dharuri merupakan sepenting-pentingnya maksud. Karena apabila urusan-urusan dharuri dharuri itu tidak diperoleh, akan menimbulkan kerusakan dalam kehidupan, menghilangkan keamanan, dan merajalela keganasan.

            Di bawahnya ialah urusan haji, yaitu segala hal yang dihayati manusia, karena ketiadaanya membawa manusia dalam kepicikan dan kesukaranya. Sesudah itu diikuti oleh urusan tahsini (takmili), yaitu urusan-urusan yang mewujujdkan keindahan. Kehilangannya, tidak membawa kepicikan bagi manusia, melaikan menjauhkan manusia dari kesempurnaan kemanusian.

            Dalam pada itu, tidak dipelihara hukum yang bersifat mewujudkan keindahan apabila mencerakan sesuatu hukum yang dihayati dan tidak dipelihara suatu hukum yang dipeliharanya mencederakan hukum dharuri. Karena itu, boleh membuka aurat untuk keperluan berobat. Menutip aurat itu merupakan suatu urusan yang mengindahkan, sedang berobat suatu urusan dharuri. Dan dibolehkan kita makan najis untuk obat dan dalam keadaan terpaksa. Tidak boleh makan (memegang) najis adalah urusan yang mengindahkan, sedangkan menolak kemudharatan adalah urusan dharuri.

            Wajib kita mengerjakan segala yang wajib walaupun menimbulkan sedikit kesukaran, karena wajib itu termasuk golongan dharuri, sedabgkan urusan menolak kesukaran dan kepicikan merupakan urusan tahsini yang mengindahkan. Karena itu, tidaklah dipelihara urusan yang mengindahkan, mendatangkan kesenangan, apabila merusakkan dharuri.

            Segala hukum dharuri tidak boleh kita cinderakan, kecuali kalau suatu dharuri yang lebih penting daripadanya.

            Atas dasar inilah kita diwajibkan berjihad untuk memelihara agama. Sebab memelihara agama adalah lebih penting daripada memelihara jiwa. Minum arak dibolehkan, terhadap orang yang dipaksa atau terpaksa, karena memelihara jiwa lebih penting daripada memelihara akal. Apabila perlu untuk memelihara jiwa, kita boleh membinasakan harta orang karena memelihara jiwa lebih pentimg daripada memelihara harta.

 

 

Kemampuan Akal Mengetahui Syari’at

Mengenai peran dan kemampuan akal menentukan hukum sebelum turunnya syari’at, ada tiga pendapat yang dikemukakan para ulama ushul fiqh.

  1. Ahlus sunah wal jama’ah berpendapat bahwa sebelum datangnya Rasul dan turunnya syari’at, akal manusia tidak mampu menetapkan hukum. Akal manusia tidak bisa mengetahui perbuatan baik dan buruk tanpa perantara rasul dan kitab-kitab samawi (kitab yang datang dari Allah). Alasan mereka adalah firman Allah dalam surat Al isra’ ayat 15:

Artinya: “Dan Kami tidak akan meng’azab sebelum Kami mengutus seorang rasul

Dalam ayat ini, Allah secara tegas meniadakan perhitungan dan adzab atau siksa terhadap seseorang sebelum diutusnaya seoramg Rasul yang membawa risalah Ilahi. Di samping itu, dalam surat An-Nisa’ 165, Allah juga berfiman :

Artinya : “Agar tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul.”

(QS. An-Nisa’ : 165)

Ayat ini juga menunjukan bahwa pertanggungjawaban dan penghitungan terhadap manusia hanya akan dilakukan seyelah diutus-Nya para rasul untuk menyampaikan hukum-hukum Allah kepada umat manusia.

Secara logika, menurut ahlus sunah wal jama’ah, tidak ada kewajiban bagi Allah untuk menetapkan baik terhadap sesuatu yang dipandang baik oleh akal, sehingga manusia diperintahkan untuk mengerjakannya. Allah juga tidak menetapkan keburukan yang dipandang buruk oleh akal manusia, sehingga manusia diperintahkan untuk meninggalkannya. Allah mempunyai kehendak yang mutlak, tanpa bergantung kepada sesuatu. Ia bisa melakukan apa saja dan kepada siapa saja, sekalipun hal itu tidak bermanfaat. Namun, berdasarkan induksi dari berbagai firman Allah diketahui bahwa apa yang diperintahkan Allah itu pasti mengandung manfaat bagi umat manusia dan apa yang dilarang pasti mengandung kemudharatan.

  1. Mu’tazilah mengatakan bahwa akal manusia mampu menentukan hukum-hukum Allah tersebut sebelum datangnya syari’at. Akal manusia bisa menentukan sesuatu itu baik dan buruk tanpa perentara kitab samawi dan rasul. Sesuatu dikatakan baik dan buruk terletak pada dzatnya. Oleh sebab itu, baik dan buruk dapat dicapai dan ditetapkan melalui akal. Alasan mereka adalah ayat yang dikemukakan oleh Ahlus sunah wa jama’ah Menurut mereka kalimat Rasul dalam ayat itu berarti akal. Oleh sebab itu, terjemahan ayat tersebut bagi mereka adalah kami tidak akan mengadzab seseorang sampai Kami berikan akal padanya.

Secara logika, menurut mereka, sebagian perbuatan dan perkataan itu, seperti iaman dan bersikap benar, merupakan pekerjaan yang semestinya dilakukan manusia, untuk itu orang yang melakukan pekerjaan tersebut dipuji, karena sokap iman dan sikap benar itu baik pada dzatnya sendiri. Sebaliknya, ada perbutan yang pada dzatnya adalah buruk dan pada akal menolak umtuk melakukannya, seperti berdusta, memberi mudharat pada orang lain dan bersikap kafir. Perbuatan-perbuatan seperti ini apabila dikerjakan, pelakunya akan mendapat kecemasan dari manusia. Oleh sebab itu, dalam perbuatan dan perkataan seperti ini tidak diperlukan adanya alasan untuk mendukungnya. Perinsip yang dipegang kaum mu’tazilah dalam persoalan ini adalah bahwa hasan dan qabih merupakan produk akal, bukan bukan didasarkan pada syara’. Akibatnya dari pendapat ini adalah bahwa bagi orang yang belum sampai kepadanya syari’at dan rasul, dikenakan kewajiban melaksanakan sesuatu yang menurut akalnya baik dan untuk itu mereka diberi Allah imbalan. Disamping itu, mereka juga dituntut unutuk meninggalkan perbuatan yang oleh akalnya dinilai buruk, dan apabila mereka kerjakan, maka mereka mendapat hukuman dari Allah.

Mu’tazilah juga berpendapat bahwa hukum yang ditetapkan Allah bagi manusia merupakan sesuatu yang dicapai oleh akal karena pada perbutan itu terdapat manfaat atau mudhadrat. Terhadap perbuatan atau perkataan seperti ini, Allah menetapkan hukum bagi manusia, yaitu perintah untuk melaksanakannya apabila baik, dan meninggalkannya apabila buruk. Dengan demikian, yang baik menurut akal adalah baik dan dituntut oleh syara’ untuk dikerjakan serta mengerjakannya diberi pahala. Sebaliknya, yang buruk dalam pandangan akal dituntut oleh syara’ untuk ditinggalkan dan yang mengerjakannya akan diberi hukuman.

  1. Maturidiyah berupaya menengahi kedua pendapat di atas. Menurut mereka, ada perbuatan atau perkataan yang pada dzatnya baik dan buruk. Allah tidak memerintahkan manusia untuk melakukan perbuatan yang pada dzatnya adalah buruk, sebagaimana Allah juga tidak melarang suatu perbuatan yang dzatnya adalah baik. Tehadap perkataan dan perbuatan lain yang kebaikan dan keburukannya tidak terletak pada dzat perbuatan dan perkataan itu sendiri, syara’ mempunyai wewenang untuk menetapkannya. Sampai di sini pendapat Maturidiyah sama dengan Mu’tazilah.

Akan tetapi, Maturidiyah berpendapat bahwa perbuatan atau perkataan yang dipandang baik atau buruk oleh akal tidak wajib dikerjakan dan yang mengerjakannya tidak akan mendapat imbalan semata-mata melalui akal. Demikian pula sebaliknya. Menurut mereka, kewajiban untuk mengerjakan yang baik ketentuan imbalan bagi pelakunya tidajk dapat ditetapkan oleh akal semata, tetapi harus didasarkan oleh nash (ayat atau hadist). Demikian pula kewajiban untuk meninggalkan perbuatan atau perkataan yang dianggap buruk oleh akal dan siksa yang ditimpakan atas pelakunya, tidak dapat ditentukan melalui akal saja, tetapi harus dengan nash. Menurut mereka, akal tidak dapat berdiri sendiri dalam menentukan suatu kewajiban. Implikasi dari pendapat mereka ini adalah sekali pun manusia melalui akalnya dapat menentukan buruknya sesuatu sebelum pemberitahuan dari kitab samawi dan rasul, namun akal tidak dapat menentukan bahwa baik itu wajib dikerjakan dan yang buruk wajib ditinggalkan. Persoalan imbalan atau siksa juga tidak dapat ditentukan oleh akal. Seseorang yang sebelum adanya syari’at tidak mengerjakan yang baik tidak dapat dikenkan sanksi dan yang melakukan sesuatu yang buruk tidak pula dapat dikenakan sanksi berdasarkan pendapat akal semata.

Allah juga tidak wajib memerintahkan mnusia untuk melakukan sesuatu yang baik menurut akal, sebagaimana Allah juga tidak wajib memerintahkan untuk meninggalkan pekerjaan yang menurut akal buruk.

Implikasi lain dari perbedaan pendapat di atas yang berkaitan dengan masalah hukum terletak pada masalah posisi akal dalam ijtihad, apakah akal dapat menjadi salah satu sumber? Ahlus sunah wal jama’ah dan Maturiyah bahwa akal tidak dapat secara berdiri sendiri menjadi sumber hukum islam. Akan tetapi, menurut mereka, akal berperan penting dalam menangkap menangkap maksud-maksud syara’ dalam mensyari’atkan hukum dan menetapkan kaidah-kaidah umum dalam menggali hukum islam, bukan sebagai penentu hukum. Menurut Muhammad Abu Zahrah, seluruh produk fiqih merupakan hasil daya nalar manusia yang sampai saat ini tidak akan habis-habisnya. Namun, nalar yang dipergunakan manusia tersebut harus senantiasa bersandar kepada nash, bukan terlepas sama sekali dari nash.

 

Kesimpulan

Setiap hukum yang Allah telah tetapkan adalah bukan berarti secara kebetulan, melainkan ada nilai kebaikan yang terdapat di dalamnya. Setiap tindak-tanduk manusia pasti ada aturan yang menjadi alat untuk mengontrol perbuatannya. Baca Juga: Rotasi Bumi Karena seandainya peraturan itu tidak ada niccaya, kacau lah kehidupan manusia. Maka dari itu Allah mengutus para Rasulnya sebagai penyampai risalah-Nya. Agar manusia bisa hidup secara teratur dengan adanya peraturan.

Maksud dibuatnya hukum itu, bukan berarti tujuannya untuk dilanggar oleh manusia. Melaikankan, tujuan dari ditetapkannya hukun tersebut untuk ditaati. Karena banyak sekali penjelasan dalam Al-qur’an tentang balasan Allah yang dilimpahkan bagi orang yang melanggar peraturan, yaitu berupa kesengsaraan diakhirat kelak. Dan balasan kenikatan diperuntukan bagi orang yang taat.

Kerukunan Antar Umat Beragama, Islam Rahmat bagi Seluru Alam

Kerukunan Antar Umat Beragama, Islam Rahmat bagi Seluru Alam

Kerukunan Antar Umat Beragama, Islam Rahmat bagi Seluru Alam

Kerukunan Antar Umat Beragama, Islam Rahmat bagi Seluru Alam
Kerukunan Antar Umat Beragama, Islam Rahmat bagi Seluru Alam

Islam Merupakan Rahmat Bagi Seluruh Alam

Kata Islam berarti damai, selamat, sejahtera, penyerahan diri, taat, dan patuh. Pengertian tersebut menunjukkan bahwa agama Islam adalah agama yang mengandung ajaran untuk menciptakan kedamaian, keselamatan, dan kesejahteraan kehidupan manusia pada khususnya dan semua makhluk Allah pada umumnya, serta penyerahan diri, mentaati, dan mematuhi ketentuan-ketentuan Allah Swt. Menurut ajaran Islam, manusia yang diberikan amanah oleh Allah Swt untuk menjadi Khalifah-Nya di bumi, harus dapat menciptakan kemaslahatan bagi semua makhluk Allah. Artinya bahwa, setiap perbuatan yang dilakukan manusia harus memberikan kebaikan dan tidak boleh merugikan atau menyakiti pihak lain dengan cara menegakkan aturan Allah. Itulah wujud rahmat dari agama Islam sebagaimana dinyatakan oleh Allah dalam Al-Qur’an 21 (al-Anbiya) ayat 107 ketika menjelaskan misi Rasulullah untuk menyampaikan agama Islam bagi umat manusia, yang artinya. “Dan tidaklah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.

Ukhuwah Islamiyah dan Ukhuwah Insaniyah

Kata ukhuwah berarti persaudaraan, maksudnya perasaan simpati dan empati antara dua orang atau lebih. Masing-masing pihak memiliki satu kondisi atau perasaan yang sama, baik suka maupun duka, baik senang maupun maupun sedih. Jalinan perasaan itu menimbulkan sikap timbal balik untuk saling membantu bila pihak lain mengalami kesulitan, dan sikap untuk saling membagi kesenangan kepada pihak lain, bila salah satu pihak menemukan kesenangan. Ukhuwah atau persaudaraan berlaku pada semua umat Islam yang disebut ukhuwah Islamiyah,dan berlaku pada semua umat manusia secara universal tanpa membedakan agama, suku, dan aspek-aspek kekhususan lainnya, yang disebut ukhuwah Insaniyah.
Konsep persaudaraan sesama manusia, ukhuwah Insaniyah dilandasi oleh ajaran bahwa semua umat manusia adalah makhluk Allah. Sekalipun Allah memberikan petunjuk kebenaran melalui ajaran Islam, tetapi Allah juga memberikan kebebasan pada setiap manusia untuk memiliki jalan hidup berdasarkan pertimbangan rasionya.

Kebersamaan Umat  Beragama dalam Kehidupan Sosial

Umat manusia mempunyai tanggung jawab bersama untuk menciptakan harmoni kehidupan sosial. Masing-masing elemen masyarakat berkewajiban melaksanakan peran sosial sesuai dengan bidang tugas dan kemampuannya. Konstribusi sosial yang ditekankan oleh Islam adalah kebaikan dan tidak berbuat kerusakan.
Perinsip tolong menolong sesama manusia memberikan makna universalisme nilai-nilai kebaikan yang diinginkan oleh setiap manusia. Nilai-nilai itu didalam Al-Qur’an diformulasikan dengan amar ma’ruf nahi munkar.

MAKHLUK PERTAMA YANG DICIPTAKAN ALLAH SWT

MAKHLUK PERTAMA YANG DICIPTAKAN ALLAH SWT

MAKHLUK PERTAMA YANG DICIPTAKAN ALLAH SWT

MAKHLUK PERTAMA YANG DICIPTAKAN ALLAH SWT
MAKHLUK PERTAMA YANG DICIPTAKAN ALLAH SWT

 

Pendahuluan

جَعَلْنَا مِنَ الْمَاء كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ
“Dan Kami jadikan dari air segala sesuatu yang hidup, apakah mereka beriman? “
(Qs Al Anbiya ‘ : 30 )

Ayat di atas secara gamblang menjelaskan kepada kita bahwa segala sesuatu yang hidup di dunia ini bahan baku penciptaannya berasal dari air. Tidak hanya benda hidup, benda matipun ternyata bahan bakunya berasal dari air. Lihatlah ayat dan hadist-hadits di bawah ini :
adalah firman Allah swt :
وَهُوَ الَّذِي خَلَق السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاء لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً
“Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah arsy-Nya (sebelum itu) di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya“ (Qs. Hud : 7)

Ayat di atas menjelaskan kepada kita bahwa keberadaan air jauh lebih dulu dari pada keberadaan langit dan bumi. Jadi air lebih tua umurnya dibanding langit dan bumi.
Hal ini dikuatkan oleh sabda Rasulullah shallallhu ‘alaihi wa sallam :
كَانَ اللَّهُ وَلَمْ يَكُنْ شَيْءٌ غَيْرُهُ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ وَكَتَبَ فِي الذِّكْرِ كُلَّ شَيْءٍ وَخَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ
“Dialah Allah yang- pada waktu itu – tidak ada sesuatupun selain Dia, sedangkan ‘arsy-Nya di atas air, lalu Dia menulis di dalam adz-Dzikir segala sesuatu (yang akan terjadi,) lalu Dia menciptakan langit dan bumi”. (HR. Bukhari, no : 2953)

Dikuatkan juga dgn hadist Abdullah bin Amru bin Al-Ash ra, bahwasanya Rasulullah saw bersabda :
كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ قَالَ وَعَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ
“Allah telah menentukan takdir bagi semua makhluk lima puluh ribu tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi. Rasulullah menambahkan: ‘Dan arsy Allah itu berada di atas air.” (HR. Muslim, no : 4797).

Mereka berucap, “Ukuran-ukuran tersebut adalah ketetapan-Nya dengan tulisan memakai Qalam berbagai ukuran.” (HR. Muslim no : 4797)
Hadits tersebut menunjukkan bahwa semua itu terjadi setelah penciptaan ‘Arsy. Cukup jelas bahwa penciptaan ‘Arsy lebih dahulu daripada penciptaan Qalam, yang dengannya segala takdir (ukuran atau ketetapan) ditulis. Demikianlah pendapat jumhur ulama.
Hadits yang membahas tentang Qalam diartikan bahwa memang Qalam adalah makhluk yang pertama kali diciptakan di antara benda-benda alam ini. Allah Subhanahu wa Ta ‘ala Maha Mengetahui kebenaran hal itu. Berikut nukilan syair-syair Ibnu Rawahah :

Aku bersaksi bahwa janji Allah adalah Haq
Neraka adalah tempat orang-orang kafir
Sesungguhnya Arsy berputar di atas air
Di atas Arsy Rabb alam semesta
Ia diusung oleh para malaikat yang mulia
Para malaikat Uah yang memakai tanda

Syekh Muhammad bin Abdul Wahab

Berkata : “ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ memberikan isyarat bahwa air dan arsy, keduanya adalah makhluq pemula dari alam ini, karena keduanya diciptakan sebelum langit dan bumi, dan pada waktu itu tidak ada di bawah arsy kecuali air. (Ushul Iman, hlm : 85)
Kita sekarang sudah mengetahui berdasarkan ayat dan hadist di atas, bahwa makhluq yang pertama kali diciptakan adalah air dan arsy. Bagaimana dengan hadist yang diriwayatkan oleh Ubadah bin Shomit, bahwasanya Rasulullah shallallhu ‘alaihi wa sallam bersabda :
إِنّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللَّهُ الْقَلَمَ فَقَالَ لَهُ اكْتُبْ فَجَرَى بِمَا هُوَ كَائِنٌ إِلَى الْأَبَدِ
“Sesungguhnya pertama kali yang Allah ciptakan adalah pena, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Tulislah.” Maka terjadilah apa yang akan terjadi hingga selamanya. (HR. Tirmidzi, dan beliau berkata : hadits ini adalah hadits hasan shahih gharib)

Hadist di atas menjelaskan bahwa makhluq pertama kali yang diciptakan Allah adalah Pena, padahal sebelumnya ada ayat dan hadist yang menerangkan bahwa makhluq pertama kali diciptakan adalah Air dan Arsy, terus mana yang benar? Tidak usah bingung bingung, karena di dalam kitab Fathu al Bari (6/289), Ibnu Hajar menjelaskan bahwa ayat-ayat dan hadist-hadist tersebut digabung dan dikompromikan, maka hasilnya sebagai berikut : makhluq yang pertama kali diciptakan adalah air, kemudian arsy, kemudian pena. Jadi, redaksi hadist di atas “ …pertama kali yang Allah ciptakan adalah Pena.. maksudnya adalah pertama kali setelah adanya air dan arsy…

Jika sudah benar-benar yakin bahwa air adalah makhluq pertama kali yang diciptakan Allah, maka betapa mulianya makhluq Allah yang bernama air itu, selain sebagai makhluq yang pertama kali diciptakan oleh Allah, dia juga makhluq yang darinya diciptakan segala sesuatu yang hidup. Subhanallah……..
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda (artinya) :
“Yang pertama kali Allah ciptakan adalah al-Qalam (pena), lalu Allah berfirman kepadanya: ‘Tulislah!’ Ia menjawab: ‘Wahai Rabb-ku apa yang harus aku tulis?’ Allah berfirman: ‘Tulislah taqdir segala sesuatu sampai terjadinya hari Kiamat.’”

(HR. Abu Dawud [no. 4700], Shahih Abi Dawud [no. 3933], at-Tirmidzi [no. 2155, 3319], Ibnu Abi ‘Ashim dalam as-Sunnah [no. 102], al-Ajurry dalam asy-Syari’ah [no.180], Ahmad [V/317], Abu Dawud ath-Thayalisi [no. 577], dari Sahabat ‘Ubadah bin ash-Shamit Radhiyallahu ‘anhu, hadits ini shahih). (Silahkan lihat buku Syarah ‘Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, tulisan Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas halaman 377).

Faedah hadits

Dari hadits di atas dapat diambil pelajaran bahwa makhluk yang pertama kali diciptakan Allah adalah al-Qalam.
Dengan hadits ini dapat kita ketahui kekeliruan orang yang mengatakan bahwa makhluk yang pertama kali diciptakan adalah Nur Muhammad.
(Silahkan lihat buku Koreksi Hadits-Hadits Dha’if Populer, tulisan Ustadz Yusuf Abu Ubaidah bin Mukhtar as-Sidawi halaman 24 dan 39).

Catatan

Bacalah firman Allah ketika memerintahkan kepada Rasulullah (artinya) :
Katakanlah : ‘Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku bahwa sesungguhnya Ilah kamu itu adalah Ilah Yang Esa.’” (QS. Al-Kahfi [18]: 110).
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda (artinya): “Malaikat diciptakan dari cahaya, Iblis diciptakan dari api yang menyala-nyala, dan Adam diciptakan dari apa yang telah disifatkan pada kalian.” (Shahih Muslim [VIII/226). (Buku Koreksi Hadits-Hadits Dha’if Populer, halaman 39 dan 40).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menegaskan bahwa hadits ini adalah dusta dengan kesepakatan ahli hadits. (Majmu Fataawaa [XVIII/367]). Demikian juga ditegaskan oleh Syaikh Sulaiman bin Sahman. As-Suyuthi juga menegaskan bahwasanya hadits ini tidak ada sanadnya. Demikian juga Jamaluddin al-Qasimi dan Muhammad Rasyid Ridha, keduanya menegaskan bahwa hadits ini tidak ada asalnya.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/