Agama

Agama

Hadis Larangan Buang Air Pada Air Tergenang

Hadis Larangan Buang Air Pada Air Tergenang

Hadis Larangan Buang Air Pada Air Tergenang

Hadis Larangan Buang Air Pada Air Tergenang
Hadis Larangan Buang Air Pada Air Tergenang

Hadis tentang Larangan Buang Air pada Air Tergenang

Banyak terdapat hadis mengenai larangan buang air pada air tergenang. Diantaranya
عَنْ جَابِرٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ نَهَى عنْ البول فِى الْمَاءِ الرَّاكِد .
“dari Jabir dari Rasulullah saw, bahwa beliau melarang kencing pada air yang menggenang”. (HR.Muslim, Hadis No.423. Software Hadis Mausu’ah 9 Imam).

عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه قال لاَ يَبُولَنَّ أَحَدُكُمْ فِى الْمَاءِ الدَّائِمِ ثُمَّ يَغْتَسِلُ مِنْهُ
”dari Abu Hurairah dia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, “Janganlah salah seorang dari kalian buang air kecil dalam air yang diam (tergenang), kemudian mandi di situ”. (HR.Al-Nasa’i, hadis no.221, software Hadis Mausu’ah 9 Imam)

عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم نهى يُبَالَ فِى الْمَاءِالدانم ثم يتوضا منه
“dari Abu Hurairah, dia berkata: “Bahwasanya Rasulullah saw melarang kencing di dalam air yang tidak mengalir kemudian berwudhu darinya”. (HR. Ahmad ibn Hanbal, hadis no.9988, Software Hadis Mausu’ah 9 Imam)
ان أبا هريرة سمع رسول الله ص م : لَا يَبُولَنَّ أَحَدُكُمْ فِي الْمَاءِ الدَّائِمِ الَّذِي لَا يَجْرِي ثُمَّ يَغْتَسِلُ فِيهِ
“ Janganlah salah seorang kamu kencing ke dalam air yang tenang yang tidak mengalir, kemudian dia mandi di dalamnya” (Al Bukhary 4:68; Muslim 2:28; Al Lu’lu-u wal Marjan 1:69).

Berdasarkan hadis-hadis tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa Rasulullah melarang seseorang untuk:
1. Buang air kecil didalam air yang tidak pengalir (tergenang)
2. Buang air kecil didalam air tergenang kemudian mandi di air itu
3. Mandi jinabat di dalam air yang tergenang yang terkena kencing
Dalam riwayat lain diterangkan bahwa orang yang berjunub tidak boleh mandi kedalam air yang tidak mengalir, maksudnya tidak boleh mandi dengan cara menyelam.

Larangan Buang Air pada Air yang Tidak Mengalir (Tergenang)

Ulama’ berbeda pendapat mengenai hukum air tergenang yang terkena air kencing:
1. Syafi’iyah berpendapat jika air yang tergenang itu sedikit, maka hukumnya haram. Jika airnya banyak maka makruh.
2. Sebagian ulama’ berpendapat bahwa baik sedikit atau banayak hukum air tersebut tetap haram.
3. Ada yang mengharamkan air yang terkena kencing apabila air tersebut berubah baik rasa, warna maupun baunya.
Meskipun demikian, pada dasarnya hadis-hadis diatas hanya memberi pesan adanya larangan buang air di dalam air tergenang (baik langsung mengencingi air tersebut atau pun menuangkan air kencing kedalamnya), bukan sebagai dasar diharamkannya air yang terkena air kencing. Jadi kencing pada air tergenang tetap dilarang terlepas dari najis tidaknya air yang terkena kencing itu.

Abu Hurairah pernah berkata: “Bagaimana kita mandi dengan air yang tenang itu (yang telah terkena kencing)? Diciduk dengan gayung?” perkataan tersebut mengisyaratkan bahwa larangan kencing pada air tergenang karena menjijikan. Perbuatan tersebut juga mengotori air.
Di dalam sarah Muslim, An Nawawy berkata bahwa berdasarkan hadis diatas terdapat sebagian air adalah larangan haram, dan sebagian air yang lain adalah larangan makrum. Apabila air itu banyak dan mengalir maka hukumnya makruh kita kencing didalamnya.

Menurut sebagian ulama’ syafi’iyah, jika air itu sedikit tapi mengalir maka hukumnnya makruh, tidak haram. Jika air itu tenang dan berjumlah banyak hukum kencing diair tersebut.
Namun mayoritas ulama’ ahli tahqiq dan ulama’ ushul berpendapat bahwa buang air pada air tergenang hukumnya haram karena dapat menajiskan airdan mencemari lingkungan.
Para ulama’ mengatakan: ”dimakruhkan kita kencing dan buang air besar di dekat air, walau pun tidak sampai mengalir ke dalam air, mengingat umum latangan tentang membuang air besar di tempat-tempat yang didatangi orang ramai dan karena mengganggu orang yang menggunakan air itu”.

Baca Juga: https://www.dutadakwah.co.id/sayyidul-istigfar/

Penjelasan Sains mengenai Larangan Buang Air pada Air Tergenang

Rasulullah melarang buang air pada air tergenang bukan tanpa sebab. Rasulullah telah jauh memikirkan kebaikan bagi umat beliau, terutama mengenai kesehatan. Jika ditinjau dari segi kesehatan, buang air pada air tergenang memberi dampak buruk bagi lingkungan serta bagi orang lain. Buang air pada air tergenang mengakibatkan pencemaran pada air yang tergenang tersebut, apabila air itu terkena kulit seseorang maka akan berdampak buruk. Apalagi air tersebut digunakan untuk mandi atau berwudhu.

Kebiasaan buang air pada air tergenang dapat menimbulkan telur-telur bilharziasis. Kemudian telur-telur tersebut menetas dan jika terkena kulit akan mengakibatkan berbagai penyakit pada kulit, seperti kutu air.
Selain itu, Buang air atau kencing pada air yang tergenang berlawanan dengan dengan prinsip sanitasi (pembudayaan hidup sehat). Sanitasi adalah usaha untuk membina dan menciptakan suatu keadaan yang baik di bisang kesehatan, terutama kesehatan masyarakat. Dan kencing pada air tergenang termasuk perilaku yang tidak menjaga kebersihan lingkungan.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Islam melarang seseorang buang air ke dalam air yang tidak mengalir atau tergenang dan melarang mandi dalam air tersebut.

Hikmah Dilarangnya Buang Air pada Air Tergenang

1. Sempurnanya syari’an Islam yang mengatur tentang kebersihan.
2. Islam menganjurkan untuk memelihara kesehatan
3. Islam melarang segala hal yang dapat menyakiti orang lain
4. Terhindar dari penyakit

4 Waktu Untuk Berdoa Yang Baik

4 Waktu Untuk Berdoa Yang Baik

4 Waktu Untuk Berdoa Yang Baik

4 Waktu Untuk Berdoa Yang Baik
4 Waktu Untuk Berdoa Yang Baik

Hari Jumat

Waktu yang disunnahkan Rasul untuk berdoa adalah pada hari Jumat. Namun tidak sepanjang jumat tersebut, melainkan ada waktu singkat yang diisyaratkan Rasulullah menjadi waktu yang mustajab.

“Sesungguhnya pada hari Jum’at itu terdapat satu waktu yang tidaklah seorang hamba muslim berdiri berdoa memohon kebaikan kepada Allah bertepatan pada saat itu, melainkan Dia akan mengabulkannya.” Lalu beliau mengisyaratkan dengan tangannya, yang kami pahami, untuk menunjukkan masanya yang tidak lama (sangat singkat).” (Muttafaq ‘Alaih).

Ulama berbeda pendapat tentang waktu tersebut. Ada dua pendapat yang dikemukakan terkait kapan waktu pada hari Jumat yang mustajab untuk memanjatkan doa. Waktu pertama adalah saat Imam berada di atas mimbar hingga berakhirnya salat Jumat.

Sedangkan pendapat kedua, waktu mustajab tersebut terjadi pada akhir waktu Jumat, yakni setelah shalat Ahsar hingga masuk waktu Magrib. Pendapat ini diungkapkan oleh Abdullah bin Salam, Abu Hurairah, Imam Ahmad, dan beberapa ulama selain mereka.

“Hari Jum’at terdiri dari 12 waktu, di dalamnya terdapat satu waktu yang tidaklah seorang muslim pada saat itu memohon sesuatu kepada Allah, melainkan Dia akan mengabulkan permintaannya. Oleh karena itu, carilah saat tersebut pada akhir waktu setelah ‘Ashar.” (HR. an Nasai dan Abu Dawud. Disahihkan oleh Ibnul Hajar dalam al Fath dan dishahihkan juga oleh al Albani dalam Shahih an Nasai dan Shahih Abu Dawud)

Saat Sujud

Sujud merupakan waktu yang disunnahkan untuk memperbanyak doa. Pasalnya posisi ini merupakan saat terdekat antara makhluk dengan Tuhannya.

“Posisi paling dekat antara hamba dengan Rabbnya adalah ketika sujud, maka perbanyaklah kalian berdoa.” (HR. Muslim No. 482)

Ketika Minum Air Zam-zam

Waktu yang disunnahkan untuk bedoa lainnya adalah saat meminum air zam-zam. Umat Islam percaya bahawa air zam-zam adalah kurniaan dan rahmat dari Allah. Sehingga berdoa setelah meminumnya sangat baik.

Doa Ketika Berbuka Puasa

Rasulullah juga selalu berdoa ketika berbuka puasa baik puasa wajib di bulan Ramadhan, maupun saat puasa sunnah. Dengan demikian, hendaknya kita manfaatkan waktu berbuka untuk memperbanyak doa.

“Dahulu apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berbuka puasa, beliau biasa berdoa,” (HR. Abu Daud).

Baca Juga: 

3 WAKTU YANG DI SUNAHKAN UNTUK BERDO'A

3 WAKTU YANG DI SUNAHKAN UNTUK BERDO’A

3 WAKTU YANG DI SUNAHKAN UNTUK BERDO’A

3 WAKTU YANG DI SUNAHKAN UNTUK BERDO'A
3 WAKTU YANG DI SUNAHKAN UNTUK BERDO’A

Ada yang langsung dihijabah, namun ada pula doa yang ditangguhkan hingga waktu yang tidak ditentukan. Ternyata kita perlu mengetahui cara berdoa agar mustajab dan dikabulkan dengan cepat oleh Allah.

Waktu-waktu berikut, sering digunakan oleh Nabi Muhammad SAW untuk berdoa. Sehingga menjadi waktu yang disunnahkan oleh Rasul agar diikuti oleh umatnya. Kapan saja? Berikut ulasannya.

1. Sepertiga Malam

Sepertiga malam menjadi salah satu waktu yang baik untuk berdoa. Rasulullah SAW mengatakan, pada waktu tersebut, Allah SWT turun ke bumi untuk mengabulkan doa hamba-hamba-Nya yang sengaja bangun malam ketika orang lain tertidur lelap.

“Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku maka Aku kabulkan untuknya, dan barangsiapa yang memohon kepada-Ku maka Aku memberinya, dan barangsiapa yang meminta ampunan-Ku maka Aku mengampuninya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

2. Setelah Tasyahud, Sebelum Salam

Selama ini, kita selalu berdoa disaat sesudah salam. Ternyata banyak hadist yang memerintahkan bahwa doa yang baik dilakukan adalah sebelum salam. Menurut Syaikh Ibnu Utsaimin –rahimahullah, do’a setelah salam tidak termasuk petunjuk (ajaran) Nabi Muhammad SAW. Rasulullah SAW bersabda:

“Aku wasiatkan padamu wahai Mu’adz. Janganlah engkau tinggalkan untuk berdo’a setiap dubur shalat (akhir shalat) (HR. Abu Daud no. 1522. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih).

Mayoritas ulama sepakat bahwa dubur salat adalah akhir salat sebelum salam. Syaikh Ibnu Utsaimin –rahimahullah mengatakan ini sesuai dengan petunjuk Nabi. Karena sejatinya saat kita salat, itu sama dengan kita sedang bermunjat kepada Allah. Ketika berdoa setelah mengucapkan salat, artinya kita sudah selesai bermunajat kepada Allah. Sehingga akan lebih afdol berdoa sebelum mengakhiri salat.

Baca Juga: Kalimat Syahadat

3. Rentang Waktu antara Adzan dan Iqamat

Waktu selanjutnya yang disunnahkan Rasulullah SAW untuk berdoa adalah saat rentang antara adzan dan iqamat. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya do’a yang tidak tertolak adalah do’a antara adzan dan iqomah, maka berdo’alah (kala itu).” (HR. Ahmad, shahih)

Dalam hadist lain yakni dari Anas bin Malik pula, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Doa yang tidak mungkin tertolak adalah ketika antara adzan dan iqamah” (H.R. At-Tirmidzi, hadits hasan shahih).

Jadi alangkah baiknya jika pada waktu tersebut kita gunakan untuk berdoa kepada Allah.

PENYEBAB MALASNYA SHALAT TAHAJUD USTADZ MUHAMMAD ARIFIN ILHAM

PENYEBAB MALASNYA SHALAT TAHAJUD USTADZ MUHAMMAD ARIFIN ILHAM

PENYEBAB MALASNYA SHALAT TAHAJUD USTADZ MUHAMMAD ARIFIN ILHAM

PENYEBAB MALASNYA SHALAT TAHAJUD USTADZ MUHAMMAD ARIFIN ILHAM
PENYEBAB MALASNYA SHALAT TAHAJUD USTADZ MUHAMMAD ARIFIN ILHAM

Semoga dengan mengenali alasan mengapa masih malas Tahajud, tergeraklah kita untuk menjaga amalan mulia ini. Sebab, sungguh tidak ada kemuliaan seorang hamba kecuali karena keistiqamahannya menjaga shalat Tahajud, “Maa syarafal mu’min illa bit tahajjud.”

Dan mudah-mudahan pula dengan mengenalinya kita segera muhasabah diri karena sungguh dunia terasa surga sebelum surga bagi hamba Allah yang telah merasakan indahnya, nikmatnya, bahagianya shalat malam.

1. Dho’ful iimaani, lemah iman

Kalau kuat iman, pasti ia sangat cinta, rindu, dan sangat bahagia menghadap-Nya di penghujung malam. “Sesungguhnya bangun tengah malam lebih tepat untuk khusyuk, dan bacaan kala itu sungguh sangat berkesan mendalam,” (QS al-Muzammil: 6). Bukankah kekasih senang berjumpa dan berduaan dengan kekasihnya.

2. al-jahlu, karena awam ilmu agamanya

Seandainya tahu dalil, keutamaan, rahasia, hikmah, keajaiban, manfaat, indahnya Tahajud, pastilah ia menjaganya, bahkan sebelum tidur pun sudah senang karena nanti malam menghadap Allah.

“Apakah sama hamba Allah yang bangun malam sujud berdiri yang takut dengan dahsyatnya akhirat dan mengharapkan rahmat Allah dengan mereka yang lelap dalam peraduan tidur? Apakah sama hamba Allah yang berilmu dengan yang tidak berilmu? Sesungguhnya hanya hamba Allah berilmu yang mengingat Allah di penghujung malam,” (QS az-Zumar: 9).

3. hubbud dunya

diperbudak dunia sehingga dilelahkan dan disibukkan dengannya, siang dan malam. Bangun malam pun karena target dunia. “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu sampai kamu masuk ke dalam kubur,” (QS at-Takatsur: 1-2).

4. abdul hawa, budak nafsu

Orang yang kegemarannya melakukan amal maksiat, seperti pezina, pemabuk, pejudi, dan sebagainya sangat sulit untuk shalat malam. Puas dan senangnya hanya pada hal maksiat (QS Yusuf: 53).

5. tho’mul haraami, banyak makan minum yang haram

Bisa dipastikan jika sesuatu yang dikonsumsinya adalah haram maka akan berat sekali untuk shalat lima waktu, apalagi shalat malam.

Kalaupun shalat terkesan berat dan cenderung malas-malasan, “Mereka tidak mengerjakan shalat, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan,” (QS at-Taubah: 54). Tubuh yang tumbuh dari yang haram menjadi energi maksiat dan membuat lemes ibadah, wahai ikhwah fillah!

6. katsrotul dzunuub, karena selalu dan keseringan berbuat dosa

Setiap dosa yg diperbuat menjadi noktah hitam di hati. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya seorang hamba, ketika berbuat dosa, maka pada hatinya akan tertinggal setitik noda hitam. Jika dia bertaubat dari dosanya, maka hatinya akan dibersihkan dari noda hitam tersebut. Namun, apabila dia terus menambah dosanya, maka noda hitam tersebut pun semakin bertambah.”

Demikianlah maksud dari firman Allah Taala, “Sekali-kali tidak, bahkan apa yang mereka lakukan tersebut akan menutupi hatinya,” (QS al-Muthaffifin: 14).” (HR at-Tirmidzi).

Sufyan ats-Tsauri berkata, “Saya pernah tidak bisa menjalankan shalat Tahajud selama lima bulan hanya karena satu dosa yang dulu aku lakukan.”

Seseorang datang kepada Imam Ghazali untuk menanyakan kepada beliau mengenai sesuatu yang menyebabkannya tidak bisa bangun malam untuk mengerjakan shalat. Beliau menjawab, “Dosa-dosamu telah membelenggumu.”

Baca Juga: Sifat Allah

7. Ketujuh

karena alasan dari poin pertama sampai keenam, maka ia pun dengan mudah dikuasai setan (QS Al-A’rof: 175).

“Dari Abu Hurairah, bahwa Nabi SAW bersabda: “Setan akan mengikat tengkuk salah seorang di antara kamu apabila ia tidur dengan tiga ikatan. Setan menyetempel setiap simpul ikatan atas kalian dengan mengucapkan, ‘Bagimu malam yang panjang maka tidurlah.’

Apabila ia bangun dan berzikir kepada Allah maka terbukalah satu ikatan. Apabila ia wudhu, terbuka pula satu ikatan. Apabila ia shalat, terbukalah satu ikatan. Maka, di pagi hari ia penuh semangat dan segar. Jika tidak, niscaya di pagi hari perasaannya buruk dan malas.” (HR Bukhari).

Perang Khandaq

Perang Khandaq

Perang Khandaq

Perang Khandaq
Perang Khandaq

Perang yang terjadi pada tahun 5 H

ini ialah perang antara kaum muslimin Madinah melawan masyarakat Yahudi Madinah yang mengungsi ke Khaibar yang bersekutu dengan masyarakat Mekah. Karena itu perang ini juga disebut sebagai Perang Ahzab (sekutu beberapa suku). Pasukan adonan ini terdiri dari 10.000 orang tentara. Salman al-Farisi, sahabat akrab Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam, mengusulkan biar kaum muslimin membuat parit pertahanan di bagian-bagian kota yang terbuka. Karena itulah perang ini disebut sebagai Perang Khandaq yang berarti parit.

Tentara sekutu yang tertahan oleh parit tsb mengepung Madinah dengan mendirikan perkemahan di luar parit hampir sebulan lamanya. Pengepungan ini cukup membuat masyarakat Madinah menderita lantaran relasi mereka dengan dunia luar menjadi terputus. Suasana kritis itu diperparah pula oleh pengkhianatan orang-orang Yahudi Madinah, yaitu Bani Quraizah, dibawah pimpinan Ka’ab bin Asad.

Namun kesudahannya pertolongan Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyelamatkan kaum muslimin. Sesudah sebulan mengadakan pengepungan, persediaan masakan pihak sekutu berkurang. Sementara itu pada malam hari angin dan angin ribut turun dengan amat kencang, menghantam dan menerbangkan kemah-kemah dan seluruh perlengkapan tentara sekutu. Sehingga mereka terpaksa menghentikan pengepungan dan kembali ke negeri masing-masing tanpa suatu hasil.
Para pengkhianat Yahudi dari Bani Quraizah dijatuhi eksekusi mati. Hal ini ditetapkan dalam Al-Qur’an surat Al-Ahzâb: 25-26.

Baca Juga: Ayat Kursi

Perjanjian Hudaibiyah

Pada tahun 6 H, ketika ibadah haji sudah disyariatkan, hasrat kaum muslimin untuk mengunjungi Mekah sangat bergelora. Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam memimpin eksklusif sekitar 1.400 orang kaum muslimin berangkat umrah pada bulan suci Ramadhan, bulan yang dihentikan adanya perang. Untuk itu mereka mengenakan pakaian ihram dan membawa senjata ala kadarnya untuk menjaga diri, bukan untuk berperang.

Sebelum datang di Mekah, mereka berkemah di Hudaibiyah yang terletak beberapa kilometer dari Mekah. Orang-orang kafir Quraisy melarang kaum muslimin masuk ke Mekah dengan menempatkan sejumlah besar tentara untuk berjaga-jaga.
Akhirnya diadakanlah Perjanjian Hudaibiyah antara Madinah dan Mekah, yang isinya antara lain:
Kedua belah pihak baiklah untuk melaksanakan gencatan senjata selama 10 tahun. Bila ada pihak Quraisy yang menyeberang ke pihak Muhammad, ia harus dikembalikan.

Tetapi bila ada pengikut Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam yang menyeberang ke pihak Quraisy, pihak Quraisy tidak harus mengembalikannya ke pihak Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam.
Tiap kabilah bebas melaksanakan perjanjian baik dengan pihak Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam maupun dengan pihak Quraisy.

Kaum muslimin belum boleh mengunjungi Ka’bah pada tahun tsb, tetapi ditangguhkan hingga tahun diberikutnya.
Jika tahun depan kaum muslimin memasuki kota Mekah, orang Quraisy harus keluar lebih dulu. Kaum muslimin memasuki kota Mekah dengan tidak diizinkan membawa senjata, kecuali pedang di dalam sarungnya, dan tidak boleh tinggal di Mekah lebih dari 3 hari 3 malam

Tujuan Membuat Perjanjian

Tujuan Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam membuat perjanjian tsb sebenarnya yaitu berusaha merebut dan menguasai Mekah, untuk kemudian dari sana menyiarkan Islam ke daerah-daerah lain. Ada 2 faktor utama yang mendorong kebijaksanaan ini:
Mekah yaitu sentra keagamaan bangsa Arab, sehingga dengan melalui konsolidasi bangsa Arab dalam Islam, diharapkan Islam sanggup tersebar ke luar.

Apabila suku Quraisy sanggup diislamkan, maka Islam akan memperoleh pinjaman yang besar, lantaran orang-orang Quraisy mempunyai kekuasaan dan imbas yang besar di kalangan bangsa Arab.
Setahun kemudian ibadah haji ditunaikan sesuai perjanjian. Banyak orang Quraisy yang masuk Islam sehabis menyaksikan ibadah haji yang dilakukan kaum muslimin, disamping juga melihat kemajuan yang dicapai oleh masyarakat Islam Madinah.
Penyebaran Islam ke negeri-negeri lain

Gencatan senjata dengan penduduk Mekah memdiberi peluang kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam untuk mengalihkan perhatian ke aneka macam negeri-negeri lain sambil memikirkan bagaimana cara mengislamkan mereka.
Salah satu cara yang ditempuh oleh Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam kemudian yaitu dengan mengirim utusan dan surat ke aneka macam kepala negara dan pemerintahan. di antara raja-raja yang dikirimi surat oleh Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam yaitu raja Gassan dari Iran, raja Mesir, Abessinia, Persia, dan Romawi. Memang dengan cara itu tidak ada raja-raja yang masuk Islam, namun setidaknya risalah Islam sudah hingga kepada mereka.

Reaksi para raja itu pun ada yang menolak dengan baik dan simpatik sambil mempersembahkan hadiah, ada pula yang menolak dengan kasar.
Raja Gassan termasuk yang menolak dengan kasar. Utusan yang dikirim Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam dibunuhnya dengan kejam. Sebagai jawabanan, Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam kemudian mengirim pasukan perang sebanyak 3.000 orang dibawah pimpinan Zaid bin Haritsah. Peperangan terjadi di Mu’tah, sebelah utara Semenanjung Arab.

Pasukan Islam mendapat kesusahan menghadapi tentara Gassan yang mendapat menolongan eksklusif dari Romawi. Beberapa syuhada gugur dalam pertempuran melawan pasukan berkekuatan ratusan ribu orang itu. di antara mereka yang gugur yaitu Zaid bin Haritsah sendiri, Ja’far bin Abi Thalib, dan Abdullah bin Abi Rawahah.
Melihat kekuatan yang tidak seimbang itu, Khalid bin Walid, bekas panglima Quraisy yang sudah masuk Islam, mengambil alih komando dan memerintahkan pasukan Islam menarikdanunik diri dan kembali ke Madinah. Perang melawan tentara Gassan dan pasukan Romawi ini disebut dengan Perang Mu’tah.

Euthanasia Menurut Islam

Euthanasia Menurut Islam

 Euthanasia Menurut Islam

 Euthanasia Menurut Islam
Euthanasia Menurut Islam

PengertianEuthanasia

berasal dari kata Yunani “euthanatos”, yang terbentuk dari kata “eu” dan “thanatos” yang masing-masing berarti “baik” dan “mati”. Jadi euthanasia artinya membiarkan seseorang mati dengan mudah dan baik. Kata ini. Juga didefinisikan sebagai “pembunuhan dengan belas kasian” terhadap orang sakit, luka-luka atau lumpuh yang tidak memiliki harapan sembuh dan didefinisikan pula sebagai pencabut nyawa sebisa mungkin dengan tidak menimbulkan rasa sakit.

Euthanasia dilakukan dengan cara: a) Kematian dengan cara pemberian obat bius dalam jumlah yang banyak (overdosis) atau penyuntikan cairan yang mematikan dengan tujuan mengakhiri hidup pasien. b) Keputusan untuk menghentikan perawatan yang dapat memperpanjang hidup pasien dengan tujuan mempercepat kematian.

Sejak abad ke 19 terminologi euthanasia dipakai untuk penghindaran rasa sakit dan peringatan pada umumnya bagi yang sedang menghadapi kematian dengan pertolongan dokter. (Abdul Fadl Mohsin Ebrahim. Telaah Fiqh dan Biotika Islam, Jakarta: Serambi Ilmu Semesta. 2001, hal. 148)

Secara umum euthanasia dapat dikelompokkan menjadi dua katagori:

1. Euthanasia Pasif/Negatif

Yaitu tindakan membiarkan pasien yang berada dalam keadaan tidak sadar (koma). Karena berdasarkan usulan medis sudah tidak ada harapan hidup (tidak ada tanda-tanda kehidupan) yang disebabkan karena rusaknya salah satu organ, tidak berfungsinya jantung dan lain-lain. Dengan kata lain tenaga medis tidak lagi melanjutkan bantuan atau menghentikan proses pengobatan.

Contohnya:
Seseorang penderita kanker ganas dengan rasa sakit yang luar biasa. Hingga penderita pingsan, menurut pengetahuan medis orang yang sakit ini tidak ada harapan untuk bisa hidup normal lagi (tidak ada harapan hidup). Sehingga si sakit tersebut dibiarkan mati secara alamiah, karena walaupun peralatan medis digunakan sudah tidak berfungsi lagi bagi pasien.
Firman Allah dalam surat Ali Imran 156:

وَاللَّهُ يُحْيِي وَيُمِيتُ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ…..

“….Allah menghidupkan dan mematikan. Dan Allah melihat apa yang kamu kerjakan”. (QS. Ali Imran:156)

2. Euthanasia Aktif

Yaitu tindakan mempercepat proses kematian, baik dengan memberikan suntikan atau polesan alat-alat bantu pengobatan. Seperti: saluran oksigen, alat pembantu jantung dan lain-lainnya. Sementara pasien sebenarnya masih menunjukkan adanya harapan hidup berdasarkan usulan medis.
Firman Allah dalam surat An-Nisaa ayat 29:

وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا…..

“…..Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang Kepadamu”. (QS. An Nisaa:29)

Baca Juga: 

Al-Qur’an Dimansukh Dengan As-Sunnah

Al-Qur’an Dimansukh Dengan As-Sunnah

Al-Qur’an Dimansukh Dengan As-Sunnah

 

Al-Qur’an Dimansukh Dengan As-Sunnah
Al-Qur’an Dimansukh Dengan As-Sunnah

Pada jenis ini ada dua bagian:

a). Al-Qur’an dimansukh dengan Sunnah (hadits) Mutawatir

Pada bagian ini ulama berselisih. Diriwayatkan dari Imam Ahmad rahimahullah bahwa beliau menyatakan: “Al-Qur’an tidak dinaskh (dihapus) kecuali oleh Al-Qur’an yang datang setelahnya…”. Namun Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi rahimahullah berkata: “(Berdasarkan) penelitian, boleh dan terjadi naskh Al-Qur’an dengan Sunnah Mutawatir, contohnya: dihapusnya ayat 5 kali penyusuan dengan Sunnah Mutawatir, dihapusnya surat Al-Khulu’ dan Al-Hafd dengan Sunnah Mutawatir. Dan banyak contoh lainnya”.

b). Al-Qur’an dimansukh dengan Sunnah (hadits) Ahad

Pada bagian ini ulama juga berselisih. Yang rajih –wallahu a’lam- hal ini ada dan terjadi. Contohnya:

Firman Allah Azza wa Jalla.

قُل لآ أَجِدُ فِي مَآ أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلاَّ أَن يَّكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ أَوْ فِسْقًا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللهِ بِهِ

Katakanlah:”Aku tidak mendapati dalam wahyu yang telah diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi – karena sesungguhnya semua itu kotor – atau binatang disembelih atas nama selain Allah”. (QS. Al-An’am :145)

Baca Juga: Rukun Iman

Dalil

Ayat ini menunjukkan bahwa makanan yang diharamkan -di saat ayat ini diturunkan- hanyalah empat jenis di atas. Ini berarti, di saat itu, daging keledai jinak boleh dimakan, berdasarkan ayat ini. Kemudian kebolehan ini dihapuskan hukumnya oleh hadits-hadits shahih yang datang kemudian yang mengharamkan daging keledai jinak. Karena ayat di atas termasuk surat Al-An’am, yang merupakan surat Makiyyah, yang turun sebelum hijroh, dengan kesepakatan ulama. Adapun pengharaman daging keledai jinak dengan Sunnah terjadi setelah itu di Khoibar.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِي اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَاءَهُ جَاءٍ فَقَالَ أُكِلَتِ الْحُمُرُ ثُمَّ جَاءَهُ جَاءٍ فَقَالَ أُكِلَتِ الْحُمُرُ ثُمَّ جَاءَهُ جَاءٍ فَقَالَ أُفْنِيَتِ الْحُمُرُ فَأَمَرَ مُنَادِيًا فَنَادَى فِي النَّاسِ إِنَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يَنْهَيَانِكُمْ عَنْ لُحُومِ الْحُمُرِ الْأَهْلِيَّةِ فَإِنَّهَا رِجْسٌ فَأُكْفِئَتِ الْقُدُورُ وَإِنَّهَا لَتَفُورُ بِاللَّحْمِ

Dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam didatangi oleh seseorang yang datang, lalu mengatakan: “Keledai-keledai telah dimakan”. Kemudian datang lagi kepada beliau seseorang yang datang, lalu mengatakan: “Keledai-keledai telah dimakan”. Kemudian datang lagi kepada beliau seseorang yang datang, lalu mengatakan: “Keledai-keledai telah dimakan”. Kemudian beliau memerintahkan seorang penyeru, lalu dia menyeru di kalangan orang banyak: “Sesungguhnya Alloh dan RasulNya melarang kamu dari daging keledai jinak, sesungguhnya ia kotor/najis”. Maka periuk-periuk dibalikkan, sedangkan periuk-periuk itu mendidih (berisi) daging (keledai jinak).

Antara ayat di atas dengan hadits yang mengharamkan daging keledai jinak tidak bertentangan, karena waktu keduanya berbeda. Di saat ayat di atas turun, daging keledai jinak halal, karena yang diharamkan hanyalah empat jenis makanan. Kemudian setelah itu datang pengharaman daging keledai jinak. (Mudzakiroh, hal: 153-155)

Nash Yang Mansukh Hukumnya Dan Lafazhnya

Nash Yang Mansukh Hukumnya Dan Lafazhnya

Nash Yang Mansukh Hukumnya Dan Lafazhnya

 

Nash Yang Mansukh Hukumnya Dan Lafazhnya
Nash Yang Mansukh Hukumnya Dan Lafazhnya

 

Contoh Ayatnya

Contoh : ayat yang menyatakan 10 kali penyusuan mengharamkan pernikahan. Aisyah berkata:

كَانَ فِيمَا أُنْزِلَ مِنَ الْقُرْآنِ عَشْرُ رَضَعَاتٍ مَعْلُومَاتٍ يُحَرِّمْنَ ثُمَّ نُسِخْنَ بِخَمْسٍ مَعْلُومَاتٍ فَتُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُنَّ فِيمَا يُقْرَأُ مِنَ الْقُرْآنِ

Dahulu di dalam apa yang telah diturunkan di antara Al-Qur’an adalah: “Sepuluh kali penyusuan yang diketahui, mengharamkan”, kemudian itu dinaskh (dihapuskan) dengan: “Lima kali penyusuan yang diketahui”. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat dan itu termasuk yang dibaca di antara Al-Qur’an”. (HR. Muslim, no: 1452)

Makna perkataan ‘Aisyah “dan itu termasuk yang dibaca di antara Al-Qur’an” adalah:
• Yaitu : Dibaca hukumnya, namun lafazhnya tidak.
• Atau : Orang yang belum kesampaian naskh bacaannya, masih tetap membacanya.

Kedua : Macam-macam naskh dilihat dari nash yang naasikh (menghapus) –secara ringkas- ada empat bagian:

Al-Qur’an Dimansukh Dengan Al-Qur’an

Baca Juga: Rukun Islam

Jenis naskh ini disepakati adanya oleh para ulama’, adapun orang yang beranggapan tidak ada ayat mansukh di dalam Al-Qur’an, maka perkataannya tidak dianggap.

Contohnya adalah ayat 65, yang mansukh oleh ayat 66 dari surat Al-Anfal, sebagaimana telah kami sampaikan di atas. Contoh lain: firman Allah Azza wa Jalla.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِذَا نَاجَيْتُمُ الرَّسُولَ فَقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيْ نَجْوَاكُمْ صَدَقَةً ذَلِكَ خَيْرُُ لَّكُمْ وَأَطْهَرُ فَإِن لَّمْ تَجِدُوا فَإِنَّ اللهَ غَفُورُُ رَّحِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu mengadakan pembicaraan khusus dengan Rasul hendaklah kamu mengeluarkan sedekah (kepada orang miskin) sebelum pembicaraan itu.Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu dan lebih bersih; jika kamu tiada memperoleh (yang akan disedekahkan) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Al Mujadilah :12)

Ayat ini menunjukkan kewajiban shadaqah bagi yang mampu sebelum berbisik-bisik dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian ayat ini dimansukh ayat berikutnya yang menghapuskan kewajiban tersebut. Lihat hal ini dalam Tafsir Ibnu Katsir. Allah Azza wa Jalla firmanNya:

ءَأَشْفَقْتُمْ أَن تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيْ نَجْوَاكُمْ صَدَقَاتٍ فَإِذْ لَمْ تَفْعَلُوا وَتَابَ اللهُ عَلَيْكُمْ فَأَقِيمُوا الصَّلاَةَ وَءَاتُوا الزَّكَاةَ وَأَطِيعُوا اللهَ وَرَسُولَهُ وَاللهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Apakah kamu takut akan (menjadi miskin) karena kamu memberikan sedekah sebelum pembicaraan dengan Rasul Maka jika kamu tiada memperbuatnya dan Allah telah memberi taubat kepadamu maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya; dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al-Mujadilah:13)

Ayat Al-Quran dalam DNA Manusia

Ayat Al-Quran dalam DNA Manusia

Ayat Al-Quran dalam DNA Manusia

Ayat Al-Quran dalam DNA Manusia
Ayat Al-Quran dalam DNA Manusia

Al-Qur’an menjadi kitab yang memberikan inspirasi setiap hamba yang percaya untuk melakukan pembuktian terhadap apa yang ada di dalamnya. Kitab ini juga menjawab setiap ketidaktahuan manusia terhadap pengetahuan yang buntu. Setiap ayat dan makna yang tertulis memberikan pengetahuan yang baru.  Kalam Allah SWT ini memang untaian kata indah yang penuh makna, dimana setiap apa yang tertulis bisa dikaji secara ilmiah dan terbukti kebenaranya.

Salah satu ayat dalam Al-Qur’an cukup menginspirasi seorang muslim bernama Dr. Ahmad Khan. Ia merupakan  lulusan Summa Cumlaude dari Duke University. Setelah melakukan penetian panjang akan kebenaran ayat tersebut, akhirnya Ia berhasil menemukan untaian ayat Al-Qur’an dalam Deoxy Nucleotida Acid (DNA) Manusia

Pada suatu kesempatan Ia mendengar khatib saat Shalat  Jum’at tengah membaca Surat Fussilat ayat 53 yang artinya  “Kemudian akan Kami tunjukkan tanda-tanda kekuasaan kami pada alam dan dalam diri mereka, sampai jelas bagi mereka bahwa ini adalah kebenaran”

Arti ayat tentang “tanda-tanda kekuasaan ada dalam diri mereka” membuat Ahmad Khan penasaran tentang genetika manusia. Ia lantas berpikir tentang kekuasaan Allah pada genetika manusia. Selanjutnya ia beranggapan bahwa ada kemungkinan ayat Al-Qur’an merupakan bagian dari gen manusia.

Beruntung Ia mendapat proyek dari pemerintah setempat untuk meneliti gen kecerdasan manusia. Bersama adiknya yang bernama Imran, seorang ahli dalam analisis sistem laboratorium genetiknya, Ahmad lantas memulai penelitiannya. Awalnya Ia meneliti tentang Junk DNA atau sampah DNA. Bagian ini merupakan DNA yang tidak memproduksi protein sama sekali. Setelah diteliti ternyata bagian ini jauh sekali dari makna sampah. Karena setelah dikaji mendalam, Junk DNA membentuk untaian ayat-ayat Al-Qur’an sebagai tanda kebesaran Allah bagi kaum yang berpikir.

Tepatnya pada 2 Januari tahun 1999 pukul 2 pagi kedua kakak beradik ini menemukan lafadz  Bismillahir Rahman ir Rahiim. Iqra bismirrabbika ladzi Khalq : “bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan” . Ayat tersebut adalah awal dari surat Al-A’laq yang merupakan surat pertama yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad di Gua Hira. Ternyata setelah satu ayat tersebut, ayat lain muncul satu persatu secara cepat. Hingga saat ini, Ahmad telah berhasil menemukan 1/10 ayat Al-Qur’an

Dalam wawancara yang dikutip “Ummi” edisi 6/X/99, Ahmad Khan menyatakan: “Saya yakin penemuan ini luar biasa, dan saya mempertaruhkan karier saya untuk ini. Saya membicarakan penemuan saya dengan dua rekan saya; Clive dan Martin seorang ahli genetika yang selama ini sinis terhadap Islam. Saya menyurati dua ilmuwan lain yang selama ini selalu alergi terhadap Islam yaitu Dan Larhammar dari Uppsala University Swedia dan Aris Dreisman dari Universitas Berlin.

Ahmad Khan kemudian menghimpun penemuan-penemuannya dalam beberapa lembar kertas yang banyak memuat kode-kode genetika rantai kodon pada cromosome manusia yaitu; T, C, G, dan A masing-masing kode Nucleotida akan menghasilkan huruf Arab yang apabila dirangkai akan menjadi firman Allah yang sangat mengagumkan

Di akhir wawancaranya Dr. Ahmad Khan berpesan “Semoga penerbitan buku saya “Al-Qur’an dan Genetik”, semakin menyadarkan umat Islam, bahwa Islam adalah jalan hidup yang lengkap. Kita tidak bisa lagi memisahkan agama dari ilmu politik, pendidikan atau seni. Semoga non muslim menyadari bahwa tidak ada gunanya mempertentangkan ilmu dengan agama.

Baca juga artikel:

Sunnah Khabar dan Atsar

Sunnah Khabar dan Atsar

Sunnah Khabar dan Atsar

Sunnah Khabar dan Atsar
Sunnah Khabar dan Atsar

Istilah Hadits sering juga disinonimkan dengan Sunnah , Khabar , dan Atsar . Untuk lebih jelasnya, berikut ini akan diuraikan tentang istilah-istilah tersebut.

1. Sunnah

Sunnah secara etimologis berarti: “Jalan yang lurus dan berkesinambungan, yang baik atau yang buruk”.(Ajjaj al-Khathib, Ushul al-Hadits, h. 27). Contoh dari pengertian Sunnah di atas di antaranya adalah ayat Al-Qur an surat Al-Kahfi:
“Dan tidak ada sesuatu pun yang menghalangi manusia dari beriman, ketika petunjuk telah datang kepada mereka, dan memohon ampun kepada Tuhannya, kecuali datang kepada mereka (seperti) jalan (kehidupan) umat-umat terdahulu, atau datangnya azab atas mereka dengan nyata”.

Di dalam Hadits juga terdapat kata sunnah dengan pengertiannya secara etimologis di atas, seperti yang diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Shahih-nya sebagai berikut:

Bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang merintis suatu jalan yang baik, maka ia akan memperoleh pahalanya dan juga pahala orang yang mengamalkannya sesudahnya; tidak mengurangi yang demikian itu akan pahala mereka sedikit pun. Dan siapa yang merintis jalan yang buruk, ia akan menerima dosanya, dan juga dosa orang yang mengamalkannya tanpa mengurangi dosanya sedikit pun”. (HR Muslim, Ibnu Majah, dan Al-Darami).

Berdasarkan contoh-contoh di atas, terlihat bahwa pada dasarnya Sunnah tidaklah sama pengertiannya dengan Hadits, karena Sunnah, sesuai dengan pengertiannya secara bahasa, adalah ditujukan terhadap pelaksanaan ajaran agama yang ditempuh, atau praktik yang dilaksanakan, oleh Rasul SAW dalam perjalanan hidupnya, karena Sunnah, secara bahasa, berarti al-thariqah, yaitu jalan (jalan kehidupan).

2. Khabar

Khabar menurut bahasa berarti al-naha yaitu berita. Sedangkan pengertiannya menurut istilah, terdapat tiga pendapat, yaitu: Khabar adalah sinonim dari Hadits, yaitu sesuatu yang disandarkan kepada Nabi SAW dari perkataan, perbuatan, taqriri dan sifat. Khabar berbeda dengan Hadits.

Hadits adalah sesuatu yang datang dari Nabi SAW, sedangkan Khabar adalah berita dari selain Nabi SAW. Atas dasar pendapat ini, maka seorang ahli Hadits atau ahli Sunnah disebut dengan Muhaddits, sedangkan mereka yang berkecimpung dalam kegiatan sejarah dan sejenisnya disebut dengan Akhbari. Khabar lebih umum daripada Hadits. Hadits adalah sesuatu yang datang dari Nabi SAW, sedangkan Khabar adalah sesuatu yang datang dari Nabi SAW atau dari selain Nabi (orang lain)

3. Atsar

Atsar secara etimologis berarti baqiyyat al-syai’, yaitu sisa atau peninggalan sesuatu. Sedangkan pengertiannya secara terminologis, terdapat dua pendapat, yaitu: Atsar adalah sinonim dari Hadits, yaitu segala sesuatu yang berasal dari Nabi SAW.
Pendapat kedua menyatakan, Atsar adalah berbeda dengan Hadits. Atsar secara istilah menurut pendapat kedua ini adalah sesuatu yang disandarkan kepada Sahabat dan Tabi’in, yang terdiri atas perkataan atau perbuatan.

Jumhur Ulama cenderung menggunakan istilah Khabar dan Atsar untuk segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi SAW dan demikian juga kepada Sahabat dan Tabi’in. Namun, para Fuqaha’ Khurasan membedakannya dengan mengkhususkan al-matuquf, yaitu berita yang disandarkan kepada Sahabat dengan sebutan Atsar; dan al-marfu’, yaitu segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi SAW dengan istilah Khabar.

Demikian uraian tentang sunnah khabar dan atsar semoga bermanfaat. Amiin

Baca Juga: