Agama

Agama

RUKUN, SYARAT DAN JENIS KAFALAH

RUKUN, SYARAT DAN JENIS KAFALAH

RUKUN, SYARAT DAN JENIS KAFALAH

RUKUN

1. Adh-Dhamin (orang yang menjamin)
2. Al-Madhmun lahu (orang yang berpiutang)
3. Al-Madhmun ‘anhu (orang yang berhutang)
4. Al-Madhmun (objek jaminan) berupa hutang, uang, barang atau orang
5. . Sighah (akad/ijab)

SYARAT

1. Kafil yaitu orang yang menjamin dimana ia disyaratkan sudah baligh, berakal, merdeka dalam mengelola harta bendanya/tidak dicegah membelanjakan hartanya dan dilakukan dengan kehendaknya sendiri.
2. Mafkul lahu. yaitu orang yang berpiutang, Syaratnya yang berpiutang diketahui oleh orang yang menjamin karena manusia tidak sama dalam hal tuntutan, ada yang keras dan ada yang lunak.
3. Makful ‘anhu adalah orang yang berutang, tidak disyaratkan baginya kerelaan terhadap penjamin karena pada prinsipnya hutang itu harus lunak, baik orang yang berhutang rela maupun tidak. Namun lebih baik dia rela/ridha.
4. Al-Makful adalah utang, barang atau orang. Disebut juga madmun bih atau makful bih. Disyaratkan pada makfuln dapat diketahui dan tetap keadaannya (ditetapkan), baik sudah tetap maupun akan tetap.
5. Sighat atau lafadz adalah pernyataan yang diucapkan oleh penjamin, disyaratkan keadaan sighat mengandung makna menjamin, tidak digantungkan kepada sesuatu dan tidak berarti sementara.

JENIS KAFALAH DALAM PRAKTIK PERBANKAN

1. Kafalah bin Nafs
Jenis kafalah ini merupakan akad memberikan jaminan atas diri. Sebagai contoh dalam praktik perbankan untuk kafalah ini yaitu seorang nasabah yang mendapat pembiayaan dengan jaminan nama baik dan ketokohan seseorang atau pemuka masyarakat. Walaupun bank secara fisik tidak memegang barang apapaun tetapi bank berharap tokoh tersebut dapat mengusahakan pembayaran ketika nasabah yang dibiayai mengalami kesulitan.
2. Kafalah bil Maal
Kafalah ini merrupakan jaminan pembayaran barang atau pelunasasn utang.
3. Kafalah Bit taslim
Jenis kafalah ini biasa dilakukan untuk menjamin pengembalian atas barang yang disewa, pada waktu masa sewa berakhir.Jenis pemberian jaminan ini dapat dilaksanakan oleh bank untuk kepentingan nasabahnya dalam bentuk kerjasama dengan perusahaan penyewaan (leasing company). Jaminan pembayaran bagi bagi bank dapat berupa deposito/tabungan dan bank dapat membebankan uang jasa/fee kepada nasabah itu.
4. Kafalah al Munazah
Kafalah al Munzah ini adalah jaminan mutlak yang tidak dibatasi oleh jangka dan untuk kepentingan/tujuan tertentu.
Salah satu bentuk kafalah al munazah adalah pemberian jaminan dalam bentuk performance Bonds (jaminan prestasi), suatu hal yg lazim dikalangan perbankan dan hal ini sesuai dengan bentuk akad ini.
5. Kafalah al Muallaqah
Bentuk jaminan ini merupakan penyederhanaan dari kafalah al munazah, baik oleh industry perbankan maupun asuransi.

Baca Juga:

PENGERTIAN KAFALAH & DASAR HUKUMNYA

PENGERTIAN KAFALAH & DASAR HUKUMNYA

PENGERTIAN KAFALAH & DASAR HUKUMNYA

 

PENGERTIAN KAFALAH

1. Menurut bahasa
Al-kafalah menurut bahasa berarti al-dhaman (jaminan), hamalah (beban) dan zama’ah (tanggungan)
2. Menurut syara’
a. . Menurut madzhab Syafi’i
Al-Kafalah adalah “akad yang menetapkan iltizam hak yang tetap pada tanggungan (beban) yang lain atau menghadirkan zat benda yang dibebankan atau menghadirkan badan oleh orang yang berhak menghadirkannya.
b. Menurut madzhab Maliki
Al-Kafalah adalah “Orang yang mempunyai hak mengerjakan tanggungan pemberi beban serta bebannya sendiri yang disatukan, baik menanggung pekerjaan yang sesuai (sama) maupun pekerjaan yang berbeda.
c. Menurut Sayyid Sabiq,
pengertian kafalah adalah proses penggabungan tanggungan kafil menjadi beban asjhil dalam tuntutan dengan benda (materi) yang sama, baik utang, barang, maupun pekerjaan.

Baca Juga: https://www.pendidik.co.id/nama-bayi-perempuan-islami/

DASAR HUKUM KAFALAH

1. Al-Qur’an

Allah Swt berfirman dalam surah Yusuf ayat 66 yang artinya :
“Ya’qub berkata: “Aku sekali-kali tidak akan melepaskannya (pergi) bersama-sama kamu, sebelum kamu memberikan kepadaku janji yang teguh atas nama Allah, bahwa kamu pasti akan membawanya kepadaku kembali, kecuali jika kamu dikepung musuh”. tatkala mereka memberikan janji mereka, Maka Ya’qub berkata: “Allah adalah saksi terhadap apa yang kita ucapkan (ini)”.

2. Hadits

Sebuah hadits sebagai landasan kafalah yaitu :
“Telah dihadapkan kepada Rasulullah ..(mayat seorang laki-laki untuk dishalatkan). Rasulullah bertanya “apakah dia mempunyai warisan?” para sahabat menjawab “tidak” Rasulullah bertanya lagi, “apakah dia mempunyai hutang? “sahabat menjawab “ya, sejumlah tiga dinar” Rasulullah pun menyuruh para sahabat untuk menshalatkannya (tetapi beliau sendiri tidak). Lalu abu Qatadah berkata : “saya menjamin hutangnya ya Rasulullah” maka Rasulullah pun menshalatkan mayat tersebut, (HR. Bukhari ).

3. Ijma’

Ulama sepakat mebolehkan kafalah karena kafalah sangat diperlukan dalam waktu tertentu. Adakalanya orang memerlukan modal dalam usaha dan untuk mendapatkan modal itu biasanya harus ada jaminan dari seseorang yang dapat dipercaya.

Pengertian Ijma’m Dasar Hukum & Rukunnya

Pengertian Ijma’m Dasar Hukum & Rukunnya

Pengertian Ijma’m Dasar Hukum & Rukunnya

Pengertian Ijma’

1. Menurut bahasa
Ijma’ menurut bahasa artinya sepakat, setuju atau sependapat.
2. Menurut istilah
Menurut istilah ijma’ ialah kesepakatan mujtahid ummat Islam tentang hukum syara’ dari peristiwa yang terjadi setelah Rasulullah SAW wafat.

Dasar Hukum Ijma’

Dasar hukum ijma’ ialah aI-Qur’an, al-Hadits dan akal pikiran.
1. Al-Qur’an
Firman Allah dalam Al-Qur’an Surah An-Nisa ayat 59 yang artinya :
“ Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu”.
Perkataan ulil amri yang terdapat pada ayat di atas berarti hal, keadaan yang bersifat umum meliputi urusan dunia dan urusan agama. Ulil amri dalam urusan dunia ialah raja, kepala negara, pemimpin atau penguasa, sedang ulil amri dalam urusan agama ialah para mujtahid.
Dari ayat di atas dipahami bahwa jika para ulil amri itu telah sepakat tentang sesuatu ketentuan atau hukum dari suatu peristiwa, maka kesepakatan itu hendaklah dilaksanakan dan dipatuhi oleh kaum muslimin.
2. Hadist
Bila para mujtahid telah melakukan ijma’ tentang hukum syara’ dari suatu peristiwa atau kejadian, maka ijma’ itu hendaklah diikuti, karena mereka tidak mungkin melakukan kesepakatan untuk melakukan kesalahan apalagi kemaksiatan dan dusta, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
Artinya: “umatku tidak akan bersepakat untuk melakukan kesalahan.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

Baca Juga: https://www.pendidik.co.id/sholat-rawatib/

Rukun-rukun Ijma’

Ulama-ulama ushul fiqh menetapkan rukun-rukun ijma’ sebagai berikut:
1. ada beberapa orang mujtahid dikala terjadinya peristiwa dan para mujtahid itulah yang melakukan kesepakatan.
2. Yang melakukan kesepakatan itu hendaklah semua mujtahid yang ada dalam dunia Islam. Jika kesepakatan itu hanya dilakukan oleh para mujtahid yang ada pada suatu negara saja, maka kesepakatan yang demikian belum bisa dikatakan suatu ijma’.
3. Kesepakatan itu harus dinyatakan secara tegas oleh setiap mujtahid bahwa ia sependapat dengan mujtahid-mujtahid yang lain tentang hukum (syara’) dari suatu peristiwa (permasalahan) yang terjadi pada masa itu.
4. Kesepakatan itu hendaklah merupakan kesepakatan yang bulat dari seluruh mujtahid. jika terjadi suatu kesepakatan oleh sebahagian besar mujtahid yang ada, maka keputusan yang demikian belum pasti ke taraf ijma’.

Istishlah Menurut Para Ulama & Ruang Lingkupnya

Istishlah Menurut Para Ulama & Ruang Lingkupnya

Istishlah Menurut Para Ulama & Ruang Lingkupnya

Istishlah Menurut Para Ulama & Ruang Lingkupnya
Istishlah Menurut Para Ulama & Ruang Lingkupnya

 

Pandangan Para Ulama Mengenai Istishlah

Dalam kitab al Ihkam, al Amidi mengatakan bahwa para ulama dari golongan Syafi’I, Hanafi dan lain-lain telah sepakat untuk tidak berpegang kepada istishlah, kecuali Imam Malik, dan diapun tidak sependapat dengan pengikutnya. Para ulama tersebut sepakat untuk tidak memakai istishlah dalam setiap kemaslahatan, kecuali dalam kemaslahatan penting dan khusus secara qath’i. Mereka tidak menggunakannya dalam kemaslahatan yang tidak penting, tidak berlaku umum, serta tidak kuat.

Adapun al Syathibi mengatakan bahwa pendapat tentang adanya perbedabatan dikalangan ulama perihal mashlahah mursalah dapat dibagi menjadi empat pendapat, yaitu :
1. al Qadhi dan beberapa ahli menolaknya dan menganggap sebagai sesuatu yang tidak ada dasarnya.
2. Imam Malik menganggapnya ada dan memakainya secara mutlak.
3. Imam al Syafi’I dan para pembesar golongan Hanafiyah memakai mashlahah mursalah dalam permasalahan yang tidak dijumpai dasar hukumnya yang sahih.
4. Sedangkan al Ghazali dalam al Musytasyfa menolaknya namun dalam syafa’ul Ghalil menerimanya.

Persyaratan dan Ruang Lingkup Istishlah

Agar maslahah-mursalah dapat diterima sebagai dasar dalam menetapkan hukum Islam maka para ImamMujtahid, di antaranya Imam al-Ghazali, asy-Syatibi fan at-Tufi membuat rersyaratan dan ruang lingkup operasional maslahah-mursalah. Persyaratan yang mereka buat berbeda satu sama lain, namun ruang lingkup operasionalnya mereka mempunyai pendapat yang sama sebagaimana terlihat dalam bahasan di bawah ini.

Al-Ghazali membuat batasan operasional maslalah-mursalah untuk dapat diterima sebagai dasar dalam menetapkan hukum Islam :
Pertama, maslahat tersebut harus sejalan dengan tujuan penetapan hukum Islam yaitu memelihara agama, jiwa, akal, harta dan keturunan atau kehormatan.
Kedua, maslahat tersebut tidak boleh bertentangan dengan al-Qur’an, as-Sunnah dan ijma’.
Ketiga, maslahat tersebut menempati level daruriyah (primer) atau hajiyah (sekunder) yang setingkat dengan daruriyah.
Keempat, kemaslahatannya harus berstatus qat’i atau zann yang mendekati qat’i.
Kelima, dalam kasus-kasus tertentu diperlukan persyaratan, harus bersifat qat’iyah, daruriyah, dan kulliyah

Baca Juga: 

Sejarah Istishlah & Pengertian

Sejarah Istishlah & Pengertian

Sejarah Istishlah & Pengertian

Sejarah Istishlah & Pengertian
Sejarah Istishlah & Pengertian

Sejarah Istishlah

Teori Istislah sebagaimana disebutkan di atas, pertama kali diperkenalkan oleh Imam Malik (W. 97 H.), pendiri mazhab Malik. Namun karena pengikutnya yang lebih akhir mengingkari hal tersebut, maka setelah abad ketiga hijriyah tidak ada lagi ahli usul fiqih yang menisbatkan maslahahmursalah kepada Imam Malik,[1] sehingga tidak berlebihan jika ada pendapat yang menyatakan bahwa teori maslahah-mursalah ditemukan dan dipopulerkan oleh ulama-ulama usul fiqih dari kalangan asy Syafi’iyah yaitu Imam al-Haramain alJuwaini (w. 478 H.), guru Imam al-Ghazali. Dan menurut beberapa hasil penelitian, ahli usul fiqih yang paling banyak membahas dan mengkaji maslahah-mursalah adalah Imam al-Ghazali yang dikenal dengan sebutan hujjatul Islam.

Pengertian Istishlah

Sebelum mendefinisikan istishlah secara khusus, kita kaji terlebih dahulu pengertian mashlahat mursalah, dimana untuk mengetahuinya dapat kita bagi berdasarkan katanya menjadi :
Mashlahat menurut al Ghazali adalah :
فهي عبارة في الاصل عن جلب منفعة دفع مضرة
“Adapun mashlahat adalah sebuah ibarat pada asal dari meraih manfaat dan menolak madharat”.[3]
Sementara al Syathibi dalam al I’tisham mendefiniskan mashlahat sebagai berikut :
ما فهم رعايته فى الخلق من جلب المصالح ودرء المقاسد
“Adalah apa yang dipahami pengertiannya dalam memelihara hak makhluk, atas menjaga kemaslahatan dan menolak kemadharatan”.

Baca Juga: https://www.dutadakwah.co.id/bacaan-ayat-kursi-beserta-terjemahan-dan-keutamaannya-lengkap/

Kesimpulan

Dari pengertian-pengertian diatas maka pada prinsipnya mashlahat adalah suatu upaya dalam rangka mencari mashlahatan atau manfaat dan menolak kemadharatan sesuai dengan kemashlahatan yang dikehendaki oleh syara’, yaitu apa yang disebut dengan maqâshid al syari’at, baik itu berkaitan dalam ibadah maupun dalam muamalah. Oleh karena itu setiap hal yang dapat menjaga maqâshid al syari’ maka itu adalah mashlahat dan setiap hal yang merusak maqâshid al syari’at itu adalah mafsadat.

Berdasarkan pengertian mashlahat dan al irsâl diatas, maka para ulama secara khusus mendefinisikan mashlahat mursalat sebagai berikut :

Muhammad Abu Zahrah dalam bukunya Ushul fiqih merumuskan sebagai berikut :
المصلحة المرسلة او استصلاح هي المصالح الملائمة لم قاصد الشريعة الاسلام ولايشهد لها اصل خاص بالاعتباراو الغائها.
“Al Mashlahah al mursalah atau istishlâh, yaitu segala kemaslahatan yang berjalan dengan tujuan-tujuan syara’ (dalam mensyari’atkan hukum), akan tetapi tidak ditunjukan yang melegitimasi atau menolaknya.

Sebagian ulama mempersamakan antara mashlahat al mursalat dengan al istishlah, namun sebagian yang membedakannya. Dalam al Madkhal ilâ ushûl al fiqh sebagaimana dikutip oleh Muhammad Taqiy al Hakîm disebutkan bahwa pada hakikatnya istishlah adalah corak hukum dengan mengggunakan akal yang disandarkan kepada mashlahat. Ia dilaksanakan bagi masalah yang tidak terdapat dalam nash, dan tidak dapat pula diqiyaskan kepada nash yang ada, akan tetapi didasarkan pada kaidah umum yang terdapat dalam syari’at dimana bertujuan dalam rangka menjaga kemashlahatan.

Hadis Larangan Buang Air Pada Air Tergenang

Hadis Larangan Buang Air Pada Air Tergenang

Hadis Larangan Buang Air Pada Air Tergenang

Hadis Larangan Buang Air Pada Air Tergenang
Hadis Larangan Buang Air Pada Air Tergenang

Hadis tentang Larangan Buang Air pada Air Tergenang

Banyak terdapat hadis mengenai larangan buang air pada air tergenang. Diantaranya
عَنْ جَابِرٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ نَهَى عنْ البول فِى الْمَاءِ الرَّاكِد .
“dari Jabir dari Rasulullah saw, bahwa beliau melarang kencing pada air yang menggenang”. (HR.Muslim, Hadis No.423. Software Hadis Mausu’ah 9 Imam).

عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه قال لاَ يَبُولَنَّ أَحَدُكُمْ فِى الْمَاءِ الدَّائِمِ ثُمَّ يَغْتَسِلُ مِنْهُ
”dari Abu Hurairah dia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, “Janganlah salah seorang dari kalian buang air kecil dalam air yang diam (tergenang), kemudian mandi di situ”. (HR.Al-Nasa’i, hadis no.221, software Hadis Mausu’ah 9 Imam)

عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم نهى يُبَالَ فِى الْمَاءِالدانم ثم يتوضا منه
“dari Abu Hurairah, dia berkata: “Bahwasanya Rasulullah saw melarang kencing di dalam air yang tidak mengalir kemudian berwudhu darinya”. (HR. Ahmad ibn Hanbal, hadis no.9988, Software Hadis Mausu’ah 9 Imam)
ان أبا هريرة سمع رسول الله ص م : لَا يَبُولَنَّ أَحَدُكُمْ فِي الْمَاءِ الدَّائِمِ الَّذِي لَا يَجْرِي ثُمَّ يَغْتَسِلُ فِيهِ
“ Janganlah salah seorang kamu kencing ke dalam air yang tenang yang tidak mengalir, kemudian dia mandi di dalamnya” (Al Bukhary 4:68; Muslim 2:28; Al Lu’lu-u wal Marjan 1:69).

Berdasarkan hadis-hadis tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa Rasulullah melarang seseorang untuk:
1. Buang air kecil didalam air yang tidak pengalir (tergenang)
2. Buang air kecil didalam air tergenang kemudian mandi di air itu
3. Mandi jinabat di dalam air yang tergenang yang terkena kencing
Dalam riwayat lain diterangkan bahwa orang yang berjunub tidak boleh mandi kedalam air yang tidak mengalir, maksudnya tidak boleh mandi dengan cara menyelam.

Larangan Buang Air pada Air yang Tidak Mengalir (Tergenang)

Ulama’ berbeda pendapat mengenai hukum air tergenang yang terkena air kencing:
1. Syafi’iyah berpendapat jika air yang tergenang itu sedikit, maka hukumnya haram. Jika airnya banyak maka makruh.
2. Sebagian ulama’ berpendapat bahwa baik sedikit atau banayak hukum air tersebut tetap haram.
3. Ada yang mengharamkan air yang terkena kencing apabila air tersebut berubah baik rasa, warna maupun baunya.
Meskipun demikian, pada dasarnya hadis-hadis diatas hanya memberi pesan adanya larangan buang air di dalam air tergenang (baik langsung mengencingi air tersebut atau pun menuangkan air kencing kedalamnya), bukan sebagai dasar diharamkannya air yang terkena air kencing. Jadi kencing pada air tergenang tetap dilarang terlepas dari najis tidaknya air yang terkena kencing itu.

Abu Hurairah pernah berkata: “Bagaimana kita mandi dengan air yang tenang itu (yang telah terkena kencing)? Diciduk dengan gayung?” perkataan tersebut mengisyaratkan bahwa larangan kencing pada air tergenang karena menjijikan. Perbuatan tersebut juga mengotori air.
Di dalam sarah Muslim, An Nawawy berkata bahwa berdasarkan hadis diatas terdapat sebagian air adalah larangan haram, dan sebagian air yang lain adalah larangan makrum. Apabila air itu banyak dan mengalir maka hukumnya makruh kita kencing didalamnya.

Menurut sebagian ulama’ syafi’iyah, jika air itu sedikit tapi mengalir maka hukumnnya makruh, tidak haram. Jika air itu tenang dan berjumlah banyak hukum kencing diair tersebut.
Namun mayoritas ulama’ ahli tahqiq dan ulama’ ushul berpendapat bahwa buang air pada air tergenang hukumnya haram karena dapat menajiskan airdan mencemari lingkungan.
Para ulama’ mengatakan: ”dimakruhkan kita kencing dan buang air besar di dekat air, walau pun tidak sampai mengalir ke dalam air, mengingat umum latangan tentang membuang air besar di tempat-tempat yang didatangi orang ramai dan karena mengganggu orang yang menggunakan air itu”.

Baca Juga: https://www.dutadakwah.co.id/sayyidul-istigfar/

Penjelasan Sains mengenai Larangan Buang Air pada Air Tergenang

Rasulullah melarang buang air pada air tergenang bukan tanpa sebab. Rasulullah telah jauh memikirkan kebaikan bagi umat beliau, terutama mengenai kesehatan. Jika ditinjau dari segi kesehatan, buang air pada air tergenang memberi dampak buruk bagi lingkungan serta bagi orang lain. Buang air pada air tergenang mengakibatkan pencemaran pada air yang tergenang tersebut, apabila air itu terkena kulit seseorang maka akan berdampak buruk. Apalagi air tersebut digunakan untuk mandi atau berwudhu.

Kebiasaan buang air pada air tergenang dapat menimbulkan telur-telur bilharziasis. Kemudian telur-telur tersebut menetas dan jika terkena kulit akan mengakibatkan berbagai penyakit pada kulit, seperti kutu air.
Selain itu, Buang air atau kencing pada air yang tergenang berlawanan dengan dengan prinsip sanitasi (pembudayaan hidup sehat). Sanitasi adalah usaha untuk membina dan menciptakan suatu keadaan yang baik di bisang kesehatan, terutama kesehatan masyarakat. Dan kencing pada air tergenang termasuk perilaku yang tidak menjaga kebersihan lingkungan.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Islam melarang seseorang buang air ke dalam air yang tidak mengalir atau tergenang dan melarang mandi dalam air tersebut.

Hikmah Dilarangnya Buang Air pada Air Tergenang

1. Sempurnanya syari’an Islam yang mengatur tentang kebersihan.
2. Islam menganjurkan untuk memelihara kesehatan
3. Islam melarang segala hal yang dapat menyakiti orang lain
4. Terhindar dari penyakit

4 Waktu Untuk Berdoa Yang Baik

4 Waktu Untuk Berdoa Yang Baik

4 Waktu Untuk Berdoa Yang Baik

4 Waktu Untuk Berdoa Yang Baik
4 Waktu Untuk Berdoa Yang Baik

Hari Jumat

Waktu yang disunnahkan Rasul untuk berdoa adalah pada hari Jumat. Namun tidak sepanjang jumat tersebut, melainkan ada waktu singkat yang diisyaratkan Rasulullah menjadi waktu yang mustajab.

“Sesungguhnya pada hari Jum’at itu terdapat satu waktu yang tidaklah seorang hamba muslim berdiri berdoa memohon kebaikan kepada Allah bertepatan pada saat itu, melainkan Dia akan mengabulkannya.” Lalu beliau mengisyaratkan dengan tangannya, yang kami pahami, untuk menunjukkan masanya yang tidak lama (sangat singkat).” (Muttafaq ‘Alaih).

Ulama berbeda pendapat tentang waktu tersebut. Ada dua pendapat yang dikemukakan terkait kapan waktu pada hari Jumat yang mustajab untuk memanjatkan doa. Waktu pertama adalah saat Imam berada di atas mimbar hingga berakhirnya salat Jumat.

Sedangkan pendapat kedua, waktu mustajab tersebut terjadi pada akhir waktu Jumat, yakni setelah shalat Ahsar hingga masuk waktu Magrib. Pendapat ini diungkapkan oleh Abdullah bin Salam, Abu Hurairah, Imam Ahmad, dan beberapa ulama selain mereka.

“Hari Jum’at terdiri dari 12 waktu, di dalamnya terdapat satu waktu yang tidaklah seorang muslim pada saat itu memohon sesuatu kepada Allah, melainkan Dia akan mengabulkan permintaannya. Oleh karena itu, carilah saat tersebut pada akhir waktu setelah ‘Ashar.” (HR. an Nasai dan Abu Dawud. Disahihkan oleh Ibnul Hajar dalam al Fath dan dishahihkan juga oleh al Albani dalam Shahih an Nasai dan Shahih Abu Dawud)

Saat Sujud

Sujud merupakan waktu yang disunnahkan untuk memperbanyak doa. Pasalnya posisi ini merupakan saat terdekat antara makhluk dengan Tuhannya.

“Posisi paling dekat antara hamba dengan Rabbnya adalah ketika sujud, maka perbanyaklah kalian berdoa.” (HR. Muslim No. 482)

Ketika Minum Air Zam-zam

Waktu yang disunnahkan untuk bedoa lainnya adalah saat meminum air zam-zam. Umat Islam percaya bahawa air zam-zam adalah kurniaan dan rahmat dari Allah. Sehingga berdoa setelah meminumnya sangat baik.

Doa Ketika Berbuka Puasa

Rasulullah juga selalu berdoa ketika berbuka puasa baik puasa wajib di bulan Ramadhan, maupun saat puasa sunnah. Dengan demikian, hendaknya kita manfaatkan waktu berbuka untuk memperbanyak doa.

“Dahulu apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berbuka puasa, beliau biasa berdoa,” (HR. Abu Daud).

Baca Juga: 

3 WAKTU YANG DI SUNAHKAN UNTUK BERDO'A

3 WAKTU YANG DI SUNAHKAN UNTUK BERDO’A

3 WAKTU YANG DI SUNAHKAN UNTUK BERDO’A

3 WAKTU YANG DI SUNAHKAN UNTUK BERDO'A
3 WAKTU YANG DI SUNAHKAN UNTUK BERDO’A

Ada yang langsung dihijabah, namun ada pula doa yang ditangguhkan hingga waktu yang tidak ditentukan. Ternyata kita perlu mengetahui cara berdoa agar mustajab dan dikabulkan dengan cepat oleh Allah.

Waktu-waktu berikut, sering digunakan oleh Nabi Muhammad SAW untuk berdoa. Sehingga menjadi waktu yang disunnahkan oleh Rasul agar diikuti oleh umatnya. Kapan saja? Berikut ulasannya.

1. Sepertiga Malam

Sepertiga malam menjadi salah satu waktu yang baik untuk berdoa. Rasulullah SAW mengatakan, pada waktu tersebut, Allah SWT turun ke bumi untuk mengabulkan doa hamba-hamba-Nya yang sengaja bangun malam ketika orang lain tertidur lelap.

“Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku maka Aku kabulkan untuknya, dan barangsiapa yang memohon kepada-Ku maka Aku memberinya, dan barangsiapa yang meminta ampunan-Ku maka Aku mengampuninya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

2. Setelah Tasyahud, Sebelum Salam

Selama ini, kita selalu berdoa disaat sesudah salam. Ternyata banyak hadist yang memerintahkan bahwa doa yang baik dilakukan adalah sebelum salam. Menurut Syaikh Ibnu Utsaimin –rahimahullah, do’a setelah salam tidak termasuk petunjuk (ajaran) Nabi Muhammad SAW. Rasulullah SAW bersabda:

“Aku wasiatkan padamu wahai Mu’adz. Janganlah engkau tinggalkan untuk berdo’a setiap dubur shalat (akhir shalat) (HR. Abu Daud no. 1522. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih).

Mayoritas ulama sepakat bahwa dubur salat adalah akhir salat sebelum salam. Syaikh Ibnu Utsaimin –rahimahullah mengatakan ini sesuai dengan petunjuk Nabi. Karena sejatinya saat kita salat, itu sama dengan kita sedang bermunjat kepada Allah. Ketika berdoa setelah mengucapkan salat, artinya kita sudah selesai bermunajat kepada Allah. Sehingga akan lebih afdol berdoa sebelum mengakhiri salat.

Baca Juga: Kalimat Syahadat

3. Rentang Waktu antara Adzan dan Iqamat

Waktu selanjutnya yang disunnahkan Rasulullah SAW untuk berdoa adalah saat rentang antara adzan dan iqamat. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya do’a yang tidak tertolak adalah do’a antara adzan dan iqomah, maka berdo’alah (kala itu).” (HR. Ahmad, shahih)

Dalam hadist lain yakni dari Anas bin Malik pula, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Doa yang tidak mungkin tertolak adalah ketika antara adzan dan iqamah” (H.R. At-Tirmidzi, hadits hasan shahih).

Jadi alangkah baiknya jika pada waktu tersebut kita gunakan untuk berdoa kepada Allah.

PENYEBAB MALASNYA SHALAT TAHAJUD USTADZ MUHAMMAD ARIFIN ILHAM

PENYEBAB MALASNYA SHALAT TAHAJUD USTADZ MUHAMMAD ARIFIN ILHAM

PENYEBAB MALASNYA SHALAT TAHAJUD USTADZ MUHAMMAD ARIFIN ILHAM

PENYEBAB MALASNYA SHALAT TAHAJUD USTADZ MUHAMMAD ARIFIN ILHAM
PENYEBAB MALASNYA SHALAT TAHAJUD USTADZ MUHAMMAD ARIFIN ILHAM

Semoga dengan mengenali alasan mengapa masih malas Tahajud, tergeraklah kita untuk menjaga amalan mulia ini. Sebab, sungguh tidak ada kemuliaan seorang hamba kecuali karena keistiqamahannya menjaga shalat Tahajud, “Maa syarafal mu’min illa bit tahajjud.”

Dan mudah-mudahan pula dengan mengenalinya kita segera muhasabah diri karena sungguh dunia terasa surga sebelum surga bagi hamba Allah yang telah merasakan indahnya, nikmatnya, bahagianya shalat malam.

1. Dho’ful iimaani, lemah iman

Kalau kuat iman, pasti ia sangat cinta, rindu, dan sangat bahagia menghadap-Nya di penghujung malam. “Sesungguhnya bangun tengah malam lebih tepat untuk khusyuk, dan bacaan kala itu sungguh sangat berkesan mendalam,” (QS al-Muzammil: 6). Bukankah kekasih senang berjumpa dan berduaan dengan kekasihnya.

2. al-jahlu, karena awam ilmu agamanya

Seandainya tahu dalil, keutamaan, rahasia, hikmah, keajaiban, manfaat, indahnya Tahajud, pastilah ia menjaganya, bahkan sebelum tidur pun sudah senang karena nanti malam menghadap Allah.

“Apakah sama hamba Allah yang bangun malam sujud berdiri yang takut dengan dahsyatnya akhirat dan mengharapkan rahmat Allah dengan mereka yang lelap dalam peraduan tidur? Apakah sama hamba Allah yang berilmu dengan yang tidak berilmu? Sesungguhnya hanya hamba Allah berilmu yang mengingat Allah di penghujung malam,” (QS az-Zumar: 9).

3. hubbud dunya

diperbudak dunia sehingga dilelahkan dan disibukkan dengannya, siang dan malam. Bangun malam pun karena target dunia. “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu sampai kamu masuk ke dalam kubur,” (QS at-Takatsur: 1-2).

4. abdul hawa, budak nafsu

Orang yang kegemarannya melakukan amal maksiat, seperti pezina, pemabuk, pejudi, dan sebagainya sangat sulit untuk shalat malam. Puas dan senangnya hanya pada hal maksiat (QS Yusuf: 53).

5. tho’mul haraami, banyak makan minum yang haram

Bisa dipastikan jika sesuatu yang dikonsumsinya adalah haram maka akan berat sekali untuk shalat lima waktu, apalagi shalat malam.

Kalaupun shalat terkesan berat dan cenderung malas-malasan, “Mereka tidak mengerjakan shalat, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan,” (QS at-Taubah: 54). Tubuh yang tumbuh dari yang haram menjadi energi maksiat dan membuat lemes ibadah, wahai ikhwah fillah!

6. katsrotul dzunuub, karena selalu dan keseringan berbuat dosa

Setiap dosa yg diperbuat menjadi noktah hitam di hati. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya seorang hamba, ketika berbuat dosa, maka pada hatinya akan tertinggal setitik noda hitam. Jika dia bertaubat dari dosanya, maka hatinya akan dibersihkan dari noda hitam tersebut. Namun, apabila dia terus menambah dosanya, maka noda hitam tersebut pun semakin bertambah.”

Demikianlah maksud dari firman Allah Taala, “Sekali-kali tidak, bahkan apa yang mereka lakukan tersebut akan menutupi hatinya,” (QS al-Muthaffifin: 14).” (HR at-Tirmidzi).

Sufyan ats-Tsauri berkata, “Saya pernah tidak bisa menjalankan shalat Tahajud selama lima bulan hanya karena satu dosa yang dulu aku lakukan.”

Seseorang datang kepada Imam Ghazali untuk menanyakan kepada beliau mengenai sesuatu yang menyebabkannya tidak bisa bangun malam untuk mengerjakan shalat. Beliau menjawab, “Dosa-dosamu telah membelenggumu.”

Baca Juga: Sifat Allah

7. Ketujuh

karena alasan dari poin pertama sampai keenam, maka ia pun dengan mudah dikuasai setan (QS Al-A’rof: 175).

“Dari Abu Hurairah, bahwa Nabi SAW bersabda: “Setan akan mengikat tengkuk salah seorang di antara kamu apabila ia tidur dengan tiga ikatan. Setan menyetempel setiap simpul ikatan atas kalian dengan mengucapkan, ‘Bagimu malam yang panjang maka tidurlah.’

Apabila ia bangun dan berzikir kepada Allah maka terbukalah satu ikatan. Apabila ia wudhu, terbuka pula satu ikatan. Apabila ia shalat, terbukalah satu ikatan. Maka, di pagi hari ia penuh semangat dan segar. Jika tidak, niscaya di pagi hari perasaannya buruk dan malas.” (HR Bukhari).

Perang Khandaq

Perang Khandaq

Perang Khandaq

Perang Khandaq
Perang Khandaq

Perang yang terjadi pada tahun 5 H

ini ialah perang antara kaum muslimin Madinah melawan masyarakat Yahudi Madinah yang mengungsi ke Khaibar yang bersekutu dengan masyarakat Mekah. Karena itu perang ini juga disebut sebagai Perang Ahzab (sekutu beberapa suku). Pasukan adonan ini terdiri dari 10.000 orang tentara. Salman al-Farisi, sahabat akrab Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam, mengusulkan biar kaum muslimin membuat parit pertahanan di bagian-bagian kota yang terbuka. Karena itulah perang ini disebut sebagai Perang Khandaq yang berarti parit.

Tentara sekutu yang tertahan oleh parit tsb mengepung Madinah dengan mendirikan perkemahan di luar parit hampir sebulan lamanya. Pengepungan ini cukup membuat masyarakat Madinah menderita lantaran relasi mereka dengan dunia luar menjadi terputus. Suasana kritis itu diperparah pula oleh pengkhianatan orang-orang Yahudi Madinah, yaitu Bani Quraizah, dibawah pimpinan Ka’ab bin Asad.

Namun kesudahannya pertolongan Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyelamatkan kaum muslimin. Sesudah sebulan mengadakan pengepungan, persediaan masakan pihak sekutu berkurang. Sementara itu pada malam hari angin dan angin ribut turun dengan amat kencang, menghantam dan menerbangkan kemah-kemah dan seluruh perlengkapan tentara sekutu. Sehingga mereka terpaksa menghentikan pengepungan dan kembali ke negeri masing-masing tanpa suatu hasil.
Para pengkhianat Yahudi dari Bani Quraizah dijatuhi eksekusi mati. Hal ini ditetapkan dalam Al-Qur’an surat Al-Ahzâb: 25-26.

Baca Juga: Ayat Kursi

Perjanjian Hudaibiyah

Pada tahun 6 H, ketika ibadah haji sudah disyariatkan, hasrat kaum muslimin untuk mengunjungi Mekah sangat bergelora. Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam memimpin eksklusif sekitar 1.400 orang kaum muslimin berangkat umrah pada bulan suci Ramadhan, bulan yang dihentikan adanya perang. Untuk itu mereka mengenakan pakaian ihram dan membawa senjata ala kadarnya untuk menjaga diri, bukan untuk berperang.

Sebelum datang di Mekah, mereka berkemah di Hudaibiyah yang terletak beberapa kilometer dari Mekah. Orang-orang kafir Quraisy melarang kaum muslimin masuk ke Mekah dengan menempatkan sejumlah besar tentara untuk berjaga-jaga.
Akhirnya diadakanlah Perjanjian Hudaibiyah antara Madinah dan Mekah, yang isinya antara lain:
Kedua belah pihak baiklah untuk melaksanakan gencatan senjata selama 10 tahun. Bila ada pihak Quraisy yang menyeberang ke pihak Muhammad, ia harus dikembalikan.

Tetapi bila ada pengikut Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam yang menyeberang ke pihak Quraisy, pihak Quraisy tidak harus mengembalikannya ke pihak Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam.
Tiap kabilah bebas melaksanakan perjanjian baik dengan pihak Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam maupun dengan pihak Quraisy.

Kaum muslimin belum boleh mengunjungi Ka’bah pada tahun tsb, tetapi ditangguhkan hingga tahun diberikutnya.
Jika tahun depan kaum muslimin memasuki kota Mekah, orang Quraisy harus keluar lebih dulu. Kaum muslimin memasuki kota Mekah dengan tidak diizinkan membawa senjata, kecuali pedang di dalam sarungnya, dan tidak boleh tinggal di Mekah lebih dari 3 hari 3 malam

Tujuan Membuat Perjanjian

Tujuan Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam membuat perjanjian tsb sebenarnya yaitu berusaha merebut dan menguasai Mekah, untuk kemudian dari sana menyiarkan Islam ke daerah-daerah lain. Ada 2 faktor utama yang mendorong kebijaksanaan ini:
Mekah yaitu sentra keagamaan bangsa Arab, sehingga dengan melalui konsolidasi bangsa Arab dalam Islam, diharapkan Islam sanggup tersebar ke luar.

Apabila suku Quraisy sanggup diislamkan, maka Islam akan memperoleh pinjaman yang besar, lantaran orang-orang Quraisy mempunyai kekuasaan dan imbas yang besar di kalangan bangsa Arab.
Setahun kemudian ibadah haji ditunaikan sesuai perjanjian. Banyak orang Quraisy yang masuk Islam sehabis menyaksikan ibadah haji yang dilakukan kaum muslimin, disamping juga melihat kemajuan yang dicapai oleh masyarakat Islam Madinah.
Penyebaran Islam ke negeri-negeri lain

Gencatan senjata dengan penduduk Mekah memdiberi peluang kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam untuk mengalihkan perhatian ke aneka macam negeri-negeri lain sambil memikirkan bagaimana cara mengislamkan mereka.
Salah satu cara yang ditempuh oleh Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam kemudian yaitu dengan mengirim utusan dan surat ke aneka macam kepala negara dan pemerintahan. di antara raja-raja yang dikirimi surat oleh Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam yaitu raja Gassan dari Iran, raja Mesir, Abessinia, Persia, dan Romawi. Memang dengan cara itu tidak ada raja-raja yang masuk Islam, namun setidaknya risalah Islam sudah hingga kepada mereka.

Reaksi para raja itu pun ada yang menolak dengan baik dan simpatik sambil mempersembahkan hadiah, ada pula yang menolak dengan kasar.
Raja Gassan termasuk yang menolak dengan kasar. Utusan yang dikirim Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam dibunuhnya dengan kejam. Sebagai jawabanan, Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam kemudian mengirim pasukan perang sebanyak 3.000 orang dibawah pimpinan Zaid bin Haritsah. Peperangan terjadi di Mu’tah, sebelah utara Semenanjung Arab.

Pasukan Islam mendapat kesusahan menghadapi tentara Gassan yang mendapat menolongan eksklusif dari Romawi. Beberapa syuhada gugur dalam pertempuran melawan pasukan berkekuatan ratusan ribu orang itu. di antara mereka yang gugur yaitu Zaid bin Haritsah sendiri, Ja’far bin Abi Thalib, dan Abdullah bin Abi Rawahah.
Melihat kekuatan yang tidak seimbang itu, Khalid bin Walid, bekas panglima Quraisy yang sudah masuk Islam, mengambil alih komando dan memerintahkan pasukan Islam menarikdanunik diri dan kembali ke Madinah. Perang melawan tentara Gassan dan pasukan Romawi ini disebut dengan Perang Mu’tah.