Agama

Agama

Kebohongan - kebohongan Iran dan syi'ah

Kebohongan – kebohongan Iran dan syi’ah

Kebohongan – kebohongan Iran dan syi’ah

Kebohongan - kebohongan Iran dan syi'ah
Kebohongan – kebohongan Iran dan syi’ah

Kalau tidak hobi dusta bukan syi’ah namanya

…wong taqiyyah (berdusta) merupakan aqidah yang prinsipil bagi kaum syi’ah. Ternyata Imam Syafi’i rahimahullah telah mewanti-wanti sejak jauh-jauh hari bahwasanya syi’ah memang hobinya suka berdusta.

Al-Imam Asy-Syafii berkata :
لَمْ أَرَ أَحَدًا أَشْهَدَ بِالزُّورِ مِنَ الرَّافِضَةِ
“Aku tidak melihat seorangpun yang paling bersaksi dusta lebih dari para Rofidhoh” (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam As-Sunan al-Kubro no 21433)

Yang menyedihkan adalah berita dusta yang disebarkan syi’ah ini disambut dan ikut disebarkan pula oleh banyak kaum yang mengaku aswaja…. Sejak dahulu hingga saat ini banyak dusta konyol yang disebarluaskan tentang kaum wahabi. Orang yang berakal sehat tentunya tatkala membaca dusta-dusta konyol itu akan tertawa dan dipenuhi tanda tanya akan kebenarannya.
Tuduhan-tuduhan dusta terhadap Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah
Sungguh terlalu banyak tuduhan dusta yang ditempelkan kepada sosok Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah. Diantara tuduhan-tuduhan dusta tersebut adalah : Beliau dituduh mengkafirkan seluruh kaum muslimin yang tidak mengikutinya. Ini tentunya tuduhan dusta yang telah beliau bantah dalam tulisan-tulisannya. Sebagai bukti : Kerajaan Arab Saudi yang meneruskan dakwah beliau ternyata tidak mengkafirkan para jama’ah haji yang berjuta-juta datang setiap tahunnya. Jika para jama’ah haji dianggap kafir dan musyrik tentunya mereka adalah najis dan tidak boleh menginjak tanah Haram di Mekah. Bahkan kenyataannya kerajaan Arab Saudi justru terus meningkatkan pelayanan kepada para jama’ah haji.

Beliau (Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah)

dituduh melarang bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tentunya ini merupakan tuduhan dusta. Justru beliau menganjurkan untuk bershalawat. Bahkan salah seorang ulama yang menjadi sumber inspirasi beliau yaitu Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah (murid Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah) telah menulis sebuah buku khusus tentang keutamaan bersholawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berjudul جَلاَءُ الأَفْهَامِ فِي فَضْلِ الصَّلاَةِ عَلَى خَيْرِ الأَنَامِ. Yang mungkin beliau larang adalah sholawat-sholawat bid’ah yang berisi makna-makna yang menyimpang. Seperti sholawat Faatih yang dipopulerkan oleh Toriqoh At-Tijaaniyah, yang keutamaan membaca shalawat ini sekali saja seperti mengkhatamkan Al-Quran 6000 kali menurut anggapan mereka. Beliau dituduh membenci ahlul bait (keluarga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Ini merupakan kedustaan, bahkan beliau memberi nama anak-anak beliau dengan nama-nama ahlul bait. Diantara nama anak-anak beliau adalah Hasan, Husein, Ali, Ibrahim, Abdullah, abdulaziz, Fatimah.

Tentunya seorang yang berakal tidak akan memberi nama anaknya dengan nama orang yang ia benci akan tetapi justru sebaliknya ia akan memberinya nama dengan nama orang yang ia cintai. Beliau dituduh melarang ziarah kuburan, padahal beliau sangat menganjurkan ziarah kuburan karena ziarah kuburan merupakan sunnah yang sangat dianjurkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengingat akhirat dan mendoakan penghuni kuburan. Akan tetapi yang beliau larang adalah ziarah kuburan yang di dalamnya ada praktek perkara-perkara yang menyelisihi sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti meminta atau beristighotsah kepada mayat penghuni kuburan, atau beribadah di kuburan, karena hal ini menyelisihi dan melanggar sabda-sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau dituduh mengaku seorang nabi. Ini merupakan kedustaan terkonyol yang pernah disampaikan oleh Ahmad Zaini Dahlan yang dengki kepada dakwah beliau. Tuduhan-tuduhan ini sering disampaikan oleh kaum yang mengaku aswaja…., semoga Allah mengembalikan mereka kepada jalan yang lurus sehingga benar-benar menjadi aswaja yang sesungguhnya.

Tidak diragukan lagi bahwasanya syi’ah sangat berperan dalam merusak citra kaum wahabiyah. Mereka tidak sungkan-sungkan, tidak ragu-ragu untuk menyebarkan kedustaan tentang kaum wahabiyah. Justru penyebaran dusta ini adalah ibadah yang agung menurut mereka !!!

Ada beberapa dusta yang akhir-akhir ini tersebar di dunia internet tentang Arab Saudi, yang setelah diteliti ternyata sumber berita-berita dusta tersebut berasal dari sumber kantor berita Iran : FarsNews.com

Fars News Agency

merupakan corong berita pemerintah Iran yang sering menyebarkan berita-berita dusta. Diantara kedustaan yang sangat menghebohkan dunia internasional adalah :

Pada tahun ini televisi Iran sengaja merubah terjemahan pidato Presiden Mesir, Muhammad Mursi, yang disampaikan dalam bahasa Arab. Mursi mengutuk pemerintah Suriah atas pembantaian terhadap rakyatnya dan mengajak dunia untuk membantu masyarakat Suriah menuju kebebasan dan kebangkitan. Namun pidato tersebut diubah oleh Telivisi Iran dengan terjemahan bahasa Persia, agar hendaknya dunia membantu masyakarat Bahrain merdeka dari pemerintah mereka. Ternyata perubahan dengan sengaja ini terjadi berulang-ulang, bahkan diberitakan oleh beberapa corong sumber berita Iran. Ini merupakan kedustaan yang sangat memalukan !!!

Sebagaimana kita ketahui, Suriah merupakan sekutu Iran, baik dalam ideologi Syi’ah maupun pandangan politiknya. Sedangkan Bahrain adalah negara Ahlussunnah atau Sunni dan masyarakat yang memberontak adalah Syi’ah. Oleh karena itu, telivsi Iran memelesetkan terjemahan pidato Presiden Mesir agar pengaruh Teheran di dunia Arab kian kuat. Simak video perubahan pidato tersebut.

Baca Juga:

Toleransi dalam Islam

Toleransi dalam Islam

Toleransi dalam Islam

Toleransi dalam Islam
Toleransi dalam Islam

 

Toleransi dalam Islam

ketika dihadapkan pada situasi saat ini ketika Islam dihadapkan pada banyaknya kritikan bahwa Islam adalah agama intoleran, diskriminatif dan ekstrem. Islam dituduh tidak memberikan ruang kebebasan beragama, kebebasan berpendapat, sebaliknya Islam sarat dengan kekerasan atas nama agama sehingga jauh dari perdamaian, kasih sayang dan persatuan.
Memang tidak dapat dipungkiri kesimpulan keliru oleh para pengkritik Islam tersebut terbentuk dari fakta-fakta sebagian kecil umat Islam yang melakukan tindakan yang mengatasnamakan jihad Islam yang tidak tepat. Tetapi meski demikian kita akui juga bahwa kekuasaan yang sewenang-wenang yang diterapkan oleh negara-negara adidaya terhadap negara-negara miskin dan negara berkembang serta standar ganda yang mereka terapkan ketika terjadi kesepakatan antara mereka dengan negara-negara berkembang yang juga termasuk negara-negara Islam- adalah penyebab alami reaksi kekerasan yang timbul. Tentu saja ini bukanlah cara-cara Islam dan benar-benar bertentangan dengan ajaran Islam.

Islam adalah

agama yang mengajarkan untuk menghormati para utusan Allah, meyakini bahwa mereka adalah para utusan Allah yang benar yang bertugas menyampaikan ajaran-ajaran yang benar sesuai dengan situasi pada masing-masing zaman. Dari hal ini bagaimana mungkin bisa dikatakan bahwa agama seperti ini tidak mengajarkan toleransi terhadap agama lain? Bagaimana bisa dikatakan agama Islam tidak mengajarkan persatuan dan kerukunan dengan agama lain? Bagaimana bisa agama Islam mengajarkan kebiasaan intoleransi agama dan menganjurkan hidup dengan orang lain tanpa cinta dan kasih sayang? Tidak mungkin. Menyatakan bahwa dalam agama Islam tidak ada nilai-nilai kesabaran dan kebebasan berpendapat atau berbicara adalah suatu tuduhan yang tidak berdasar.

Baca Juga: Doa sebelum belajar

Kata makna Islam sendiri mengandung makna antidote dari kekejaman, disharmonisasi dan intoleransi. Salah satu artinya adalah damai, penyerahan diri dan ketataatan, dan juga berarti menciptakan kerukunan dan perdamaian. Salah satu makna lainnya adalah menghindari orang yang menyakiti, arti lainnya adalah hidup bersama secara harmonis. Tujuan dari penjelasan tentang kata Islam yang diberikan oleh Allah taala pada agama Islam ini adalah karena seluruh ajaran-ajaran dan hukum-hukum yang dibawa oleh Rasulullah saw penuh dengan cinta, Toleransi, kesabaran, dan kebebasan hati nurani dan berbicara dan hak untuk mengungkapkan pendapat.

Selanjutnya lihatlah bagaimana Rasulullah saw mengajarkan kepada kita semua tentang semangat toleransi, kebebasan beragama dan berkeyakinan

Ketika Rasulullah (saw) mengklaim bahwa beliau adalah utusan Allah dan atas bimbingan Allah taala menyatakan bahwa beliau adalah seorang nabi dengan membawa syariat terakhir dan satu-satunya sarana keselamatan adalah dengan menerima Islam dan menyesuaikan diri dengan perintah-perintah Allah yang Mahakuasa – pengumuman ini kemudian dibuat oleh Allah yang Mahakuasa:

Dan katakanlah, “Inilah kebenaran dari Tuhan-mu; maka barangsiapa menghendaki, maka berimanlah, dan barangsiapa menghendaki, maka ingkarlah.” ( Q.S 18: 30 ) Selanjutnya, adalah urusan Allah taala sendiri untuk memberi balasan pada orang yang tidak beriman, di dunia maupun diakhirat. Oleh karena itu, wahai Nabi dan wahai orang-orang yang beriman pada nabi ini, tugas kalian hanyalah menyampaikan pesan tersebut. Untuk kepentingan menciptakan lingkungan yang penuh cinta dan kasih sayang serta toleransi, kalian harus menyebarkan pesan ini dengan penuh kebaikan. Karena Anda yakin bahwa dengan ajaran Tuhan yang diberikan kepadamu, agama kalian adalah benar dan berdasarkan pada kebenaran, Ini adalah persyarakat bagi terciptanya kebaikan bagi orang lain, bahwa apa yang kalian anggap benar untuk diri kalian, kalian harus menyebarkannya juga pada seluruh umat manusia dan juga melibatkan mereka dalam perintah ini.

Mungkin bisa saja orang lain akan mengajukan keberatanan seperti ini bahwa pilihan untuk beriman atau tidak beriman yang diberikan kepada orang-orang Mekah itu diberikan pada saat posisi umat Islam masih sangat lemah. Maka kalimat itulah yang dipergunakan sehingga orang-orang kafir Mekkah tidak membinasakan umat Islam secara kejam.

Keberatan ini adalah argumen yang lemah. Walaupun adanya perintah ini, Kaum kafir Makkah tidak berhenti dalam hal kekejaman mereka terhadap umat Islam. Mereka menganiaya orang Islam disebabkan karena keimanan umat Islam. Beberapa diletakkan diatas batu yang membara, beberapa lainnya disuruh berbaring diatas pasir yang panas dibawah terik matahari siang. Beberapa mereka diikat kakinya pada dua unta dan unta tersebut ditunggangi ke arah yang berlawanan yang menyebabkan kaki orang Islam terpotong menjadi dua bagian. Bahkan wanita-wanita yang dipukuli tidak terhindar dari penyiksaan ini. Jadi jika ayat sebelumnya yang saya kutip dimaksudkan untuk menyelamatkan umat Islam dari kekejaman, maka sejarah membuktikan bahwa hal itu tidak mengarah pada tujuan itu. Perintah ini tidak terbatas pada saat itu saja tapi hal itu juga berlaku dalam Quran Suci untuk saat ini.

Tidak tahan dengan kekejaman yang ditimbulkan oleh orang-orang sebangsa sendiri, kaum Muslim hijrah ke Madinah. Setelah kedatangan mereka perjanjian dibuat dengan orang-orang Yahudi Madinah yang bukan Islam pada saat itu, yang menunjukkan bagaimana masyarakat bisa hidup bersama dan tetap bebas, dan menunjukkan bagaimana hak-hak satu sama lain diperhatikan.

Namun sebelum itu ajaran Alquran suci menyatakan:

‘Tidak boleh ada paksaan dalam agama.” ( Q.S 2: 257 )
Perintah ini diturunkan di Madinah. Pada saat itu mayoritas penduduk Madinah telah menjadi Muslim, sebagian lagi adalah orang-orang yang tidak tertarik pada agama dan mereka bergabung dengan kaum Muslim seperti burung-burung pada kawanan yang sama. Bila dilihat dari sudut pandang ini, penduduk Muslim mewakili mayoritas. Di sisi lain orang-orang Yahudi yang berkuasa sebelum kedatangan Rasulullah ke madinah sekarang mereka telah berkurang dan menjadi minoritas. Sebagai konsekuensinya, dengan menjadi Kepala Negara, pemerintahan Rasulullah (saw) telah terbentuk dengan kuat. Meskipun demikian perintah tersebut menyatakan bahwa “Kalian tidak akan menggunakan paksaan dalam agama, juga tidak akan menggunakan kekuatan terhadap orang-orang lemah walaupun mereka bukan Islam yang telah bergabung dengan kalian sebagai kawan dan saudaramu, atau tidak akan menggunakan kekuatan terhadap orang Yahudi yang hidup di bawah wilayah kalian. ’

Anda sekalian dapat melihat dari Perjanjian yang disusun, bagaimana suasana cinta dan kasih sayang, kebebasan beragama dan toleransi tercipta. Perjanjian itu berbunyi sebagai berikut:
Umat Islam dan Yahudi akan hidup bersama satu sama lain dalam kebaikan dan ketulusan dan tidak akan melakukan perbuatan yang berlebihan atau kekejaman apapun terhadap satu sama lain.
Orang-orang Yahudi akan terus menjaga iman mereka sendiri dan umat Islam dengan imannya;
Kehidupan dan hak milik semua warga negara harus dihormati dan dilindungi keamanannya dalam kasus kejahatan yang dilakukan oleh seseorang

Semua perselisihan akan mengacu keputusan Nabi Allah karena dia memiliki otoritas yang menentukan, tetapi semua keputusan yang menyangkut pribadi akan didasarkan pada aturan masing-masing.

Dan, tentu saja, ada poin-poin lainnya dalam perjanjian ini selain keempat poin yang dikutip tersebut. Sekarang coba lihat upaya apa yang telah digunakan untuk membangun keadaan masyarakat yang penuh kebebasan dan kasih sayang. Pada waktu itu tidak ada hukum nasional. Setiap orang hidup sesuai dengan tradisi dan hukum klan atau suku. Nabi Muhammad (saw) tidak mengatakan bahwa Anda adalah minoritas, tetapi memang benar bahwa, Anda harus mematuhi undang-undang mayoritas Islam. Sebaliknya, kondisi dari Perjanjian itu adalah bahwa urusan Anda akan ditentukan berdasarkan undang-undang Anda sendiri. Ini adalah Piagam pertama kebebasan hati nurani dan berkeyakinan dalam Islam.

Ustman bin Affan

Ustman bin Affan

Ustman bin Affan ( 47 SH – 35H / 577 – 656 M)Ustman bin Affan

Khalifah Ustman mengikuti kebijakan yang ditetapkan oleh Umar. Usman mengurangi jumlah zakat dari pensiun. Tabri menyebutkan ketika khalifah Ustman menaikkan pensiun sebesar seratus dirham, tetapi tidak ada rinciannya.Beliau menambahkan santunan dengan pakaian. Selain itu ia memperkenalkan kebiasaan membagikan makanan di masjid untuk orang-orang miskin dan musafir.

Zakat ditetapkan 2,5 persen dari modal aset. Ghanimah yang didapatkan dibagi 4/5 kepada para prajurit yang ikut andil dalam perang sedangkan 1/5-nya disimpan sebagai kas negara.

  1. All bin Abi Thalib (23H – 40H / 600 – 661 M )

Pada masa pemerintahan Ali, beliau mendistribusikan seluruh pendapatan provinsi yang ada di Baitul Mall Madinah , Busra, dan Kuffah. Ali ingin mendistribusikan sawad, namun ia menahan diri untuk menghindari terjadi perselisihan.Secara umum, banyak kebijakan dari khalifah Ustman yang masih diterapkan, seperti alokasi pengeluaran yang tetap sama

Sumber :

https://veragibbons.com/

Syarat-syarat lafaz khulu’

Syarat-syarat lafaz khulu’

Syarat-syarat lafaz khulu’

Syarat-syarat lafaz khulu’
Syarat-syarat lafaz khulu’

 

Para ulama mazhab menjelaskan lafaz dan syarat-syarat khulu’ secara terperinci

Mazhab Hanafi

kami telah menyampaikan kepada anda bahawa lafaz talak terdiri dari tujuh. Dan yang terpenting saat ini adalah mempelajari hukum yang berhubungan dengan setiap lafaz tersebut dimana sahnya setiap lafaz tersebut tergantung kepada kesepakatan isteri ia juga harus mengetahui makna khulu’ sementara jika seorang isteri menawarkan khulu’ dengan bahasa asing, sementara suami menerimanya tanpa mengetahui kalimat tersebut adalah khulu’ maka jatuhlah talak ba’in. perlu diketahui bahawa khulu’ bagi pihak lelaki adalah sumpah jika ia memulai khulu’ dengan berkata: aku mengkhulu’mu dengan bayaran seratus maka ia tidak memiliki hak untuk merujuk ucapannya, ia juga tidak memiliki hak membatalkan atau melarang isteri untuk menerimanya. Dan ia harus menyerahkan sepenuhnya kepada persetujuan isteri.

Sementara khulu’ bagi pihak wanita adalah ganti rugi harta kerana ia memberikan sejumlah harta kepada suami yang menjatuhkan talak. Demikianlah makna pemberian ganti rugi diantara kedua belah pihak dimana pihak pertama memberikan sejumlah harta dengan jalan kepemilikan, sementara pihak kedua memberi harta sebagai pengganti kepemilikan harta trsebut. Jika keadaannya demikian maka suami boleh merujuk kembali khulu’ tersebut sebelum isteri menerimanya.

Mazhab Maliki

ada tiga syarat lafaz khulu’ diantaranya:

1- Harus memiliki lafaz iaitu dengan mengucapkan kalimat yang menunjukkan makna talak sama sahaja apakah dengan lafaz sindiran atau yang jelas
2- Penerimaan tersebut dilakukan dalam satu majlis kecuali jika suami menggantungkan khulu’ tersebut dengan suatu pelaksanaan.
3- Antara hubungan ijab Kabul terdapat pemberian sejumlah harta sesuai dengan kesepakatan

Mazhab Syafi’e

lafaz khulu’ adalah setiaplafaz yang menunjukkan talak sama sahaja apakah diucapkan dengan lafaz jelas atau sindiran dan adapun contoh lafaz kinayah adalah lafaz menjual dan membatalkan, jika suami berkata kepada isteri: Aku menjual dirimu untukmu seharga seribu sementara ia berniat menjatuhkan talak lalu isteri menjawab: Aku menerimanya maka lafaz ini disebut sebagai khulu’ yang menyebabkan hak rujuk hilang, sementara ia wajib membayar ganti rugi. Hal serupa jika suami berkata: Aku menfasakh nikahmu dengan harga seribu, lafaz fasakh ini menyebabkan jatuhnya talak sehingga bilangannya berkurang. Adapun contoh lafaz talak yang sarih adalah khulu’ adalah ketika isteri berkata: Ceraikan aku dengan ganti rugi dua puluh, lalu suami berkata: aku menceraikanmu dengan bayaran tersebut maka lafaz ini menyebabkan jatuhnya talak ba’in dengan lafaz yang jelas (sarih) yang dapat menyebabkan talak jatuh tanpa niat jika ia berniat menjatuhkan talak lebih dari satu maka yang dihitung adalah niat tersebut.

Mazhab Hanbali

adapun syarat lafaz khulu’ adalah:

1- Harus terdiri dari lafaz dengan demikian khulu’ tidak sah jika dilakukan dengan isyarat saling memahami walaupun diiringi dengan niat akan tetapi ia harus diiringi dengan lafaz ijab dan qabul
2- Ijab dan qabul disebutkan dalam satu majlis, jika suami berkata kepada isteri: Aku mengkhulu’mu dengan bayaran seperti ini kemudian ia pergi dari majlis tersebut sebelum isteri menerimanya maka khulu’ seperti ini tidak sah, demikian pula jika yang lebih dahulu pergi adalah isteri sebelum menerimanya.
3- Tidak boleh menambahkan lafaz khulu’ dengan bahagian tubuh wanita, jika suami berkata kepada isteri: Aku mengkhulu’ tanganmu atau kakimu seperti ini, lalu ia menerimanya maka lafaz ini dianggap tidak ada kerana khulu’ adalah fasakh bukan talak. Sementara menambahkan ucapan yang menunjukkan fasakh kepada bahagian tubuh wanita tidak dapat dijadikan sebagai landasan hukum berbeza dengan talak.
4- Lafaz tidak digantungkan kepada syarat jika suami berkata kepada isteri: Jika engkau bersungguh-sungguh kepadaku seperti ini maka aku telah mengkhulu’mu maka lafaz ini tidak dapat menjatuhkan khulu’ berbeza dengan talak yang boleh digantungkan kepada syarat.

Baca Juga:

Pembahasan rujuk dan pengertiannya

Pembahasan rujuk dan pengertiannya

Pembahasan rujuk dan pengertiannya

 

Pembahasan rujuk dan pengertiannya
Pembahasan rujuk dan pengertiannya

Ar Raj’atun dengan menfatahkan huruf ra menurut riwayat dikasrahkan akan tetapi sebahagian ahli bahasa mengingkari lafaz kasrahnya kerana dengan lafaz ini memiliki makna bentuk sebagaimana yang dikatakan Ibnu Maliki dan perbuatan yang dilakukan satu kali saja seperti halnya kalimat jilsatun dan perbuatan dalam satu bentuk seperti jilsatun, hal ini tidak boleh dinafikan bahawa maknanya adalah salah satu bentuk rujuk akan tetapi hal ini sering sekali didengar. Jika pemakaiannya didengar dengan mengkasrahkan satu kali maka menurut bahasa ia dianggap benar

Mazhab Hanafi – Ar Raj’ah adalah

menetapkan hak kepemilikan secara parmanen tanpa ganti rugi selama seorang wanita masih dalam masa ‘idah. Adapun maksud perkataannya: menetapkan hak kepemilikan: bahawa kepemilikan tersebut adalah hak isteri dan dibimbangkan dapat hilang dengan habisnya ‘idah talak raj’i. Dengan demikian rujuk dapat menghilangkan keraguan tersebut sementara memparmanenkan kepemilikan dapat dilakukan selamanya. Oleh sebab itu ia berkata: kepemilikan parmanen kerana kepemilikan tersebut ada kerana talak raj’i belum terputus dan adapun maksud firman Allah: “dan anak-anak mereka lebih berhak untuk mengembalikan mereka”, maksudnya adalah isteri-isteri mereka lebih berhak untuk merujuk mereka dengan demikian al-Raddah memiliki makna rujuk. Dimana seseorang mempamanenkan kembali kepemilikannya bukan beerti maknanya mengembalikan kepemilikan yang hilang sebagaimana yang dilakukan seseorang ketika kehilangan hak miliknya. Walaupun pada hakikatnya ia tidak hilang dengan perbuatan.

Mazhab Maliki – rujuk adalah

kembalinya isteri yang ditalak kepada hak suami tanpa harus melakukan akad baru lagi. Adapun maksud perkataannya: Tanpa melakukan akad baru lagi: kalimat ini tidak termasuk kembalinya isteri yang telah ditalak ba’in dengan akad baru kerana hal ini tidak dinamakan sebagai bentuk rujuk. Akan tetapi perbuatan ini dinamakan terjalinnya hubungan suami isteri kembali kerana hubungan ini tergantung kepada keredhaan kedua belah pihak.

Menurut sebahagian menyatakan bahawa jika talak rujuk terjadi maka mereka diharamkan bertemu dan bercumbu tanpa niat rujuk dan jika seseorang berniat rujuk maka hukum haram berhubungan tersebut telah hilang kerana pada hakikatnya mereka telah rujuk kembali. Demikian pula jika seorang suami menjatuhkan talak bid’ah sementara ia tidak redha dengan rujuknya, maka hakim berhak memaksa mereka untuk rujuk dengan demikian haramnya bercumbu bagi mereka terangkat.

Mazhab Syafi’e – rujuk adalah

mengembalikan wanita kedalam ikatan pernikahan yang telah ditalak selama penceraian tersebut belum sampai kepada talak ba’in dan masih dalam masa ‘idah. Maksudnya adalah bahawa talak raj’I memyebabkan isteri tersebut haram bagi suami dan sama seperti orang lain. Bahkan ia tidak berhak mencumbuinya tanpa izin isteri tersebut dengan kepemilikannya terhadap isteri berkurang. Dengan demikian rujuk adalah: kembalinya seorang wanita kepada ikatan pernikahan secara utuh sehingga ia boleh dicumbui dan ini adalah pendapat yang lebih hasan

Mazhab Hanbali – rujuk adalah

mengembalikan isteri yang ditalak kepada hak suami tanpa akad nikah selama ia diceraikan diluar talak ba’in. Ini merupakan define yang lengkap dan tidak seorangpun yang menentangnya. Akan tetapi ulama Hanbali berkata: bahawa terkadang rujuk dilakukan dengan lafaz tertentu atau dengan persetubuhan sama sahaja dilakukan dengan niat rujuk atau tidak.

Sumber: dutadakwah.org

Pinjaman dari anggota

Pinjaman dari anggota

Pinjaman dari anggota

Pinjaman yang bersal dari anggota koperasi dapat disamakan dengan simpanan sukarela anggota kalau dalam simpanan sukarela, maka besar kecil darui nilai yang disimpan tergantung dari kerelaan masing-masing anggota. Sebaliknya dalam pinjaman koperasi meminjam senilai uang atau yang dapat dinilai dari uang yang berasal dari anggota; sedangkan besar kecil pinjaman tergantung dari kesanggupan anggota dan kebutuhan modal yang diperlukan oleh koperasi. Pinjaman yang diperoleh dari anggota ini bukan merupakan modal sendiri dan wajib dikembalikan kepada anggota bersangkutan sebagaimana layaknya pinjaman atau utang.

  • Pinjaman dari koperasi lain

Pada dasarnya diawali dengan adanya kerjasama yang dibuat oleh sesame bandan usaha koperasi untuk saling membantu dalam bidang kebutuhan modal. Bentuk dan lingkup kerjasama yang dibuat bisa dalam lingkup yang luas atau dalam lingkup yang sempit, tergantung dari kebutuham modal yang diperlukan.

  • Pinjaman dari Lembaga Keuangan

Untuk mendapatkan pinjaman dari lembaga keuangan (baik lembaga bank maupun non bank), ada persyaratan-persyaratan komersial bisnis perbankan yang harus dipenuhi oleh koperasi namun di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, pinjaman komersial dari lembaga keuangan utuk badan usaha koperasi mendapat prioritas dalam persyaratan.

  • Obligasi dan Surat Utang

Untuk menambah modal, koperasi dapat menjual obligasi atau surat utang kepada masyarakat investor, maksudnya untuk mencari dana segar dari masyarakat umum diluar anggota koperasi. Mengenai persyaratan-persyaratan untuk menjual obligasi dan surat utang diatur dalam ketentuan otoritas pasar modal yang ada.

  • Sumber keuangan lain

Semua sumber keuangan, kecuali sumber keuangan yang berasal dari dana yang tidak sah, dapat dijadikan tempat untuk meminjam modal. Sumber-sumber yang mempunyai dana tersebut misalnya lembaga-lembaga yang dibentuk untuk memupuk dana diluar lembaga keuangan; asuransi, dana pensiun, dan lain-lain.

Pos-Pos Terbaru

Pengertian Gastronomi/ Tataboga

Pengertian Gastronomi/ Tataboga

Gastronomi atau tata boga adalah seni, atau ilmu akan makanan yang baik (good eating). Penjelasan yang lebih singkat menyebutkan gastronomi sebagai segala sesutu yang berhubungan dengan kenikmatan dari makan dan minuman Sumber lain menyebutkan gastronomi sebagai studi mengenai hubungan antara budaya dan makanan, di mana gastronomi mempelajari berbagai komponen budaya dengan makanan sebagai pusatnya (seni kuliner). Hubungan budaya dan gastronomi terbentuk karena gastronomi adalah produk budidaya pada kegiatan pertanian sehingga pengejawantahan warna, aroma, dan rasa dari suatu makanan dapat ditelusuri asal-usulnya dari lingkungan tempat bahan bakunya dihasilkan.
Gastronomi di Indonesia terbentuk dari perpaduan budaya serta makanan dari India, Timur Tengah, Cina, dan bangsa Eropa seperti Portugis dan Belanda. Makanan pokok di Indonesia adalah nasi kecuali di Maluku dan Irian Jaya di mana sagu, kentang, dan singkong lebih umum. Seperti negara-negara di daerah Asia Tenggara, makanan lauk pauk di Indonesia disajikan lebih sedikit dibandingkan dengan makanan pokoknya. Ciri khas yang lain adalah adanya sambal yang memberi cita rasa pedas bagi kebanyakan makanan Indonesia.
Pada awalnya, budaya dan masakan India yang sangat berpengaruh di Indonesia contohnya ada pada penggunaan bumbu-bumbu seperti jinten, ketumbar, jahe, dan kare yang sering disajikan dengan santan. Setelah itu, pengaruh pedangang dari Arab pun ikut memperkaya masakan Indonesia seperti masakan sate yang terinspirasi dari masakan arab yaitu Kebab, begitu juga halnya dengan masakan yang menggunakan daging kambing. Tidak hanya pedagang Arab, para pedagang dari Cina juga membawa bahan pangan dari negara mereka seperti mi, kacang kedelai, dan berbagai macam sayuran.

Ditinjau dari segi gastronomi praktis, beberapa masakan khas Indonesia dikaitkan dengan perayaan tertentu seperti perayaan agama. Contohnya pada saat hari raya Lebaran yang dirayakan oleh umat Muslim, masakan menggunakan ketupat adalah masakan yang umum disajikan. Sementara, di saat “Selamatan”, yaitu tradisi berdoa sebelum kegiatan tertentu seperti pernikahan atau membangun rumah, tumpeng atau nasi kuning yang dibentuk seperti kerucut disajikan. Pada Hari Raya Nyepi yang dirayakan umat Hindu biasanya disajikan kue kering dan manisan. Pada perayaan Hari Kemerdekaan, ada budaya untuk mengadakan lomba memakan kerupuk udang untuk anak-anak dan lomba membuat tumpeng bagi para wanita.

Pos-Pos Terbaru

Pengertian Ijtihad

Pengertian Ijtihad

Pengertian Ijtihad

 

Pengertian Ijtihad

Latar Belakang

Syariat Islam sebagai sumber hukum Islam merupakan sebuah kaidah tatanan kehidupan bagi umat muslim pada khususnya dan umat manusia pada umumnya yang diberikan oleh Allah SWT. Karena kedudukannya sebagai kaidah langsung dari Allah tersebut, dalam pelaksanaannya, manusia baik disadari maupun memerlukan penafsiran akan kaidah-kaidah tersebut. Hal ini tidak lain karena syariat Islam sebagai “hukum Tuhan” akan sulit dicerna oleh manusia yang kemampuannya terbatas, sehingga untuk dapat mengaplikasikannya maka diperlukan penafsiran-penafsiran yang tepat dan sesuai.

Ijtihad merupakan kunci untuk menyelesaikan problem yang dihadapi oleh umat Islam sekarang dan yang akan datang, hal inilah yang membuat Islam dinamis, sesuai dengan tempat dan zaman.

Ijtihad muncul disebabkan karena adanya masalah-masalah yang kontemporer dimana nash-nash atau dalil tidak membicarakannya secara khusus.

Makalah ini bermaksud membahas terhadap salah satu keilmuan Islam yaitu metode ijtihad dilihat dari sudut pandang epistemologinya. Yakni tentang strukrtur, metode, dan cara kerja ilmu fiqih ini.

 

 

Pengertian Ijtihad

Pengertian “ijtihad” menurut bahasa ialah mengerahkan segala kesanggupann untuk mengerjakan sesuatu yang sulit. Menurut konsepsi ini kata ijtihad tidak diterapkan pada “pengerjaan sesuatu yang mudah atau ringan”. Kata ijtihad berasal dari bahasa Arab ialah daei kata “al-jahdu” yang berarti “daya upaya atau usaha yang keras”.

Ijtihad berarti “berusaha keras unutk mencapai atau memperoleh sesuatu”. Dalam kaitan ini pengertian ijtihad : adalah usaha maksimal dalam melahirkan hukum-hukum syariat dari dasar-dasarnya melalui pemikiran dan penelitian yang sungguh-sungguh dan mendalam.

Ijtihad menurut definisi ushul fiqih yaitu pengarahan segenap kesanggupan oleh seorang ahli fiqih unutk memperoleh pengetahuan tentang hukum-hukum syara’ dan hukum syara’ menunjukan bahwa ijtihad hanya berlaku di bidang fiqih, bidang hukum yang berkenaan dengan amal, bukan bidang pemikiran ‘amaliy dan bukan nizhariy.

Pengertian-pengertian di atas jelas memberikan pandangan yang mendasar bahwa ijtihad adalah usaha sungguh-sungguh dan mendalam yang dilakukan oleh individu atau sekelompok untuk mencapai atau memperoleh sesuatu hukum syariat melalui pemikiran yang sungguh-sungguh berdasarkan dalil naqli yakni Al Quran dan Hadits.

Orang-orang yang mampu menetapkan hukum suatu peristiwa dengan jalan ini disebut Mujtahid. Mujtahid adalah orang yang mengerahkan segala daya dan upayanya untuk hal tersebut.

 

 

Hukum Ijtihad dan Pahalanya

Apabila seseorang telah mencapai tingkatan mujtahid ia wajib berijtihad sendiri atas masalah yang d hadapinya. Ia dilarang bertaqlid kepada orang lain bila ia telah mencapai hukum peristiwa yang dicarinya itu berdasar zhannya.

Oleh karena sempitnya waktu, seorang mujtahid yang belum memperoleh apa yang di ijtihadkan dianggap sah bertaqlid kepada mujtahid lain yang lebih terpercaya, baik mujtahid yang telah tiada maupun yang masih ada.

Bagi seorang mujtahid wajib berijtihad untuk orang lain bila tidak ada orang yang sanggup menetapkan hukum peristiwa yang berada pada orang lain itu dan dikhawatirkan kehabisan waktu untuk mengamalkannya. Akan tetapi, kalau masih ada mujtahid lain atau tidak ada kekhawatiran akan habisnya waktu mengamalkan peristiwa yang hendak dicari hukumnya, maka baginya berijtihad itu adalah wajib kifa’i.

Seorang mujtahid hendaklah mengamalkan hasil ijtihadnya, baik di dalam memutuskan perkara maupun di dalam memberikan fatwa. Adapun bagi mujtahid lain tidak wajib mengikutinya. Karena pendapat seseorang sepeninggal Rasulallah SAW, bukan merupakan hujjah yang harus diikuti oleh seluruh kaum muslimin. Hanya saja bagi orang awam yang tidak mempunyai kesanggupan untuk berijtihad, hendaknya mengikutinya.

Sebagai imbalan jerih payah seorang mujtahid dalam berijtihad, sekalipun ijtihadnya tidak tepat, ia akan diberi Tuhan satu pahala, akan tetapi, kalau ijtihadnya tepat dan benar ia akan dapat pahala ganda. Satu pahala sebagai imbalan jerih payahnya dan satu pahala yang lain sebagai imbalan ketepatan hasil ijtihadnya. Sabda Rasulallah SAW :

اِذَا حَكَمَ الحَاكِمُ فَاجْتَهِدُ ثُمَّ أَصَابَ فَلَهُ اَجْرَانِ وَاِذَا حَكَمَ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَخْطَاءَ فَلَهُ أَجْرٌ (رواه البخاري و مسلم)

“apabila seorang hakim memutuskan masalah dengan jalan ijtihad kemudian benar,maka ia mendapat dua pahala. Dan apabila dia memutuskan dengan jalan ijtihad kemudian keliru, maka dia mendapat satu pahala”.

 

 

Syarat-syarat ijtihad

Para ulama ushul fiqih telah menetapkan syarat-syarat yang harus dipenuhi seorang mujtahid sebelum melakukan ijtihad. Dalam hal ini Sya’ban Muhammad Ismail mengetengahkan syarat-syarat tersebut sebagai berikut :

  1. Mengetahui Bahasa Arab

Mengetahui bahasa arab dengan baik sangat diperlukan bagi seorang mujtahid. Sebab Al Quran diturunkan dengan bahasa arab, dan Al Sunnah juga dipaparkan dalam bahasa arab. Keduanya merupakan sumber utama hukum islam, sehingga tidak mungkin seseorang bisa mengistinbatkan hukum islam tanpa memahami bahasa arab dengan baik.

  1. Mempunyai pengetahuan yang mendalam tentang Al Quran

Mengetahui Al Quran dengan segala ilmu yang terkait dengannya, ini sangat diperlukan bagi seorang mujtahid. Sebab Al Quran merupakan sumber utama hukum syara’, sehingga mustahil bagi seseorang yang ingin menggali hukum-hukum syara’ tanpa memeiliki pengetahuan yang memadai tentang Al Quran.

  1. Memiliki pengetahuan yang memadai tentang Al Sunnah

Pengetahuan tentang Al Sunnah dan hal-hal yang terkait dengannya harus dimiliki oleh seorang mujtahid. Sebab Al Sunnah merupakan sumber utama hukum syara’ disamping Al Quran yang sekaligus berfungsi sebagai penjelasnya. Pengetahuan yan terkait dengan Al Sunnah ini yang terpenting antara lain mengenai dirayah dan riwayah, asbabul wurud dan al-jarh wa ta’dil.

  1. Mengetahui letak ijma’ dan khilaf

Penegetahuan tentang hal-hal yang telah disepakati (ijma’) dan hal-hal yang masih diperselisihkan (khilaf) mutlak diperlukan bagi seorang mujtahid. Hal ini dimaksudkan agar seorang mujtahid tidak menetapkan hukum yang bertentangan dengan ijma’ para ulama sebelumnya, baik sahabat, thabi’in, maupun generasi setelah itu. Oleh karena itu sebelum membahas suatu permasalahan, seorang mujtahid harus melihat dulu status persoalan yang akan dibahas,

apakah persoalan itu sudah pernah muncul pada zaman terdahulu atau belum, jika persoalan itu belum pernah muncul sebelumnya, maka dapat dipastikan bahwa belum ada ijma’ terhadap masalah tersebut.

  1. Mengetahui Maqashid al-Syariah

Pengetahuan tentang maqashid al-syariah sangat diperlukan bagi seorang mujtahid, hal ini disebabkan bahwa semua keputusan hukum harus selaras dengan tujuan syariat islam yang secara garis besar adalah untuk memberi rahmat kepada alam semesta, khususnya kemaslahatan manusia.

  1. Memiliki pemahaman dan penalaran yang benar

Pemahaman dan penalaran yang benar merupakan modal dasar yang harus dimilki oleh seorang mujtahid agar produk-produk ijtihadnya bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

  1. Memiliki pengetahuan tentang Ushul Fiqih

Penguasaan secara mendalam tentang ushul fiqih merupakan kewajiban bagi setiap mujtahid. Hal ini disebabkan bahwa kajian ushul fiqih antara lain memuat bahasan mengenai metode ijtihad yang harus dikuasai oleh siapa saja yang ingin beristinbat hukum.

  1. Niat dan I’tikad yang benar

Seorang mujtahid harus berniat yang ikhlas semata-mata mencari ridho Allah. Hal ini sangat diperlukan, sebab jika mujtahid mempunyai niat yang tidak ikhlas sekalipun daya pikirnya tinggi, maka peluang untuk membelokan jalan pikirannya sangat besar, sehingga berakibat pada kesalahan produk ijtihadnya.

 

 

Metode Ijtihad

Ada beberapa metode atau cara untuk melakukan ijtihad, baik ijtihad dilakukan sendiri-sendiri maupun bersama-sama dengan orang lain. Metode atau cara berijtihad adalah :

  1. Ijma, adalah persetujuan atau kessuaian pendapat para ahlu mengenai suatu masalah pada suatu tempat disuatu masa.
  2. Qiyas adalah menyamakan hukum suatu hal yang tidak terdapat ketentuannya di dalam Al-Quran dan As Sunnah dengan hal (lain) yang hukumnya disebut dalam Al Quran dan sunnah Rasul karena persamaan illatnya.
  3. Istidlal, menetapkan dalil suatu peristiwa.
  4. Mashlahah Mursalah, adalah cara menemukan hukum sesuatu hal yang tidak terdapat ketentuannya baik di dalam Al Quran maupun dalam kitab-kitab hadits, berdasarkan pertimbangan kemaslahatan masyarakat atau kepentingan umum.
  5. e. Istihsan, adalah cara menemukan hukum dengan cara menyimpang dari ketentuan yang sudah ada demi keadilan dan kepentingan sosial. Istihsan adalah suatu cara untuk mengambil keputusan yang tepat menurut suatu keadaan.
  6. Istihsab, adalah menetapkan hukum suatu hal menurut keadaan yang terjadi sebelumnya, sampai ada dalil yang mengubahnya.
  7. g. Urf, adalah yang tidak bertentangan hukum islam dapat dikukuhkan tetap terus berlaku bagi masyarakat yang bersangkutan.

 

 

Kehujjahan ijtihad

Jumhur ulama membolehkan ijtihad menjadi hujjah dalam menetapkan hukum berdasarkan :

1. Dalil dari Al Quran

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya).

Yang dimaksud mentaati Allah dan Rasul-Nya dalam ayat tersebut ialah mengikuti sesuatu yang telah diketahui melalui nash Al Quran dan As Sunnah. Sedang yang dimaksud dengan mengembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya bila terjadi persengketaan ialah menghindari untuk mengikuti hawa nafsu, kembali kepada apa yang telah di syariatkan Allah dan Rasul-Nya dengan meneliti nash-nash yang kadang-kadang tersembunyi atau hilang dari perhatian menerapkan qaidah-qaidah umum atau merealisir maqashidu syariah.

2. Dari hadits Rasulallah SAW

Hadits mu’adz bin jabbal R.A yang menerangkan sewaktu ia di utus ke Yaman :

قال النبى : كيف تقضي إذا عرض لك القضاء ؟

قال معاذ : أقض بكتاب الله

قال النبى : فإن لم تجد فى كتاب الله ؟

قال معاذ : فبسنة رسول الله

قال النبى : فإن لم تجد فى سنة رسول الله ؟

قال معاذ : أجتهد رأيي ولاألوا . فضرب رسول الله صلعم صدره وقال الحمد لله وفق رسول الله لما يرض الله ورسول الله

3. Menurut logika

Allah menciptakan islam sebagai penutup agama-agama dan menjadikan syariatnya cocok untuk setiap tempat dan waktu. Sebagaimana kita ketahui nash-nash dari Al Quran dan Al Hadits terbatas jumlahnya. Sedang peristiwa-peristiwa yang dihadapi para manusia selalu timbul dengan tidak terbatas. Oleh karena itu, tidak mungkin bahwa nash-nash yang terbatas jumlahnya itu mencukupi untuk menentukan peristiwa-peristiwa manusia yang sewaktu-waktu timbul dengan jumlahnya yang tidak terbatas itu, selagi tidak ada jalan untuk mengenal hukum peristiwa baru tanpa melalui ijtihad.

 

Kesimpulan

Pengertian “ijtihad” menurut bahasa ialah mengerahkan segala kesanggupann untuk mengerjakan sesuatu yang sulit. Menurut konsepsi ini kata ijtihad tidak diterapkan pada “pengerjaan sesuatu yang mudah atau ringan”. Kata ijtihad berasal dari bahasa Arab ialah daei kata “al-jahdu” yang berarti “daya upaya atau usaha yang keras”.

Ijtihad berarti “berusaha keras unutk mencapai atau memperoleh sesuatu”. Dalam kaitan ini pengertian ijtihad : adalah usaha maksimal dalam melahirkan hukum-hukum syariat dari dasar-dasarnya melalui pemikiran dan penelitian yang sungguh-sungguh dan mendalam.

Hukum berijtihad adalah wajib ain dan wajib kifayah. Sebagai imbalan jerih payah seorang mujtahid dalam berijtihad, sekalipun ijtihadnya tidak tepat, ia akan diberi Tuhan satu pahala, akan tetapi, kalau ijtihadnya tepat dan benar ia akan dapat pahala ganda. Satu pahala sebagai imbalan jerih payahnya dan satu pahala yang lain sebagai imbalan ketepatan hasil ijtihadnya.

Syarat-syarat berijtuhad adalah : Mengetahui bahasa arab, mempunyai pengetahuan yang mendalam tentang Al Quran, memiliki pengetahuan yang memadai tentang Al Sunnah, mengetahui letak ijma’ dan khilaf, mengetahui Maqashid al-Syariah, memiliki pemahaman dan penalaran yang benar, memiliki pengetahuan tentang Ushul Fiqih, niat dan i’tikad yang benar.

Metode dalam ijtihad : ijma, qiyas, istidlal, mashlaha mursalah, istihsan, istishab, urf.


Sumber: https://tutubruk.com/

Batasan Pergaulan Antara Laki-Laki dan Perempuan dalam Masa Khitbah

Batasan Pergaulan Antara Laki-Laki dan Perempuan dalam Masa Khitbah

Batasan Pergaulan Antara Laki-Laki dan Perempuan dalam Masa Khitbah

Peminangan (khitbah)

adalah proses yang mendahului pernikahan akan tetapi bukan termasuk dari pernikahan itu sendiri. Pernikahan tidak akan sempurna tanpa proses ini, karena Peminangan (khitbah) ini akan membuat kedua calon pengantin akan menjadi tenang akibat telah saling mengetahui. Oleh karena itu, walaupun telah terlaksana proses peminangan, norma-norma pergaulan antara calon suami dan calon istri masih tetap sebagaimana biasa. Tidak boleh memperlihatkan hal-hal yang dilarang untuk diperlihatkan karena agama tidak memperkenankan melakukan sesuatu terhadap pinangannya kecuali melihat, apabila menyendiri dengan pinangannya akan menimbulkan perbuatan yang dilarang oleh agama. Akan tetapi bila ditemani oleh salah seorang mahramnya untuk mencegah terjadinya perbuatan-perbuatan maksiat maka dibolehkan.

Adapun batasan pergaulan

yang boleh dilakukan ketika dalam masa khitbah adalah:

1. Seorang peminang boleh melihat calon istrinya dengan berniat benar-benar ingin menikahinya, yang boleh dilihat pada waktu meminang adalah wajah dan telapak tangannya calon istri, sebab wajah adalah pancaran jiwa, sedangkan kedua telapak tangan biasanya menunjukan kebersihan tubuh dan kesuburannya. Seorang pria yang bermaksud menikahi seorang wanita dianjurkan melihat calon istrinya tersebut sebelum menikahinya. Dia diperbolehkan mengulang-ngulang melihatnya agar bisa meyakinkan hati dan menimbulkan kemantapan, serta agar tidak menyesal di kemudian hari.
2. Diperkenankan bercakap-cakap dengan calon istri selagi tidak menjurus kemaksiatan. Tidak diperkenankan untuk berjabat tangan dengan calon istri dalam keadaan bagaimanapun, sebab calon istri adalah ‘’wanita asing’’ sebelum adanya akad nikah
3. Pada saat meminang, sang peminang dengan yang dipinang tidak diperkenankan berdua-duaan, namun harus ada mahramnya juga. Sebab islam mengharamkan pertemuan seorang laki-laki dan perempuan (bukan mahramnya) secara berduaan.

Baca Juga:

Dasar Hukum Khitbah

Dasar Hukum Khitbah

Dasar Hukum Khitbah

 

Pengertian dan Dasar Hukum Peminangan (Khitbah)

Peminangan dalam ilmu fikih disebut khitbah. Khitbah dalam bahasa Arab berasal dari kata خطب – يخطب – خطبة yang berarti permintaan. Secara istilah berarti pernyataan atau permintaan dari seorang laki-laki kepada pihak seorang wanita untuk mengawininya baik dilakukan oleh laki-laki itu secara langsung atau dengan perantaraan pihak lain yang dipercayainya sesuai dengan ketentuan-ketentuan agama.

Wahbah Zuhaili mengatakan bahwa peminangan (khitbah) adalah pernyataan seorang lelaki kepada seorang perempuan bahwasanya ia ingin menikahinya, baik langsung kepada perempuan tersebut maupun kepada walinya. Penyampaian maksud ini boleh secara langsung ataupun dengan perwakilan wali. Adapun Sayyid Sabiq, dengan ringkas mendefinisikan pinangan (khitbah) sebagai permintaan untuk mengadakan pernikahan oleh dua orang dengan perantaraan yang jelas. Pinangan ini merupakan syariat Allah SWT yang harus dilakukan sebelum mengadakan pernikahan agar kedua calon pengantin saling mengetahui.

Dasar Hukum Khitbah (Peminangan)

Mengenai peminangan ini telah diatur oleh hukum Islam, baik dalam Al-Qur’an maupun hadits. Dalam al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 235 menjadi dasar dari peminangan, yang berbunyi:
وَلاَ جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا عَرَّضْتُم بِهِ مِنْ خِطْبَةِ النِّسَآءِ أَوْ أَكْنَنْتُمْ فِي أَنفُسِكُمْ عَلِمَ اللهُ أَنَّكُمْ سَتَذْكُرُونَهُنَّ وَلَكِن لاَّ تُوَاعِدُوهُنَّ سِرًّا إِلاَّ أَن تَقُولُوا قَوْلاً مَّعْرُوفًا وَلاَ تَعْزِمُوا عُقْدَةَ النِّكَاحِ حَتَّى يَبْلُغَ الْكِتَابُ أَجَلَهُ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ يَعْلَمُ مَا فِي أَنفُسِكُمْ فَاحْذَرُوهُ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ غَفُورٌ حَلِيمُ
Artinya: “Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu dengan sindiran atau kamu Menyembunyikan (keinginan mengawini mereka) dalam hatimu. Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka, dalam pada itu janganlah kamu Mengadakan janji kawin dengan mereka secara rahasia, kecuali sekedar mengucapkan (kepada mereka) Perkataan yang ma’ruf. dan janganlah kamu ber’azam (bertetap hati) untuk beraqad nikah, sebelum habis ‘iddahnya. dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; Maka takutlah kepada-Nya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun”
Selain ayat di atas, juga terdapat hadits riwayat Ahmad yang berbicara tentang masalah khitbah ini yakni:
وعن جابرقال, قال رسول الله صلى الله عليه وسلم, إذا خطب أحدكم المرأة فإن استطاع أن ينظر منها إلى مايدعوه إلى نكاحها فاليفعل قالفخطبت جارية من نبي سلمة فكنت أختبئ لها تحت الكرب حتى رأيت منها بعض ما دعاني إلى نكاحها فتزوجتها
Artinya: “Dari Jabir bahwa Rasulullah SAW bersabda: Apabila salah seorang di antara kamu melamar perempuan, jika ia bisa memandang bagian yang menarik untuk dinikahi, hendaknya ia lakukan.”

Sumber: https://www.wfdesigngroup.com/