Cara pengendalian sosial

Cara pengendalian sosial

Cara pengendalian sosial
Cara pengendalian sosial

Cara-cara seperti apa yang dilakukan masyarakat dalam pengendalian sosial? Ada dua sifat pengendalian sosial, yaitu preventif dan represif. Preventif adalah pengendalian sosial yang dilakukan sebelum terjadinya pelanggaran. Contoh, pesan orang tua pada anaknya ketika hendak berangkat ke sekolah. Anak tersebut dinasihati agar tidak melakukan tindakan yang tidak bertanggung jawab, seperti duduk-duduk di pinggir jalan, melakukan perkelahian, atau bermain di pusat perbelanjaan. Apabila nasihat ini didengar dan dipatuhi oleh anaknya, maka anak tersebut akan terhindar dari berbagai masalah sebagai akibat dari perilaku yang tidak bertanggung jawab. Represif adalah pengendalian sosial yang ditujukan untuk memulihkan keadaan seperti sebeluin pelanggaran terjadi. Pengendalian ini dilakukan setelah orang melakukan suatu tindakan penyimpangan (deviasi). Contoh, sesudah tawuran antarsekolah berlangsung, para guru mempertemukan dua kelompok siswa yang bertikai dari masing-masing sekolah untuk mendapatkan pemecahan masalah sehingga suasana masing-masing sekolah kembali normal.

Ada berbagai cara pengendalian sosial yang dilakukan masyarakat. Roucek berpendapat bahwa pengendalian sosial dapat dilakukan melalui institusi atau non institusi, secara lisan, simbolik dan melalui kekerasan, menggunakan hukuman atau imbalan, dan secara formal atau informal. Sementara menurut Fromm pengendalian sosial dapat dilakukan melalui sosialisasi, sedangkan menurut Lapiere pengendalian sosial dapat dilakukan melalui tekanan sosial.

Cara Pengendalian Melalui Institusi dan Non-institusi
Cara pengendalian melalui institusi adalah cara pengendalian sosial melalui lembaga-lembaga sosial yang ada di dalam masyarakat, seperti lembaga pendidikan, hukum, agama, politik, ekonomi, dan keluarga.

Contoh:
1. Orang yang melakukan perampokan dan pembunuhan dimasukkan ke dalam penjara oleh polisi atau lembaga peradilan.
2. Di suatu daerah, orang yang melakukan pelanggaran seperti berzinah akan diusir dan tidak diakui sebagai warga masyarakat. Hukuman itu diambil sesuai dengan ketentuan hukum adat yang berlaku di daerah tersebut.
3. Agar seorang anak bisa bersikap dan berperilaku sesuai dengan harapan masyarakat, anak itu disekolahkan.

Cara pengendalian melalui non-institusi adalah cara pengendalian di luar institusi sosial yang ada, seperti oleh individu atau kelompok massa yang tidak saling mengenal. Cara pengendalian ini seringkali menggunakan kekerasan dan sifatnya tidak resmi.

Contoh:
1. Sekelompok massa melakukan pembakaran terhadap orang yang disangka pelaku pencopetan di sebuah terminal.
2. Siswa-siswa menjauhi teman sekelasnya karena ia memakai obat-obatan terlarang.
3. Seseorang mendamaikan dua orang tetangganya yang berkelahi.

Pengendalian secara Lisan, Simbolik, dan Kekerasan
Cara pengendalian melalui lisan dan simbolik sering juga disebut cara pengendalian sosial persuasif. Cara ini menekankan pada usaha untuk mengajak atau membimbing anggota masyarakat agar dapat bertindak sesuai dengan aturan-aturan yang berlaku.

Pengendalian sosial secara lisan dilakukan dengan mengajak orang menaati aturan dengan berbicara langsung dengan bahasa lisan (verbal). Sementara, pengendalian sosial secara simbolik dapat dilakukan antara lain melalui tulisan, spanduk, dan iklan layanan masyarakat.

Contoh:
1. Penyuluhan dari pihak kepolisian tentang bahaya narkoba di sekolah-sekolah.
2. Ajakan pemuka agama dalam ceramah-ceramahnya untuk menjauhi tindakan kriminal.
3. Spanduk-spanduk yang mengajak masyarakat untuk menjauhi kekerasan serta menjaga persatuan dan kesatuan.

Cara pengendalian sosial melalui kekerasan sering disebut juga cara pengendalian sosial koersif. Cara ini menekankan pada tindakan atau ancaman yang menggunakan kekuatan fisik. Tujuan tindakan ini agar si pelaku jera dan tidak melakukan perbuatannya lagi. Cara koersif sebaiknya dilakukan sebagai upaya terakhir sesudah cara pengendalian persuasif dilakukan.

Contoh:
1. Pencopet yang tertangkap basah di dalam bus kota, dikeroyok habis-habisan oleh para penumpang. Cara ini termasuk tindakan main hakim sendiri dan tidak dibenarkan secara hukum. Namun, masyarakat terkadang terpaksa melakukannya agar pencopet itu jera dan menjadi peringatan bagi pencopet lainnya.
2. Gerobak pedagang kaki lima, seperti gerobak buah-buahan atau sayur-sayuran yang melanggar tata tertib, terpaksa diangkut ke atas truk secara paksa oleh petugas. Hal ini terpaksa dilakukan karena para pedagang telah berkali-kali diperingatkan, tetap tidak mengindahkan.
3. Beberapa orang pelajar yang melakukan perusakan terhadap inventaris sekolah dihukum fisik, seperti lari keliling lapangan dan push-up.

Cara Pengendalian Sosial Melalui Imbalan dan Hukuman (Reward and Punishmet)
Cara pengendalian sosial melalui imbalan cenderung bersifat preventif (bersifat mengalihkan). Seseorang diberi imbalan atas tindakannya agar ia berperilaku sesuai dengan nilai dan norma sosial yang berlaku. Contoh, di sekolah siswa bisa mendapatkan beasiswa bila berperilaku sesuai dengan aturan-aturan yang ditetapkan sekolah, seperti mendapatkan nilai bagus, tidak bolos sekolah, atau tidak mencontek dalam ujian.

Cara pengendalian sosial melalui hukuman cenderung bersifat represif. Cara ini bertujuan untuk memulihkan keadaan seperti sebelum pelanggaran terjadi.

Sumber : https://forbeslux.co.id/