Cara Pengendalian Sosial Formal dan Informal

Cara Pengendalian Sosial Formal dan Informal

Cara Pengendalian Sosial Formal dan Informal
Cara Pengendalian Sosial Formal dan Informal

Cara pengendalian formal menurut Horton dan Hunt adalah cara pengendalian sosial yang dilakukan oleh lembaga-lembaga resmi yang juga memiliki peraturan-peraturan resmi, seperti perusahaan, perkumpulan serikat kerja, atau lembaga peradilan. Peraturan-peraturan yang dihasilkan lembaga-lembaga ini umumnya tertulis dan sudah distandardisasi. Contoh, sebuah perusahaan sudah membuat aturan mengenai kenaikan pangkat, gaji, atau cuti beserta sanksi-sanksinya.

Cara pengendalian informal adalah cara pengendalian sosial yang dilakukan oleh kelompok yang kecil, akrab, bersifat tidak resmi, dan tidak mempunyai aturan-aturan resmi yang tertulis. Contoh, aturan-aturan dan kebiasaan yang ada dalam sebuah keluarga atau kelompok bermain. Cara pengendalian dalam kelompok-kelompok ini cenderung spontan atau tidak direncanakan. Contoh, di dalam suatu kelompok bermain, ada seseorang yang menyakiti hati temannya. Teman-teman yang lain kemudian memberi hukuman pada orang itu secara spontan, seperti mengejek, menyindir, menyebarkan desas-desus, memberikan teguran.

Desas-desus merupakan kabar angin (kabar burung). Kabar ini berupa berita yang menyebar secara cepat dan kadang-kadang tidak berdasarkan fakta atau kenyataan. Kebenaran berita tersebut masih diragukan.

Desas-desus sering disebut dengan gosip. Gosip sebagai bentuk pengendalian sosial dapat membuat pelaku pelanggaran sadar akan perbuatannya dan kembali kepada perilaku yang sesuai dengan norma-norma dalam masyarakatnya. Hal ini akan membuat pelaku bertindak lebih berhati-hati dan tidak mengulangi perbuatannya. Contoh, si A digosipkan telah melakukan perbuatan tidak bermoral. Gosip menyebar di masyarakat dengan cepat walaupun belum tentu si A melakukannya. Akibat gosip tersebut, si A akan bertindak lebih berhati-hati agar tidak digosipkan untuk kedua kalinya. Gosip sering terjadi di kalangan selebritis atau orang-orang yang terkenal di masyarakat, seperti para pejabat, artis, dan tokoh-tokoh masyarakat. Gosip terkadang juga dipakai sebagai alat untuk mendongkrak popularitas seseorang. Misalnya, menggosipkan artis pada hal-hal yang berkaitan dengan sikap dan tindakan artis tersebut.

Teguran adalah peringatan yang ditujukan kepada seseorang yang melakukan penyimpangan. Teguran dapat dilakukan secara lisan maupun tulisan. Tujuan teguran adalah membuat si pelaku sesegera mungkin menyadari kesalahan yang telah diperbuatnya.

Teguran dalam organisasi formal umumnya dilakukan secara bertahap. Biasanya teguran dilakukan sebanyak tiga kali secara tertulis. Jika teguran demi teguran tidak diindahkan, maka pelaku pelanggaran akan dikenakan sanksi disiplin. Contoh, seorang guru menegur muridnya yang sering terlambat masuk kelas. Hal ini dapat disampaikan secara lisan. Namun, ketika seorang wali kelas memberikan surat kepada orang tua murid yang anaknya sering membolos, hal tersebut merupakan bentuk dari teguran tertulis.

Cara Pengendalian Sosial Melalui Sosialisasi
Menurut Fromm, apabila suatu masyarakat ingin berfungsi efektif, maka para anggota masyarakat harus berperilaku sesuai dengan nilai dan norma sosial yang mengatur pola hidup dalam masyarakat tersebut. Agar anggota masyarakat berperilaku sesuai dengan nilai dan norma (konform), diperlukan proses penanaman nilai dan norma yang disebut sosialisasi.

Dalam sosialisasi, individu-individu yang menjadi anggota masyarakat dikendalikan sehingga tidak melakukan perilaku menyimpang, menurut Fromm, sosialisasi membentuk kebiasaan, keinginan, dan adat istiadat kita. Apabila masing-masing individu memiliki pengalaman sosialisasi yang sama, maka mereka akan suka rela dan tanpa berpikir panjang lagi akan berperilaku sesuai dengan harapan-harapan sosial. Melalui sosialisasi seseorang menginternalisasikan norma dan nilai. Jika nilai dan norma sosial itu sudah menginternal dalam diri individu, maka di mana pun individu itu akan berperilaku konform (menyesuaikan diri).

Cara Pengendalian Sosial Melalui Tekanan Sosial
Lapiere melihat pengendalian sosial sebagai suatu proses yang lahir dari kebutuhan individu agar diterima ke dalam suatu kelompok. Untuk bisa diterima dalam suatu kelompok, kita akan selalu berusaha mengikuti nilai dan norma yang berlaku di dalam kelompok tersebut.

Para ahli psikologi sosial seperti Bovard menghasilkan suatu penelitian yang menyatakan bahwa seseorang cenderung mengekspresikan pernyataan pribadinya seirama atau sesuai dengan pandangan kelompoknya. Contoh, seorang anak yang tadinya bukan perokok jadi perokok setelah bergabung dalam satu kelompok bermain. Anak itu merasa berbeda dengan teman-temannya sebab mereka sering mengejek dan menertawakan penolakannya terhadap rokok. Tekanan dari teman-temannya itulah yang mengubah dirinya dari bukan perokok menjadi perokok.

Baca Juga :