Aspek Produksi Cabe Rawit

Aspek Produksi Cabe Rawit

Aspek Produksi Cabe Rawit

Aspek Produksi Cabe Rawit

  1. Gambaran dari Produk

Cabai rawit (Capsicum sp.) merupakan tanaman hortikultura sayur–sayuran buah semusim untuk rempah-rempah yang diperlukan oleh seluruh lapisan masyarakat sebagai penyedap masakan dan penghangat badan. Kebutuhan terhadap mata dagangan ini semakin meningkat sejalan dengan makin bervariasinya jenis dan menu makanan yang memanfaatkan produk ini. Selain itu, cabai rawit sebagai rempah-rempah merupakan salah satu mata dagangan yang dapat mendatangkan keuntungan bagi petani dan pengusaha. Karena selain dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri juga termasuk mata dagangan yang mempunyai peluang pemasaran ekspor non migas yang sangat baik.

 

 

  1. Kecocokan Lokasi

Pada umumnya tanaman cabai rawit dapat ditanam di daerah dataran tinggi maupun di dataran rendah, yaitu lebih dari 500 – 1200 m di atas permukaan laut, yang terdapat di seluruh Indonesia terutama di Pulau Jawa. Meskipun luasan lahan yang cocok untuk cabe masih sangat luas, tetapi penanaman cabai di dataran tinggi masih sangat terbatas. Pengembangan tanaman cabai rawit, lebih diarahkan ke areal pengembangan dengan ketinggian sedikit di bawah 800 m di atas permukaan laut. Terutama pada lokasi yang air irigasinya sangat terjamin sepanjang tahun. Di Indonesia, menurut catatan terakhir tersedia lahan yang cocok untuk tanaman cabai seluas 7.570.600 ha. Dari jumlah tersebut yang telah dimanfaatkan 162.283 ha (1991), dan sampai akhir 1995 menjadi 173.161 ha, meningkat sebesar 12,5%. Peningkatan luas tanam ini tidak diikuti oleh peningkatan luas panen, sehingga jika diukur dari rata-rata luas panen cabai selama kurun 1991 sampai 1995, maka dari total luas lahan yang cocok untuk cabai, baru teroleh sebanyak 167.722 ha atau hanya sekitar 0,45% (Tabel 4).

  1. Pola Tanam

Budidaya atau usaha tani tanaman cabai rawit selama ini dilakukan secara monokultur dan pola rotasi tanaman. Pada pola rotasi tanaman. Pada pola rotasi tanaman maka pola yang lazim dianut para petani adalah dengan melakukan pergiliran tanaman pola 1 : 2 yaitu satu kali tanaman cabai rawit dan 2 – 3 kali tanaman palawija/sayuran lainnya yang tidak sama family tanamannya dengan cabai rawit. Untuk model kelayakan ini digunakan monokultur cabai merah sepanjang tahun, dengan masa lahan kosong selama 1 bulan di antara siklus tanam.

  1. Aspek Teknik Budidaya

Keberhasilan usaha produksi cabai rawit sangat ditentukan oleh aspek taknis budidaya di lapangan. Beberapa hal yang harus diperhatikan dengan baik dalam pelaksanaan teknis budidaya tanaman cabai merah adalah sebagai berikut:

  1. Pemakaian benih cabai rawit yang unggul yang tidak terkontaminasi virus.
  2. Ketersediaan air yang cukup sepanjang periode tanam/sepanjang tahun.
  3. Pola tanaman yang baik dan sesuai dengan iklim.
  4. Pengolahan tanah yang disesuaikan dengan kemiringan lereng dan arah lereng.
  5. Pemberantasan hama dan penyakit tanaman cabai merah dilaksanakan secara teratur
  6. sesuai dengan kondisi serangan hama dan penyakit
  7. Cara panen serta penanganan pasca panen cabai merah yang baik dan benar.

Keberhasilan produksi cabai rawit sangat dipengaruhi oleh dan ditentukan oleh kualitas benih yang digunakan. Sifat unggul tersebut dicerminkan dari tingginya produksi. Ketahanan terhadap hama dan penyakit serta tingkat adaptasi tinggi terhadap perubahan iklim. Musim tanam di daratan tinggi dilakukan antara bulan April – Mei untuk periode tanam pertama dan antara bulan September – Oktober untuk periode tanam ke dua. Tanah yang baik untuk pertanaman cabai rawit yaitu lahan yang tanahnya berstruktur remah atau gembur, subur dan kaya akan bahan organik, pH tanah antara 6.0 dan 7,0. Oleh karena itu pengolahan tanah yang baik dengan menggunakan traktor atau menggunakan cangkul, harus mencapai kedalaman olah Aspek Produksi

 

  1. Luas Model dan Beban Biaya

Uraian mengenai unit luasan kebun dan biaya-biaya dalam usaha tani cabai merah ini ditentukan berdasarkan asumsi-asumsi kemampuan seorang petani dalam menangani budidaya tanaman cabai merah hibrida (hot beauty). Unit luasan lahan kebun untuk usaha tani cabai merah tersebut ditetapkan satu hektar. Bilamana diasumsikan bahwa petani rata-rata saat ini memiliki lahan seluas 0,5 ha, maka perlu menyewa 0,5 hektar lagi. Beban biaya yang diperlukan pada periode awal untuk usaha tani cabai merah seluas satu hektar tersebut adalah sebagai berikut:

Tabel  Biaya Proyek per 1 Ha

No Komponen Biaya Produksi Rupiah
1 Biaya Pra Investasi 20.000
2. Biaya Investasi 5.500.000
3. Biaya Investasi modal Kerja 15.099.000
Total Biaya Proyek 20.619.000

Modal sendiri yang diasumsikan harus dimiliki petani adalah Rp. 619.000,-, sehingga besarnya permohonan pembiayaan untuk modal usaha (investasi dan modal kerja) adalah sebesar Rp. 21.019.000,-, di mana Rp. 400.000 diantaranya untuk keperluan pembayaran premi asuransi.

  1. Prasarana dan Sarana yang Diperlukan

Prasarana dan sarana yang dibutuhkan dalam usaha tani cabai rawit mencakup dua hal pokok yaitu:

  1. Investasi yang berupa tanah, peralatan dan administrasi.
  2. Alat dan Bahan produksi kerja termasuk di dalamnya bibit, mulsa plastik, pupuk, pestisida, tenaga kerja, gaji pengelola, transportasi dan traktor

Sumber:

https://works.bepress.com/m-lukito/8/