Anak Makin Terjerumus dalam Ruang Gelap Eksploitasi Seksual

Anak Makin Terjerumus dalam Ruang Gelap Eksploitasi Seksual

Anak Makin Terjerumus dalam Ruang Gelap Eksploitasi Seksual

Anak Makin Terjerumus dalam Ruang Gelap Eksploitasi Seksual
Anak Makin Terjerumus dalam Ruang Gelap Eksploitasi Seksual

Eksploitasi Seksual Komersial Anak (ESKA) mengancam anak Indonesia.

Kemiskinan, konflik senjata, norma budaya, teknologi komunikasi modern, kesenjangan pendidikan, hingga korupsi menjadi pemicunya. Hal tersebut merupakan keadaan yang membuat anak rentan dieksploitasi, dan membuat pelaku kejahatan eksploitasi sulit ditangkap dan diadili.

Perwakilan Aliansi Penghapusan Kekerasan Terhadap Anak, James Ballo mengungkapkan sejumlah data mengejutkan. Tercatat 1 dari 3 anak laki-laki dan 1 dari 5 anak perempuan mengalami kekerasan seksual.

“Angka kekerasan itu jumlahnya banyak sekali tetapi yang terlaporkan sedikit.

Bisa jadi kejadian kekerasan bertambah ragamnya bentuknya,” kata James dalam diskusi di kantor Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Selasa (1/8)

Lalu ada 13 persen anak menjadi korban cyber bullying atau kekerasan online. Selain itu ada 40 ribu-70 ribu anak setiap tahun menjadi korban eksploitasi komersialisasi seksual anak. Pemicunya karena masalah ekonomi hingga perkawinan anak dan perceraian. Sebagian dari mereka kemudian terjerumus menjadi Pekerja Seks Komersial (PSK).

“Wilayah lokasi wisata juga seringkali mendorong anak melakukan itu. Kami berupaya dengan setiap masyarakat di daerah masing-masing melakukan deteksi dini, pencegahan dan rehabilitasi,” ungkapnya.

Program Down to Zero yang berdurasi selama 5 tahun (2016 – 2020) menyasar 4 komponen

utama pelaku perlindungan anak dari eksploitasi seksual komersial anak yakni anak itu sendiri, masyarakat, pemerintah beserta penegak hukum, dan sektor swasta. Down to Zero dalam intervensi ke anak berupaya membangun kesadaran anak dan remaja agar dapat melindungi diri mereka, berjuang untuk haknya dan melakukan perubahan di lingkungan mereka sendiri.

“Kami memastikan bahwa anak memiliki kesadaran terhadap sistem perlindungan anak tersebut. Di lain sisi, komponen masyarakat juga penting untuk diperkuat. DtZ melakukan kampanye, diskusi dan membentuk sistem perlindungan anak kemudian melawan tabu dan malu hingga pendampingan korban,” tegas Koordinator Aliansi Down to Zero Indonesia, Rini Murwahyuni.

 

Sumber :

http://www.thebaynet.com/profile/ojelhtcmandiri