apa yang dimaksud zikir bil qalbi

Keutamaan dan Hikmah Zikir

Zikir disamping sebagai sarana penghubung dengan sang khalik (pencipta) juga mengandung nilai dan daya guna yang tinggi. Ada banyak keutamaan dan hikmah yang terkandung dalam zikir.
Dari abu Hurairah ra. Berkata, “Rasulullah Saw bersabda, ‘Dua kalimat yang ringan diucapkan tetapi berat timbangannya dan disenangi oleh Allah Swt yaitu : Subhanallah wa bihamdihi sybhanallahal azhim (Maha suci Allah dengan segala pujian-Nya dan Maha suci Allah Yang Maha agung).”’ (HR. Muttafaq Alaih).[4]
Hikmah zikir antara lain:
a. Berzikir kepada Allah akan menimbulkan perasaan dekat kepada Allah dan merasa berada dalam perlindungan dan penjagaannya, juga dapat menghilangkan rasa cemas, takut, was-was dan putus asa.
b. Berzikir kepada Allah akan meningkatkan keyakinan kepada kebesaran dan kemahakuasaan-Nya, tidak ada yang lebih berkuasa dalam kehidupan kecuali Allah, maka dengan sendirinya hilanglah perasaan sombong, angkuh, dan takabur terhadap sesama manusia.
c. Berzikir kepada Allah akan menimbulkan perasaan ikhlas dan ridha kepada Allah, sehingga hilanglah perasaan iri hati, dendam, dan dengki.
d. Berzikir kepada Allah akan merasakan kenikmatan dan kenyamanan dalam diri seseorang, sehingga membuatnya memandang ringan segala macam kelezatan duniawi yang sejatinya bersifat fana’.
e. Banyak berzikir (mengingat Allah) berarti seseorang merasakan, bahwa Allah juga mengingatnya, sehingga timbul perasaan kagum dan cinta kepada Allah melebihi segalanya. Karena dekat dengan Allah maka dipermudahlah dalam segala urusannya.
f. Banyak berzikir (mengingat Allah) berarti banyak mengenang/menghayati kekuatan-kekuatan yang dimiliki Allah, sehingga timbul perasaan takut untuk melakukan perbuatan yang menimbulkan dosa dan akan melakukan segala kebaikan yang diperintahkan Allah serta menghindarkan diri dari perbuatan maksiat.[5]

E. Catatan Akhir

Dari uraian di Atas dapat disimpulkan bahwa Zikir berasal dari kata ذكر-يذكر-ذكرا, yang artinya menyebut, mengingat, memerhatikan, menuturkan, menjaga, mengambil pelajaran, mengenal, dan mengerti. Dzikrullah dapat mencakup penyebutan nama Allah atau ingatan menyangkut sifat-sifat atau perbuatan Allah, surga atau neraka-Nya, rahmat dan siksa-Nya, perintah dan larangan-Nya, wahyu dan segala yang dikaitkan dengan-Nya.
Zikir terbagi menjadi beberapa macam yaitu: Zikir lisany (zikir lidah) yaitu menyebut nama Allah dengan lidah. Zikir Qalby (zikir hati) yaitu menyebut nama Allah dengan hati. Zikir Aqly (zikir pikir) yaitu memikirkan arti, makna, dan maksud, yang terkandung dalam kalimat-kalimat zikir. Zikir Ruhy (zikir roh) yaitu kembalinya roh terhadap fitrah atau asal kejadiannya saat berada dalam arwah.
Hikmah zikir antara lain: Berzikir kepada Allah dapat menghilangkan rasa cemas, takut, was-was dan putus asa. hilangnya perasaan iri hati, dendam, dan dengki, sombong, angkuh, dan takabur terhadap sesama manusia. memandang ringan segala macam kelezatan duniawi. timbul perasaan kagum dan cinta kepada Allah melebihi segalanya. dipermudahlah dalam segala urusannya. Selalu melakukan segala kebaikan yang diperintahkan Allah serta menghindarkan diri dari perbuatan maksiat.

Pos-Pos Terbaru

contoh dzikir

Pengertian Zikir

Zikir berasal dari kata ذكر-يذكر-ذكرا, yang artinya menyebut, mengingat, memerhatikan, menuturkan, menjaga, mengambil pelajaran, mengenal, dan mengerti. Kata Zikir pada mulanya memiliki arti “mengucapkan dengan lidah atau menyebut sesuatu. Maka ini kemudian berkembang menjadi mengingat”. Karena mengingat sesuatu sering kali mengantar lidah menyebutnya. Demikian juga menyebut menyebut dengan lidah dapat mengantarkan hati untuk mengingat lebih banyak lagi apa yang harus disebut-sebut itu, disebut sifat, perbuatan, atau peristiwa yang berkaitan dengannya.
Dzikrullah dapat mencakup penyebutan nama Allah atau ingatan menyangkut sifat-sifat atau perbuatan Allah, surga atau neraka-Nya, rahmat dan siksa-Nya, perintah dan larangan-Nya, wahyu dan segala yang dikaitkan dengan-Nya. Biasanya perilaku Zikir diperlakukan orang hanya dalam bentuk renungan, yang sebenarnya Zikir itu bersifat implementatifdalam variasi yang aktif dan kreatif.
Berikut adalah ayat Al-Qur’an yang dapat dijadikan sebagai sebagai dalil disyariatkannya Zikir:
فَاذْكُرُوْنِيْ اَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْالِيْ وَلَاتَكْفُرُوْنِ
”Karena itu, ingatkah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu.” (QS Al-Baqarah:152).[2]

C. Macam-macam Zikir

Zikir terbagi menjadi beberapa macam yaitu sebagai berikut :
a. Zikir lisany (zikir lidah) yaitu menyebut nama Allah dengan lidah, bunyinya berupa kalimat subhanallah, alhamdulillah, shalawat, istighfar dan asma’ul husna. Zikir ini ada yang menyebut zikir Syari’at, dan zikir ini poin pahalanya paling rendah dibandingkan dengan macan zikir yang lain.
b. Zikir Qalby (zikir hati) yaitu menyebut nama Allah dengan hati kalimat tasbih, tahil, takbir, tahmid, taqdis, hauqolah, tarji’, istighfar. Zikir jenis ini poin pahalanya lebih banyak 70kali lipatatu lebih dibandingkan zikir lisan, karena zikir qalby tidak diketahui oleh orang lain sehingga keikhlasannya dapat lebih terjaga. Zikir ini juga disebut zikir tarikat (jalan untuk mencapai tingakatan zikir berikutnya).
c. Zikir Aqly (zikir pikir) yaitu memikirkan arti, makna, dan maksud, yang terkandung dalam kalimat-kalimat zikir. Zikir ini disebut juga tafakur (memikirkan) dan tadabur (merenungkan) yaitu merenungkan keesaan dan kekuasaan Allah sebagaimana yang tersurat dalam kalimat zikir yang diucapkan.
d. Zikir Ruhy (zikir roh) yaitu kembalinya roh terhadap fitrah atau asal kejadiannya saat berada dalam arwah, menyaksikan dan membuktikan wujudnya Tuhan secara langsung tanpa perantara. Zikir ini disebut juga zikir makrifat, dan ini tingkatan zikir tertinggi.[3]


Sumber: https://voi.co.id/jasa-penulis-artikel/

makalah tentang taubat

Fungsi Taubat

Bagi orang yang pernah melakukan dosa, perbuatan taubat berfungsi mengembalikan diri ke jalan yang benar setelah melakukan penyimpangan dari jalan Allah, atau mengembalikan diri ke jalan yang diridhai Allah, setelah melakukan hal-hal yang bertentangan dengan tuntunan Allah Swt. Perbuatan taubat, pada umumnya selalu dikaitkan dengan dosa yang dilakukan sebelumnya.
Bagi orang yang merasa tidak melakukan kesalahan, perbuatan taubat berfungsi sebagai upaya untuk meningkatkan kesadaran untuk selalu patuh terhadap perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya, dan sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas iman, serta menjadi upaya meningkatkan kualitas zikrullah, yang kesemuanya pada akhirnya meningkatkan perolehan pahala yang diberikan Allah Swt. Taubat adalah sebuah perbuatan yang sangat terpuji yang tidak hanya menjadi jalan untuk kembali ke halan yang benar, tetapi juga menjadi sarana untuk peningkatan iman dan kedekatan diri kepada Allah Swt. Jadin taubat itu dasarnya harus dilakukan kapan saja. Apakah merasa mempunyai dosa atau tidak, apakah merasa menyimpang dari jalan yang benar atau tidak dan dalam keadaan apa pun perbuatan taubat harus senantiasa dilakukan.[5]

D. Faedah Taubat

Ketahuilah bahwa tidaklah Allah memerintahkan sesuatu melainkan ada faedah di balik perintah tersebut, termasuk perintah agar kita bertaubat kepada-Nya. Taubat memiliki faedah, yaitu:
1. Terhapusnya dosa. Rasulullah Saw bersabda, “Orang yang bertaubat (dari dosanya) seakan-akan ia tidak berdosa.” (HR. Ibnu Majah, no. 4250).
2. Kejelekan diganti dengan kebaikan. Allah berfirman, artinya, “Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Qs. al-Furqan: 70).
3. Membawa keberuntungan. Allah berfirman, artinya, “Adapun orang yang bertaubat dan beriman, serta mengerjakan amal yang saleh, semoga dia termasuk orang-orang yang beruntung” (QS. al-Qashash: 67).
4. Jalan menuju Surga. Allah berfirman, artinya, “Kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh, maka mereka itu akan masuk surga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikitpun” (QS. Maryam: 60).
5. Pembersihan Hati. Allah berfirman, artinya, “Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan)” (QS. at-Tahriim: 4).
6. Diberi kenikmatan yang baik. Allah berfirman, artinya, “Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan …” (QS. Huud: 3).
7. Mendapat kecintaan Allah. Allah berfirman, artinya, “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.”(Qs. al-Baqarah: 222).[6]


Sumber: https://pendidikan.co.id/jasa-penulis-artikel/

dakwah nabi muhammad saw di mekkah

Dakwah Nabi dan Sumber Utama Islam

Islam datang mula-mula sebagai seruan perbaikan bagi praktek kehidupan di jazirah Arab dan sekitarnya, yang diwarnai berbagai ketimpangan. Kehidupan, oleh kebanyakan orang yang hidup pada sekitar abad ketujuh Masehi di daerah ini, diyakini hanya sebatas kelahiran dan kematian individu,[1] sehingga keberhasilan hidup diukur dengan perolehan-perolehan material dan kepuasan-kepuasan jangka pendek. Dalam bidang sosial tatanan yang berlaku lebih banyak memberikan hak-hak istimewa kepada kelas atas, namun menindas kelas bawah. Karena itu sementara kaum atas, yang memperoleh keuntungan material berlimpah dari kegiatan perdagangan,[2] hidup dalam kenikmatan dan kebebasan, banyak terdapat orang-orang fakir yang tidak dapat lepas dari kemiskinan dan anak-anak yatim yang terlantar. Penyembahan berhala dan penuhanan orang-orang kuat menjadi semacam “agama”, sedangkan kemuliaan hidup diukur dengan keunggulan-keunggulan yang dikaitkan dengan perang. Spiritualitas dan pertimbangan yang melewati batas-batas kehidupan duniawiah absen dari kesadaran mereka.

Pandangan hidup yang seperti itu tergambar dengan sangat jelas dalam syair Ṭarafah bin al-‘Abd al-Yasykurī yang termasuk dalam Muʻallaqāt,[3]

sebagai berikut:

ولَولا ثَلاثٌ ھُــــنَّ من عیشةِ الْفـَتى # وَجدِّكَ لم أَحفِلْ مَتى قامَ عُوْدي
فَمِنْھُنّ سَبْـــــقِي الْعــاذِلاتِ بِشَربَـةٍ # كُمَیْتٍ متى ما تُعْلَ باَلماءِ تُزْبِدِ
وَكَـــــرِّي إِذَا نادَى المُضَافُ مُحَنَّباً # كَسِیدِ الْغَـــضا نَبّھْتَـــهُ الُمتَوَرِّدِ
وَتقصیرُ یوم الدَّجنِ والدجنُ مُعجِبٌ # بِبَھْكَنَةٍ تَحْـــتَ الخِــباءِ الُمعَمَّدِ

Kalaulah bukan karena tiga hal yang merupakan pokok kehidupan pemuda,
Demi kakekmu, tak peduli aku kapan orang datang menakziahiku

Pertama: minumku sebelum orang yang nyinyir mengata-ngataiku
Anggur merah yang manakala dituangi air keluar buahnya

Kedua: lariku ke medan perang ketika orang menabuh genderang
Bak rubah hutan yang lari kencang ketika kau usik dari tidurnya

Ketiga: menghabiskan hari gerimis—oh indahnya hari gerimis itu
Dengan perempuan montok di bawah tenda yang bertiang

Jadi, bagi penyair zaman Jahiliah ini yang penting dalam hidup ini hanyalah: minuman keras, perang dan perempuan.
Memang benar bahwa Makkah sekitar satu abad sebelum Islam merupakan kota perdagangan transit yang membawa kemakmuran. Akan tetapi, kemakmuran itu hanya dinikmati oleh sebahagian kecil dari penduduknya, yakni kaum elitnya saja. Sebahagian besar penduduk yang lain hidup dalam kesulitan dan terpaksa harus berhutang dengan bunga yang sangat besar (aḍʻāfan muḍaʻʻafah: berlipat-lipat). Akibatnya, terjadi penindasan dari yang pemberi pinjaman atas orang-orang yang terpaksa berhutang. Selain itu, bangsa Arab berada dalam himpitan dua kekuatan besar yang bersifat hegemonik. Di sebelah barat terdapat kekaisaran Romawi Timur (Bizantium) dan di sebelah timur imperium Persia. Keduanya saling berebut hegemoni dan bangsa Arab kebanyakan tidak menyadari kedudukan mereka yang terjepit itu. Dua keluarga dari mereka Bani Ghassān dan Bani Mundzir memilih untuk menjadi vazal atau penguasa taklukan dari kedua kekuatan besar itu. Bani Ghassān yang terkenal dengan sebutan Ghasāsinah di Syria dan sekitarnya merupakan sekutu Bizantium, sementara Bani Mundzir yang disebut al-Manādzirah sekutu Persia di Irak. Di bagian tengah jazirah Arab yang tidak tersentuh kekuasaan kedua imperium hegemonik di atas, kabilah-kabilah Arab sibuk dengan kehidupan mereka yang penuh dengan pertikaian berdarah karena hal-hal yang sangat sepele. Banyak dari mereka yang hidup dalam pengembaraan mengikuti jatuhnya hujan agar mereka dapat mendapatkan makanan untuk ternak mereka.

Pos-Pos Terbaru

buku sejarah perkembangan hukum islam

ISLAM PEMBENTUKAN DAN PERKEMBANGANYA

Pendahuluan

Islam sebagai suatu sistem ajaran keagamaan sering kali dipahami sebagai sesuatu yang datang dari langit dalam keadaan yang telah sempurna, bersifat sakral dan tidak menerima perubahan. Ajaran ini diyakini cocok untuk segala keadaan di mana pun atau صالح لكل زمان ومكان, karena bersifat universal.
Pertanyaan kemudian timbul mengenai kecocokannya untuk segala keadaan, mengingat bahwa keadaan tidak tetap dan tidak sama, melainkan berubah dari satu masa ke masa yang lain dan berbeda dari suatu tempat ke tempat yang lain. Selain itu, ternyata pula bahwa apa yang diyakini sebagai ajaran Islam itu sangatlah lengkap dan mencakup berbagai perincian, padahal suatu aturan yang lengkap dan terinci tidak akan dapat sesuai dengan keadaan-keadaan yang berbeda. Kelengkapan dan keterinciannya akan mengurangi keluwesannya. Aturan yang berkenaan dengan waktu salat, misalnya, sudah sedemikian cermat untuk negara-negara tropis tempat tinggal kebanyakan orang Islam, dengan ukuran jam maupun dengan menggunakan gejala-gejala alam. Ketika seorang muslim pergi ke daerah dekat kutub utara pada musim panas atau musim dingin, aturan-aturan itu menjadi tidak lagi dapat dijalankan. Di Musim panas, matahari selalu kelihatan di sana. Orang Perancis menyebutnya les nuits blanches (malam putih), karena di malah hari pun matahari tetap di atas kepala. Untuk dapat tidur, orang lalu memakai kacamata hitam (lunettes noires). Di musim dingin, sebaliknya, selama beberapa hari matahari tidak muncul. Dalam keadaan seperti itu, bagaimana prang menjalankan salat atau puasa? Mengikuti perjalanan matahari di situ, mengikuti perjalanan matahari di daerah tropis atau bagaimana? Karena aturan itu sangat terperinci untuk daerah tropis, kemungkinan penerapannya di daerah kutub menjadi sangat sulit.
Orang lalu berpikir bahwa keuniversalan Islam semestinya ada pada hal-hal yang bersifat mendasar, sementara untuk hal-hal yang berkaitan dengan perincian dimungkinkan adanya penyesuaian sepanjang tidak menyalahi hal-hal yang bersifat dasar itu. Kecocokan Islam untuk segala zaman dan tempat berarti kemungkinannya untuk tetap mempertahankan hal-hal pokok dengan memberikan ruang bagi penyesuaian-penyesuaian terhadap keadaan yang berbeda. Akan tetapi, orang tidak sepakat mengenai bagian-bagian mana yang dianggap dasar nan tidak boleh diubah (al-tsābit, jamak: al-tswābit) dan bagian yang bersifat perincian nan boleh berubah (al-mutaḥawwil).
Penyelidikan sejarah menunjukkan bahwa Islam mengalami perkembangan, bukan hanya dalam pembentukannya dari suatu gerakan dakwah yang dimulai oleh Nabi Muhammad saw. menjadi suatu sistem ajaran, melainkan juga bahwa sistem yang telah terbentuk pun tidak berada dalam satu keadaan yang sama. Makalah ini akan berbicara mengenai bagaimana sistem ajaran Islam terbentuk dan kemudian berkembang menjadi pusaka yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya dan oleh banyak orang dianggap sebagai sesuatu yang sakral. Faktor-faktor yang terlibat dalam perkembangan itu pun akan dibicarakan sehingga diharapkan dapat dibuat gambaran yang jelas mengenai proses yang dialami Islam dalam perjalanan sejarahnya.


Sumber: https://www.dosenpendidikan.co.id/jasa-penulis-artikel/

metode penelitian sejarah

Keuntungan metode historis

Memberikan gambaran tentang apa yang sebenarnya terjadi, dalam pengertian apa yang dapat dibangun berdasarkan fakta-fakta yang telah dibuktikan—melalui kritik internal dan eksternal—dapat dipercaya. Walaupun dalam penjelasan historis seseorang mempergunakan penyimpulan dan imajinasi untuk menutupi hal-hal yang tersembunyi, semua itu dilakukan atas dasar peninggalan masa lampau yang meyakinkan.
Yang dipelajari dalam sejarah adalah asal-usul, pertumbuhan dan perkembangan atau ringkasnya perubahan. Ini membawa kepada sikap terbuka dan kritis. Peneliti sejarah agama akan sadar bahwa setiap agama bergulat dengan kehidupan sehari-hari, terpengaruh dan mempengaruhi kekuatan-kekuatan yang bermain dalam kehidupan manusia. Dengan demikian, semua perkembangannya akan diperlakukan sama. Apa yang disakralkan oleh suatu kelompok atau aliran tertentu dalam agama, lalu kelihatan prosesnya yang bersifat “biasa” dalam sejarah dan karenanya tidak lagi diatribusikan kepada suatu sebab tunggal ilahiah, melainkan kepada perjalanan sejarah para pemeluk agama itu.

Keterbatasan metode historis

Kemungkinan tergelincir dalam historisisme, yakni kepercayaan bahwa dengan mengetahui proses kesejarahan, orang sudah memahami obyek dengan sepaham-pahamnya. Historisisme melupakan satu postulat sejarah sendiri, yakni bahwa obyek kajiannya mengalami perubahan. Sejarawan baru memahami bagian yang telah lewat, sedangkan yang akan datang—walaupun sebahagiannya dapat diprediksikan—mengandung kemungkinan-kemungkinan yang sering kali tidak dapat diperkirakan sebelumnya.
Subyektivitas yang timbul karena data selalu tidak cukup sehingga dalam membuat penjelasan dan paparan yang utuh tentang masa lampau (rekonstruksi dan eksplanasi) orang mesti menggunakan imajinasi (di samping penafsiran dan penyimpulan). Dalam melakukan ini, proyeksi pengalaman diri atas tokoh sejarah yang diselidiki sangat sulit dihindari.
Multi-interpretability data kesejarahan. Ini dapat menimbulkan kesalahan dalam menafsirkan fakta-fakta historis. Walaupun penjelasan logis dapat mendukung setiap interpretasi yang dibuat, kemungkinan interpretasi “lain” akan tetap ada. Menyebutkan semua interpretasi yang mungkin dibuat akan membuat pemaparan sejarah terlalu luas dan mengesankan ketiadaan sikap, tetapi membatasi hanya pada satu atau dua interpretasi menimbulkan dugaan akan kesempitan pandangan.
Pendekatan historis tidak memberikan kesimpulan praktis. Karena sifatnya menggambarkan dan menjelaskan, sejarah tidak menjangkau apa yang kemudian semestinya dikerjakan setelah obyek kajiannya diketahui dan alasan-alasan perbuatannya di masa lampau dimengerti. Dengan mengingat bahwa suatu obyek akan tetap mempertahankan sebahagian besar dari sifat-sifat dasarnya, orang lalu dapat memperkirakan apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang. Namun ini tidak menjadi tanggung jawab peneliti sejarah, walaupun pengetahuan yang cukup tentang masa lampau akan memberikan bekal bagi seseorang dalam melihat masa depan


Sumber: https://www.gurupendidikan.co.id/jasa-penulis-artikel/

Situasi harga

2.2.2                       Situasi harga

Situasi harga

Dari uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa tingkat harga jual akan menggerakkan perusahaan pada pencapaian laba optimal, ketidakakuratan informasi dapat mengakibatkan kesalahan dalam penetapan harga, apakah terlalu tinggi atau terlalu rendah. Penetapan harga yang terlalu tinggi dapat mengakibatkan ketidakmampuan bersaing dengan produk / jasa yang sejenis di pasar. Sedangkan penetapan harga terlalu rendah dapat mengakibatkan minimnya laba yang dihasilkan atau kerugian. Secara umum penetapan harga jual untuk mengoptimalkan pertumbuhan perusahaan, serta menjaga kelangsungan hidup perusahaan.

2.2.2                       Situasi harga

Situasi tersebut terdiri dari tiga faktor yang merupakan ringkasan dari faktor-faktor yang mempengaruhi kebijaksanaan harga jual yaitu :

  1. Laba dan tujuan-tujuan lain

Faktor-faktor lain selain pasar dan biaya bisa dimasukkan dalam faktor ketiga ini.

  1. Situasi pasar : disini meliputi konsumen,sifat produk,sifat pasar dan sebagainya.
  2. Biaya produksi dan operasi

Yaitu biaya yang dikeluarkan untuk membuat barang (produk) dan biaya produk tersebut bisa sampai ketangan konsumen.

Pos-Pos Terbaru

 

Penetapan harga untuk sasaran laba

Penetapan harga untuk sasaran labaPenetapan harga untuk sasaran laba

Ada sementara perusahaan mengungkapkan tujuan penetapan harga adalah mencapai tingkat hasil laba (rate of return) yang memuaskan. Akibatnya, sekalipun harga yang lain akan dapat menghasilkan tingkat laba yang yang besar dalam jangka panjang, perusahaan akan merasa memperoleh hasil yang konvensional dengan membandingkan suatu tingkatan investasi dan resiko tertentu. Penetapan harga seperti itu adalah penetapan harga saham (target pricing) untuk jangka pendek tanpa melihat atau mennperhitungkan sasaran jangka panjang.

  1. Penetapan harga untuk promosi

          Adakalanya satu perusahaan menetapkan harga khusus untuk mempromosikan penjualan semua produknya dan bukan untuk mendapatkan laba dari jenis produknya. Contohnya ialah penetapan harga pemuka (loss leader pricing) dengan memasang harga murah untuk suatu produk yang benar, dengan maksud untuk menarik sejumlah besar pembeli dan diharapkan mereka membeli pula produk-produk lainnya.Contoh lainnya adalah penetapan harga prestice yaitu menetapkan harga mahal untuk jenis produk tertentu dengan maksud meningkatkan citra mutu dari seluruh jajaran produknya.

Sumber :

http://www.unmermadiun.ac.id/sewulan/index.php/2020/07/situs-jasa-penulis-artikel/

 

Penetapan harga untuk merebut saham pasaran

Penetapan harga untuk merebut saham pasaranPenetapan harga untuk merebut saham pasaran

Perusahaan juga dapat memutuskan harga untuk memaksimalkan laba, makin banyak perusahaan beranggapan bahwa keuntungan jangka panjang akan meningkatkan dengan bertambahnya saham dipasaran.

  1. Penetapan harga untuk pendapatan nasional

Suatu perusahaan hendaknya menetapkan harga yang dapat memaksimalkan pendapatan dari hasil penjualan sekarang. Hal ini merupakan soal menentukan kombinasi harga atau kuantitas yang menghasilkan pendapatan penjualan terbesar. Perusahaan berminat untuk secara tepat dan cepat menghasilkan dana secara tunai, mungkin karena sedang harus mencari dana, atau karena menganggap masa depan kurang menentu sehingga tidak membenarkan pembinaan secara besar.

Sumber :

TukangKonten.Com : Jasa Penulis Artikel Berkualitas 100%

 

Karakteristik Nilai, Pendidikan Moral dan Agama Pada Remaja

Karakteristik Nilai, Pendidikan Moral dan Agama Pada RemajaKarakteristik Nilai, Pendidikan Moral dan Agama Pada Remaja

  1. Nilai

Nilai adalah keyakinan dan sikap mengenai bagaimana hal hal yang seharusnya. Selama  tiga dekade terakhir, remaja menunjukan kepedulian  yang meningkat untuk kesejahteraan pribadi dan penurunan pada kepedulian terhadap orang lain. Untuk mengatasi masalah ini beberapa sekolah mengadakan program Service Lerning, yaitu suatu bentuk pendidikan yang mempromosikan tanggung jawab sosial dan pelayanan kepada masyarakat, dalam kegiatan ini remaja terlibat dalam berbagai kegitan seperti memberikan les, membantu orang tua lanjut, bekerja di rumah sakit atau membantu membersihkan kota. Tujuan dari service lerning adalah menjadikan remaja untuk menjadi kurang egois atau bahkan tidak egois dan lebih termotivasi untuk membantu orang lain.

  1. Pendidikan Moral

  • Kurikulum Tersembunyi

Dalam pendidikan Moral, Dewey mengatakan bahwa ada satu kurikulum yang disebut kurikulum tersembunyi, yaitu istilah untuk menggambarkan keyakinan bahwa bahkan ketika sekolah tidak memiliki program khusus pendidikan moral, setiap sekolah memberikan pendidikan moral.

  • Pendidikan Karakter

Pendidikan moral juga mengandung pendidikan karakter, pendidikan karakter merupakan pendekatan pendidikan secara langsung yang melibatkan pengajaran terhadap siswa mengenai keterampilan moral dasar, yang bertujuan agar remaja tidak melakukan prilaku yang tidak bermoral dan prilaku yang berbahaya bagi dirinya sendiri juga orang lain.

  • Klasifikasi Nilai

Selain itu untuk memenuhi pendidikan moral remaja harus mampu mengklasifikasikan nilai, yakni mereka didorong untuk dapat menentukan mana nilai yang baik untuk dirinya juga untuk orang lain , mereka juga didorong untuk bia merumuskan nilai nilai mereka sendiri yang bisa berguna untuk masa depannya dan memahami nilai nilai orang lain.

Pos-Pos Terbaru